"Astangfirullah Pak, ini bukan hukuman tapi menindas namanya!" Pekik Nabila kala menatap bukuu setebal tembok di depannya.
"kalau tidak mau silahkan keluar dari daftar Siswi saya!" jawab pria yang amat di kenal kekillerannya.
huff!
Nabila tak dapat membantah selain pasrah ia tidak mau mengulangi mata kuliah satu tahun lagi hanya demi satu kesalahan.
Tetapi Nabila pikir ini bukan kesalahan yang fatal hanya dosennya memang rasa sensitiv terhadap dirinya, Nabila tidak tahu punya dendam apa Pak Farel sehingga kesalahan kecil yang Nabila perbuat selalu berujung na'as.
Yuk lanjut baca kisah Nabila yang penuh haru dan di cintai oleh dosennya sendiri secara ugal-ugalan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ana fatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1
Dosen killer!
Bab satu
Dosen killer.
Tak!!
"Auw," ringis Nabila sambil memegang kepalanya, ia baru saja tertidur di kelas saat jam pelajaran berlanjut.
"Nabila Asiyah Nandira!" teriak seorang dosen tampan incaran para mahasiswi tapi tak kalah hebat killer dan dinginnya.
Seketika Nabila kaget dan langsung bangun tegap, lalu ke doa bola matanya sadar kalau ia sudah tidur di kelas dan parahnya ini adalah jam pelajaran Pak Alka dosen maut itu.
"Mampus gue, ya ampun Nabila, bisa-bisanya lo tidur di jam Pak Alka." batin Nabila menjerit.
"Kali ini lo nggak bakal bisa lolos, Nad!" celetuk teman Nabila.
"Kenapa lo nggak bangunin gue sih, Sil?" cicit Nabila.
"lonya aja, tidur kayak kebo! makanya jangan nonton drakor terus!" desis Sisil.
"Semalam nanggung sih, mau tamat."
Pria yang tadi sudah melempar Nabila dengan penghapus kini berjalan pelan menuju ke arah Nabila dengan memasukkan tangan ke dalam saku celananya.
Dia adalah Alkausar Gunawan Ibrahim yang memiliki paras tampan sekaligus putra dari seorang terpandang di Bandung sekaligus anak tunggal tapi sayangnya dia adalah pria yang dingin, cuek irit senyum sekaligus pelit nilai. Walau menjadi primadona di kampus tapi tak juga sampai saat ini ada satu cewek yang berhasil menaklukkan hatinya, Alka seorang dosen yang terlalu cool dan sulit di taklukkan seorang dosen cantik saja belum berhasil mendobrak hati Alka dosen killer bin dingin.
Kaki Nabila tiba-tiba gemetteran saat tatapan Pak Alka yang setajam elang menghunus masuk ke bola mata Nabila. Perempuan itu benar menyesal telah melakukan kesalahan fatal hari ini.
"Apa niat kamu datang ke sini, cuma mau tidur?" tanya Alka, Nabila bergeleng.
"Apa kamu sudah bosen, kuliah?" Nabila menggeleng lagi.
Cetak! Alka menyentil dahi Nabila dengan sepidol.
"Ahkkk!" ringis Nabila dalam hati.
"Kalau begitu kenapa kamu tidur di kelas saat jam pelajaran berlangsung? Atau kamu sudah merasa pintar, Nabila?" ucap Alka.
"Ma-af Pak, saya tidak sengaja tadi tidur," sahut Nabila gugup.
"Apapun alasan mu kamu sudah membuat kesalahan besar dalam kamus mata kuliah saya, dan kau wajib di hukum sebagai hukumannya kamu kerjakan semua tugas yang ada dalam buku ini." titahnya dengan nada tegas seraya melempar buku yang ia pegang.
Shontak mata Nabila melebar sempurna.
"Wht? pak Alka yang serius donk! masak ia saya di hukum sebarat itu, tidurnya aja hanya beberapa menit?" keluh Nabila keberatan.
"Apa saya sedang lelucon Nabila?" ujar Alka nyaris dengan wajah tampan ekpresi, beku bak kulkas tujuh pintu.
"Nggak sih, yang ada wajah bapak kayak kanibo kering jarang di cuci," dan itu Nabila hanya berani dalam hati.
Nabila menggeleng lemah.
"Jelas sekarang! Saya kasih kamu waktu dua hari selama itu harus kelar dan siap di meja saya, mengerti!" ucap Alka lagi.
"Apa? dua hari, nggak bisa gitu donk Pak, ini namanya bukan hukuman tapi penganiayaan lewat hukuman." ucap Nabila.
"Terserah kamu, yang penting saya sudah menjelaksan kalau tidak terima silahkan kamu keluar dari mata kuliah saya dan itu artinya nilai kamu kosong! Siap-siap saja kamu tidak lolos ikut KKN!" tegas Alka.
"Ya ampun Pak, maksud Nabila bisa nggak hukumannya di ganti yang lain, apa kek, gitu!" rengek Nabila dengan wajah melasnya berharap pria itu kasian karena Nabila pernah dengar kalau wajah dirinya itu imut, siapa tahu Alka merasa iba dengan wajah imutnya.
Dan ternyata sama sekali tidak ada, Nabila tetap di wajibkan melaksanakan tugas dari Alka.
"Huh! gue sumpahin Pak Alka dapat istri ceb-cabean biar tahu rasak itu orang!" umpat Nabila dalam hati.
Saat berada di kantin Nabila banyak diam, ia tidak tahu harus bagaimana ke depannya sedang ia selalu saja berurusan dengan dosen killer itu.
Harapan Nabila satu semoga saja Alka bukan dosen pembimbingnya nanti, kalau sampai dia yang ada dia mati duluan tidak jadi sarjana.
"Nab, kok gue lihat Pak Alka sensi banget sama lo, jangan-jangan beliau demen sama lo," ujar Sisil.
"Syukurlah kalau dia demen sama gue, berarti mata dia tidak buta tahu orang cantik, tapi gue amit-amit sukak sama dia, orang galak amat!" cibir Nabila.
"Tapi kalau sudah jodoh lo, gimana?"
"Ya gue tolak."
***
"Maksud Bunda apa? Nabila tidak mengerti," sahut Nabila, saat ini Nabila sudah berada di rumahnya tepat pukul tujuh malam baru saja selesai makan malam.
"Bunda tidak bercanda Nak, serius kamu harus menikah dengan teman almarhum ayah, ini pesan ayah nak kalau kamu sudah dewasa dan sekarang saatnya." ucap Dewi.
"Tapi Bun, Nabila masih kuliah, nggak mungkin menikah sekarang, lagian Nabila masih punya cita-cita yang harus Nabila wujudkan," rengek Nabila.
"Nak, calon suami kamu itu sudah dewasa, dia mapan dan Sholeh pasti bisa bimbing kamu Nabila, dia putra dari sahabat Ayah."
"Tapi Bun, Nabila belum ingin menikah."
"Kenapa, apa kamu sudah punya pacar Nak?"
"Tidak Bun, Nabila hanya fokus sama belajar, Bunda tahu kan gimana cita-cita Nabila."
"Sayang, Bunda mengerti keinginan kamu tapi kali ini kamu jangan bantah ya, ini atas permintaan ayah kamu dan insyaallah semuanya adalah yang terbaik untuk kamu, calon mertua kamu itu juga orang baik, beliau juga tokok agama di kotanya."
Nabila hanya bisa menghela napas berat, tak mungkin ia membangkang perintah sang Bunda walau dalam hatinya ia menjerit ingin menolak.
"Oh Tuhan, beginikah takdir gue, padahal gue masih ingin menikmati masa remaja gue dengan indah." batin Nabila karena selama ini Nabila hidupnya hanya fokus sama belajar dan belajar.
"Nad, lo sudah mengerjakan tugas Pak Farel, belum?" tanya Sisil.
"Astaga sil, belum gue lupa!" terkejut Nabila baru ingat kalau dia belum mengerjakan tugas dari dosen mata kuliah Pak Farel.
"Kenapa, biasanya kalau soal tugas lo paling gercep." Imbuh Sisil.
"Iya sih, semalam gue tidak bisa berpikir karena hari ini gue mau---."
"Sumpah gue lupa, gimana ini apa Pak Farel ngasih toleransi buat gue."
"Pak Farel orangnya baik Nad, pasti mau memafkan lo apa lagi selama ini kamu belum pernah apsen tugas beliau, kan!"
"Ya semoga saja, udah masuk yuk."
Tetapi saat jam kuliah di mulai alangkah kagetnya Nadia yang datang bukan dosen baiknya tetapi dia.
"Pak Alka---, kenapa dia yang masuk?" gumam Nabila terkejut.
"Nad, kok Pak Alka yang masuk ya," bisik Sisil.
"Gue juga nggak tahu Sil, apa Pak Farel nggak masuk ya terus di ganti Pak Alka, mampus gue kalau tugasnya di titipkan pada Pak Alka."
"Ya gimana lagi, berdo'a saja semoga Pak Alka masuk mata kuliahnya sendiri mereka tuker jam."
"Hari ini Pak Farel tidak masuk beliau ada kepentingan keluarga, jadi saya yang menggantikan beliau dan beliau bilang ada tugas, sekarang saya mintak kumpulkan!" ucap Alka seperti biasa tegas dan berwibawa.
Deg!.......
"Mampus gue!"
"kenapa Nab?" tanyak teman Nabila.
"Kali ini gue bisa selamat nggak si, Sil?" gumam Nabila sambil menggigit bibir bawahnya.
"Memangnya kenapa, lo mau ikut perang?"
"lebih dari itu sil, ini justru qiamat."
Beo Sisil tidak paham.
"Maksud lo apa sih Nab?"
Tak!
Tak!.
"Tuh kan! Huaaa!!!.........