NovelToon NovelToon
Nyonya Dibalik Tahta Alexander

Nyonya Dibalik Tahta Alexander

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Action / Dark Romance / Nikah Kontrak
Popularitas:134
Nilai: 5
Nama Author: Rizky Handayani Sr.

Lucane Kyle Alexander CEO muda yang membangun kerajaan bisnis raksasa dan memiliki pengaruh mengerikan di dunia bawah. Dingin, tak tersentuh, dan membuat banyak orang berlutut hanya dengan satu perintah.

Tidak ada yang berani menentangnya.

Di sisi lain, ada Jema Elodie Moreau mantan pembunuh bayaran elit yang telah meninggalkan dunia senjata.
Cantik, barbar, elegan, dan berbahaya.

Keduanya hidup di dunia berbeda, hingga sebuah rahasia masa lalu menghantam mereka:

kedua orang tua mereka pernah menandatangani perjanjian pernikahan ketika Lucane dan Jema masih kecil. Perjanjian yang tak bisa dibatalkan tanpa menghancurkan reputasi dan nyawa banyak pihak.

Tanpa pilihan lain, mereka terjerat dalam ikatan yang tidak mereka inginkan.

Namun pernikahan itu memaksa mereka menghadapi lebih dari sekadar ego dan luka masa lalu.
Dalam ikatan tanpa cinta ini, hanya ada dua jalan, bersatu melawan dunia... atau saling menghancurkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rizky Handayani Sr., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1

Langit sore itu gelap, seolah ikut menyembunyikan bau darah yang sebentar lagi akan tumpah.

Gedung kaca setinggi empat puluh lantai berdiri megah di jantung kota Alexander Corp, perusahaan raksasa yang ditakuti bukan hanya karena kekayaannya, tapi juga karena siapa yang duduk di kursi tertinggi.

Lucane Kyle Alexander

Pria tampan berusia tiga puluh tiga tahun dengan tatapan sekeras baja. Dingin. Hening. Tak ada yang berani menatap matanya terlalu lama tanpa merasa nyawanya mulai ditimbang.

Ruang rapat lantai paling atas sunyi ketika pintu terbuka.

Langkah sepatu hitamnya terdengar mantap, berirama seperti detak jantung yang menunggu vonis mati. Di belakangnya, asisten pribadinya, Alaric, mengikuti dengan wajah tanpa ekspresi, membawa map hitam tebal berisi laporan pengkhianatan.

“Lanjutkan rapatnya,” ucap Lucane datar.

Nada suaranya tenang terlalu tenang untuk seseorang yang datang membawa badai.

Para direktur menatap satu sama lain, gugup. Mereka tahu, malam ini bukan rapat biasa.

Lucane duduk di kursi utamanya, jemarinya mengetuk pelan meja kayu mahal itu.

“Dalam tiga bulan terakhir,” katanya perlahan, “perusahaan kehilangan lima puluh juta dolar. Ada seseorang... atau beberapa orang... yang mengkhianati saya.”

Tak ada yang berani bersuara.

Hanya suara detik jam di dinding yang terasa seperti bom waktu.

Liam membuka map hitam dan meletakkan tiga foto di atas meja.

Tiga wajah pucat. Tiga orang yang tiba-tiba kehilangan warna di pipinya.

Lucane menatap mereka satu per satu. “Kalian pikir saya tidak tahu?” bisiknya pelan.

Tatapannya cukup untuk membuat napas mereka tercekat.

Salah satu direktur mencoba bicara, terbata. “T-Tuan Lucane, saya bisa jelaskan..”

Sebuah tembakan senyap terdengar.

Pria itu terjerembab ke meja, darah mengalir dari dahinya. Lucane bahkan tidak berkedip.

“Penjelasan tidak diperlukan,” ucapnya datar. “Bukti lebih jujur dari kata-kata.”

Sisa dua orang gemetar, nyaris tak bisa bergerak.

Lucane berdiri perlahan, mengenakan sarung tangan kulit hitamnya.

“Dalam dunia saya,” katanya lembut tapi beracun, “pengkhianatan adalah penyakit. Dan saya tidak suka menyembuhkan penyakit… dan menghapusnya.”

Dalam lima menit, ruang rapat itu berubah menjadi kuburan tanpa nisan.

Lucane menatap jendela besar yang memperlihatkan seluruh kota New York, kota yang dia kuasai dengan tangan dingin dan kepala jernih.

Liam mendekat. “Perintah selanjutnya, Tuan?”

Lucane menatap pantulan dirinya di kaca. “Cari tahu siapa yang membantu mereka dari luar. Aku ingin seluruh rantai ini diputus… dari akar.”

Dia berjalan keluar dengan tenang, meninggalkan aroma besi dan parfum mahal.

Lampu-lampu gedung perlahan padam, satu per satu, seperti menunduk di hadapan kegelapan yang diciptakannya sendiri.

Lucane Kyle Alexander pria yang memimpin dengan senyum tipis dan tangan berlumur darah.

Di dunia bisnis, dia disebut jenius.

Di dunia bawah, dia disebut algojo berjas mahal.

“Tuan, jadwal malam ini ketemu dengan para Tuan muda.” ucap Liam mengingatkan.

Lucane hanya mengangguk.

* * * *

Di balik kacamata tebal, rambut acak-acakan, dan pakaian lusuh yang membuatnya tampak seperti gadis kutu buku biasa, tersembunyi seorang pembunuh bayaran elit yang dikenal di dunia bawah dengan nama sandi “Spectre” seekor predator yang tak pernah gagal dalam setiap perburuan.

Malam itu, langit New York diguyur hujan deras. Suara petir memecah langit, sementara di dalam ballroom hotel mewah, pesta perayaan ulang tahun seorang pejabat tinggi berlangsung meriah. Gadis itu melangkah masuk pelan, membawa nampan minuman, menyamar sebagai pelayan baru.

Wajahnya pucat polos, kacamata tebal menutupi sorot matanya yang tajam. Tak ada yang menyangka, di dalam garter hitam di pahanya tersembunyi pisau lipat berlapis racun, dan di dalam gelas sampanye yang ia bawa ada dosis racun halus yang cukup untuk menghentikan jantung seekor gajah.

Ketika pria berkumis tebal di podium tertawa besar sambil membanggakan proyek barunya, Jema mendekat.

“Selamat malam, Tuan. Ini minuman spesial untuk Anda,” ucapnya lembut.

Pria itu tersenyum lebar dan meneguk tanpa curiga.

Tiga menit kemudian, di tengah tawa dan musik, tubuh sang pejabat ambruk ke lantai. Panik melanda ruangan.

Jema melangkah mundur pelan, berbalik menuju koridor servis langkahnya ringan seperti bayangan. Tapi belum sempat ia menekan tombol lift rahasia di dapur belakang, suara bentakan terdengar

“Hei! Kau! Berhenti!”

Tiga pria bersetelan hitam bodyguard pribadi korban mendekat cepat.

Mata Jema berkilat. Dalam sekejap, dia melepas kacamata, rambutnya yang semula acak digerai, dan aura “gadis cupu” itu hilang. Wajahnya kini dingin, mematikan.

“Sayang sekali,” gumamnya. “Aku sudah ingin pulang tanpa darah malam ini.”

Pria pertama menyerang dengan pukulan keras. Jema menunduk, menangkis, lalu menusukkan pulpen logam ke arah tenggorokannya satu gerakan cepat, presisi. Pria itu roboh, darah memercik di lantai marmer.

Dua lainnya maju serentak. Jema menendang meja hingga terbalik, melompat ke atasnya, memutar tubuh, dan melemparkan pisau kecil dari lengan bajunya menancap tepat di bahu satu orang.

Yang terakhir mencoba menembak, tapi Jema lebih cepat. Dia menyambar baki logam, memantulkan peluru ke lampu gantung hingga ruangan menjadi gelap.

Di kegelapan, hanya terdengar desah napas dan langkah sepatunya yang ringan.

“Sudah kubilang,” bisiknya dari balik gelap, “jangan cari pembunuh di antara orang yang terlihat lemah.”

Satu detik kemudian crack! suara tulang patah.

Tubuh pria itu jatuh diam.

Saat alarm hotel mulai berbunyi, Jema sudah melangkah keluar dari pintu darurat, menyamar lagi sebagai tamu panik dengan wajah polos. Di tangan kirinya, sebuah lencana palsu wartawan menggantung.

Dia menatap langit malam yang basah oleh hujan.

Darah, hujan, dan rahasia… semuanya larut menjadi satu.

Senyumnya tipis, nyaris tidak terlihat.

“Target selesai. Sekarang… sudah waktu nya untuk hidup normal Jema”

Gadis cantik itu adalah Jema Èlodie Moreau, usia nya baru menginjak dua puluh lima tahun.

Malam ini adalah malam terakhir nya menjadi pembunuh bayaran, sesuai janji nya dia akan mengakhiri pekerjaan nya saat usia nya sudah dua puluh lima tahun.

* * * *

Setelah menempuh perjalanan cukup panjang, akhirnya Jema tiba di apartemen mewahnya yang terletak di jantung kota. Lampu-lampu kota memantul di kaca besar ruang tamu, menciptakan bayangan indah namun dingin di dinding putihnya. Dengan langkah lelah, ia menanggalkan mantel hitamnya dan langsung menuju kamar mandi.

Air hangat mengalir di tubuhnya, membawa pergi sisa-sisa debu, darah, dan aroma mesiu yang masih menempel samar di kulit. “Lelah sekali…” gumamnya pelan, suaranya nyaris tenggelam oleh suara air pancuran.

Beberapa menit kemudian, Jema keluar mengenakan piyama satin berwarna gelap. Rambutnya yang masih lembap dibiarkan terurai, menambah kesan lembut di balik wajah dingin yang biasanya ia tunjukkan di lapangan. Ia menuju dapur, membuka kulkas, lalu mengambil beberapa cemilan sederhana sepotong kue cokelat, beberapa buah, dan segelas susu dingin.

Sambil membawa semuanya ke meja ruang tamu, ia menyalakan laptop peraknya. Jari-jarinya yang ramping menari cepat di atas keyboard, mengirimkan laporan singkat kepada jaringannya: “Target selesai. Misi bersih tanpa jejak di hari terakhir.”

Beberapa detik kemudian, notifikasi muncul di layar transfer dana berhasil masuk ke rekeningnya. Jumlahnya besar, cukup untuk hidup nyaman selama berbulan-bulan. Bibir Jema menampilkan senyum tipis, bukan karena uang, tapi karena kepuasan kerja sempurna tanpa cela.

Ia menutup laptop, meneguk susu terakhirnya, lalu berjalan ke arah tempat tidur. Di luar, angin malam berdesir lembut melewati balkon terbuka, membawa aroma hujan yang baru turun.

Jema berbaring, menatap langit-langit yang diterangi cahaya kota. Dalam diam, pikirannya mulai melayang ke misi misi sebelumnya, ke wajah-wajah yang menjadi bayangan masa lalu.

Sebelum matanya tertutup sepenuhnya, ia berbisik lirih,

“Mari hidup normal Jema, semoga besok adalah hari yang baik”

Lalu malam pun menelan seluruh kesunyian apartemen itu.

* * * *

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!