"Fania, kamu tahu pernikahan ini hanya sebuah formalitas saja. Aku harap kamu merelakan aku untuk menikah dengan Zelina." __ Raditya Mahardika.
"Mas, beri aku 30 hari saja untuk mengabdi sebagai istri yang Solehah untukmu. Aku hanya ingin mewujudkan wasiat Ayah. Setelah itu, kamu berhak menceraikan aku, dan kamu bisa menikah dengan wanita itu."
Hidup Raditya Mahardika kacau sejak dijodohkan dengan Fania Azalea. Semua terjadi karena Raditya mempunyai wanita idaman lainnya.
Fania Azalea meminta waktu agar dirinya bisa mewujudkan wasiat mendiang Ayahnya. Dia ingin menjadi seorang istri yang baik untuk suaminya. Namun, takdir berkata lain. Raditya justru ingin menikah lagi dengan wanita pujaan hatinya. Dia ingin berpoligami dan meminta Fania untuk menyetujui niatnya.
Baca selengkapnya di sini!
Follow IG : romansa_love94
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Romansa Love, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 1 (Takdir)
"Fania, kamu kenapa melamun, Nak?" tanya wanita paruh baya pada putrinya yang duduk di atas kasur.
Fania menoleh, dia menghela napas panjang seolah ada beban yang berat. "Bu, setelah aku menikah, bagaimana dengan Ibu? Ibu harus tinggal sendirian di sini? Sedangkan aku harus ke kota ikut suami."
"Nak, jangan pikirkan itu. Besok kan hari pernikahanmu, seharusnya kamu bahagia. Bisa mendapatkan suami yang baik. Bagaimanapun juga, pria itu adalah pilihan Ayahmu. Pasti orangnya sangat baik," jawab Halimah lembut. Dia mencoba menenangkan kegelisahan putrinya.
Fania kembali menoleh ke arah jendela. Entah mengapa dia tidak yakin dengan kalimat penenang itu. "Bu, bagaimana Ibu bisa berkata seperti itu? Ibu tidak pernah melihatnya, aku pun sama. Bagaimana nanti kalau ...?"
"Sudah, sudah. Kamu tidak usah khawatir, Ibu yakin kok dengan pilihan Ayah. Lebih baik kamu sholat terus minta petunjuk sama Allah. Ibu mau melanjutkan pekerjaan di belakang." Halimah mengakhiri pembicaraan dengan putrinya. Dia tidak ingin ikut larut dalam kegundahan Fania.
***
Keesokan harinya, suasana ramai terjadi di kediaman sederhana. Pernikahan Fania tidaklah mewah, hanya meja tanpa hiasan apapun. Penghulu juga sudah tiba di lokasi. Begitu juga calon pengantin pria yang sudah duduk di bersampingan dengan keluarganya.
Tepat pukul sebelas siang, pernikahan sakral dilangsungkan. Pengantin pria duduk di depan penghulu. Lalu, tidak lama kemudian pengantin wanita keluar dari kamar dengan mengenakan kebaya berwarna putih serta cadar yang menutupi wajahnya.
Fania duduk di sebelah pengantin pria. Dia tampak canggung dan sangat grogi. Namun, senyum sang ibu mampu menguatkan hati Fania.
Pak Penghulu memulai acara akad nikah. Salah satu tangannya maju dan menjabat tangan pengantin pria. " Saudara Raditya Mahardika bin Sahid Mahardika, saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan Fania Azalea binti Ihsan Maulana dengan mas kawin berupa emas ,30gr dan seperangkat alat sholat dibayar tunai."
Raditya Mahardika menjawab, "Saya terima nikah dan kawinnya Fania Azalea binti Ihsan Maulana dengan mas kawin tersebut tunai."
"Bagaimana saksi? Sah?
"Sah."
"Alhamdulillah."
Suasana menegangkan pun mencair setelah akad nikah diucapkan. Air mata Fania menetes di pipi. Dia mencium tangan pria yang baru saja sah menjadi suaminya. Raditya juga mencium lembut kening wanita yang pertama kali dilihatnya.
Ibu Halimah juga tidak hentinya berucap syukur. Putri satu-satunya sudah dipinang orang dan kewajibannya sudah selesai. Fania langsung sungkem di pangkuan Ibunya. Dia menangis sedih karena selesai acara nanti dia akan langsung ikut suaminya ke kota.
Suasana haru menyelimuti keduanya. Bu Halimah mengelus lembut kepala putrinya. "Sudahi air matamu, Nak. Kamu tidak malu dilihat sama suamimu!"
Fania mengusap air matanya, dia mencium tangan ibunya yang dingin. "Ibu, maafin aku. Maaf tidak bisa mendampingi Ibu di sini. Fania janji, akan selalu memberi kabar. Doakan Fania sehat, ya, Bu."
"Iya, Nak. Ibu akan selalu mendoakanmu. Selamat menempuh hidup yang baru. Semoga kamu selalu diberikan kebahagiaan bersama dengan suamimu," ucap Bu Halimah pada putrinya.
"Aamiin, Ya Allah." Fania segera menyingkir dari pangkuan Ibunya. Kemudian, giliran Raditya yang meminta doa restu pada Ibu mertuanya.
"Assalamualaikum, Ibu. Maaf, tadi datangnya sedikit telat. Saya minta sudah membuat semuanya gelisah." Raditya berkata seraya menyalami tangan Ibu mertuanya.
Halimah menepuk lembut pundak menantunya. Dia tersenyum tipis. "Nak Radit tidak perlu minta maaf. Sekarang kamu sudah menjadi suami Fania. Ibu harap kamu bisa menjaganya. Nak, meski kalian dijodohkan, apa Ibu bisa meminta sesuatu sama kamu?"
"Apa itu, Bu?" tanya Raditya penasaran.
Halimah menjawab, "Jangan sakiti Fania jika kamu belum mencintainya. Ibu tau, semua pasti berat untukmu. Andaikan perasaan itu tidak bisa dipaksakan. Kembalikan dia pada Ibu dalam keadaan yang baik. Hanya itu permintaan Ibu."
Raditya diam sejenak, dia melirik Fania yang duduk dengan pandangan kosong. Setelah itu dia menjawab, "Saya mengerti, Bu. Saya akan ingat pesan Ibu. Maaf, jika kondisinya seperti ini."
Halimah mengangguk, dia lega sudah berpesan pada sesuatu pada menantunya. Acara pun berlanjut, semua tamu memakan hidangan yang disajikan. Fania yang merasa lelah pun masuk ke dalam kamarnya. Tidak lama kemudian, Raditya menyusulnya ke dalam.
Kedatangan Raditya mengagetkan Fania. "Astaghfirullahaladzim, Mas. Maaf, lain kali ketuk pintu dulu!" seru Fania sembari memasang cadarnya.
Raditya diam, dia menutup pintu dan menguncinya dari dalam. Fania duduk dengan perasaan gugup. Kakinya gemetar dan tidak berani menatap ke depan.
"Aku tidak menyangka jika akan menikah dengan gadis sepertimu," ucap Raditya dengan nada yang sedikit angkuh. "Bahkan, aku tidak penasaran dengan wajah yang kamu tutupi selempang kain itu," lanjutnya seraya menyindir.
Fania sangat kaget dengan perkataan itu. Hatinya sedikit sakit dan tidak bisa membalas karena takut. Raditya berjalan mondar-mandir di depan istrinya yang masih menunduk. Hatinya dipenuhi dengan kekesalan.
"Bagaimana bisa kedua orang tua itu membuat perjanjian konyol seperti ini?"
Duarr ...
Hati Fania seperti dihantam oleh godam yang besar. Dia mendongak sembari melihat pria yang ada di depannya. "Apa maksud Mas bicara seperti itu?"
Raditya tersenyum tipis, dia berdecih dan menyepelekan pertanyaan istrinya. "Apa yang kamu harapkan dari pernikahan ini? Apa kamu mempunyai rencana untuk menjadikanku batu loncatan? Ya, kebanyakan wanita jaman sekarang itu materialistis."
Kedua tangan Fania mengepal, dia merasa direndahkan oleh pria yang baru beberapa jam menjadi suaminya. "Maaf beribu maaf, tapi aku bukan wanita yang seperti itu. Kenapa Mas bisa berkata demikian, bahkan kita belum saling kenal."
"Cih, tidak usah munafik! Sebaiknya kamu siap-siap, karena satu jam lagi aku akan berangkat. Bawa baju secukupnya, karena aku tidak suka dengan sampah." Raditya terus berkata kejam. Kalimatnya sungguh menyakitkan bagi Fania.
Fania menoleh ke arah Raditya yang keluar dari kamarnya. Dia baru saja dihadapkan dengan kenyataan yang pahit. "Takdir apa ini? Apa yang akan terjadi selanjutnya? Ayah, apa benar keputusan ini?" tanya Fania dalam hati. Dia menangis mengingat nasibnya yang seperti dipermainkan.
Satu jam berlalu, Fania sudah siap dengan dua tas besar. Dia berjalan lemas keluar dari kamarnya. Acara sudah selesai, Halimah menunggu putrinya di ruang tamu.
"Nak, kamu kok lama sekali! Suamimu sudah lama menunggu!" seru Halimah pada putrinya.
Fania mencoba tersenyum, dia memeluk Ibunya dengan penuh kasih sayang. "Ibu, rasanya berat sekali meninggalkan Ibu di rumah sendiri."
"Nak, tidak boleh bicara seperti itu. Kamu harus menghargai suamimu! Jaga kesehatan di sana, ya! Jadi istri yang baik dan taat pada suami. Ingat surgamu itu terletak pada suamimu. Jika kamu kangen, segera telepon Ibu. Ibu akan berdoa dari sini agar hatimu selalu tenang." Halimah berkata sembari memeluk putrinya. Dia sekuat tenaga menahan tangis.
Selesai berpelukan, Fania dan Raditya mulai berpamitan. Tangis haru terjadi pada Ibu dan anak itu. Pemandangan tersebut membuat Raditya bosan, dia sangat kesal dan tidak tahan.
"Sudah, jangan nangis lagi. Cepat sana berangkat! Hati-hati di jalan, ya, Nak. Telepon Ibu jika sudah sampai," ucap Halimah dengan nada bergetar.
Fania menghapus air matanya, dia mengangguk sambil melambaikan tangan. "Aku pergi, Bu. Ibu jaga kesehatan, ya! Ingat jangan sampai salah makan. Fania sayang Ibu!"
Mobil keluar dari perkarangan rumah, Fania tidak bisa menahan air matanya. Dia terus menangis hingga membuat Raditya terganggu.
"Kamu bisa diam tidak?" tegur Raditya dengan nada kesal.
"Maaf, aku belum bisa menghentikan tangisanku, Mas. Tolong beri aku waktu untuk menerima kenyataan ini," ujar Fania dengan berani. Dia mencoba untuk melawan ketakutannya.
Raditya menarik napas dalam-dalam. Kesabarannya tengah diuji, kedua tangannya memukul kuat stir mobil. "Jika kamu tidak bisa diam, maka turunlah dari mobil ini! Silakan kamu naik kendaraan lain untuk sampai di kota."
.ambil sapu ato apa kh gitu hantamkan ke kepalanya biar kapok...jd laki kok g jelas siram pake karbol sj..lagian mau mau nya nunggu smpe 30 hr..bisa mati kamu mun lemah kya itu😡😡