Di malam gerhana darah yang terkutuk, Kerajaan Aethelgard kehilangan jantungnya. Putri Aurora Lyris Valerius, sang pewaris tunggal yang baru berusia satu tahun, diculik dalam kabut sihir hitam, meninggalkan tujuh kakak angkatnya dalam penyesalan abadi. Delapan belas tahun berlalu, sang Putri tidak tumbuh di atas ranjang sutra,melainkan di bawah cambukan dingin Kerajaan Noxvallys. Dikenal hanya sebagai "Ara", ia hidup sebagai pelayan rendahan yang disiksa oleh Putri Morena Valeska yang semena-mena.
Warning!!Cerita asli dan murni dari pikiran penulis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon apel manis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1_Mahkota Untuk Aurora
Pagi itu, Kerajaan Aethelgard tampak seperti sepotong surga yang jatuh ke bumi. Matahari bersinar cerah, menyinari dinding-dinding istana yang terbuat dari batu putih bersih dan dihiasi dengan tanaman merambat yang berbunga ungu. Di dalam aula besar yang megah, Raja Alaric Valerius dan Ratu Elara Seraphina sedang menantikan kehadiran tujuh putra mereka. Meskipun ketujuh pemuda itu bukan anak kandung, Raja dan Ratu mencintai mereka lebih dari apa pun.
Ketujuh pangeran ini memiliki asal-usul yang berbeda, namun dipersatukan oleh takdir yang sama: mereka adalah anak-anak yang kehilangan segalanya dalam perang besar di perbatasan beberapa tahun silam.
Alistair, putra tertua yang kini berusia 12 tahun, adalah anak seorang jenderal gagah berani yang gugur demi menyelamatkan Raja Alaric. Alistair memiliki bakat memimpin yang alami dan ketegasan yang luar biasa.
Di belakangnya ada Benedict yang berusia 11 tahun, seorang yatim piatu yang ditemukan Raja sedang melindungi anak-anak lain di desa yang terbakar; ia tumbuh menjadi pendiam namun sangat waspada.
Lalu ada Caspian yang berusia 10 tahun, anak dari seorang cendekiawan istana yang hancur karena serangan musuh, menjadikannya pangeran yang paling pintar dan gemar membaca.
Darian, pemuda berusia 9 tahun, adalah putra seorang pedagang kaya yang hartanya habis dijarah; ia memiliki lidah yang manis dan pandai bergaul.
Evander yang berusia 8 tahun ditemukan sedang mengobati luka teman-temannya di pengungsian, membuatnya menjadi sosok yang sangat lembut dan penyayang.
Terakhir, ada Fabian yang berusia 7 tahun dan si kecil Gideon yang baru berusia 6 tahun. Keduanya adalah saudara kandung dari keluarga bangsawan rendah yang hancur saat perang, mereka adalah yang paling lincah dan selalu ceria di istana.
"Kemarilah, putra-putraku," panggil Raja Alaric dengan suara hangat yang menggema di aula.
Ketujuh pangeran itu membungkuk hormat sebelum mengikuti Raja menuju sebuah kamar yang sangat cantik di menara timur. Di sana, Ratu Elara sedang bersama dengan seorang bayi perempuan cantik yang berada di ranjang khusus bayi. Bayi itu memiliki mata biru jernih seperti langit pagi dan rambut halus yang mulai tumbuh. Itulah Putri Aurora, adik kecil mereka yang baru berusia 1 tahun.
"Ini adalah adik kalian, Putri Aurora," ucap Ratu Elara sambil tersenyum manis. "Dia adalah alasan mengapa kerajaan ini akan tetap damai."
Ketujuh pangeran itu mendekat dengan langkah yang sangat pelan, seolah takut suara langkah kaki mereka akan membangunkan sang bayi. Alistair mengulurkan jarinya, dan dengan ajaib, Aurora kecil langsung menggenggam jari telunjuk Alistair dengan tangan mungilnya.
Aurora tertawa kecil, sebuah suara yang seketika meluluhkan hati ketujuh pangeran tersebut. Pada detik itu juga, mereka merasa memiliki tujuan hidup baru: melindungi adik kecil ini selamanya.
Di samping bantal bayi Aurora, terdapat sebuah benda yang sangat indah dan berkilau terkena cahaya matahari. Itu adalah sebuah pulpen emas yang diukir sangat detail.
"Benda apa ini, Bunda?" tanya Caspian sambil memandang benda itu dengan kagum.
"Ini adalah Pulpen Cendana Emas," jawab Ratu Elara. "Benda ini adalah pusaka kerajaan yang sangat penting. Kelak, saat Aurora dewasa, ia akan menggunakan pulpen ini untuk menulis hukum yang adil dan menandatangani surat-surat penting sebagai ratu. Pulpen ini adalah simbol dari kebijaksanaannya."
Hari itu dihabiskan dengan penuh tawa. Fabian dan Gideon sibuk melakukan gerakan lucu untuk membuat Aurora tertawa, sementara Evander dan Darian membantu Ratu menyiapkan keperluan bayi. Raja Alaric memandang mereka dengan bangga dan berkata, "Ingatlah anak-anakku, waktu akan berlalu sangat cepat. Dalam 18 tahun ke depan, kalian akan tumbuh menjadi pria-pria terkuat di dunia."
Raja mulai menghitung umur mereka di masa depan. "Saat itu, Alistair akan menjadi pria dewasa berusia 30 tahun, Benedict 29 tahun, Caspian 28 tahun, Darian 27 tahun, Evander 26 tahun, Fabian 25 tahun, dan Gideon 24 tahun. Dan adik kecil kalian, Aurora, akan tumbuh menjadi gadis cantik berusia 19 tahun. Kalian bertujuh akan menjadi ksatria pelindung yang menjaganya dari segala bahaya."
Namun, kebahagiaan yang sempurna itu tidak bertahan lama. Takdir pahit telah mengintai di balik awan.
Ketika malam tiba, sebuah kejadian aneh muncul. Langit yang seharusnya penuh bintang mendadak berubah menjadi merah pekat seperti darah. Angin kencang bertiup sangat keras, menghantam jendela-jendela istana hingga bergetar. Lampu-lampu minyak di sepanjang koridor padam seketika, menyisakan kegelapan yang mencekam.
"Ada serangan! Jaga kamar Aurora!" teriak Alistair dengan suara lantang. Meskipun baru berusia 12 tahun, insting kepemimpinannya langsung muncul.
Tiba-tiba, Blar! Pintu besar kamar sang Putri hancur berkeping-keping. Kabut hitam yang sangat tebal masuk memenuhi ruangan, membawa hawa dingin yang menusuk tulang. Dari balik kabut itu, muncul seorang pria bertopeng dengan jubah hitam yang panjang. Pria itu adalah penyihir gelap utusan dari Kerajaan Noxvallys.
Pria itu bergerak secepat bayangan. Para penjaga istana yang berjaga di luar langsung tumbang karena sihir tidur yang dilepaskannya. Ketujuh pangeran kecil itu mencoba melawan dengan keberanian luar biasa. Alistair dan Benedict mencoba menghadang, sementara yang lain melindungi ranjang Aurora. Namun, pria itu sangat kuat. Hanya dengan satu lambaian tangan, kekuatan gelap terpancar dan menghempaskan ketujuh pangeran itu ke dinding hingga mereka tak berdaya.
"Tidakkk! Lepaskan anakku!" jerit Ratu Elara yang mencoba memeluk Aurora, namun ia tertahan oleh sihir yang mengunci tubuhnya.
Penyihir itu tertawa dengan suara yang sangat parau. Ia menarik bayi Aurora dari ranjangnya yang hangat. Tidak hanya mengambil bayi itu, ia juga melihat Pulpen Cendana Emas yang tergeletak di samping bantal dan merampasnya.
"Cahaya ini akan segera padam dalam kegelapan Kerajaan Noxvallys!" teriak si penyihir.
Dalam sekejap, kabut hitam itu meledak dan menghilang, membawa pergi bayi Aurora dan pulpen emas tersebut. Kamar itu seketika menjadi sunyi. Hanya ada suara tangis Ratu Elara yang hancur hatinya dan Raja Alaric yang terpaku lemas di lantai karena gagal melindungi putri tunggalnya.
Alistair bangkit dengan gemetar. Meski tubuhnya sakit dan air mata mengalir di pipinya, matanya menunjukkan kemarahan yang membara. Ia menatap adik-adiknya satu per satu—Benedict, Caspian, Darian, Evander, Fabian, dan Gideon yang semuanya sedang menangis ketakutan.
"Dengarkan aku!" ucap Alistair dengan tegas.
"Jangan biarkan air mata ini sia-sia. Mulai hari ini, istirahat kita adalah berlatih. Kita akan menjadi ksatria yang paling ditakuti. Aku bersumpah demi nyawaku, kita akan mencari Aurora ke mana pun penyihir itu membawanya. Kita tidak akan pernah berhenti sampai Aurora kembali ke rumah ini!"
Ketujuh pangeran itu pun berdiri dan saling berpegangan. Mereka mengikat sumpah setia untuk mencari adik mereka, berapa pun tahun yang harus mereka habiskan. Malam kelam itu menjadi saksi lahirnya tujuh pelindung yang akan mendedikasikan hidup mereka untuk satu tujuan 'menjemput Aurora.'
apalagi ngebayangin 7 pangeran yang hebat, dan penasaran banget sama akhirnya gimana dan nasib putri jahat nya gimana.