Lanjutan pewaris dewa pedang
Jian Wuyou yang sedang melawan langit dan utusannya harus mengalami kegagalan total dalam melindungi peti mati istrinya.
Merasa marah dia mulai naik ke alam yang lebih tinggi yaitu langit, tempat di mana musuh-musuh yang mempermainkannya berada.
Tapi sayang dia kalah dan kembali ke masa lalu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1: Murka Sang Keturunan Dewa Pedang
Angkasa di atas Puncak Kristal mendadak retak, seolah-olah selembar porselen raksasa dihantam palu tak kasat mata. Dari celah dimensi yang menganga, satu per satu kapal perang kencana berlapis emas muncul, menutupi sinar matahari dan melemparkan bayangan kematian ke arah dataran tinggi tempat Jian Wuyou berdiri.
Di sampingnya, Jiwu—klon esensinya—berdiri waspada. Di belakang mereka, Mei Lian mendekap bayi Jian Han dengan tubuh gemetar hebat. Udara di puncak itu kini terasa seberat logam, dipenuhi oleh tekanan energi dari ratusan ribu prajurit langit.
"Jiwu," suara Jian Wuyou terdengar berat dan parau, namun tidak mengandung ketakutan sedikit pun. "Mustahil bagi kalian untuk menembus kepungan armada ini dalam waktu singkat. Ambil posisi di pusat paviliun. Jaga anak itu dan Mei Lian dengan seluruh sisa energimu."
Jian Wuyou menghentakkan kaki kanannya ke tanah. Seketika, pola-pola cahaya ungu merambat dari kakinya, menyatu dengan energi Jiwu untuk membentuk Formasi Sembilan Penjuru Kehampaan. Sebuah kubah cahaya raksasa menyelimuti paviliun, memisahkan orang-orang yang ia cintai dari badai yang akan segera pecah.
Jian Wuyou kemudian menarik pedang Yue Sha. Bilah pedang hitam itu bergetar hebat, mengeluarkan uap hawa membunuh yang sanggup membekukan darah siapa pun yang melihatnya.
Tiba-tiba, dari kapal perang utama yang paling megah, sesosok pria melayang turun dengan perlahan. Ia mengenakan jubah kebesaran berwarna putih-emas yang berkibar ditiup angin badai. Wajahnya sangat tampan, hampir seperti pahatan dewa, namun matanya yang memiliki dua warna berbeda—emas di kiri dan merah di kanan—memancarkan kebengisan yang tak berujung.
Dialah Kaisar Mo Tian, Utusan Langit sekaligus pengkhianat yang pernah menjadi sahabat karib Dewa Pedang Pertama.
"Akhirnya kita bertemu, keturunan Dewa Pedang Pertama... atau haruskah kupanggil kau 'sisa-sisa' dari masa lalu?" Mo Tian tersenyum tipis, sebuah senyuman yang meremehkan. "Lihatlah dirimu, Jian Wuyou. Mengasingkan diri di puncak gunung demi raga seorang wanita mati dan seorang anak pungut. Apakah kau sudah siap untuk mengakhiri garis keturunanmu di sini?"
Jian Wuyou mendongak, menatap tajam tepat ke arah mata Mo Tian. Aura ungu di sekelilingnya meledak, menghancurkan bebatuan di bawah kakinya menjadi debu.
"Kau bicara tentang kematian?" desis Jian Wuyou. "Yang akan mati hari ini bukan aku, melainkan kau dan seluruh anjing-anjing langitmu, bajingan!"
Tanpa peringatan lebih lanjut, Jian Wuyou melesat membelah cakrawala. Kecepatannya melampaui batas suara, meninggalkan ledakan sonik yang meruntuhkan puncak pohon pinus di bawahnya.
"TEKNIK PEDANG SURYA: PEMBELAH LANGIT!"
Jian Wuyou mengayunkan Yue Sha secara vertikal. Sebuah gelombang energi pedang berwarna ungu gelap sepanjang satu mil melesat maju, menghantam kapal-kapal perang di barisan depan.
BOOOOOOMM!
Tiga kapal perang kencana meledak seketika, berubah menjadi serpihan kayu dan logam yang terbakar. Ratusan prajurit langit tewas sebelum mereka sempat menghunus senjata.
Melihat serangan itu, Mo Tian hanya melambaikan tangannya dengan santai. "Formasi Penahan Dewa, hancurkan dia!"
Puluhan ribu prajurit langit bersatu, membentuk formasi serangan yang mengeluarkan hujan tombak cahaya dari langit. Namun, Jian Wuyou tidak gentar. Ia memusatkan seluruh Qi dan Domain Kehendak-nya ke dalam satu titik di belakang tubuhnya.
"MANIFESTASI LELUHUR: DHARMA DEWA PEDANG!"
Seketika, ruang di belakang Jian Wuyou terdistorsi. Sesosok avatar raksasa setinggi ratusan meter muncul—sosok pria berambut putih dengan pedang raksasa di punggungnya. Itulah bayangan dari Dewa Pedang Pertama. Avatar tersebut mengikuti gerakan Jian Wuyou, mengayunkan pedang imaginer yang terbuat dari kehendak murni.
KRAAAAAAKKK!
Setiap tebasan avatar tersebut membelah ruang dan waktu. Puluhan kapal perang lainnya hancur berkeping-keping. Jian Wuyou bergerak di tengah-tengah armada seperti dewa kematian yang sedang menari. Darah para prajurit langit mulai menghujani pegunungan kristal, mengubah salju putih menjadi merah pekat.
"Mo Tian! Turun dan hadapi aku!" teriak Jian Wuyou, suaranya mengguncang langit-langit Alam Atas.
Mo Tian mulai kehilangan ketenangannya. Matanya yang merah berkilat marah. "Berani sekali kau memanggil jiwanya di hadapanku! Baiklah, jika kau ingin kehancuran, akan kuberikan kiamat untukmu!"
Mo Tian menarik sebuah tombak panjang dari cahaya matahari, siap untuk beradu kekuatan secara langsung dengan Jian Wuyou yang kini telah diselimuti oleh kemarahan leluhurnya.