✨Rilis episode setiap hari Senin, Rabu, dan Jum'at, pukul 19.00 wib ✨
Di dunia lamanya Ren Akasa adalah pria kantor yang di perlakukan buruk oleh atasan dan juga rekan kerjanya.
Tekanan kerjaan yang gila, gaji yang sering di tunda juga rekan kerja yang manipulatif. Suatu ketika ia di tarik ke dunia lain, BUKAN untuk menjadi PAHLAWAN melainkan untuk menjadi RAJA IBLIS.
Antara menjadi penyelamat yang bijak, atau menjadi penguasa tirani yang dingin, mengingat selama hidupnya di dunia nyata ia diperlakukan bagai pecundang.
dengan kekuatan yang Ren miliki, apakah dunia lain akan menjadi pelampiasannya akibat perlakuan dari dunia lamanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lorenzo Leonhart, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pelayan Kantor yang Terbuang
Suasana di dalam ruang kantor itu terasa mencekik. Ruangan yang seharusnya menjadi tempat produktif, kini bagi Ren Akasa terasa seperti penjara tanpa jeruji. Puluhan pegawai tampak sibuk mengerjakan pekerjaannya masing-masing, suara ketikan keyboard komputer yang bersahutan terdengar seperti mesin pacu jantung yang tak kunjung berhenti. Di sudut lain, bisikan dialog antar pegawai yang bergosip pelan menyelimuti ruangan, menciptakan kebisingan yang mengganggu konsentrasi.
Ren mengusap wajahnya yang kusam. Ia baru saja menyelesaikan laporan bulanan yang seharusnya dikerjakan oleh tiga orang. Matanya yang merah karena kurang tidur terus menatap layar monitor yang radiasinya mulai membuat kepalanya berdenyut nyeri.
Tiba-tiba, langkah kaki yang berat terdengar mendekat. Seseorang berjalan dengan membawa setumpuk map tebal yang permukaannya tampak berdebu. Pria itu berhenti tepat di samping meja Ren. Pria itu adalah Toni. Secara fisik, dia tampak seperti pria berumur 25 tahunan yang bugar karena sering ke gimnasium, namun sebenarnya dia sudah berumur 30 tahunan, hanya saja hidupnya jauh lebih tenang daripada Ren.
Bruk! Suara tumpukan map itu menghantam meja kayu Ren dengan keras, membuat cangkir kopi kosong milik Ren bergeser hampir jatuh.
"Nah, sekalian kerjakan ini juga ya, Ren. Santai saja... deadline-nya masih lima hari lagi kok. Itu pekerjaanmu yang tadi sudah mau selesai kan?" ucap Toni dengan nada yang dibuat semanis mungkin, namun terdengar sangat manipulatif.
Ren tertegun. Ia menatap tumpukan map itu seolah-olah itu adalah batu nisan bagi waktu istirahatnya.
"I... iya, tapi... Bukannya ini bagian dari proyekmu, Ton? Ini pekerjaanmu, kan?"
Toni tertawa kecil, ia menyandarkan tubuhnya ke sekat meja Ren tanpa merasa bersalah. "Ayolah... kita kan masih satu divisi, Ren. Tidak ada salahnya kan bila kamu yang kerjakan juga? Anggap saja ini latihan tambahan untukmu. Lagi pula, kan aku sudah ajarkan caranya minggu lalu, apa kamu sudah lupa? Atau kamu memang ingin aku anggap tidak kompeten?"
Nada bicara Toni mulai berubah, seolah-olah dia sedang memberikan "bantuan" kepada Ren. Padahal, Ren tahu itu hanya taktik agar Toni bisa bersantai.
"Bukan begitu, ma-maksudku.. ak..."
"Sudahlah! Kerjakan saja, Ren. Kita kan sudah kenal lama, jangan perhitungan begitu." potong Toni cepat. Ia menepuk pundak Ren berkali-kali dengan cukup keras.
"Begini saja, bagaimana jika setelah kau menyelesaikan ini semua, aku mentraktirmu makan enak di tempat waktu itu, kau boleh makan sepuasmu seperti saat itu? Oke? Mudah, kan?"
Toni berlalu pergi sebelum Ren sempat mengeluarkan satu kata bantahan pun. Pria itu bersiul santai sambil memainkan kunci mobil di jarinya.
Dalam hati Ren berteriak penuh amarah.
'Kau selalu mengatakan itu setiap kali ingin dibantu olehku, Toni! Tapi dari semua janji manis itu, kau hanya mentraktirku sekali saja, walaupun benar kau pernah meneraktirku makan sepuasnya, tapi itu pun saat kita baru kenal tiga tahun lalu.
Wajah Ren terlihat campur aduk. Ada rasa kesal yang membuncah, kesedihan karena merasa sangat rendah, dan kebingungan harus bersikap seperti apa. Ia adalah tipe orang yang "gak enakan", dan orang-orang di kantor ini tahu betul cara memerah tenaganya sampai habis.
'Aku harus bagaimana? Aku sangat lelah, Tuhan...' Ren membatin sambil menatap tangannya yang sedikit gemetar.
'Aku sudah tiga hari belum pulang ke kosan. Aku belum tidur, bahkan aku belum mandi. Aroma tubuhku sendiri sudah membuatku mual. Makan di kantor pun aku cuma bisa mengandalkan mie instan sachet. Ingin makan bergizi sedikit saja, aku harus membawa telur dari rumah agar hemat. Bahkan... gajiku pun belum dibayar sudah tiga bulan ini.'
Ingatan Ren melayang ke kejadian kemarin sore, saat ia memberanikan diri mengetuk pintu ruang atasan.
Ruangan itu dingin karena AC yang disetel maksimal. Bosnya, seorang wanita dengan postur berisi dan tatapan tajam namun selalu tersenyum ramah, sedang menyesap teh mahal. Namanya Ibu Vina, usianya kisaran 40-an.
"Maaf, Bu Bos..." suara Ren mencicit.
"Ada apa, Ren? Bukankah laporanmu harusnya selesai sore ini?" tanya Ibu Vina tanpa mengalihkan pandangan dari tabletnya.
"Anu.. Bu, soal itu... bisakah aku dapatkan gajiku? Satu bulan saja tidak apa-apa, Bu. Uang simpananku sudah benar-benar habis, bahkan untuk ongkos transportasi pun aku sudah kesulitan..."
"Ren Akasa," potong Ibu Vina dengan nada yang sangat lembut, hampir seperti seorang ibu yang menenangkan anaknya, namun bagi Ren, itu terdengar seperti lonceng kematian.
"Ah.. iya, Bu?"
"Maaf ya, gajinya telat terus. Perusahaan sedang mengalami masa sulit, kamu tahu kan? Tapi saya janji, perusahaan pasti akan membayar penuh semua hak pegawai. Kamu salah satu karyawan terbaik kita, jadi untuk sekarang ini kamu bersabar dulu ya? Demi kemajuan kita bersama," ucapnya dengan senyum ramah yang sangat palsu.
Di dalam hati, Ren ingin sekali menggebrak meja itu. 'Masa sulit bagaimana?! Kemarin aku melihatmu baru saja membeli tas branded baru! Kau bilang gaji akan dibayar penuh bulan ini, tapi mana buktinya? Aku bisa mati kelaparan kalau begini terus!'
Namun, realitanya Ren hanya bisa menghela nafas pelan. Ia menelan semua harga dirinya bulat-bulat.
"Baiklah, Bu. Maaf mengganggu waktunya."
"Tidak apa-apa, Ren. Jangan sungkan bila ingin bicara langsung denganku lagi. Semangat ya kerjanya! Kamu adalah aset berharga kami!" ucap Ibu Vina menyemangati, sementara ia kembali asyik melihat katalog perhiasan di layarnya.
Kembali ke masa kini, Ren tersadar dari lamunannya. Kepalanya terasa berat. Wajahnya tampak sangat lesu, kantung matanya yang gelap membuatnya terlihat seperti mayat hidup.
"Aku harus cuci muka... kalau tidak aku akan pingsan di sini," gumamnya.
Ia berjalan gontai menuju toilet kantor yang terletak di ujung koridor. Di depan cermin yang sedikit buram, Ren membasuh mukanya dengan air dingin berkali-kali. Ia menatap pantulan dirinya. Pucat, kurus, dan menyedihkan. Tiba-tiba, perutnya terasa melilit hebat.
"Duh, kenapa malah sakit perut sekarang, apa gara-gara makan mie instan terus?" keluh Ren.
Ia segera masuk ke salah satu bilik toilet duduk. Saat ia sedang berusaha menuntaskan urusannya, telinganya menangkap suara langkah kaki beberapa orang masuk ke dalam toilet. Ia mengenali suara itu. Itu suara Toni dan salah satu teman satu gengnya.
"Ton, pulang ngantor kita ke tempat karaoke yang baru buka yuk. Katanya pemandunya cantik-cantik," ajak teman Toni.
"Ayo! Gas! Udah dua hari aku nggak karaokean nih, rasanya badanku pegal semua," jawab Toni sambil tertawa lebar.
"Hah, dua hari? Kamu ngomong kayak yang udah dua bulan aja nggak hiburan, Ton. Uangmu nggak habis apa?"
"Hahaha, ayolah, aku juga kan manusia butuh hiburan. Memangnya siapa yang mau kerja terus-terusan sampai gila?"
"Eh, emangnya kerjaanmu yang tumpukan map tadi udah beres?"
"Beres dong... Aman terkendali," jawab Toni dengan nada licik yang sangat jelas.
"Pasti kamu kerjain si Ren lagi ya? Ngaku deh!" teman Toni tertawa terpingkal-pingkal.
"Haha, tahu aja kamu. Si Ren itu orangnya gampang banget dimanfaatin. Dia itu tipe yang nggak enakan, jadi disuruh apa saja pasti mau. Dia itu 'sapi perah' terbaik di divisi kita. Tinggal kasih janji traktiran makan, dia sudah kerja kayak robot."
"Hahaha, jahat kau, Ton! Tapi bener sih, dia emang culun banget."
"Ayolah, aku pernah traktir dia makan kok, aku tidak sejahat itu," jawab Toni sambil tertawa santai, seolah-olah tindakannya adalah hal yang wajar.
"Hahaha, ya ya terserahlah. Btw, gajimu udah cair, Ton? Katanya perusahaan lagi sulit?"
Suara Toni merendah, namun tetap bisa didengar jelas oleh Ren yang membeku di dalam bilik.
"Udah dong. Kemarin aku minta langsung ke Bos Vina, Aku minta dibayar satu bulan aja dulu buat pegangan. Dan si Bos bilang: 'Jangan ngomong sama pegawai lain ya, saya kasih kamu karena kamu sudah lama di sini dan kinerja kamu bagus'. Padahal ya kita tahu sendiri kan, aku cuma pinter ambil hati dia saja."
"Hahaha! Gila, kita pakai jurus yang sama ternyata. Aku juga sudah cair satu bulan!"
Suara tawa mereka berdua menggema di ruangan toilet yang sepi itu. Mereka terus melanjutkan pembicaraan soal rencana malam ini sampai suara mereka mengecil dan pintu toilet tertutup kembali.
Di dalam bilik, Ren mematung. Wajahnya yang tadi pucat kini memerah padam karena amarah yang luar biasa. Namun, kemarahan itu justru meledak menjadi rasa sedih yang menyesakkan dada. Air matanya bercucuran deras tanpa suara. Ia membekap mulutnya sendiri agar suara tangisnya tidak pecah.
Ia merasa sangat bodoh. Sangat naif. Ia merasa dikhianati oleh sistem, oleh atasannya, dan oleh orang yang ia anggap teman. Ia menangis di dalam bilik toilet yang sempit itu selama hampir satu jam, meratapi nasibnya yang tampak tidak memiliki masa depan.
Setelah air matanya mengering dan perutnya terasa lebih baik, Ren keluar dari bilik. Suasana kantor sudah mulai sepi karena jam kerja hampir berakhir. Namun, saat ia melangkah menuju wastafel, ada sesuatu yang aneh.
Di sudut langit-langit toilet, muncul sebuah titik cahaya berwarna violet yang sangat terang. Cahaya itu berdenyut, seolah-olah memiliki detak jantung sendiri. Ren mengucek matanya, mengira itu hanya halusinasi karena ia kurang tidur dan belum makan.
"Ini... apa? Efek kurang darah kah?" gumamnya dengan rasa penasaran yang mengalahkan rasa takutnya.
Ren mendekati titik cahaya itu. Cahaya itu tidak panas, justru terasa dingin dan bergetar. Dengan jari gemetar, Ren mencoba menyentuhnya dengan ujung telunjuk.
Zzt!
Saat telunjuknya bersentuhan dengan cahaya itu, percikan listrik statis meloncat ke kulitnya. Titik itu tiba-tiba membesar dengan cepat, membentuk sebuah lingkaran sempurna dengan pola bintang segi enam yang rumit di tengahnya. Di sekeliling lingkaran itu, terdapat simbol-simbol kuno yang bersinar keemasan, bergerak melingkar mengikuti arah jarum jam.
"Apa-apaan ini?!"
Tiba-tiba, tekanan udara di dalam toilet berubah drastis. Lingkaran itu berubah menjadi lubang hitam yang menyedot segala sesuatu di sekitarnya. Angin kencang muncul entah dari mana, menarik tubuh Ren yang lemas menuju pusat lubang tersebut.
Ren panik. Ia mencoba berpegangan pada pinggiran wastafel porselen. "Tolong! Siapa saja!" teriaknya, namun suaranya tertelan oleh deru angin.
Tubuhnya yang sudah sangat lemah karena tidak makan sejak pagi, bahkan ini sudah masuk waktu malam.., membuatnya tidak punya tenaga untuk bertahan. Jemarinya yang licin karena keringat dingin mulai lepas satu per satu.
"Tidak! Aku belum mau mati di tempat seperti ini!"
Hanya tersisa jari telunjuk dan tengahnya yang mencengkeram pinggiran wastafel. Namun, tarikan dari portal itu semakin menggila. Akhirnya, cengkeraman itu lepas.
"Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaa!"
Ren terhisap masuk ke dalam lubang cahaya violet tersebut. Dalam sekejap, portal itu menutup kembali, tidak meninggalkan jejak apa pun di toilet kantor yang sunyi, kecuali bekas cengkeraman tangan Ren yang gemetar di wastafel.
Pandangan Ren menjadi gelap total. Ia merasa tubuhnya seperti diputar-putar di dalam mesin cuci raksasa. Rasa syok yang luar biasa dikombinasikan dengan kondisi fisik yang drop membuat kesadarannya hilang. Ia jatuh pingsan di tengah kegelapan dimensi.
Entah berapa lama waktu telah berlalu.
Ren terbangun dengan sentakan hebat, seperti orang yang baru saja bermimpi jatuh dari ketinggian. Nafasnya terengah-engah, paru-parunya terasa sesak menghirup udara yang berbeda, udara yang beraroma lembab, tua, dan berbau besi.
Ia perlahan membuka matanya. Pandangannya masih kabur, namun ia bisa merasakan permukaan dingin di bawah tubuhnya. Ia tidak lagi berada di lantai keramik toilet kantor yang berbau pembersih lantai. Ia berada di atas lantai batu yang kasar dan dingin.
Ren bangkit dengan tertatih-tatih, mencoba menyeimbangkan tubuhnya yang masih lemas. Ia melihat ke sekeliling. Tempat itu sangat luas, seperti sebuah aula bawah tanah atau katedral kuno yang terbengkalai. Ruangan itu remang-remang, hanya diterangi oleh tiang-tiang obor yang mengelilinginya.
Uniknya, setiap obor memiliki penyangga berbentuk kepala singa yang sedang menganga yang ada 4 sisi pada tiap obor yang berdiri setinggi kisaran 2 meter lebih, Obor-obor itu diletakkan secara simetris, berdiri pada setiap titik bintang raksasa di lantai tempat di mana Ren sekarang berdiri.
Ren menyadari ia berada di tengah-tengah sebuah panggung lingkaran yang aneh. "Tempat apa ini? apa ini tempat suatu sekte atau semacamnya? Kok ngeri gini auranya?" bisiknya dengan suara bergetar.
Tiba-tiba, ia merasakan keberadaan sesuatu yang lain. Di kegelapan yang berada di luar jangkauan cahaya obor, muncul kisaran 6 pasang mata merah yang menyala tajam. Mata-mata itu menatap ke arahnya membuat suasana terasa semakin mencekam, Suara geraman rendah mulai terdengar, menggetarkan lantai batu di bawah kakinya.
Ren melotot ketakutan. Jantungnya berdegup sangat kencang, seolah-olah ingin melompat keluar dari dadanya. Keringat dingin mengucur deras di punggungnya. Ia sadar, ia tidak lagi berada di dunia yang ia kenal.
"Dimana... aku sebenarnya?"
Bersambung.