Almira Abimanyu, di hari ia mengetahui kehamilannya, wanita itu berniat memberi kejutan untuk Gilang, suaminya.
Namun, Gilang justru pulang membawa kejutan yang menghancurkan segalanya. Seorang wanita bernama Lila diperkenalkan sebagai istri keduanya. Dan lebih menyakitkan, Lila juga tengah mengandung.
Saat itu Almira sadar, pernikahannya selama ini hanyalah sandiwara.
Dengan air mata yang diseka dan senyum yang terbit perlahan, Almira mulai menyusun langkah. Bukan untuk meratap, melainkan untuk membalas.
Karena ketika seorang wanita berhenti menangis, sesungguhnya ia sedang bersiap melakukan sesuatu yang tak terduga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mama Mia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
26. Revan Anggara
.
“Dasar menantu kurang ajar," maki Bu Rosidah kesal. "Sudah susah-susah kita nyuruh Rini keluar, ternyata malah gak dapat apa-apa.” wanita itu menghempaskan tubuhnya yang lelah di tepi ranjang empuk milik Almira. Bukan lelah badan, karena dia tak mengerjakan apapun. Tapi lelah emosi, karena merasa gagal.
“Sekarang gimana dong, Bu?" tanya Riana yang juga ikut duduk di tepi ranjang.
"Ibu juga gak tahu. Percuma saja kita mengacak-acak kamar ini.” Bu Rosidah menggerutu kesal. "Ternyata dia lebih pintar dari yang kita kira. Dia benar-benar licik."
"Lalu, bagaimana sekarang, Bu?" tanya Lila dengan memegang perutnya yang buncit.
“Kita pikirkan itu nanti,” sahut Riana yang mendadak berdiri. "Sekarang kita harus beresin kamar ini dulu, kita harus segera keluar. Kalau tidak kita bisa ketahuan sama Rini. Kalau dia lapor sama Almira bisa bahaya." Ternyata adiknya Gilang itu masih bisa berpikir waras.
Lila mendengus kesal. Sudah capek-capek mencari, tak dapat apapun dan sekarang harus membereskan kembali.
Beberapa saat kemudian, dengan langkah gontai, Bu Rosidah, Lila, dan Riana keluar dari kamar Almira.
"Kenapa kalian ada di sini?” Suara Rini mengagetkan mereka. "Apa yang baru saja kalian lakukan di kamar Bu Mira?" Mata Rini memicing memperhatikan mereka satu-persatu.
“Heh, pembantu!” Riana melotot tajam. "Jangan ikut campur urusan majikan!” Ujung jarinya menunjuk ke wajah Mbak Rini.
"Tidak bisa!” sahut Rini tanpa takut. "Bu Mira itu teman baik Bu Sifa. Saya di sini juga karena Bu Sifa mengijinkan. Saya akan laporkan ini pada Bu Mira. Dan kalian pasti akan diusir dari rumah ini," ancam Rini.
“Eh… tunggu!" Bu Rosidah mencekal pergelangan tangan Rini sebelum gadis itu menjauh. Ancaman Rini terdengar menakutkan. Dan dia tahu, Almira bisa melakukan seperti apa yang diucapkan Rini. “Gini, saya akan kasih kamu uang tutup mulut, gimana?" tawar Bu Rosidah.
Rini tersenyum menyeringai lalu membalikkan badan kembali menatap ke arah mereka. "Wani piro?” tantangnya.
Bu Rosidah mengajak Rini turun. Wanita itu bergegas mengambil dompet di kamarnya. "Ini!” ucapnya seraya memberikan dua lembar berwarna merah pada Rini.
Rini tersenyum sinis melihat itu. "Cuma itu?” ejeknya. "Kalau saya lapor ini sama Bu Mira, saya bisa dapat bonus lebih banyak dari itu," ucapnya.
“Dasar pembantu kurang ajar!” hardik Bu Rosidah kesal, tapi ia juga tak bisa apa-apa. “Ya sudah, nih saya tambah," ucapnya sambil memberi selembar lagi.
“Cuma segitu?” ejek Rini lagi.
“Kamu maunya berapa?" teriak Riana ikut kesal.
"Satu juta."
“Satu juta?" Tiga orang berseru bersamaan.
"Kesetiaan saya mahal." Rini bersedekap dengan angkuhnya.
“Kamu mau memeras kami?" Lila maju ingin menyerang. Namun…
"Eits!” Rini mengacungkan jarinya. "Hati-hati dengan perutmu!"
Lila mengkerut tak jadi bergerak. Rini terlihat bukan orang yang mudah ditangani. Wanita itu sedikit berpikir. Lalu kenapa saat ada Gilang, wanita itu terlihat lemah?
"Rini,” panggil Bu Rosidah melunakkan suaranya. "Tiga ratus ribu ini juga sudah banyak. Lagian kami juga tidak mengambil apa-apa dari kamar Almira.”
"Tetap saja, kalian berniat mencuri. Tapi terserah kalian sih. Gak mau juga gak papa." Rini bersiap membalikkan badan, namun Bu Rosidah kembali mencekal nya.
“Oke… oke…” putusnya. Dengan berat hati akhirnya mereka bertiga patungan agar bisa membuat Rini diam.
“Senang bekerja sama dengan kalian,” ucap Rini sambil mengipaskan uang itu di depan wajahnya. “Oh, iya. Mbak Lila, rujaknya ada di meja makan."
Riana menghentakkan kakinya kesal melihat kepergian Rini. "Dasar pembantu kurang ajar.”
Di ruang laundry, Rini memfoto uang yang baru saja dia terima dan mengirimkannya pada Almira.
Di tokonya, Almira yang mendapat kiriman gambar itu tergelak.
"Ambil aja itu buat mbak Rini. Anggap saja THR sebelum lebaran," tulisnya dalam pesan.
*
*
*
Masih di hari yang sama di belahan bumi yang berbeda.
Di sebuah kafe, Sifa sedang duduk berhadapan dengan seorang pria tampan.
"Bagaimana perkembangan rumah tangga Almira?"
Sifa menghela napas panjang, menatap wajah pria itu tanpa ekspresi. “Untuk apa pura-pura bertanya? Kamu punya banyak mata dan telinga. Kamu pasti sudah tahu."
Revan Anggara, nama pria itu, adalah sosok yang sangat mencintai Almira, bahkan hingga kini.
Revan terdiam sejenak. "Aku pernah iseng menelponnya,” ucapnya. "Tapi sepertinya dia sudah tidak mengenali suaraku," lanjutnya terkekeh getir. Ada luka tersembunyi di balik suara tawanya.
“Kamu yang sudah membuatnya menjauh," sahut Sifa. Menatap dengan jengah ke arah pria itu.
Tadinya ia ingin jalan-jalan sekedar refreshing melepas penat. Siapa sangka malah bertemu dengan orang yang pernah hadir di masa lalu Almira. Juga masa lalunya. Pria yang dulu sangat ia kagumi, tapi pria itu tak pernah melirik ke arahnya.
Pria itu memilih Almira, dan ia mundur. Mengubur perlahan perasaannya. Namun, saat Almira memberikan hatinya, pria ini malah berkhianat menjelang hari pertunangan. Almira hancur. Ia marah. Hingga Almira beralih pada Gilang. Pria yang datang sebagai pelipur di tengah lara.
“Berapa kali harus aku katakan?" Revan menatap Sifa dengan wajah sendu. "Aku tidak pernah mengkhianatinya. Aku dijebak. Aku bahkan tidak tahu siapa yang waktu itu ada di kamar hotel bersamaku!"
"Untuk apa kau jelaskan padaku? Bawa bukti! Jelaskan itu pada Almira! Dia yang paling terluka.”
"Dan aku sudah mendapatkan buktinya," potong Revan. “Si keparat itu pelakunya. Tapi saat aku ingin menunjukkan bukti, mereka sudah menikah. Aku pikir, asalkan Almira benar-benar bahagia, aku akan dengan senang hati hanya bisa melihatnya dari jauh. Tapi ternyata…"
"Almira akan menggugat cerai!” ucap Sifa. “Tapi sebelum itu ia ingin memastikan semua harta menjadi miliknya.”
“Aku akan membantu,” ucap Revan seraya mengambil sebuah kartu nama dari dompetnya dan menyerahkannya pada Sifa. "Ini pengacara kepercayaan keluargaku. Almira pasti mendapatkan semua haknya," ucap Revan.
Sifa menerima kartu nama itu dengan tatapan ragu. "Aku akan sampaikan pada Almira," ucap Sifa.
Revan mengangguk, “Jangan katakan itu dariku, dia pasti akan menolak."
Sifa mengerti. "Aku tahu yang harus aku lakukan, Revan," ucap Sifa. Suaranya tak lagi ketus. "Kamu masih sangat peduli pada Almira."
Revan hanya tersenyum tipis, tidak membenarkan maupun menyangkal ucapan Sifa. Tentu saja ia peduli. Bahkan ia siap untuk mengambil kembali hati Almira. Tidak peduli meskipun Almira pernah menikah dengan orang lain.
Revan berpamitan setelah menghabiskan minumannya. Sifa mengiringi kepergian pria itu dengan mata nanar. Ada luka yang tak bisa ia sembunyikan.
“Tak apa," ucapnya. “Lelaki di dunia ini bukan hanya dia." Menghapus setitik air yang menetes di pipinya, lalu beranjak dari duduknya setelah memanggil pelayan untuk melakukan pembayaran.
“Semangat, Sifa," ucapnya pada diri sendiri. “Jodohmu nanti pangeran Dubai!" Tersenyum sendiri bagai orang bodoh, lalu melangkah dengan hati yang lebih ringan.
Bongko langsung Gilang 😀
Rosidah langsung stroke
Lila langsung brojol bayine
Riana langsung semaput, ternyata pas diperiksa semaput mergo meteng
Wis paket komplit arep riyoyo siap dinikmati 😀😀
Gagal maning gagal maning... Kagak jadi belah duren lagi si gilang🤣🤣🤣
Sambil berdiri semua pengang perutnya... ini gimana konsepnyaa/Facepalm//Facepalm/
"kali ini aku akan membiarkan pria lain...." kata tidak nya mana🧐🧐