Demi menyelamatkan nyawa suaminya yang kritis akibat kecelakaan, Melisa harus berhadapan dengan tagihan rumah sakit yang sangat besar. Di tengah keputusasaan, ia bertemu kembali dengan Harvey, dokter bedah yang menangani suaminya sekaligus mantan kekasih yang ia tinggalkan secara tragis saat SMA.
Terdesak biaya, Melisa terpaksa mengambil jalan gelap dengan bekerja di sebuah klub malam melalui bantuan temannya, Laluna. Namun, takdir kembali mempermainkannya: pria kaya yang menawar harganya paling tinggi malam itu adalah Harvey.
Kini, Harvey menggunakan kekuasaannya untuk menjerat Melisa kembali—bukan hanya untuk membalas dendam atas sakit hati masa lalu, tapi juga menuntut bayaran atas nyawa suami Melisa yang ia selamatkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MissSHalalalal, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MENUANGKAN MINUM UNTUK PRIA LAIN
🌼🌼🌼🌼🌼🌼
Lampu neon berwarna ungu dan biru berpendar di koridor klub malam The Velvet Room, menciptakan bayangan yang menari-nari di dinding seperti hantu-hantu masa lalu yang mengejar. Melisa meremas jemarinya yang dingin, berusaha menjaga keseimbangan di atas sepatu hak tinggi yang terasa asing di kakinya.
Di sampingnya, Laluna melangkah dengan penuh percaya diri. Gaun merah ketatnya berkilauan setiap kali terkena cahaya, memantulkan citra seorang wanita yang telah menaklukkan kerasnya dunia malam. Laluna bukan sekadar rekan kerja; dia adalah mentor yang menarik Melisa dari jurang keputusasaan.
Laluna berhenti tepat di depan pintu besar berlapis beludru. Ia berbalik, menatap Melisa dengan tatapan tajam namun suportif.
"Dengar, Mel," bisik Laluna, suaranya nyaris tenggelam oleh dentuman bass yang menggetarkan lantai. "Malam ini tugasmu simpel tapi krusial. Temani tamu minum, pastikan gelas mereka tidak pernah kosong, dan jadilah pendengar yang baik. Jangan terlalu banyak bicara tentang dirimu sendiri. Ingat, kau di sini untuk bekerja, bukan untuk curhat."
Melisa mengangguk pelan, tenggorokannya tercekat. Di benaknya, hanya ada wajah suaminya, narendra, yang pucat pasi di atas bangsal rumah sakit. Biaya pengobatan yang membengkak, tagihan obat yang tak kunjung usai, dan ancaman penghentian perawatan telah membawanya ke tempat yang paling tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.
"Aku mengerti, Luna. Aku hanya... butuh uangnya," lirih Melisa.
"Bagus. Pasang topengmu sekarang," perintah Laluna lembut.
Pintu berat itu terbuka. Aroma cerutu mahal dan parfum maskulin menyeruak, menusuk indra penciuman Melisa. Ia mengatur napasnya, mencoba memasang senyum paling ramah yang ia miliki. Namun, saat langkahnya memasuki ruang VVIP itu, dunianya mendadak runtuh. Jantungnya seolah berhenti berdetak selama satu detik penuh.
Di sudut sofa kulit yang luas, duduk seorang pria dengan kemeja hitam yang lengannya digulung hingga siku. Tatapannya dingin, setajam pisau bedah yang biasa ia pegang.
Dia adalah Harvey.
Bukan sekadar mantan kekasih yang meninggalkan luka di masa lalu, tapi Harvey adalah dokter spesialis bedah yang menangani suaminya. Pria yang setiap pagi memberikan laporan medis tentang kondisi kritis narendra, kini duduk di sana dengan gelas wiski di tangan.
Dunia terasa sangat sempit bagi Melisa. Ia merasa telanjang, seolah semua rahasia, kemiskinan, dan keputusasaannya terpampang nyata di bawah lampu remang-remang itu. Ia mengira Harvey akan terkejut, menghakiminya, atau setidaknya menunjukkan emosi.
Namun, Harvey justru menunjukkan reaksi yang lebih menyakitkan: ketidakpedulian yang mutlak.
Pria itu hanya melirik Melisa sekilas, seolah Melisa hanyalah dekorasi ruangan atau pelayan tak berwajah lainnya. Ia kembali menyesap minumannya dan melanjutkan obrolan dengan rekan di sebelahnya, tertawa kecil tanpa beban.
"Ada apa, Mel? Ayo masuk," tegur Laluna pelan sambil menyenggol lengannya.
Melisa menelan ludah yang terasa pahit. Dengan tangan yang sedikit gemetar, ia mendekati meja. Ia mengambil botol minuman dan mulai menuangkannya ke gelas Harvey. Air mata hampir jatuh, namun ia menahannya kuat-kuat. Di sini, aku bukan istri dari pasiennya. Di sini, aku hanya komoditas, batinnya perih.
Harvey tetap tidak menoleh. Ia justru menyandarkan punggungnya ke sofa, menunjukkan gestur kekuasaan yang membuat Melisa merasa semakin kerdil. Padahal, hanya delapan jam yang lalu, Harvey adalah sosok profesional berjas putih yang memberikan resep obat mahal untuk suaminya. Kini, pria yang sama sedang menunggu Melisa melayaninya di sebuah klub malam.
"Tuangkan lagi," ucap Harvey dingin tanpa melihat wajah Melisa. Suaranya yang berat dan otoriter membuat Melisa tersentak.
"Baik, Tuan," jawab Melisa, suaranya hampir hilang.
Melisa bergerak patuh, menuangkan cairan amber itu hingga batas gelas. Setiap tetes minuman yang jatuh seolah-olah adalah harga dirinya yang terkikis. Suasana di ruang VVIP semakin riuh. Botol-botol sampanye mahal mulai dibuka, menandakan sebuah perayaan besar.
Salah satu kolega Harvey, seorang pria paruh baya yang tampak ambisius dengan wajah kemerahan karena alkohol, mengangkat gelasnya tinggi-tinggi.
"Mari bersulang untuk Harvey! Calon direktur utama rumah sakit cabang baru kita di Surabaya! Dokter muda paling berbakat dan paling kaya di angkatannya!" serunya, disambut tepuk tangan meriah.
Harvey hanya tersenyum tipis, sebuah senyum formal yang menyembunyikan banyak rahasia. "Terima kasih, Dokter Danu. Itu masih rencana," jawabnya singkat.
"Ah, jangan rendah hati! Nah, karena ini malam perayaan," lanjut pria itu lagi dengan mata yang mulai sayu, "bagaimana kalau kita buat sedikit permainan? Bos-bos besar di sini harus punya 'asisten' pribadi untuk malam ini. Pilih satu wanita di ruangan ini untuk menemani kalian minum sampai pagi. Siapa pun yang gelasnya kosong duluan, dia yang bayar semua tagihan malam ini!"
Beberapa pria mulai menarik wanita-wanita yang berdiri di sekitar mereka. Melisa menunduk, berusaha menyembunyikan wajahnya di balik rambut panjangnya, berharap ia bisa menghilang menjadi debu.
Namun, takdir berkata lain. Tangan Harvey tiba-tiba bergerak. Tanpa melihat ke arahnya, Harvey menunjuk tepat ke arah Melisa.
"Dia," ucap Harvey singkat. Suaranya datar, namun penuh penekanan yang tak bisa dibantah.
Teman-teman Harvey bersorak. "Pilihan yang bagus, Harvey! Dia yang paling pendiam, tapi sepertinya paling telaten. Kau memang punya selera yang unik."
Melisa membeku. Ia terpaksa melangkah mendekat dan duduk di samping Harvey. Jarak mereka begitu dekat hingga Melisa bisa mencium aroma parfum Harvey—aroma sandalwood dan citrus yang dulu sangat ia puja, kini bercampur dengan aroma wiski yang keras.
"Duduk," perintah Harvey pelan, nyaris seperti bisikan yang hanya bisa didengar oleh Melisa.
Melisa duduk dengan kaku di sisi sofa. Tangannya gemetar saat ia harus menuangkan minuman ke gelas Harvey untuk kesekian kalinya.
"Tuangkan untuk dirimu sendiri juga," kata Harvey tiba-tiba sambil menggeser sebuah gelas kosong ke arah Melisa.
"Maaf, Tuan, saya hanya bertugas melayani..."
"Ini perintah, bukan tawaran," potong Harvey dingin. Ia akhirnya memutar kepala dan menatap langsung ke mata Melisa untuk pertama kalinya malam itu.
Tatapannya tidak mengandung cinta, tidak juga benci. Hanya sebuah kekosongan yang mengintimidasi. "Minum, Melisa. Bukankah kau di sini untuk mencari kesenangan... atau uang?"
Laluna, yang sejak tadi mengawasi dari balik tirai tipis di sudut ruangan, menyadari situasi mulai tidak sehat. Ia melihat tubuh Melisa yang kaku seperti patung dan bagaimana Harvey seolah-olah sedang menyudutkan wanita itu.
Dengan langkah gemulai yang sengaja dibuat sedikit berisik agar menarik perhatian, Laluna mendekat ke sofa.
"Maafkan saya, Dokter Harvey dan para tuan yang terhormat," sapa Laluna dengan suara merdu. Ia meletakkan tangannya dengan lembut di bahu Melisa. "Sepertinya Melisa masih agak kaku. Ini adalah malam pertamanya, dan dia sedikit kewalahan melayani orang-orang hebat seperti Anda."
Laluna mengambil botol wiski dari tangan Melisa yang gemetar. "Bagaimana kalau saya yang membantu meramaikan suasana? Melisa bisa membantu saya menyiapkan camilan di luar sebentar agar dia bisa menghirup udara segar."
Teman-teman Harvey tertawa. "Ah, Laluna! Selalu melindungi anak buahmu. Baiklah, bawa dia keluar sebentar."
Melisa menatap Laluna dengan pandangan penuh terima kasih, bersiap untuk berdiri. Namun, sebelum ia sempat beranjak, tangan Harvey bergerak cepat. Ia mencengkeram pergelangan tangan Melisa.
"Dia tidak pergi ke mana-mana," ucap Harvey tanpa mengalihkan pandangan dari gelasnya. Matanya kemudian melirik Laluna dengan tajam. "Laluna, biarkan dia di sini. Dia sedang belajar, bukan? Dan saya adalah guru yang sangat sabar."
Laluna tertegun. Ia melihat ada sesuatu yang sangat personal dalam cara Harvey memegang tangan Melisa. "Tapi Dokter, dia terlihat tidak sehat, wajahnya sangat pucat..."
Harvey melepaskan cengkeramannya, lalu menoleh sepenuhnya ke arah Melisa dengan senyum sinis yang menyayat hati.
"Benarkah dia tidak sehat?" tanya Harvey dengan nada mengejek. "Jika dia benar-benar merasa tidak sehat, dia seharusnya berada di rumah sakit menjaga suaminya yang sedang sekarat, bukan di sini mengenakan gaun pendek dan menuangkan minuman untuk pria lain. Bukankah begitu, Melisa?"
Keheningan seketika menyelimuti meja itu. Teman-teman Harvey terdiam, sementara Melisa merasa seolah-olah jantungnya baru saja diremas hingga hancur. Rahasianya telah diledakkan di depan semua orang oleh pria yang seharusnya memberikan harapan.
Melisa menatap Harvey dengan mata berkaca-kaca. "Dokter... tolong..."
"Tolong apa?" potong Harvey, suaranya kini merendah, sangat dingin hingga menusuk tulang. "Tolong berikan diskon untuk biaya rumah sakit? Atau tolong berpura-pura tidak melihatmu di sini? Katakan padaku, berapa harga harga dirimu malam ini agar aku bisa membayar semuanya dan menyuruhmu pulang?"
Melisa tak mampu menjawab. Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya jatuh, mengalir melewati pipinya yang dipoles make-up tebal. Di ruangan yang penuh dengan tawa dan kemewahan ini, ia merasa menjadi orang paling malang di dunia.
***
Bersambung...
......................
...Sebelum lanjut, bantu author lebih semangat dengan memberikan Like, komen, vote, dan gift semampu kalian ya 🥰🥰🥰...