Deanada Kharisma, hampir 3 tahun menjalani kehidupan remaja diantara toxic circle. Memiliki teman yang toxic, menindas, bertindak sesukanya, dan melakukan diskriminasi.
Namun siapa sangka di balik itu, sebenarnya ia menyimpan rahasia bahkan dari teman-temannya sendiri, hingga Tuhan mempertemukannya dengan Rifaldi yang merupakan pemuda broken home sekaligus begundal sekolah dan naasnya adalah musuh bebuyutannya di sekolah.
Bagaimana Tuhan membolak-balikan perasaan keduanya disaat faktanya Dea adalah seorang korban victim blaming?
Conquer me ~》Taklukan aku....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sinta amalia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29🩷 Ujian pertemanan
Tangan Gibran sudah meraih tangan Dea, sementara Dea mulai merasakan ketidaknyamanan.
"Gue tau, De. Ngga akan ada yang namanya sahabat antara cewek sama cowok tanpa melibatkan perasaan. Gue tau Lo sejak kecil, kita kenal udah lama, Dea." Dea sempat membalas tatapan Gibran yang kemudian ia menunduk lagi.
"Tapi gue coba tepis karena pertemanan kita, ditambah ..Lo sama Inggrid selalu berlomba buat dapetin cowok di luar sana, sampai yang terakhir Jovanka." Gibran mendengus sumbang, "tapi coba Lo pikir, De. Lucu sih kedengerannya, gue tuh kaya lagi jagain jodoh orang, tapi gue ngga bisa ngapa-ngapain karena perasaan melindungi gue ke lo tuh kaya unlimited. Dan Lo tau ngga, mungkin selama ini mereka ngga pernah balas perasaan Lo karena apa? Karena harusnya Lo liat gue, De...gue setulus ini sama Lo, Tuhan juga tau."
Dea memejamkan matanya dengan alis yang sudah keriting mencoba mencari kata untuk membuat Gibran paham, suara host yang sudah menyampaikan titik klimaks ceritanya tak lagi menjadi atensi utama sore ini. Bagaimana akhir cerita si pemeran utama yang dihantui Ku yang.
"Gib." Tatapnya bolak balik di netra Gibran, dan kedua alis tebalnya itu, bahkan...oh, bulu mata Gibran cukup lentik untuk ukuran seorang laki-laki.
"Selama ini, perasaan gue...otak gue ngga kepikiran sampai sejauh itu sama Lo. Lo, bagi gue memang udah sedekat ini dibanding Willy sama Ing. Tapi, gue ngga pernah ngerasain getaran apapun, ya Lo paham mungkin getaran yang gue maksud...getaran yang bikin gue deg-degan, gue engga ngerasain itu." Hampir Gibran kembali bersuara, namun Dea sudah membungkamnya, "bentar, gue belum selesai ngomong."
Dea menarik nafasnya singkat, "gue mau pindah Gib."
Alis Gibran mengernyit diantara bungkaman tangan Dea, "mungkin mama belum ngomong sama tante Silvi, jadinya tante belum ngomong sama Lo." Dea menurunkan tangannya dari mulut Gibran.
"Gib, bisnis papa bangkrut. Rumah udah dijual buat nutup biaya gaji karyawan sama sisa operasional. Gue mau pindah ke Jogja." Dea benar-benar menunduk tak berani menatap Gibran langsung, ia membawa helaian rambut yang sempat mencuat keluar dan tersapu angin ke pipi.
Ia juga menaruh sejenak cup mie yang sejak tadi masih dipegangnya ke bawah, "rumah udah laku kemaren, tapi mama bikin perjanjian minta tempo sampai kelulusan gue. So..."
Gibran langsung meraih Dea ke dalam pelukan, "kenapa tante Sarah ngga ngomong apapun buat minta tolong?"
Dea dibuat menitikan air matanya.
"Lo ngga boleh pergi, De."
Dea menekan ujung dan ekor matanya demi menahan perasaan ini sejak kemarin, perasaan kehilangan yang nantinya akan bergema di hati begitu kencang.
Dea membalas pelukan Gibran dan mengusap-usap punggung sahabatnya ini, "gue ngga tau, apa nanti gue bisa dapetin temen-temen kaya Lo, Inggrid sama Willy lagi apa engga." Ucap Dea terisak.
"Kita masih bisa video call, telfonan. Gue masih di Indonesia. Gue masih hidup...bisa Lo susul buat ketemuan."
Namun pelukan Gibran itu semakin mengerat pada Dea, ia menggeleng, "gue ngga akan ikhlasin Lo buat orang lain, De. Apalagi berandalan itu."
Dea diam, tak bisa bicara apapun untuk yang satu itu, "gue ngerasa kecolongan karena kasus kemaren. Gue terlalu sibuk ngurusin kasus Inggrid yang justru berakibat fatal buat diri gue sendiri, ngebiarin si berandal itu ngedeketin Lo..."
Hmm, tentu saja Gibran tau, cepat atau lambat. Tentang Rifal....tentang ia dan kedekatan mereka.
Dea berjalan cepat keluar dari rumah Gibran, tanpa menoleh dan berjeda sedikit pun.
*Gue sayang sama Lo, De*.
*Gue sayang sama lo, De*.
Ucapan Gibran itu terngiang-ngiang di telinganya. Namun bukan sebuah kalimat yang mampu membuat Dea berbunga, melainkan penyesalan terdalam, kenapa harus begini, jadinya?
.
.
Dea masih berjalan bersama Inggrid menuju kelas, sementara Gibran dan Willy tepat di depannya.
"Siang ini anak cheers ngumpul ya, De? Katanya OSIS sama kesiswaan udah rapat buat acara perpisahan nanti." Inggrid terlihat begitu antusias. Dea mengangguk, sementara Gibran menghentikan langkahnya demi menoleh, "gue tungguin. Besok-besok kalo Lo les, gue yang anter, De."
Mungkin Inggrid tak peka melihat itu, namun Willy...ia mendengus sumbang, "biasanya juga Dea naik ojol, Gib."
"Lah, bagus dong...Dea ada yang anter jemput, Wil...jadi ngga perlu ngojol."
Dea hanya menatap Gibran jengah, tanpa bicara ia melengos ke dalam kelas sendirian.
"Lah, De....kenapa sih?" tanya Inggrid menyusul.
"Gue, ngga mau Dea dideketin terus si berandal Rifal, Wil."
Willy menepuk pundak Gibran, "yang Lo kasih peringatan bukan Dea, itu cuma bakalan bikin hubungan kita renggang. Lagian, kalo ternyata Dea sama Rifal ngga ada apa-apa, yang ada Lo bikin Dea ngga nyaman sama sikap Lo ini." Willy berlalu duluan membuat Gibran membeku dan berpikir di tempatnya sekarang, hingga kemudian beberapa menit kemudian ia menyusul langkah teman-temannya itu masuk ke dalam kelas.
Apa yang Willy ucapkan itu benar, karena sejak saat itu, Dea jadi sedikit lebih kaku pada Gibran. Bahkan kebiasaan mereka yang biasa dilakukan pun tak pernah lagi terjadi.
Biasanya setiap sore, Dea akan memanggilnya lirih untuk sekedar melihat batang hidungnya ada di rumah.
Sudah 3 sore yang dilalui Gibran, begitu kentara perubahan sikap Dea padanya. Berangkat bersama, pulang bersama sesuai maunya, di kelas berdekatan, namun Dea tak banyak bicara. Jam istirahat pun, Dea memilih mengajak Inggrid ke kelas Sharena dan ruang anak cheers.
**Rifal**
*Sibuk banget ya*?
**Deanada**
*Kayanya bukan anak cheers doang deh yang sibuk, Tama anak OSIS juga sibuk, ekskul lain juga sibuk buat persiapan perpisahan nanti. 🤯 Soalnya bakal kejeda sama UTS. Abis itu SNMPTN, terus nanti ujian, SBMPTN. Udah belajar? Jangan dibanyakin race sama modif motor terus*.
**Rifal**
*Udah pinter*
**Deanada**
😮💨
*Rifaldi memanggil*....
Dan kembali obrolan panjang yang mereka lakukan di telfon.
"Hari Minggu ke rumah Nara ya... anak-anak MIPA 3 mau ke rumah Nara." ucap Rifal.
Dea menjatuhkan badannya di kasur dan menatap langit-langit, "mau ngapain, aku bukan anak MIPA 3."
"Ngga apa-apa, nemenin aku."
Dea menghela nafasnya, mencoba menimbang-nimbang, "jam berapa?"
"Jam 10an."
"Ngga janji, tapi aku usahain. Soalnya nemenin mama sama tante Aini ketemu catering, buat acara nikahan mas Huda."
Rifal, hal yang sama ia lakukan sekarang. Duduk menekuk lutut di bawah ranjang kamar.
Sejenak ia menatap layar ponselnya, notifikasi mobile banking berdenting jika saldo rekeningnya bertambah. Ah iya, awal bulan begini papa memang biasa mengiriminya uang saku.
Tapi ia cukup mengernyit sebab nominalnya yang lebih dari biasanya, *tumben*. Rifal melengkungkan bibirnya tak acuh.
"Abis itu kita jalan. Terserah mau kemana. Lagi punya wishlist ngga? Wujudkan, bareng aku."
Terdengar tawa renyah Dea, "hahaha, abang donatur. Nanti malah jadi ngga ikutan acara MIPA 3 dong kalo aku datang."
"Ngga apa-apa, mereka dikasih batagor aja udah langsung anteng. Cuma bikin kado sama surprise buat Bu Wilda aja."
"Oh, Bu Wilda ultah?"
Rifal mengangguk, "kamu? Kapan?"
Dea tertawa lagi, tanpa menjawab, "ya udah, nanti aku usahain buat datang."
*De*!
Mama mengetuk pintu kamarnya, "Ada Gibran..."
.
.
.
.
.
Dea ikut kalian aman, Dea kalian tahan, kalian gk selamat.
itu ketua Genk cuma lagi tatrum aja, bukan Maslah Gedhe kog
bukan Kirana kalian di halangi Genk motor tapi karena dea
jari nya di tahan, belum tau kenyataan nya kenapa Kirana memanfaatkan willy😁
aku yg nonton sambil nyemilin kacang
perlu kayak pernyataan.
kamu kan belum secara tega bilang Dea aku suka sama kamu, mau nggak kamu jadi pacarku.
cuma Hts, moro² cium paksa, tiba² ngajak jalan², tanpa diminta jadi donatur...
jangan salahkan Dea ,klo Dea nganggep kalian bukan siapa²
dari sini dea-rifal mulai landing 😁😁