Dunia persilatan dipenuhi kepalsuan. Yang kuat menindas, yang lemah hanya bisa menunggu mati.
Dari kegelapan, muncul seorang gadis bermata merah darah, membawa kipas hitam yang memanen nyawa. Ia dikenal sebagai Dewi Kematian. Bukan pahlawan, bukan pula iblis, melainkan hukuman bagi mereka yang kejam.
Setiap langkahnya menebar darah, setiap musuhnya lenyap tanpa jejak. Namun di balik kekuatan terlarang itu, tersembunyi luka masa lalu dan takdir kelam yang tak bisa dihindari.
Ini bukan kisah penyelamatan.
Ini adalah legenda tentang kematian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon adicipto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPS 1
Awan hitam menggulung di langit malam, berputar perlahan seperti pusaran tak berujung yang hendak menelan bumi. Kilatan petir sesekali membelah cakrawala, memantulkan cahaya pucat yang menyinari Desa Xiamzi yang kini telah berubah menjadi lautan api yang mengerikan. Rumah-rumah kayu runtuh satu per satu dengan suara berderak memilukan, atap jerami terbakar hebat melepaskan percikan api ke udara, sementara asap hitam tebal membumbung tinggi, menyatu dengan kepekatan awan gelap di atasnya.
Tangisan minta tolong yang menyayat hati dan jerit kematian yang panjang mengisi kesunyian malam yang mendung.
Suara ratapan para korban bercampur dengan tawa keras penuh nafsu membunuh dari para penyamun, menciptakan sebuah harmoni kejam yang menusuk telinga hingga ke sumsum tulang. Darah merah kental mengalir deras di tanah desa, menggenang di parit-parit kecil, bercampur dengan lumpur hitam dan abu sisa pembakaran, sementara lidah api menari liar seolah ikut merayakan pesta kehancuran tersebut.
"Bawa para gadis muda dan bunuh sisanya, pastikan Desa Xiamzi ini musnah total tanpa sisa!" teriak seorang pria bertubuh raksasa sambil mengayunkan kapak raksasa dengan gagang panjang yang berlumuran darah segar.
Wajahnya penuh bekas luka parut yang mengerikan, matanya memancarkan kegilaan murni yang haus akan nyawa, seolah setiap tetes darah yang tumpah adalah hiburan paling nikmat baginya.
"Tuan, hamba memohon, jangan bunuh keluarga saya. Apa pun yang Tuan minta akan saya berikan, harta atau nyawa hamba sekalipun, tapi tolong lepaskan mereka, biarkan mereka tetap hidup, Tuan!"
Seorang nenek renta bersimpuh di atas tanah berlumpur yang becek oleh darah, dahinya membentur tanah berulang kali hingga kulitnya pecah dan mengucurkan cairan merah. Tangannya yang keriput gemetar hebat saat berusaha meraih ujung kaki bot para pendekar perampok di hadapannya.
Di belakang sang nenek, empat orang duduk berdesakan dengan tubuh menggigil hebat karena ketakutan yang luar biasa, saling berpelukan mencari kehangatan yang tak akan pernah datang lagi. Tidak jauh dari mereka, satu sosok pria muda tergeletak kaku dengan posisi yang mengenaskan, darah masih mengalir perlahan dari lubang besar di dadanya yang telah kehilangan detak jantung.
"Keluarga ini hanyalah sampah miskin. Tidak ada emas atau permata yang bisa kita jarah. Sebaiknya habisi saja semuanya sekarang juga," kata seorang pria berkumis tebal sambil memutar-mutar golok besar yang ujungnya masih meneteskan darah. Nada suaranya datar dan dingin, seolah sedang membicarakan cara menyembelih hewan ternak di pejagalan, bukan membicarakan nyawa manusia yang sedang memohon belas kasihan.
Sang nenek dan empat anggota keluarga yang tersisa menangis histeris hingga suara mereka serak. Dua wanita muda dengan wajah pucat pasi seperti mayat, satu pria dewasa yang seluruh tubuhnya bergetar tak terkendali, dan seorang anak kecil berusia sekitar lima tahun yang menangis tersedu-sedu di samping jasad ayahnya yang sudah mendingin. Pria yang telah terbunuh itu adalah suami salah satu wanita tersebut, dadanya robek lebar hingga menampakkan tulang rusuk yang patah, matanya terbuka lebar menatap kosong ke arah langit yang dipenuhi jelaga hitam.
"Tidak, Tuan, hamba memohon dengan sisa nyawa hamba, lepaskan kami!" jerit sang nenek dengan suara parau yang hampir menghilang, tenggorokannya terasa perih dan terbakar karena terlalu banyak menghirup asap dan menjerit meminta pengampunan.
Namun para perampok kejam itu hanya tertawa terbahak-bahak, suara tawa mereka beradu dengan suara gemeretak api yang melahap bangunan. Salah satu dari mereka melangkah maju dengan seringai iblis dan tanpa ragu sedikitpun menebas leher pria dewasa yang tersisa di keluarga itu. Darah hangat muncrat membasahi wajah sang nenek, tubuh pria itu roboh seketika ke tanah dengan suara debuman berat, dan jeritan para wanita semakin pecah dan melengking, nyaris membelah kesunyian malam yang mencekam.
"Cepat selesaikan sisanya dan bakar mereka semua!" kata pria pemegang kapak dengan suara dingin yang tak tersentuh emosi sedikit pun, lalu berbalik pergi meninggalkan genangan darah, membiarkan dua anak buahnya untuk mengeksekusi sisa keluarga itu dengan cara yang paling menyakitkan.
"Hahaha, sebenarnya sangat disayangkan harus menghancurkan kulit mulus dua wanita ini, tapi perintah tetap perintah, kalian harus mati. Tidak boleh ada satupun saksi bernapas yang tersisa dari desa terkutuk ini," kata salah satu perampok sambil menatap tajam ke arah tubuh para wanita dengan tatapan mesum yang menjijikkan.
"Kita mulai dari bocah kecil itu dulu agar mereka merasakan penderitaan yang lebih dalam!" kata rekannya sambil menunjuk anak laki-laki kecil yang masih menangis memeluk jasad ayahnya, tubuh mungilnya gemetar ketakutan saat melihat ujung pedang yang mendekat.
"Jangan! Ambil nyawa kami tapi jangan anak itu!"
Kedua wanita itu secara refleks memeluk bocah tak berdosa tersebut dengan erat, memposisikan tubuh mereka sebagai perisai manusia demi melindunginya sepenuh hati. Di sisi lain, seorang perampok dengan kasar mencengkram rambut putih sang nenek, menyentakkan kepalanya ke belakang hingga tulang lehernya berbunyi, dan menempelkan mata golok yang dingin ke tenggorokannya, bersiap untuk menggorok urat nadinya dalam satu tarikan.
Kedua wanita lemah itu sama sekali tidak tampak takut mati lagi, mata mereka yang sembab kini penuh dengan tekad terakhir meski tubuh mereka masih gemetar hebat di bawah bayang-bayang maut. Namun di mata para perampok itu, mereka hanyalah sekumpulan semut tak berdaya, makhluk rendah yang bisa diinjak dan dihancurkan kapan saja sesuai keinginan hati mereka.
"Jadi kalian ingin mati bersama-sama dalam pelukan? Baiklah, keinginan kalian akan aku kabulkan dengan senang hati!" kata si perampok sambil mengangkat pedangnya tinggi-tinggi ke udara, mengumpulkan tenaga untuk menebas kedua wanita dan bocah itu sekaligus dalam satu ayunan maut yang mematikan.
"Tidakkkk!"
Sang nenek yang sudah tidak memiliki sisa tenaga hanya bisa menangis tersedu dalam kepasrahan yang absolut. Air matanya bercampur dengan aliran darah dari bibirnya yang pecah akibat pukulan. Ia tak sanggup lagi menyaksikan seluruh keturunannya, dari yang dewasa hingga yang paling kecil, mati mengenaskan dengan cara yang begitu biadab di depan matanya sendiri.
Tepat ketika keputusasaan menyelimuti atmosfer dan pedang mulai terayun deras membelah udara ke arah ketiganya, tiba-tiba sebuah benda hitam melesat cepat dari kegelapan pekat di balik reruntuhan rumah.
Benda itu menghantam mata pedang dengan kekuatan yang luar biasa mengerikan, bukan hanya menahan lajunya, tetapi juga menghancurkan baja pedang tersebut hingga berkeping-keping seketika.
Trannk!
Suara logam yang patah berdentang keras menggema di udara, mengalahkan suara gemuruh api di sekitar mereka.
Kedua perampok yang merupakan pendekar dengan tingkat kultivasi tertentu itu tertegun kaku. Mata mereka membelalak tak percaya melihat senjata mereka hancur berkeping-keping hanya oleh satu benturan.
Pendekar yang pedangnya patah refleks melompat mundur beberapa langkah dengan wajah penuh kewaspadaan, nafasnya memburu cepat karena merasakan tekanan energi yang asing.
"Siapa yang berani lancang ikut campur urusan Perampok Tengkorak! Jika kau punya nyali, keluar sekarang! Jangan bersembunyi di kegelapan seperti pengecut busuk!" teriak salah satu dari mereka dengan nada tinggi untuk menutupi getar ketakutan yang mulai merayap di suaranya.
Benda misterius yang sebelumnya mematahkan pedang itu sudah menghilang kembali ke dalam kegelapan, tak meninggalkan jejak energi atau suara sedikit pun, seolah-olah serangan tadi hanyalah ilusi yang mematikan.
"Pengecut?"
Sebuah suara lembut namun sangat dingin terdengar dari balik tirai asap yang tebal, suaranya tenang namun memiliki daya tekan yang membuat jantung berdegup kencang, seolah-olah suara itu menusuk langsung ke dalam tulang belakang.
"Apakah kalimat itu pantas diucapkan oleh sampah perampok yang hanya berani menindas orang-orang lemah yang tak berdaya?"
Belum sempat kedua penyamun itu bereaksi atau menarik napas, sebuah benda kembali melesat keluar dengan kecepatan kilat yang tak tertangkap oleh mata telanjang. Benda itu melintas tepat di depan leher salah satu perampok dengan suara desingan halus.
Sesaat kemudian, benda tersebut berputar dengan sangat anggun di udara sebelum meluncur kembali ke arah kegelapan asalnya.
Kini mereka semua bisa melihatnya dengan jelas di bawah cahaya api yang berkobar.
Sebuah kipas berwarna hitam legam, bentuknya ramping dan sangat elegan, namun di setiap ujung lipatannya terdapat mata pisau yang sangat tipis dan runcing, memantulkan cahaya api dengan kilauan yang sangat dingin dan mematikan.
Perampok yang lehernya baru saja dilewati oleh kipas itu terdiam mematung di tempatnya berdiri. Matanya melotot kosong. Perlahan ia meraba lehernya dengan tangan yang gemetar. Cairan merah kental yang hangat mulai mengalir deras di antara celah jemarinya yang kasar. Wajahnya membeku dalam ekspresi kebingungan yang mengerikan sebelum akhirnya kepalanya perlahan bergeser, terlepas sepenuhnya dari pundaknya, dan jatuh ke tanah berlumpur dengan bunyi berat. Kepala itu menggelinding beberapa kali di atas genangan darah sebelum akhirnya berhenti dengan mata yang tetap terbuka lebar.
Jeritan ketakutan meledak dari mulut mereka yang menyaksikan kejadian brutal itu. Sang nenek, kedua wanita muda, dan perampok yang masih hidup sama-sama menjerit histeris. Perampok yang tersisa mundur dengan wajah sepucat kertas, nafasnya tersengal-sengal, sementara keringat dingin mengalir deras membasahi punggungnya.
Dari balik tabir asap dan jilatan api yang membakar rumah di depannya, seorang gadis cantik mengenakan gaun hitam pekat melangkah keluar dengan sangat tenang.
Rambut hitam panjangnya yang halus terurai bebas, bergerak lembut tertiup angin malam yang membawa aroma darah dan asap. Di tangannya, kipas hitam yang mematikan itu kini telah kembali ke genggamannya dan tertutup dengan rapi.
Pupil matanya bukan berwarna hitam, melainkan berwarna merah menyala seperti genangan darah segar yang baru saja tumpah. Aura kematian yang murni merembes keluar dari setiap pori-pori tubuhnya, membuat suhu udara di sekitarnya seketika anjlok menjadi dingin dan sangat berat, seolah-olah sosok maut sendiri telah turun ke permukaan bumi untuk menjemput nyawa di Desa Xiamzi.