Poseidon merasa terhina karena ada satu lautan di dunia fana yang tidak mau tunduk pada perintahnya: Pantai Selatan Jawa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Skyler Austin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tulang yang Mengingat Sumpah
Pasir halus Alun-Alun Utara yang biasanya menjadi tempat duduk bersila para abdi dalem saat menghadap Raja, kini berubah menjadi ladang pembantaian. Puluhan prajurit mayat hidup itu bergerak dengan kecepatan yang tidak wajar. Tulang-belulang mereka yang kuning kecokelatan terbungkus zirah karang tajam yang bergemerincing setiap kali mereka melangkah.
Mereka tidak bersuara. Tidak ada teriakan perang. Hanya suara krak-krak sendi mati dan desisan angin yang melewati rongga dada mereka.
"Bambang! Sembunyi di balik roda kereta!" perintah Pangeran Suryo sambil memutar tombak Baru Klinting di atas kepalanya.
Bambang, si masinis yang malang, tidak perlu disuruh dua kali. Ia tiarap, merangkak masuk ke celah sempit di bawah bangkai lokomotif yang masih berasap, memeluk kunci inggrisnya seperti jimat pelindung.
"Sekar, di belakangku!"
Tiga prajurit mayat hidup menerjang sekaligus. Mereka membawa tombak berkarat yang ujungnya sudah diganti dengan duri ikan pari beracun.
Pangeran Suryo menyambut mereka.
TRANG! CRAK!
Tombak Baru Klinting menyala merah, memotong gagang tombak musuh, lalu menebas tulang selangka prajurit pertama. Tubuh mayat hidup itu hancur, karangnya meleleh terkena panas naga.
Tapi saat Pangeran Suryo menghancurkan mereka, wajahnya terlihat pening.
"Maafkan saya, Eyang... Maafkan saya..." bisiknya setiap kali ia harus mematahkan tulang leluhurnya sendiri.
Ini adalah siksaan psikologis yang disiapkan Gusti Pembayun. Ia tahu Suryo adalah ksatria yang menjunjung tinggi unggah-ungguh (sopan santun) pada orang tua. Memaksa Suryo menghancurkan jasad leluhur adalah cara terbaik untuk melemahkan mentalnya.
"Hahaha! Pukul yang keras, Suryo!" ejek Pembayun dari atas tangga Sitihinggil. Ia duduk santai di salah satu anak tangga, memainkan tongkat tengkoraknya. "Mereka itu dulu pahlawan Perang Diponegoro lho. Lihat itu, yang pakai topi miring? Itu Eyang Buyutmu dari garis ibu!"
Pangeran Suryo menggeram, konsentrasinya pecah. Sebuah sabetan pedang karang berhasil menggores lengan kanannya. Darah menetes.
"Gusti! Jangan dengarkan!" teriak Sekar.
Sekar sendiri sedang sibuk. Dua prajurit kerangka mengepungnya. Mereka tidak secepat yang menyerang Suryo, tapi mereka terkoordinasi. Satu menyerang dari depan, satu mengendap dari samping.
Sekar tidak punya tombak sakti. Ia hanya punya cambuk pendek.
Prajurit di depan menusukkan tombaknya. Sekar melompat ke samping, gerakan tari yang sudah menjadi refleks ototnya menyelamatkannya.
Ia mengayunkan Kyai Pamuk.
CETAR!
Ujung cambuk itu membelit leher tulang prajurit itu.
"Lepaskan!" Sekar menarik cambuknya.
Tapi tenaga prajurit mayat hidup itu jauh lebih besar dari tenaga gadis manusia. Sekar justru yang tertarik mendekat. Prajurit itu mengangkat pedang pendeknya, siap memenggal kepala Sekar.
Bambang, yang mengintip dari kolong kereta, melihat bahaya itu.
"Mbak Sekar! Awas!"
Bambang melempar bongkahan batu ballast rel sekuat tenaga. Batu itu menghantam batok kepala tengkorak itu. TOK!
Tidak sakit, tentu saja. Tapi cukup membuat tengkorak itu menoleh kaget.
Detik berharga itu dimanfaatkan Sekar. Ia tidak menarik cambuknya lagi. Ia justru mengalirkan energi lewat tali cambuk itu. Energi moksa. Energi kesadaran.
"Sadar, Mbah! Sadar!" teriak Sekar. "Sampeyan itu prajurit Mataram! Bukan budak londo laut!"
Cahaya putih merambat dari tangan Sekar, menyusuri anyaman cambuk, dan menyengat leher tengkorak itu.
Tengkorak itu tersentak kejang. Cahaya merah jahat di rongga matanya berkedip-kedip, lalu padam, digantikan oleh cahaya putih redup yang tenang.
Prajurit itu berhenti bergerak. Ia menurunkan pedangnya perlahan. Ia menoleh ke arah Sekar, lalu membungkuk hormat.
Krak.
Tubuh prajurit itu runtuh menjadi tumpukan tulang biasa. Sihir Pembayun yang mengikatnya telah putus. Jiwanya bebas.
Sekar terengah-engah, menatap tumpukan tulang itu. Ia baru sadar.
Kyai Pamukbukan senjata pembunuh. Itu senjata penyadaran. Cambuk itu berfungsi untuk "mencambuk" jiwa yang tersesat agar kembali ke jalan yang benar.
"Gusti!" teriak Sekar mengatasi kegaduhan pertempuran. "Jangan dilawan pakai amarah! Mereka butuh diingatkan!"
Pangeran Suryo mendengar teriakan itu. Ia sedang terdesak, dikepung lima prajurit sekaligus.
"Diingatkan?" Pangeran menangkis tiga serangan sekaligus, kakinya terperosok ke dalam pasir. "Diingatkan pakai apa? Aku tidak bawa buku sejarah!"
"Pakai Sumpah!" balas Sekar. Ia berlari mendekati Pangeran, mencambuk punggung prajurit yang hendak menombak Suryo dari belakang.
Prajurit itu kaku, lalu ambruk menjadi debu.
"Sumpah Prajurit!" jelas Sekar sambil berdiri punggung-punggung dengan Pangeran. "Mereka mayat hidup, tapi sumpah mereka terikat sampai mati. Kalau jiwa mereka diingatkan tentang sumpah itu, ikatan sihir Bude Gusti bakal kalah!"
Pangeran Suryo mengerti. Matanya berbinar.
Ia menancapkan tombak Baru Klinting ke tanah, menciptakan lingkaran api pelindung sementara. Lalu, ia berdiri tegak, membusungkan dada selayaknya seorang panglima perang.
Ia menarik napas dalam-dalam, lalu berteriak dengan suara menggelegar yang menggunakan tenaga dalam (aji gelap ngampar).
"PRA-JU-RIT!!!"
Suara itu menggema di seluruh alun-alun, memantul di dinding kubah air.
Gerakan puluhan mayat hidup itu terhenti sejenak. Insting militer yang tertanam di sisa otak mereka merespons nada perintah otoriter itu.
"Kalian disumpah untuk menjaga Raja! Menjaga Tanah! Menjaga Rakyat!"teriak Pangeran Suryo, suaranya bergetar penuh wibawa. "Lihat siapa yang kalian serang! Lihat siapa yang berdiri di belakang kalian!"
Para tengkorak itu menoleh kaku ke arah Gusti Pembayun yang duduk di tangga.
"Dia adalah pengkhianat! Dia bersekutu dengan musuh yang ingin menenggelamkan tanah tempat kalian dikuburkan!"
Gusti Pembayun berdiri, wajahnya merah padam. "Diam kau, Suryo! Jangan dengarkan dia! Serang! Robek mulutnya!"
Pembayun menghentakkan tongkatnya, mengirimkan gelombang sihir hitam untuk memaksa mayat-mayat itu bergerak.
Para prajurit itu gemetar. Tubuh tulang mereka berderit keras, terjebak dalam konflik batin antara sihir pengendali dan memori sumpah setia.
"Sekar! Sekarang!" perintah Pangeran.
Sekar maju. Ia memutar cambuk Kyai Pamuk di atas kepalanya, menciptakan dengungan suara yang menyakitkan telinga.
"Bangun!"
CETAAARRRR!!
Sekar menghentakkan cambuknya ke tanah pasir. Bukan ke arah musuh, tapi ke bumi yang mereka pijak.
Gelombang energi putih menyebar dari titik hentakan, menyapu seluruh alun-alun seperti ombak cahaya. Gelombang itu melewati kaki-kaki para prajurit tengkorak.
Sihir hitam Pembayun yang berbentuk asap ungu terusir keluar dari tubuh-tubuh kerangka itu.
Mata mereka semua berubah menjadi putih bersih.
Mereka tidak runtuh menjadi debu. Sebaliknya, mereka berdiri tegak. Mereka memutar tubuh mereka, memunggungi Pangeran Suryo dan Sekar.
Mereka menghadap ke arah Gusti Pembayun.
Puluhan tombak dan pedang berkarat kini terarah ke wanita tua itu.
"Apa?!" Gusti Pembayun mundur selangkah, kakinya tersandung jubahnya sendiri. "Dasar tulang belulang tidak tahu diuntung! Aku yang membangkitkan kalian!"
Salah satu prajurit—yang memakai sisa seragam kapten—menghentakkan tombaknya ke tanah. DUM.
Diikuti oleh prajurit lain. DUM. DUM. DUM.
Irama hentakan itu adalah irama baris-berbaris kehormatan. Tapi kali ini, itu adalah irama penghakiman.
Pangeran Suryo mencabut tombaknya dari tanah. Ia berjalan melewati barisan pasukannya yang telah kembali setia. Para tengkorak itu menyibak memberi jalan, menundukkan kepala saat Pangeran lewat.
"Permainan selesai, Bude," kata Pangeran Suryo dingin. "Suruh pasukanmu mundur, atau leluhur kita sendiri yang akan menyeret Bude ke neraka."
Gusti Pembayun gemetar. Bukan karena takut, tapi karena murka yang meluap-luap. Wajah keriputnya berkedut mengerikan.
"Kau pikir aku butuh tulang-tulang rongsokan ini?" desisnya.
Ia mengangkat tongkat tengkoraknya tinggi-tinggi, lalu mematahkannya jadi dua dengan lututnya.
KRAK!
Cairan hitam pekat tumpah dari patahan tongkat itu, mengalir menuruni tangga, menuju kepompong kristal tempat Sri Sultan ditawan.
"Kalau aku tidak bisa menguasai Keraton ini..." teriak Pembayun histeris. "...maka tidak ada yang boleh memilikinya!"
Cairan hitam itu menyentuh kepompong kristal.
Reaksinya instan. Kepompong itu mulai berubah warna menjadi hitam. Sri Sultan di dalamnya kejang-kejang, mulutnya terbuka dalam teriakan bisu.
"BAPAK!" teriak Pangeran Suryo.
"Dia meracuni sumbernya!" seru Sekar horor. "Dia mau meledakkan energi Raja!"
Jika Sri Sultan meledak, seluruh Yogyakarta akan tersapu bersih oleh gelombang energi murni yang tak terkendali.
Pangeran Suryo berlari menaiki tangga, tapi Pembayun merentangkan tangannya. Tubuh wanita tua itu bermutasi. Kulitnya pecah, dan dari punggungnya tumbuh delapan kaki laba-laba raksasa yang terbuat dari air keras.
"Lewati aku dulu, Bocah!"
Gusti Pembayun telah membuang wujud manusianya. Ia menjadi Arachne versi laut—monster penjaga terakhir sebelum singgasana.