NovelToon NovelToon
Saya Bukan Pilihan, Pak CEO

Saya Bukan Pilihan, Pak CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Dosen / Beda Usia / CEO
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: Biby Jean

"Saya menyukai kamu, Maura. Tapi, saya sadar bahwa perbedaan umur kita terlalu jauh."
Pengakuan Setya membuat Maura mengernyitkan dahi. Mengapa dirinya ini seolah menjadi pilihan pria dewasa dihadapannya?
"Saya bukan pilihan, Pak."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Biby Jean, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bagian 1 - Tugas Tidak Terduga

Maura menghembuskan napas panjang begitu pintu ruang kelas tertutup di belakangnya. Jam kuliah terakhir akhirnya selesai. Bahunya terasa sedikit pegal, tenggorokannya kering setelah dua jam penuh berbicara tanpa henti.

Namun begitu pintu ruang guru didorong terbuka, Maura langsung sadar bahwa ia datang di saat yang kurang tepat. Beberapa dosen berkumpul di tengah, ada yang duduk santai di sofa, ada yang berdiri sambil menyilangkan tangan. Suara mereka tumpang tindih, penuh tawa dan gumaman antusias.

“Serius, Bu, katanya dia itu tinggi, loh.”

“Bukan cuma tinggi. Karismanya katanya bikin ruangan langsung berubah auranya.”

Maura mengernyit pelan, lalu melangkah masuk sambil menaruh tas di kursi dekat jendela.

“Ada apa lagi ini,” gumamnya lirih.

Bu Rina, dosen senior yang selalu paling update soal apa pun, langsung menoleh begitu melihat Maura.

“Eh, Maura. Sini, duduk. Kamu dengar kabar soal acara amal universitas bulan depan, kan?”

Maura menuang air ke dalam gelas plastik dan menoleh pada mereka semua sambil menjawab, “sedikit, Bu. Yang kerja sama dengan sponsor luar, ya?”

“Iya, tapi sponsor kali ini bukan kaleng-kaleng,” sahut Pak Dimas sambil terkekeh.

“Perusahaan besar semua,” timpal dosen lain. “Dan katanya, ada satu nama yang bikin rektorat sampai deg-degan.”

Maura meneguk airnya pelan. “Siapa?”

Bu Rina tersenyum lebar, seolah menikmati momen itu. “Setya.”

Beberapa dosen langsung bereaksi setelah mendengar nama yang asing di telinga Maura.

“Setya Pradana,” koreksi Bu Rina.

“CEO Pradana Group,” tambah Pak Dimas.

“Yang jarang muncul di publik itu,” sahut yang lain.

Maura berhenti meneguk air dan tanpa merasa bersalah menjawab, “maaf. Setya siapa ya, Bu?”

Ruangan mendadak senyap. Beberapa pasang mata menatapnya seolah ia baru saja mengaku tidak tahu siapa presiden negara sendiri.

“Kamu serius?” tanya Bu Rina.

Maura mengangguk pelan. “Saya jarang mengikuti berita bisnis.”

Pak Dimas tertawa kecil mendengar alasan itu. ya, memang bisa dibilang Maura adalah dosen muda yang sangat tekun, cerdas, disiplin. Tidak jarang mahasiswa mengeluh akan ketegasan dirinya dalam mengajar sekaligus kedisiplinannya yang patut diacungi jempol.

“Astaga. Maura ini polos atau memang hidupnya cuma kampus dan mahasiswa?”

“Dua-duanya, Pak,” jawab Maura jujur sambil diiringi tawa canggung membuat Bu Rina menggeleng-geleng sambil tersenyum.

“Setya Pradana itu CEO sukses. Perusahaannya di mana-mana. Properti, investasi, energi. Usianya masih tergolong muda untuk posisi itu,” jelas Bu Rina.

“Dan katanya,” salah satu dosen perempuan menurunkan suara, “orangnya dingin. Pendiam. Tapi ganteng.”

“Bu, ini kayaknya berubah jadi fanmeeting ya,” Pak Dimas menyela sambil tertawa.

“Namanya juga gosip, Pak Dimas,” balas Bu Rina santai.

Maura tersenyum tipis, tapi perasaannya terasa ganjil. Ia memperhatikan bagaimana nama itu saja sudah cukup membuat ruangan berubah ramai. Ada antusiasme yang tidak ia pahami.

“Kenapa semua orang heboh sekali?” tanya Maura akhirnya.

“Karena beliau terkenal sulit ditemui,” jawab Bu Rina.

Pak Dimas mengangguk. “Undangan acara apa pun sering ditolak. Email tidak dibalas. Telepon jarang diangkat. Sekretarisnya saja susah ditembus.”

“Oh. Jadi belum tentu datang?” gumam Maura.

“Belum tentu. Makanya ini jadi topik besar,” kata Bu Rina.

Percakapan itu terhenti ketika pintu ruang guru kembali terbuka. Seorang pria paruh baya dengan jas rapi melangkah masuk. Dekan fakultas.

“Selamat sore,” sapanya.

“Selamat sore, Pak,” jawab para dosen serempak.

Dekan tersenyum tipis, lalu melirik sekeliling. Memperhatikan semua dosen yang berkumpul di tengah ruangan dengan suara-suara ringan yang sedikit terdengar dari luar ruangan.

“Saya dengar ruang guru hari ini cukup ramai.”

Bu Rina terkekeh kecil. “Sedang membahas acara amal, Pak.”

“Bagus. Kebetulan, saya memang ingin menyampaikan sesuatu soal itu,” kata dekan.

Maura duduk lebih tegak tanpa sadar.

“Universitas memutuskan bahwa undangan untuk salah satu sponsor utama akan disampaikan secara langsung,” lanjut dekan.

Beberapa dosen saling pandang, saling mengernyitkan dahi karena tidak biasanya membicarakan undangan dengan para dosen. Biasanya masalah seperti ini sudah jelas akan di urus bagian dekan dan rektor saja.

“Langsung?” tanya Pak Dimas.

“Iya, karena beliau dikenal sulit dihubungi dan sering menolak undangan resmi,” jawab dekan.

Maura menelan ludah. Ia belum tahu kenapa, tapi ada firasat aneh di dadanya.

“Kami perlu seseorang yang bisa mewakili universitas dengan baik. Tenang, profesional, dan tidak membawa kepentingan pribadi,” lanjut Pak Dekan itu.

Beberapa pasang mata mulai melirik ke satu arah. Maura dan perempuan itu menyadarinya terlambat.

“Maura,” panggil dekan.

Ia berkedip. “Iya, Pak?”

“Kami memilih kamu untuk menyerahkan undangan ini.”

Ruangan kembali sunyi.

“Sa-saya?” Maura refleks berdiri. “Maaf, Pak, mungkin ada dosen lain yang lebih-”

“Kamu memenuhi semua kriteria. Dan kamu belum pernah terlibat gosip apa pun,” potong dekan tenang.

Beberapa dosen terkekeh kecil.

“Itu pujian atau sindiran, Pak?” seloroh Pak Dimas.

Perkataan Pak Dekan memang benar, karena di usianya yang sudah 25 tahun belum pernah terdengar perempuan itu berkencan dengan siapapun. Bahkan, dari saat Maura masih menjadi mahasiswi di kampus yang sama dengan dosen yang dulu mengajarnya, kini menjadi temannya.

Dekan tersenyum tipis. “Pujian.”

Maura menggeleng pelan. “Pak, saya tidak punya pengalaman bertemu pihak korporasi sebesar itu.”

“Justru itu. Kamu tidak membawa kesan formal berlebihan,” sahut Bu Rina.

Maura menarik napas dalam. “Kalau beliau menolak?”

“Risiko itu selalu ada. Tugas kamu hanya menyampaikan undangan,” jawab dekan.

Beberapa detik berlalu. Maura merasa semua mata menunggunya. Menanti jawaban yang Maura sendiri bingung untuk menjawabnya.

“Anggap saja kesempatan,” kata Bu Rina ringan. “Siapa tahu pulang-pulang kamu malah bawa cerita seru.”

Maura tersenyum kaku. “Atau trauma, Bu.”

Tawa kecil terdengar. Akhirnya, Maura mengangguk pelan. “Baik, Pak. Saya akan mencoba.”

Dekan mengangguk puas. “Detail alamat dan jadwal akan kami kirimkan malam ini.”

Setelah dekan pergi, suasana kembali ramai.

“Wah, Maura. Kamu bakal ketemu CEO terkenal,” goda Pak Dimas.

“Jangan jatuh cinta duluan,” canda Bu Rina.

Maura menggeleng sambil tersenyum tipis. “Saya cuma mau menyerahkan undangan, Bu.”

Namun ketika ia kembali duduk dan menatap lantai, perasaannya tidak setenang ucapannya.

Setya Pradana.

Nama itu kini bukan sekadar gosip ruang guru. Entah kenapa, tugas sederhana itu terasa jauh lebih berat dari yang seharusnya. Dan ia belum tahu, bahwa satu undangan kecil itu akan menjadi awal dari pertanyaan besar tentang posisi, pilihan, dan harga diri.

1
Laily Hayati
keren jalan ceritanyapenulisan kata2nya juga runtut dan mudah dipahami,gak lebay.,beda dengan alur novel lain. lbh manusiawi. sukses selalu outhor
Anita Optik Agung Riana
cerita yg bagus.alur yg jelas dan tidak menye menye
Anita Optik Agung Riana
aduhhh jgan lama lama Thor update nya.makin seru.semoha sukses thor
Karrr
baguss👍👍
Siti Jul
kejam ih
Siti Jul
setya emang sebegitu dinginnya ya. jangan dingin dingin atuh
Siti Jul
ini baguss bett
Siti Jul
sukaaa
Maulida Ana
awwww
Maulida Ana
uhhh udah mulai dag dig dug nih
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!