NovelToon NovelToon
Sumpah Di Bawah Bayangan Kaisar

Sumpah Di Bawah Bayangan Kaisar

Status: sedang berlangsung
Genre:Spiritual / Dijodohkan Orang Tua / Matabatin / Reinkarnasi / Nikah Kontrak / Mengubah Takdir
Popularitas:232
Nilai: 5
Nama Author: Laila ANT

Tabib Wi Lu mendapati dirinya dituduh meracuni Kaisar dan dipaksa menikahi Putri Yu Ming, pewaris tahta yang penuh dendam. Dengan reputasi tercoreng dan pengawasan ketat, Wei Lu harus melawan intrik licik Pangeran De, paman Kaisar, yang sebenarnya merencanakan kudeta dengan memanipulasi ilmu farmasi. Saat Yu Ming menjadikannya musuh, Wei Lu diam-diam menggunakan kejeniusan medisnya untuk membongkar konspirasi Pangeran De, menyelamatkan Kekaisaran dari wabah buatan, dan akhirnya mengungkap kebenaran di balik kematian Kaisar. Perjalanan ini memaksa Yu Ming menghadapi prasangkanya dan secara bertahap belajar mempercayai Wei Lu , mengubah pernikahan politik mereka menjadi pernikahan sejati yang di dasari cinta, kejujuran, dan penyembuhan bagi seluruh kerajaan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laila ANT, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Racun Terakhir

Bau duka yang tajam dari dupa yang terbakar dan bau sisa ramuan pahit yang direbus memenuhi Ruang Tidur Surgawi. Keheningan yang menindas kini jauh lebih dingin daripada marmer lantai istana. Di atas ranjang naga yang luas, Kaisar terbaring, raut wajahnya akhirnya damai, sebuah ketenangan yang tak pernah Wei Lu saksikan selama tiga tahun terakhir pengobatan kronisnya.

Wei Lu, Perdana Menteri yang baru diangkat sekaligus Tabib Kekaisaran terakhir, berdiri tegak di samping ranjang. Jantungnya berdetak dengan irama yang tenang di balik jubah sutra biru tua yang terasa memberatkan. Ia adalah orang terakhir yang merawat Yang Mulia, yang terakhir yang menyerahkan Kapsul Abadi yang diraciknya. Dan kini, ia adalah orang pertama yang dicurigai.

Di sudut ruangan, Nyonya Besar Zhao, yang telah melayani Kaisar sejak kecil, terisak-isak dengan air mata yang kering, matanya yang merah dan bengkak menatap Wei Lu dengan tuduhan yang tak terucapkan.

"Tabib Wei,"

suara Pangeran De terdengar, rendah dan merayap seperti ular yang bergerak di atas kerikil. Paman mendiang Kaisar itu melangkah maju, tangannya menggenggam erat bahu seorang menteri, seolah mencari dukungan di tengah kesedihan.

"Bisakah engkau menjelaskan lagi, apa yang ada di dalam kapsul terakhir itu?"

Wei Lu menoleh. Wajahnya adalah topeng dari profesionalisme yang sempurna, tetapi setiap otot di tubuhnya menegang. Ia tahu Pangeran De tidak mencari fakta medis, melainkan mencari retakan dalam narasi.

"Seperti yang telah saya laporkan, Yang Mulia," jawab Wei Lu, suaranya jernih dan tak bergetar,

"Itu adalah dosis ekstrak Sanguis Draconis yang paling murni, dicampur dengan Ginseng Salju yang disiapkan sesuai resep yang disetujui Kaisar dua bulan lalu. Ramuan itu dimaksudkan untuk menopang jantungnya yang melemah dan memberinya tidur yang nyenyak. Kaisar telah meminta agar pengobatan ini tidak dihentikan."

Pangeran De mendengus pelan, sebuah bunyi yang cukup keras untuk didengar semua orang di kamar itu.

"Tidur yang nyenyak, memang. Sampai keabadian. Semua orang tahu, Tabib Wei, betapa rapuhnya Kaisar dalam beberapa hari terakhir. Apakah tidak ada yang lebih ringan? Apakah kau tidak menyadari betapa kuatnya ekstrak itu dapat menekan sirkulasi vital?"

Wei Lu bertemu tatapan Pangeran De. Mata Pangeran De tidak menunjukkan kesedihan, melainkan perhitungan yang dingin.

"Yang Mulia Pangeran, diagnosis saya tentang kondisi Kaisar sudah ada di arsip. Penyakit kronis jantung beliau berada di tahap akhir. Kapsul itu hanya memperpanjang kualitas hidupnya dalam beberapa jam terakhir. Jika saya menghentikan pengobatan, Kaisar akan meninggal dalam penderitaan yang lebih hebat. Saya bersumpah, semua bahan baku telah diverifikasi dan dicatat."

"Tentu saja sudah diverifikasi dan dicatat," gumam Pangeran De, mengusap dagunya.

"Tapi catatan hanyalah catatan, bukan? Kami membutuhkan hasil. Dan hasilnya adalah... Yang Mulia telah tiada."

Wei Lu merasakan mata para menteri dan kasim yang berkumpul tertuju padanya. Kecurigaan di udara terasa lebih tebal daripada asap dupa. Dia tahu ini adalah permainan yang berbahaya. Jika dia membela diri terlalu keras, itu akan terlihat seperti kepanikan. Jika dia terlalu pasif, itu akan diartikan sebagai pengakuan bersalah.

Sebelum Wei Lu dapat merespons, langkah kaki yang cepat terdengar dari lorong utama. Kepala Kasim, seorang pria tua yang biasanya tenang, masuk dengan wajah pucat.

"Kepada Yang Mulia Pangeran De, dan para Menteri. Mandat terakhir Kaisar. Ini harus dibacakan segera, di Aula Singgasana."

***

Kurang dari satu jam kemudian, Aula Singgasana dipenuhi oleh pejabat tinggi. Suasana tidak lagi duka, melainkan campuran antara ketakutan dan ambisi yang bergejolak. Wei Lu berdiri di barisan depan, masih mengenakan jubah Perdana Menteri barunya yang terasa seperti belenggu.

Pintu besar di belakang singgasana terbuka, dan Putri Mahkota Yu Ming melangkah masuk.

Yu Ming. Pewaris takhta.

Sosok yang selalu dikelilingi oleh aura dingin dan keras kepala, kini mengenakan jubah berkabung putih, membuatnya tampak seperti patung giok yang rapuh namun mematikan. Matanya merah, bukan karena isak tangis yang berlebihan, melainkan karena kurang tidur dan amarah yang terpendam.

Ketika tatapannya menyapu aula, ia berhenti pada Wei Lu. Dalam hitungan detik, kemarahan dingin itu membeku menjadi kebencian yang telanjang. Dia yakin, yakin, bahwa pria yang berdiri di depannya adalah pembunuh ayahnya, dan kini ia harus menanggung kekejian ini di tengah-tengah transisi kekuasaan.

Kepala Kasim membersihkan tenggorokannya dan membentangkan gulungan Mandat Kekaisaran, suaranya bergetar.

"Dengarkan! Ini adalah titah terakhir dan tak terbatalkan dari Kaisar Agung!"

Suara itu bergema di seluruh aula. Mandat itu membahas suksesi Yu Ming dan kemudian, tiba-tiba, beralih ke poin yang membuat semua orang terkesiap.

"Mengingat ketidakstabilan politik dan ancaman internal yang membayangi, dan untuk menjamin garis keturunan serta transisi yang mulus, kami, Kaisar Agung, dengan ini menitahkan: Wei Lu, Perdana Menteri dan Tabib Kekaisaran, yang telah melayani kami dengan loyal hingga akhir, harus segera menikahi Putri Mahkota Yu Ming."

Suara-suara berbisik meledak di aula. Pernikahan? Dengan Tabib yang dituduh lalai? Ini adalah tindakan politik yang sangat drastis, sebuah upaya untuk mengunci Wei Lu ke dalam takdir kerajaan—atau mungkin, sebagai penjaga sementara bagi Putri yang belum menikah.

Wei Lu merasakan darahnya surut. Ini adalah kejutan yang disiapkan Kaisar untuknya, kejutan yang Kaisar tak pernah bahas. Mandat ini bukan hanya menjamin stabilitas. Mandat ini menjadikan Wei Lu target, dan menjadikan Yu Ming sebagai musuh sejatinya.

Kepala Kasim melanjutkan,

"Wei Lu akan mempertahankan gelarnya sebagai Perdana Menteri, membimbing Ratu baru dalam masa berkabung dan transisi. Pernikahan akan dilaksanakan sebelum matahari terbenam hari ini, sebagai sumpah di bawah bayangan Kaisar."

Yu Ming berdiri di sana, diam, tetapi setiap inci tubuhnya memancarkan penolakan. Dia melihat Mandat itu seolah-olah itu adalah lelucon keji yang dilakukan ayahnya dari balik kubur.

Pangeran De terlihat sangat terkejut, namun dengan cepat menutupi emosinya dengan ekspresi duka yang dalam. Mandat ini memblokir ambisinya untuk menjadi bupati sementara dan memasang Wei Lu, orang luar, sebagai perisai di hadapan tahta.

"Wei Lu," panggil Yu Ming, suaranya serak dan dingin, memecah keheningan. Dia tidak menggunakan gelar resminya, hanya namanya, seolah merampas kehormatannya.

"Apakah kau menerima Mandat ini?"

Semua mata tertuju pada Wei Lu. Menolak berarti melanggar titah Kaisar terakhir, sebuah pengkhianatan yang bisa dikenai hukuman mati. Menerima berarti menikahi kebencian.

Wei Lu menarik napas dalam-dalam, mengambil keputusan yang akan menentukan seluruh hidupnya. Dia harus memainkan peran yang diberikan Kaisar kepadanya, apa pun risikonya. Dia harus menjadi target yang sempurna.

"Saya menerima, Yang Mulia Putri Mahkota," jawab Wei Lu dengan suara yang keras dan jelas, membungkuk dalam-dalam.

"Saya akan menunaikan tugas yang dibebankan kepada saya oleh mendiang Kaisar, sebagai Perdana Menteri dan... sebagai suami."

Kata "suami" terdengar seperti besi yang beradu di antara mereka.

Yu Ming melangkah turun dari mimbar, bergerak perlahan melintasi aula. Dia berhenti tepat di depan Wei Lu, jarak di antara mereka hanya sejengkal. Aroma dupa yang terbakar bercampur dengan aroma parfum mahal Yu Ming, menciptakan perpaduan yang memabukkan dan berbahaya.

"Kau menerima?" bisik Yu Ming, suaranya hanya terdengar oleh Wei Lu, dipenuhi racun yang lebih mematikan daripada yang diduga Pangeran De di kapsul Kaisar.

"Kau merampas ayahku, dan sekarang kau merampas takhtaku. Kau pikir kau bisa menyembunyikan kejahatanmu di balik gelar PM dan pernikahan?"

Wei Lu menahan diri untuk tidak bergerak. Dia tahu dia harus menunjukkan ketenangan yang diminta oleh peran barunya.

"Saya hanya melakukan apa yang diperintahkan, Putri. Stabilitas kerajaan adalah yang utama. Saya akan melayani Anda dan takhta, bahkan jika Anda membenci saya."

Yu Ming tersenyum sinis, senyum yang tidak mencapai matanya.

"Benci? Itu kata yang terlalu ringan, Tabib Wei. Kau adalah penyakit di istana ini, dan aku adalah obatnya."

Dia mengangkat tangannya yang anggun dan, di hadapan semua menteri, meraih kerah jubah Wei Lu. Itu bukan sentuhan keintiman, melainkan genggaman otoritas.

"Kau adalah milikku sekarang," katanya, suaranya sedikit lebih keras, cukup untuk didengar para menteri.

"Dan aku akan memastikan semua bayangan yang mengikutimu akan terungkap."

Yu Ming melepaskan kerah jubah Wei Lu, lalu berbalik dan berjalan menuju singgasana. Dia mengambil posisi di sana, di tempat yang baru saja ditinggalkan ayahnya, memancarkan kekuasaan yang kejam.

Dia menoleh sekali lagi ke Wei Lu. Wei Lu mendongak, matanya menanti.

Di bawah cahaya lentera Aula Singgasana yang redup, mata Yu Ming bersinar dingin dan tanpa belas kasihan. Itu adalah tatapan yang menghakimi, yang bersumpah, yang penuh dendam. Itu bukan hanya tatapan Ratu kepada Perdana Menteri. Itu adalah deklarasi perang tanpa syarat.

Kau akan membayar untuk ini.

Wei Lu, di tengah kerumunan yang gempar dan bisikan kecurigaan, menerima tatapan itu. Ia tahu, mulai saat ini, hidupnya adalah medan perang yang ditandai oleh permusuhan istrinya sendiri. Ia baru saja menikahi takdirnya, dan takdir itu dipersenjatai dengan kebencian mutlak.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!