Penasaran dengan ceritanya langsung aja yuk kita baca
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mbak Ainun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 1: SHIFT TENGAH MALAM
BAB 1: SHIFT TENGAH MALAM
Lampu jalanan di pinggiran Jakarta itu berkedip-kedip pucat, seolah sedang sekarat. Arga melirik jam di pergelangan tangannya. 00.15 WIB. Suasana sudah sangat sepi, hanya terdengar suara jangkrik dan embusan angin malam yang terasa lebih dingin dari biasanya.
Di depannya, sebuah gudang tua dengan cat yang sudah mengelupas berdiri kokoh. Di atas gerbangnya yang berkarat, sebuah papan kayu kecil tergantung miring dengan tulisan: “Layanan Pengiriman Sembilan – Pengantaran Khusus Malam.”
Arga menelan ludah. Ia butuh uang. Sangat butuh. Ibunya terbaring di rumah sakit karena penyakit gagal ginjal, dan biaya cuci darah minggu ini belum terlunasi. Lowongan kerja di koran bekas yang ia temukan kemarin terasa seperti satu-satunya penyelamat: “Dibutuhkan Kurir Malam. Gaji 2 Juta per malam. Syarat: Punya motor sendiri dan bernyali besar.”
“Dua juta semalam... itu gila,” gumam Arga menyemangati diri sendiri. “Cuma antar paket, Ar. Jangan penakut.”
Baru saja ia hendak mengetuk gerbang, pintu kecil di samping gerbang terbuka perlahan. Suara engselnya yang berderit panjang memecah keheningan malam, membuat bulu kuduk Arga meremang.
Seorang pria tua dengan seragam hitam legam keluar dari kegelapan gudang. Pria itu memakai topi yang sangat rendah hingga menutupi sebagian wajahnya. Namun, yang membuat Arga mematung adalah senyum pria itu. Senyumnya terlalu lebar, memperlihatkan deretan gigi yang terlalu putih dan rapi untuk orang seusianya.
“Arga... kau datang tepat waktu,” suara pria itu serak, seperti gesekan dua amplas yang kasar.
Arga tersentak. “Bapak tahu nama saya?”
Pria itu tidak menjawab. Ia hanya menyerahkan sebuah tas kurir berwarna hitam kusam dan sebuah kotak kayu kecil sebesar kotak sepatu yang dibalut dengan kain kafan lusuh yang sudah kecokelatan.
“Tugasmu sederhana,” kata pria tua itu, jarinya yang panjang dan pucat menunjuk kotak tersebut. “Antar paket ini ke alamat yang tertera. Tapi, ingat tiga aturan kami.”
Arga mendengarkan dengan seksama, meski jantungnya mulai berdegup kencang.
“Satu, jangan pernah melihat wajah penerima paket. Dua, jangan pernah bertanya apa isi paketnya. Dan tiga... yang paling penting...” Pria itu mendekatkan wajahnya ke telinga Arga. Aroma tanah kuburan yang basah tercium dari tubuhnya. “Jika paket itu berbunyi, bergerak, atau memanggil namamu... JANGAN PERNAH BUKA PAKETNYA.”
Arga hanya bisa mengangguk kaku. Pria itu memberikan secarik kertas alamat: Jalan Kamboja, Kompleks Blok 13. Tanpa Nomor Rumah.
“Pergilah. Waktumu hanya sampai jam 4 pagi. Jika lewat, paket itu akan menjadi milikmu selamanya,” tutup pria itu sambil melangkah mundur ke kegelapan gudang dan menutup pintu dengan bantingan keras.
Arga segera naik ke motornya. Ia meletakkan kotak berbalut kain kafan itu di bagian depan motornya, tepat di antara kedua kakinya. Dingin. Kotak itu terasa mengeluarkan suhu es yang menembus celana jeans-nya.
Ia mulai memacu motornya membelah kegelapan kota. Jalanan terasa sangat asing. Meski ia sudah tinggal di kota ini sejak lahir, ia merasa tidak pernah melewati jalan-jalan yang ia lalui sekarang. Pepohonan di pinggir jalan tampak seperti tangan-tangan hitam yang mencoba menggapainya.
Sepuluh menit berlalu. Arga mulai memasuki area yang lebih gelap. Tiba-tiba, mesin motornya menderu aneh. Lampu depan motornya meredup. Di saat itulah, Arga mendengarnya.
Suara ketukan kecil dari arah kotak di bawahnya.
Tok... Tok... Tok...
Arga gemetar. Ia mencoba fokus pada jalanan. Tapi ketukan itu berubah menjadi suara lirih. Suara yang sangat ia kenali. Suara yang seharusnya tidak mungkin ia dengar lagi.
“Kak... Arga...”
Arga mengerem mendadak. Ban motornya mencicit di atas aspal. Napasnya memburu. Itu suara Laras. Adiknya yang meninggal dua tahun lalu akibat kecelakaan tabrak lari.
“Kak... di dalam sini gelap... dingin...” suara itu berasal dari dalam kotak kayu yang dibungkus kain kafan tersebut.
“Nggak... ini nggak nyata. Ini cuma halusinasiku,” isak Arga. Ia teringat aturan nomor tiga: Jangan buka paketnya.
Namun, kotak itu mulai bergetar hebat. Ikatan kain kafannya perlahan melonggar seolah ada tangan dari dalam yang mencoba membukanya. Suara tangisan Laras semakin keras, memenuhi telinga Arga, memohon-mohon minta dikeluarkan.
“Tolong Laras, Kak... buka sebentar saja... Laras nggak bisa napas...”
Tangan Arga yang gemetar hebat perlahan bergerak menuju simpul kain kafan itu. Logikanya berteriak untuk lari, tapi hatinya hancur mendengar suara adiknya. Tepat saat ujung jarinya menyentuh kain kafan yang dingin itu, lampu jalan di atasnya pecah dengan suara ledakan keras.
PRANG!
Dalam kegelapan total, Arga melihat sesuatu yang mengerikan. Di spion motornya, tampak sesosok wanita dengan gaun putih kotor sedang berdiri diam di jok belakang motornya, tangannya yang pucat melingkar di pinggang Arga, dan wajahnya tepat berada di bahu Arga.
Wanita itu membisikkan sesuatu yang membuat jantung Arga seolah berhenti berdetak.
“Terima kasih... sudah mau membukakannya untukku...”