HAZEL SETEVIANO sangat mencintai pria yang di jodohkan dengannya RONAlDO ALEXANDER, karan rasa cintanya pada Ronald sangat besar, Hazel selalu bersikap posesive, dia akan marah jika ada wanita yang mendekati Ronald, hingga bertambah hari Ronald semakin di buat muak dengan sikap Hazel yang menurutnya sangat cemburuan, bahkan Hazel juga selalu bersikap sinis pada LUNA MAHENDRA yang jelas jelas sudah bersahabat dengan Ronald sejak duduk di bangku SMP, karna Hazel merasa kalau Luna sudah merebut perhatian Ronald darinya.
Dan suatu hari tibalah acara peresmian pertunangan Hazel dan Ronald yang di gelar di hotel mewah, dan malam itu senyum Hazel terus mengembang, tapi senyum itu lenyap seketika saat Ronald membatalkan pertunangannya di depan para tamu undangan.
Hazel yang merasakan sakit di hatinya dia hanya bisa menangis dan berlari keluar dari hotel, dan naasnya saat menyebrangi jalan raya, sebuah truk
menghantam tubuhnya hingga terpental ke sisi jalan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zakiya el Fahira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1
Di dalam pesawat di kursi bagian kelas bisnis, seorang pramugari dengan hati hati membangunkan gadis cantik yang masih terlelap di kursinya, padahal pesawat sudah mendarat beberapa menit yang lalu, dan seluruh penumpang juga sudah turun.
''Nona''
Gadis cantik itu yang tak lain adalah Hazel, dia terbangun dan terkejut melihat wanita cantik yang membungkuk di depannya.
''Dimana ini?''
Pramugari itu tersenyum menatap Hazel yang kebingungan, dia berfikir mungkin kesadaran gadis di depannya masih belum terkumpul semua.
''Ini di pesawat Nona, tujuan anda sudah sampai'' tukas pramugari itu dengan sopan.
Mendengar perkataan wanita cantik di depannya, seketika Hazel langsung mengambil tiket pesawat yang ia simpan di dalam tas selempangnya.
Hazel langsung menutup mulutnya tidak percaya, saat melihat tiket pesawat yang ia genggam dengan tujuan kota Lacoste.
''Tidak, ini tidak mungkin'' gumamnya lirih.
Ughhh
Hazel mencubit lengannya untuk memastikan dirinya tidak sedang bermimpi, kalau dirinya kembali ke delapan bulan saat dirinya pertama kali ke kota Lacoste.
''Nona, anda tidak apa apa?''
Hazel mendongak menatap pramugari yang juga menatapnya dengan sedikit kerutan di dahi mulusnya.
''Tidak, saya tidak apa apa'' ujar Hazel lalu dia bangkit dari kursi.
''Terimaksih sudah membangunkan saya'' ucap Hazel di sertai senyuman.
''Sama sama Nona, itu sudah menjadi tugas saya'' timpal pramugari itu dengan senyum.
Di dalam bandara Hazel menyeret kopernya dengan sedikit linglung, dia masih belum percaya dengan hal yang di alaminya saat ini, Hazel tidak menyangka kalau akan kembali ke masa lalu.
''Kalau tidak salah ingat, seharusnya sekarang Kak Ronald yang menjemputku'' gumam Hazel.
Dan benar saja saat melihat di lokasi tempat penjemputan, dia melihat Ronald berdiri di antara para kerumunan orang orang yang juga sedang menunggu kedatangan keluarganya.
Masih sama seperti di kehidupan pertamanya, keberadaan Ronald terlihat paling menonjol di antara yang lain, sosoknya yang tinggi serta wajahnya yang tampan, selalu menarik perhatian para wanita yang bepapasan di sekitarnya.
Hazel merasakan jantungnya berdebar saat menghampiri Ronald, ternyata perasaannya pada Ronald di kehidupan pertamanya masih tetap sama.
''Kamu Hazel''
''Iya''
Ronald tersenyum lalu mengambil alih koper yang di bawa Hazel.
''Ayo, Ayah dan Ibuku sudah tidak sabar menunggumu'' tukas Ronald.
Hazel menganggukkan kepalanya, kejadian hari ini sama sekali tidak ada yang berbeda dari kehidupan pertamanya, semuanya masih tetap sama, dan kenapa Ronald langsung mengenalinya, karna sudah di pastikan kedua orang tua Ronald sudah menunjukkan foto dirinya.
Begitu juga dengan Hazel, di kehidupan pertamanya dia awalnya menolak perjodohan yang di lakukan oleh kakeknya dan Kakek Ronald, tapi ketika Ibunya menunjukkan foto Ronald, saat itu juga Hazel langsung di buat jatuh hati dengan wajah tampan Ronald, dan tanpa pikir panjang Hazel langsung menyetujui perjodohan itu, dia juga setuju untuk pindah ke kota Lacoste untuk melanjutkan kuliahnya, kebetulan Universitas yang menjadi tempat Ronald kuliah saat ini adalah salah satu Universitas ternama di Negara M.
Dan saat ini di kehidupan keduanya, Hazel sudah memutuskan untuk fokus dengan sekolahnya, dia tidak ingin lagi melakukan hal konyol seperti di kehidupan pertamanya, yang membuatnya berakhir dengan perasaan sakit hatinya.
Di dalam mobil sport yang melaju di jalanan pusat kota, Hazel terus menoleh ke jendela melihat pemandangan Kota Lacoste sebagai Ibu Kota Negara M, saat ini Hazel berusaha untuk menjaga jarak dari Ronald.
''Hazel''
Hazel yang terlalu fokus dengan pemandangan yang di lihatnya, sampai tidak mendengar Ronald yang sedang mengemudi memanggilnya, hingga panggilan ketiga kalinya Hazel baru menoleh.
''Eh, iya Kak, maaf aku tidak dengar''
Ronald tersenyum samar sembari menatap lurus kedepan dan Hazel yang duduk di jok sampingnya tidak menyadari itu.
''Kamu tidak lelah?'' Ronald menoleh pada Hazel sejenak, lalu kembali fokus ke depan.
Hazel menggelengkan kepalanya. ''Tidak Kak''
Ronald mengangguk anggukkan kepalanya, dan suasana di dalam mobil kembali hening, Hazel kembali menatap pemandangan di sisi jalan, sedangkan Ronald fokus dengan setir kemudinya.
Hazel yang terus menoleh ke samping, tidak tahu kalau Ronald beberapa kali melirik ke arahnya.
Menjelang malam mobil sport hitam yang di kemudikan oleh Ronald sudah tiba di kediaman keluarga Alexander, Hazel yang baru turun dari dalam mobil menghela nafasnya, menatap rumah dua lantai bergaya klasik di depannya.
"Aku harus cari cara untuk tidak tinggal di rumah ini lagi" batin Hazel.
Di kehidupan pertamanya setelah sampai di kota Lacoste, Hazel tinggal di rumah keluarga Alexander, setiap hari Hazel selalu lengket dengan Ronald, hingga beberapa bulan kemudian Ronald yang merasa terganggu dengan sikap Hazel, dia memutuskan tinggal di apartement, dan hanya akan pulang ke rumah jika Ibunya menyuruhnya.
''Hazel sayang, akhirnya kamu sampai juga''
Hazel seketika tersentak dari lamunannya, dan menatap wanita paruh baya yang tak lain adalah Ibu Ronald yang berjalan ke arahnya lalu memeluknya.
''Sayang, sudah lama sekali Bibi tidak bertemu denganmu, dulu kamu sangat kecil, sekarang kamu lebih tinggi dari Bibi, bahkan kamu jauh lebih cantik dari foto yang di kirim oleh Ibumu'' tukas Ibu Ronald.
Hazel tersenyum mendengar pujian yang di berikan oleh Ibu Ronald, dan balik memujinya.
''Bibi juga sangat cantik''
''Ah kamu,, ayo masuk, Bibi sudah meminta pelayan untuk masak banyak untuk menyambut kedatanganmu'' ucap Ibu Ronald sembari menggandeng lengan Hazel.
''Terimakasih Bibi, maaf Hazel sudah merepotkan Bibi''
''Ah tidak sama sekali, apa lagi untuk calon menantu'' timpal Ibu Ronald.
Hazel hanya tersenyum pahit, karna statusnya sebagai calon menantu itu tidak akan pernah terlaksanakan, di kehidupan pertamanya Ronald membatalkan peresmian pertunangan mereka, jadi sampai kapanpun dirinya tidak akan pernah menjadi menantu keluarga Alexander.
Di belakang dua wanita berbeda usia itu, Ronald yang membawa koper milik Hazel tersenyum, saat mendengar celotehan ibunya.
''Sayang, apa ini Hazel?''
Ayah Ronald yang baru keluar dari ruang kerjanya langsung menghampiri Hazel dan istrinya yang duduk di ruang tengah.
Hazel langsung berdiri, dan membungkukkan badannya dengan sopan.
''Selamat malam Paman''
Ayah Ronald tersenyum dengan sikap Hazel yang sangat sopan padanya.
''Malam juga Nak, duduklah'' ucap Ayah Ronald sembari duduk di samping istrinya, dan Hazel kembali duduk.
''Bagaimana kabar kedua orang tuamu Nak?''
''Kabar Ayah dan Ibu sangat baik Paman''
''Syukurlah kalau begitu''
Sedangkan Ronald tidak ikut bergabung di ruang tengah, dia membawa koper milik Hazel ke kamar yang ada di lantai dua, kamar yang akan di tempati oleh Hazel, dan kebetulan kamar itu bersebelahan dengan kamarnya.
Beberapa saat kemudian setelah Ronald kembali turun ke bawah, Ibu Ronald segera mengajak semuanya untuk makan malam.
Di meja makan Hazel duduk di samping Ronald, dan selama makan malam berlangsung, Hazel terus menundukkan kepalanya sembari melahap makanan yang ada di piringnya.
''Hazel, nanti kamu akan ambil jurusan apa?'' tanya Ronald tiba tiba, dan seketika Hazel menghentikan gerakan tangannya yang hendak menyuapkan nasi ke dalam mulutnya.
Di kehidupan pertamanya demi bisa selalu berada di dekat Ronald, Hazel rela mengorbankan mimpinya untuk menjadi seorang desainer, dia memilih jurusan yang sama dengan Ronald ya itu jurusan kedokteran, padahal dirinya paling takut dengan jarum suntik, tapi demi pria yang di cintainya Hazel melawan rasa takut itu, namun pada akhirnya pengorbanannya hanya menjadi sia sia.
Dan di kehidupan keduanya ini, Hazel tidak lagi ingin melakukan hal bodoh itu lagi, Hazel memutuskan untuk meraih mimpinya untuk menjadi desainer terkenal.
''Desain''
Ronald menganggukkan kepalanya.
''Ronald, nanti kamu bantu Hazel mengurus pendaftarannya di Universitas'' perintah Ibu Ronald.
''Baik Bu'' timpal Ronald.
''Terimakasih Kak'' ucap Hazel dengan kepala menunduk, bagaimanapun juga dirinya memang butuh bantuan untuk mendaftarkan diri di Universitas itu, jadi untuk saat ini dia tidak bisa menolak bantuan dari Ronald.
''Sama sama'' balas Ronald menoleh pada Hazel yang duduk di sampingnya, dengan seutas senyuman di sudut bibirnya.
luna kn ppb...😝😝
dia yg slah,tp msih ga trima.....
mna brani bgt bkin hazel luka,abs ni siap2 aja dpt hkumn dr ronald....
smga hazel ga nglmain kjdian d msa lalu....
dsr pe'a.....ga ada bkti,udh nduh smbrangn....mna d dpn orngnya pula....glirn tau yg sbnrnya...
malu woooyyyyy.....😛😛😛
pdhl mh mngkn tu bpknya.....
luna kepo bgt....udh tau ronald ga ada prsaan apa2 sm dia,msih aja ngeyel....
knp ga brsha buat bka hti k ygblain aja..
emng dia spa smp cmburu gt,ronald aja biasa aja tuh sm dia....