Profil Karakter Utama
Arkaen "Arka" Malik (30 th): CEO muda dari Malik Group yang terlihat bersih dan filantropis. Namun, di balik itu, ia adalah "Don" dari sindikat The Black King. Dia dingin, penuh perhitungan, dan tidak percaya pada cinta karena trauma masa lalu.
Alea Senja (24 th): Seorang jurnalis investigasi amatir yang cerdas namun sedang kesulitan ekonomi. Dia memiliki sifat yang berani, sedikit lancang, dan tidak mudah terintimidasi oleh kekuasaan Arka.
Alea tidak sengaja memotret transaksi ilegal di pelabuhan yang melibatkan Arka. Alih-alih membunuhnya, Arka menyadari bahwa Alea memiliki kemiripan wajah dengan wanita dari masa lalunya yang memegang kunci brankas rahasia keluarga Malik. Arka memaksa Alea menandatangani kontrak "Pernikahan Bisnis" selama satu tahun demi melindunginya dari kejaran faksi mafia musuh sekaligus menjadikannya alat untuk memancing pengkhianat di perusahaannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon salsabilah *2009, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gema di Tebing Amalfi
Koin emas dengan lambang ular Ouroboros itu mungkin sudah tenggelam di dasar laut, tetapi beban yang ditinggalkannya masih terasa di pundak Arka. Malam itu, angin laut Amalfi bertiup lebih kencang, menggoyangkan tirai sutra di kamar vila mereka. Arka berdiri di kegelapan ruang tengah, memegang pistol kaliber sembilan milimeter yang baru saja ia keluarkan dari kompartemen rahasia di bawah lantai.
Ia tidak ingin Alea tahu. Ia ingin Alea percaya bahwa kedamaian ini nyata. Namun, Arka tahu satu hukum universal: orang-orang seperti mereka tidak pernah benar-benar bisa pensiun.
"Arka?" suara lembut Alea terdengar dari arah pintu kamar.
Arka segera menyembunyikan senjatanya di balik punggung, namun ia terlambat. Alea sudah menyalakan lampu kecil di sudut ruangan. Gadis itu berdiri dengan jubah tidurnya, menatap Arka dengan pandangan yang sulit diartikan—campuran antara kekecewaan dan pengertian.
"Kau mengeluarkannya lagi," ucap Alea pelan, matanya tertuju pada tangan Arka yang tersembunyi.
Arka menghela napas panjang, bahunya merosot. Ia meletakkan pistol itu di atas meja kayu tua. "Aku tidak bisa membiarkan kita menjadi sasaran empuk, Alea. Koin itu... itu bukan sekadar gertakan."
Alea berjalan mendekat, mengambil pistol itu dan merasakannya dingin di telapak tangannya. "Enam bulan, Arka. Kita sudah merasa aman selama enam bulan. Apakah ini akan menjadi cara kita hidup selamanya? Selalu menunggu seseorang menendang pintu kita di tengah malam?"
"Hanya sampai aku tahu siapa mereka dan apa yang mereka inginkan," jawab Arka, suaranya rendah.
Tiba-tiba, laptop Alea yang berada di atas meja kerja berbunyi nyaring. Sebuah sinyal peringatan darurat yang hanya bisa dipicu oleh satu orang: Rio.
Alea segera duduk dan membuka layar. Bukan panggilan video yang muncul, melainkan rentetan data merah yang mengalir cepat—protokol penghancuran diri server cadangan mereka di Jakarta.
"Rio sedang diserang," bisik Alea, jemarinya bergerak cepat di atas keyboard. "Dia mencoba mengirimkan koordinat terakhir sebelum sistemnya mati total."
"Tampilkan di layar," perintah Arka.
Sebuah peta digital muncul. Titik merah berkedip di sebuah lokasi yang sangat tidak terduga: Vatikan, Roma.
"Kenapa Rio ada di Roma? Dia seharusnya mengawasi sisa-sisa aset kita di Batam," Arka mengerutkan kening.
Sebuah pesan singkat muncul di layar sebelum koneksi terputus:
'Bukan hanya tentang uang. Mereka mencari Tabut Hitam. Jangan percaya pada bayangan di balik jubah.'
Keputusan diambil dalam hitungan menit. Mereka tidak bisa lagi bersembunyi. Jika Rio—satu-satunya sekutu paling loyal yang mereka miliki—dalam bahaya, maka masa pensiun mereka resmi berakhir.
Arka dan Alea meninggalkan Amalfi sebelum fajar menyingsing. Mereka mengendarai mobil roadster tua melewati jalur pesisir yang berkelok-kelok menuju Roma. Di sepanjang jalan, Alea mencoba membedah maksud pesan Rio.
"Tabut Hitam... Kedengarannya seperti sesuatu dari mitologi," ucap Alea sembari memeriksa intelijen melalui jaringan dark web. "Tapi lihat ini, Arka. Di komunitas sejarawan terlarang, Tabut Hitam dirumorkan sebagai artefak yang berisi daftar silsilah keluarga-keluarga yang mengatur sistem perbankan dunia sejak zaman Renaisans. Jauh sebelum Obsidian Circle ada."
"Jadi Obsidian hanyalah cabang baru yang mencoba meniru silsilah lama itu," Arka menyimpulkan sembari memutar kemudi dengan tajam. "Dan Ouroboros adalah penjaga silsilah aslinya."
Mereka sampai di Roma saat kota itu mulai terbangun. Suasana sangat kontras dengan Amalfi; kebisingan turis, bunyi klakson, dan kemegahan arsitektur kuno yang seolah mengawasi setiap langkah mereka.
Sesuai koordinat dari Rio, mereka menuju sebuah perpustakaan tua di dekat Pantheon. Tempat itu tampak seperti toko buku biasa, namun di bagian belakangnya terdapat arsip bawah tanah yang dikelola oleh seorang informan bernama Il Sarto (Sang Penjahit).
Saat mereka masuk, bau kertas tua dan cerutu menyambut mereka. Seorang pria tua dengan rompi sutra sedang meneliti sebuah naskah menggunakan kaca pembesar.
"Arkaen Malik," suara pria itu serak. Ia tidak mendongak. "Aku sudah menduga kau akan datang, meski aku berharap kau lebih pintar untuk tetap tinggal di pantai."
"Di mana Rio, Sarto?" tanya Arka tanpa basa-basi.
Sarto meletakkan kaca pembasarnya. Matanya yang tajam menatap Alea. "Anak buahmu terlalu banyak bertanya tentang 'Ular'. Dia mengambil risiko besar dengan menyusup ke arsip rahasia di bawah Lapangan Santo Petrus. Orang-orang Ouroboros membawanya dua jam yang lalu."
Alea merasakan jantungnya berdegup kencang. "Membawanya ke mana?"
"Ke tempat di mana dosa-dosa paling gelap disimpan," Sarto mengeluarkan sebuah peta kulit tua. "Ada jaringan katakombe di bawah Roma yang tidak tercatat di peta wisata. Di sana, Ouroboros melakukan apa yang mereka sebut sebagai 'Pemurnian'. Mereka ingin data yang Rio simpan di dalam kepalanya—data yang kau curi dari ibumu, Alea."
Arka mendekati Sarto. "Aku butuh peralatan. Dan aku butuh jalan masuk tanpa terdeteksi."
"Harganya mahal, Arkaen. Bukan uang. Ouroboros akan menandaimu selamanya jika kau menginjakkan kaki di sana," Sarto memperingatkan.
"Mereka sudah menandaiku dengan koin itu," jawab Arka dingin.
Malam itu, di bawah bayang-bayang gereja tua yang megah, Arka dan Alea mengenakan pakaian taktis yang lebih ringan. Mereka harus bergerak di lorong-lorong sempit bawah tanah.
Alea memegang alat pemindai termal. "Arka, jika apa yang dikatakan Rio benar... jika Ouroboros benar-benar memegang kendali atas pondasi dunia ini, kita sedang melawan sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar mafia. Kita sedang melawan sejarah itu sendiri."
Arka memeriksa magasin senjatanya, lalu menatap Alea. "Sejarah ditulis oleh pemenang, Alea. Dan sejauh ini, kita belum pernah kalah."
Mereka turun melalui lubang ventilasi di ruang bawah tanah perpustakaan, merayap masuk ke dalam kegelapan katakombe Roma yang dingin dan lembap. Suara tetesan air dan bau tanah makam membuat suasana semakin mencekam.
Setelah merangkak selama tiga puluh menit, mereka sampai di sebuah ruangan luas yang diterangi oleh obor-obor di dinding batu. Di tengah ruangan, Rio tampak terikat di sebuah kursi kayu kuno. Wajahnya lebam, namun ia masih sadar.
Di depan Rio, berdiri seorang pria yang mengenakan jubah hitam polos dengan bordiran ular emas di kerahnya. Pria itu tidak membawa senjata, melainkan sebuah buku kecil bersampul kulit hitam.
"Kesetiaan adalah sifat yang langka di zaman sekarang, Tuan Rio," ucap pria berjubah itu dengan suara bariton yang berwibawa. "Tapi kesetiaan pada orang yang sudah 'mati' adalah kebodohan."
"Arka... tidak akan... pernah mati," gumam Rio parau.
Arka memberi isyarat pada Alea untuk mengambil posisi runduk (sniper) di balik pilar, sementara ia sendiri bersiap untuk melakukan penyergapan dari arah samping.
"Oh, aku tahu dia tidak mati," pria berjubah itu tersenyum, lalu menoleh tepat ke arah persembunyian Arka. "Karena dia sedang berdiri di belakang pilar ketiga, menunggu saat yang tepat untuk menembakku. Benar kan, Arkaen?"
Arka membeku. Bagaimana pria itu tahu?
"Keluarlah," ucap pria itu lagi. "Mari kita bicarakan tentang masa depan yang tidak bisa kau hindari. Karena kau bukan musuh kami, Arkaen. Kau adalah bagian dari silsilah yang hilang."
Alea yang berada di kejauhan tetap membidikkan senjatanya, namun jemarinya bergetar. Kalimat itu—silsilah yang hilang—membuka kotak Pandora baru yang jauh lebih gelap daripada rahasia ibunya.