"Dokter, tolong! Jantungku berdebar seratus delapan puluh BPM, napasku sesak, dan duniaku berputar-putar!"
Adrian menatap datar gadis berseragam SMA di depannya. "Itu karena kamu lari dari parkiran menuju ruangan saya tanpa sarapan, Lala. Bukan serangan jantung."
Lala malah nyengir tanpa dosa. "Ih, Dokter salah diagnosa! Ini namanya penyakit Cintrong Stadium Akhir. Obatnya cuma satu: Vitamin D. Alias... Vitamin Dari Dokter Adrian!"
Satu rumah sakit gempar. Bagaimana mungkin dokter paling jenius dan dingin bisa dikejar-kejar oleh bocil SMA yang otaknya hanya berisi konten dan drama? Namun, saat masa lalu Adrian yang kelam kembali menghantui, apakah keceriaan alay milik Lala bisa menjadi satu-satunya obat yang ia butuhkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mr. Awph, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1: Pertemuan Estetik di Koridor IGD
Lantai rumah sakit yang sangat dingin bersentuhan langsung dengan kulit wajah Lala yang sedang berbaring diam tak berkutik. Dia sengaja mengatur posisi rambutnya agar tergerai indah sementara tangannya memegang ponsel yang merekam secara sembunyi-sembunyi. Matanya terpejam rapat namun napasnya tertahan karena detak jantung yang debar-debar tidak karuan sama sekali.
"Cepat panggil bantuan, ada siswi sekolah menengah yang pingsan di tengah koridor ini!" teriak seorang perawat yang melintas terburu-buru.
Lala menahan senyum di balik wajah pucat buatannya saat mendengar suara langkah sepatu pantofel yang tegas mendekat. Aroma cairan pembersih hama yang bercampur wangi kayu cendana mulai menyapa indra penciumannya dengan sangat lembut. Dia yakin bahwa mangsa utamanya kini sudah berada tepat di samping tubuhnya yang pura-pura tidak berdaya.
"Detak jantungnya stabil, tapi kenapa kelopak matanya terus bergerak-gerak seperti sedang melihat diskon besar?" tanya Adrian dengan suara berat.
"Mungkin dia sedang mengalami mimpi buruk yang sangat melelahkan, Dokter," jawab perawat itu dengan nada suara ragu-ragu.
Sepasang tangan kokoh namun dingin tiba-tiba menyentuh pergelangan tangan Lala untuk memeriksa denyut nadinya secara saksama. Sentuhan itu terasa seperti sengatan aliran listrik yang membuat bulu kuduk sang gadis muda berdiri seketika itu juga. Dia berusaha tetap diam meski jiwanya menari-nari kegirangan karena berhasil disentuh oleh sang pangeran berjas putih.
"Bawa dia ke ruang gawat darurat dan siapkan jarum suntik paling besar sekarang juga," perintah Adrian tanpa ekspresi.
"Suntikan? Dokter, apakah itu tidak terlalu berlebihan bagi pasien pingsan biasa?" tanya perawat itu dengan wajah kaget.
"Pasien ini butuh guncangan besar agar otaknya kembali ke tempat yang benar-benar tepat," sahut Adrian sambil melirik tajam ke arah kulit lengannya.
Kulit lengannya hampir saja tertembus ujung tajam jika saja Lala tidak segera bangun dan berteriak sekeras mungkin. Dia terduduk tegak di atas ranjang periksa sambil menatap nyalang ke arah pria yang memegang alat suntik raksasa. Ruangan itu seketika menjadi hening seolah waktu berhenti berputar secara mendadak karena ulahnya yang mengejutkan.
"Jadi kamu sudah bangun setelah saya berikan ancaman dengan besi tajam ini?" tanya Adrian sambil menaruh laporan medis.
"Aku tidak bangun karena takut, tapi karena pesona wajah Dokter yang terlalu menyilaukan mata indahku!" jawab Lala sambil mengedipkan mata berkali-kali.
Adrian hanya menghela napas panjang lalu melangkah mendekat hingga jarak mereka hanya tersisa beberapa jengkal saja. Dia mengambil alat pendengar medis miliknya dan menempelkan bagian logam dingin tepat di dada sang gadis remaja. Ekspresi wajahnya tetap datar namun ada kilatan aneh di matanya saat mendengar irama jantung yang berdetak tidak jelas maknanya di sana.
"Suara jantungmu memang sangat kacau, tapi itu bukan disebabkan oleh masalah asmara yang tidak jelas," bisik Adrian tepat di lubang telinga Lala.
"Lalu apa hasil pemeriksaan medis menurut Dokter yang sangat jenius dan rupawan ini?" tanya Lala dengan wajah memerah sempurna.
"Kamu hanya kurang perhatian dan terlalu banyak memakan camilan pedas yang merusak logika berpikir sehatmu," jawab pria itu sambil menjauhkan diri.
Lala merengut tidak terima saat melihat Adrian menuliskan sesuatu di atas selembar kertas kecil dengan sangat cepat. Dia menyambar kertas itu dengan harapan berisi nomor telepon pribadi sang dokter pujaan hati yang baru saja ia temukan. Namun harapannya hancur seketika saat membaca tulisan tangan yang sangat sulit dibaca namun jelas maknanya di sana.
Jelas maknanya di sana bahwa Adrian menganggap dirinya sudah benar-benar kehilangan akal sehat karena tingkah kaku yang dilakukan. Lala meremas kertas rujukan ke bagian kejiwaan itu hingga menjadi bola kertas kecil yang tidak berbentuk lagi. Dia merasa harga dirinya sebagai bunga sekolah sedang diinjak-injak oleh pria yang baru saja ia berikan label calon kekasih.
"Apa Dokter benar-benar berpikir bahwa aku adalah gadis yang sudah gila?" tanya Lala dengan suara gemetar.
"Hanya orang tidak waras yang berani bermain-main dengan waktu dokter bedah spesialis," sahut Adrian tanpa menoleh sedikit pun.
"Bedah saja hatiku, Dokter! Biarkan Dokter tahu di dalamnya hanya ada nama Dokter yang tertulis secara berulang-ulang!" tantang Lala dengan sangat berani.
Adrian berdiri dan berjalan menuju pintu keluar seolah keberadaan gadis itu tidak lebih penting dari sebotol sabun pembersih. Dia memberikan isyarat kepada penjaga keamanan agar segera membawa pasien gadungan tersebut keluar dari area rumah sakit. Namun Lala justru berlari menghadang jalan sang dokter dengan merentangkan kedua tangannya secara lebar-lebar.
"Minggir, saya punya pasien sungguhan yang nyawanya sedang berada di ujung tanduk," ucap Adrian dengan sorot mata tajam.
"Aku tidak akan pergi sebelum Dokter memberikan nomor telepon yang benar!" balas Lala dengan nada yang sangat keras.
Pria itu tidak membalas lagi dan langsung melenggang pergi dengan langkah lebar yang meninggalkan aroma maskulin sangat khas. Lala hanya bisa terpaku di tempatnya sambil memandangi punggung lebar sang dokter yang perlahan menghilang di balik pintu otomatis. Ada rasa puas sekaligus rasa penasaran yang besar yang kini mulai tumbuh subur di dalam relung jiwanya yang paling dalam.
Dalam relung jiwanya yang paling dalam, dia bersumpah tidak akan pernah menyerah sampai pria kaku itu benar-benar jatuh cinta kepadanya. Dia segera mengambil ponselnya yang sempat terjatuh dan melihat hasil rekaman video yang ternyata masih menyala dengan baik. Sebuah ide gila muncul di kepala untuk menjadikan video pertemuan memalukan ini sebagai awal dari perang cinta mereka berdua.
"Lihat saja nanti, Dokter Galak, aku akan membuatmu tidak bisa tidur nyenyak karena terus memikirkan gadis ini," gumamnya pelan sambil tersenyum.
Tanpa dia sadari, Adrian sedang berdiri di balik jendela kaca ruang pengawas sambil memperhatikan gadis itu dari kejauhan. Tangannya meraba saku jas putih dan menemukan sebuah pita rambut berwarna merah muda yang terjatuh saat Lala bangkit tadi. Dia menatap benda kecil itu dengan dahi berkerut seolah sedang memikirkan sebuah teka-teki medis yang sangat rumit.
"Gadis yang sangat aneh, merepotkan, dan juga sangat berisik," bisik Adrian pelan sambil memasukkan pita itu ke dalam sakunya.
Tiba-tiba ponsel di saku sang dokter bergetar hebat menunjukkan sebuah pemberitahuan dari aplikasi video yang sangat populer saat ini. Matanya membulat sempurna saat melihat wajahnya sendiri terpampang jelas di layar ponsel dengan judul video yang memancing emosi. Lala baru saja mengunggah video pertemuan mereka dengan keterangan bahwa sang dokter adalah milik pribadinya mulai detik ini juga.
Milik pribadinya mulai detik ini juga adalah kalimat yang membuat Adrian nyaris menjatuhkan alat pendengar medis dari genggamannya.