Mengisahkan seorang agen kocak tapi cool
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Di Persingkat Saja DPS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rencana penyerangan
Di tempat yang jauh, di penjara yang menahan Yanto si Raja Tega.
Terlihat ada seorang sipir mencurigakan yang mendekat ke ruangan tempat Yanto di kurung.
Ia dengan gampangnya membuka pintu baja yang begitu tebal dengan kunci dan kemudian masuk ke dalam.
"Permisi, tuan!" Ucapnya dengan penuh rasa sopan ketika memasuki ruangan yang tampak mewah.
Perlakukan yang di terima Yanto di penjara ini sungguh sangat berbeda dengan tahanan lain meskipun mereka sama-sama kriminal.
"Ada apa!?" Kata Yanto.
Pada saat itu Yanto sedang duduk di sofa mewah dengan posisi membelakangi sipir yang baru masuk itu.
"Saya mau melaporkan kalau salah satu anak buah anda yang mengelola bisnis jual beli senjata ilegal dan penyelundupan kini telah di tangkap!"
"Pelakunya adalah para agen pemerintahan!"
"Kini, baik Mukidi selaku pimpinan yang sekarang mau pun barang-barang Anda sedang di tahan oleh negara!..." Kata sipir itu sambil sedikit menundukkan kepala.
Ia takut kalau Yanto akan marah dan melampiaskan kemarahannya itu padanya.
"... Bukannya mereka sudah di bubarkan karena kurangnya dana!?" Tanya Yanto dingin dan tidak sedikitpun menoleh.
"Ya. Markas utama telah di bubarkan, tapi. Satu markas cabang menolak untuk bubar dan lebih memilih berjuang dengan dana seadanya!"
"Karena masih ada satu markas yang tersisa makanya semua agen yang ingin berjuang pindah ke sana!"
"Ini akan merepotkan karena orang-orang yang ada di sana adalah agen yang benar-benar punya semangat tinggi yang tidak akan goyah dengan sedikit sogokan!"
Sejenak Yanto terdiam sambil menghentakkan ujung jarinya ke tempat ia meletakan tangannya.
"Kalau tidak bisa di sogok, maka lenyapkan saja!"
"Mau sebesar apapun semangat mereka, mereka cuma sisa-sisa dari markas yang telah hancur. Seharusnya tidak akan sulit untuk membereskan mereka, bukan!?"
Kata-kata itu jelas sekali adalah sebuah tuntutan agar sipir itu melenyapkan satu-satunya markas yang tersisa.
"Bapak. Akan saya lakukan!" Setelah mengatakan itu ia kemudian pergi.
Yanto kini hanya tinggal sendirian di ruangannya yang mewah itu.
"... Mungkin... Sudah waktunya aku keluar dari sini, karena di sini mulai membosankan!..." Kata Yanto.
Selang beberapa hari kemudian.
Di sebuah ruangan hotel mewah, tempat orang-orang kaya dan pejabat tinggi berkumpul.
Tampak di salah satu ruangan ada tiga orang sedang berkumpul, duduk di meja melingkar dalam diam.
Ekspresi mereka semua sama.
Acuh dan dingin.
Tak lama, seseorang kemudian memasuki ruangan tanpa mengucapkan permisi.
Ia sekonyong-konyong duduk di antara tiga orang itu.
Dan orang yang datang tidak lain adalah sipir yang sebelumnya berbicara dengan Yanto di penjara.
"Bagaimana kabar kalian semua!" Tanya sipir itu pada semua orang.
Salah satu orang paling tua berkata. "Hentikan basa-basi yang tidak berguna ini. Langsung saja ke intinya!"
"Kenapa anda mengumpulkan kita semua di sini. Sir, Kipli!" Ternyata, si sipir penjara yang sebelumnya bicara dengan Yanto tidak lain dan tidak bukan adalah Kipli.
Dan tiga orang yang kini duduk bersama Kipli tidak lain dan tidak bukan adalah orang-orangnya Yanto juga.
Yang tadi bicara dengan Kipli bernama Jaka, sedangkan dua orang sisanya bernama Layla dan Sari.
"Baiklah. Karena semua orang yang ada di sini adalah orang yang sibuk maka saya tidak akan banyak basa-basi!"
"Seperti yang kalian tahu. Salah satu rekan kita telah di tangkap oleh para agen rahasia dan itu membuat pimpinan kita marah!"
"Beliau ingin markas terakhir para agen itu di lenyapkan!" Sejenak semua orang terdiam sambil menatap Kipli.
Sari kemudian bertanya. "Bukannya depertemen agen rahasia telah bubar karena kurang dana, ya!?"
"Benar. Malahan, aku sendiri ikut campur masalah pembubaran departemen agen rahasia ini!" Timpal Layla.
"Markas utamanya memang bubar, tapi ada satu markas cabang yang menolak bubar dan memutuskan untuk terus berjuang meskipun dana dan fasilitas mereka terbatas!"
"Maka dari itulah. Tujuan saya mengumpulkan kalian di sini tidak lain dan tidak bukan untuk membahas rencana melenyapkan markas terakhir itu!"
Akhirnya setelah di jelaskan dengan lebih rinci, mereka semua paham dan menganggukkan kepalanya.
"Karena ini cuma sisa-sisa dari markas utama, aku sarankan kita skip membuat rencana dan langsung saja serang dari depan!" Kata Jaka.
"Aku sependapat. Mau seberapapun tangguhkan mereka, mereka cuma sedikit dan persenjataan mereka kemungkinan sangat sedikit!" Kata Sari.
Bersamaan, Layla yang juga setuju langsung menganggukkan kepalanya namun tak berkata apa-apa.
"Baiklah. Karena semua orang orang sudah sepakat untuk menyerang langsung maka kita akan lakukan sesuatu keinginan kalian!"
Mereka bubar untuk menyiapkan orang-orang mereka.
Pada malam hari, ketika cuaca sedang mendung dan gemuruh petir sudah terdengar meskipun hujannya belum turun.
Di saat itu kita akan melihat sekelompok orang bersenjata turun dari mobil box dan semuanya bergerak secara bersamaan menuju markasnya Wawan.
Tak langsung menyerang, mereka semua terlebih dahulu bersembunyi di balik bayang-bayang gedung dan rumah yang gelap untuk mengamati.
Setelah mengamati selama beberapa saat, Kipli yang turun tangan langsung dalam penyerangan ini mengeluarkan perintah pada anak buahnya.
"Serang mereka!" Kata Kipli.
Salah satu orang kemudian mengeluarkan sebuah RPG yang langsung di arahkan ke pintu masuk markas.
Duarr!!
Ledakan besar terjadi dan gemuruhnya itu terdengar hingga puluhan atau ratusan meter.
Namun karena malam itu sedang banyak kilatan petir jadi semua orang mengira kalau itu hanya suara gemuruh petir.
Lubang terbakar bekas ledakan terlihat terbuka lebar.
Pasukan bersenjata yang di pimpin Kipli segera bergerak maju masuk ke dalam markas.
Dorr!!
Tiba-tiba saja dari dalam markas sebuah peluru melesat dan menewaskan salah satu anak buah Kipli.
Ternyata orang-orang yang ada di dalam markas sebagian besarnya masih hidup dan mencoba melawan balik.
Meskipun telinga mereka berdengung, meksipun tubuh mereka sakit dan meksipun pandangan mereka kabur.
Mereka masih melawan balik.
"Semuanya! Tahan mereka, jangan sampai masuk!" Teriak Ageng Penembak Jitu.
Baku tembak brutal kemudian terjadi di markas.
Yang mana pada saat itu sekuat orang yang ada di dalam markas sedang berjuang mati-matian menahan pasukan musuh.
Namun. Di karenakan banyaknya musuh dan keadaan mereka yang tidak siap, pihak agen rahasia langsung terdesak.
Beberapa dari mereka bahkan terbunuh dalam baku tembak itu.
Tak lama, agen Kepala Botak dan agan Rambut Panjang muncul untuk membantu.
Sejenak kita tinggalkan mereka dan beralih pada Wawan di rumahnya.
Malam itu Wawan tidak sendirian karena kedatangan tamu.
Dan tamu yang datang ke rumah Wawan adalah komandan, wakil komandan dan juga Raisya.
Tidak ada alasan khusus mereka datang ke sana, mereka cuma mau melihat seperti apa tempat tinggal Wawan.
"Maaf, cuma ini yang bisa saya sajikan!" Kata Wawan sambil meletakan sepiring kue kering serta kopi untuk semua orang.
"Tidak apa-apa... Malahan, buat kita makan seperti ini sudah sangat mewah sekali!"
"Kamu kan tahu kalau sehari-hari cemilan yang kita punya cuma bakwan sisa kemarin yang mana teksturnya udah kaya kardus!" Kata komandan.
Mereka pun duduk dan mengobrol bersama meskipun dalam obrolan itu tidak ada yang penting.