Kehidupan Nadia Clarissa berubah drastis setelah sebuah tragedi merenggut keluarganya. Ia terpaksa berlindung di bawah atap kediaman megah milik pamannya, Bramantya Mahendra, seorang pria kaya raya yang dikenal dingin dan tak tersentuh. Namun, kemewahan itu terasa seperti penjara bawah tanah yang dilapisi emas.
Setiap malam, Nadia merasakan kehadiran Bramantya di ambang pintunya, mengawasi setiap tarikan napasnya saat ia terlelap. Ada rahasia kelam yang disembunyikan Bramantya di balik sikap protektifnya yang berlebihan. Nadia segera menyadari bahwa "tidur" di rumah ini bukanlah sebuah istirahat, melainkan awal dari permainan manipulasi psikologis di mana Bramantya memegang kendali penuh atas kesadarannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MomSaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28 SWMU
Malam merayap masuk ke dalam mansion Mahendra seperti kabut hitam yang menelan cahaya. Di dalam kamar utama yang luas, denting jam dinding berlapis emas seolah menjadi detak jantung yang menghitung mundur keberanian Nadia. Bramantya baru saja tertidur setelah meneguk segelas wiski terakhirnya—sebuah ritual kemenangan yang biasanya membuat tidurnya selelap batu, namun Nadia tahu, predator sekalipun memiliki insting yang tetap terjaga dalam tidurnya.
Nadia bangkit perlahan dari ranjang. Gesekan sprei sutra terasa seperti teriakan di telinganya yang sensitif. Ia menatap wajah Bramantya yang tenang; rahang tegas itu tidak lagi mengatup rapat, namun aura dominasinya tetap memancar kuat.
Jemarinya meraba kunci perak pemberian Adrian yang ia sembunyikan di balik lapisan laci meja rias. Dingin logam itu merambat ke nadinya, memberikan dorongan adrenalin yang memuakkan sekaligus memabukkan.
"Satu langkah, Nadia. Hanya satu langkah," bisiknya pada diri sendiri.
Ia melangkah keluar kamar tanpa alas kaki, merasakan dinginnya lantai marmer Italia yang menusuk telapak kakinya. Koridor mansion itu sunyi, hanya diterangi oleh lampu dinding temaram yang menciptakan bayangan panjang dan distorsi di atas lukisan-lukisan klasik koleksi Bramantya. Setiap langkahnya terasa seperti meniti seutas tali di atas jurang.
Pintu ruang kerja Bramantya berdiri kokoh di ujung selasar. Kayu mahoni gelap yang diukir rumit itu tampak seperti gerbang menuju neraka pribadinya. Nadia memasukkan kunci perak itu ke lubangnya.
Klik.
Suara itu terdengar begitu nyaring di keheningan malam. Nadia menahan napas selama beberapa detik, menunggu apakah ada derap langkah penjaga atau suara bariton Bramantya yang memanggilnya. Tidak ada. Hanya suara jangkrik dari taman jauh di bawah sana.
Ia mendorong pintu dan masuk ke dalam aroma cerutu, kulit tua, dan kuasa. Ruangan itu adalah pusat saraf dari seluruh imperium Mahendra. Nadia segera menuju ke balik meja kerja raksasa Bramantya. Di sana, di balik lukisan abstrak yang menggambarkan kekacauan warna merah dan hitam, terdapat brankas baja yang menjadi incaran banyak orang.
Tangan Nadia gemetar saat ia menyentuh permukaan brankas. Ia menggunakan kunci fisik dan memasukkan kombinasi angka yang ia curi melalui pantulan kacamata Bramantya minggu lalu.
Pintu brankas terbuka dengan desisan halus. Di dalamnya, tumpukan dokumen legal, batangan emas, dan beberapa paspor palsu tersusun rapi. Namun, mata Nadia tertuju pada sebuah map hitam tebal dengan stempel "Jakarta Utara - Proyek Delta".
Ia membukanya dengan terburu-buru. Di sana, ia menemukan apa yang ia cari: kontrak asli yang ditandatangani oleh pejabat-pejabat korup, bukti suap yang mengalir melalui rekening cangkang di Cayman Islands, dan skema pemindahan lahan ilegal yang menghancurkan ribuan kepala keluarga.
"Jadi ini hargamu, Bram," gumam Nadia, matanya berkilat menatap bukti pengkhianatan suaminya pada negara.
Tiba-tiba, lampu di sudut ruangan menyala. Nadia tersentak, menjatuhkan map itu ke lantai.
"Dokumen itu cukup berat untuk ukuran tangan sehalus milikmu, bukan?"
Nadia memutar tubuhnya. Di sana, bersandar di bingkai pintu dengan tangan bersedekap, berdiri Adrian. Ia tidak lagi mengenakan jas, hanya kemeja putih dengan lengan digulung hingga siku.
"Kau mengagetkanku, Adrian," Nadia berusaha menenangkan detak jantungnya yang menggila. Ia segera memungut dokumen itu.
Adrian melangkah masuk, menutup pintu di belakangnya. "Aku yang memberimu kuncinya, Nadia. Kau pikir aku akan membiarkanmu melakukan pekerjaan kotor ini sendirian tanpa memastikan kau tidak mengacaukannya?"
"Aku tidak mengacaukan apa pun," tantang Nadia, memeluk map hitam itu erat di dadanya. "Aku punya semua yang dibutuhkan untuk mengubur Bramantya hidup-hidup."
Adrian mendekat, mengambil map itu dari tangan Nadia dengan gerakan lembut namun tegas. Ia membolak-balik halamannya di bawah lampu meja. "Menarik. Kau menemukan rekening bayangan itu. Tapi kau tahu, Nadia? Bukti ini seperti pisau bermata dua. Jika kau menyerahkannya ke pihak berwenang, kau juga akan terseret sebagai istri yang menikmati hasil jarahan ini."
"Aku lebih baik di penjara daripada terus menjadi boneka pemuasnya di ranjang itu!" desis Nadia, matanya memerah karena amarah yang tertahan selama bertahun-tahun.
Adrian menatap Nadia dengan tatapan yang sulit diartikan. Ia mengulurkan tangan, mengusap helai rambut Nadia yang berantakan. "Kau punya api yang luar biasa, Nadia. Sayang sekali Bram hanya melihatmu sebagai hiasan. Tapi dengarkan aku baik-baik... menyerahkan ini sekarang adalah tindakan bunuh diri. Kita butuh momen di mana Bram benar-benar merasa di puncak, agar saat dia jatuh, tidak ada satu pun jaring pengaman yang bisa menangkapnya."
"Kapan?" tanya Nadia tidak sabar.
"Dua hari lagi. Acara peletakan batu pertama di Jakarta Utara. Semua media akan ada di sana. Gubernur, komisaris, semua saingannya. Itu panggungnya, dan itu akan menjadi peti matinya," Adrian memberikan map itu kembali pada Nadia. "Sekarang, simpan kembali ini ke tempatnya. Kau harus kembali ke kamar sebelum dia terbangun."
"Kenapa kau membantuku, Adrian? Apa motifmu yang sebenarnya?" Nadia menyipitkan mata curiga. "Jangan bilang kau melakukannya karena kasihan padaku."
Adrian tertawa kecil, suara tawa yang hampa. "Kasihan adalah kemewahan yang tidak dimiliki keluarga Mahendra. Aku membantumu karena aku ingin mengambil apa yang seharusnya menjadi milikku sejak awal. Nama Mahendra tanpa noda Bramantya di atasnya. Dan kau... kau adalah tiketku menuju ke sana."
Nadia memasukkan kembali map itu, mengunci brankas, dan menutup kembali lukisan itu. Saat ia berbalik untuk keluar, Adrian menahan lengannya.
"Satu hal lagi, Nadia. Yudhistira baru saja dibebaskan atas jaminan orang tak dikenal malam ini."
Nadia tertegun. "Jaminan siapa? Bram bilang dia akan membusuk di sana."
"Sepertinya ada pemain ketiga dalam drama ini yang ingin melihat keributan lebih awal," Adrian mengangkat bahu. "Berhati-hatilah. Yudhistira yang putus asa jauh lebih berbahaya daripada Bramantya yang tenang."
Nadia mengangguk pelan, lalu menyelinap keluar dari ruangan itu. Ia kembali ke kamar utama, masuk ke bawah selimut sutra yang masih hangat. Bramantya bergerak sedikit dalam tidurnya, melingkarkan lengannya yang berat di pinggang Nadia, menariknya mendekat hingga punggung Nadia menempel di dada bidang suaminya.
Aroma wiski dan keringat Bramantya menyerang indra penciumannya. Nadia memejamkan mata, membiarkan dirinya didekap oleh pria yang sangat ingin ia hancurkan.
Keesokan paginya, suasana di meja makan terasa lebih tegang dari biasanya. Bramantya duduk di ujung meja, membaca koran bisnis sambil sesekali menyesap kopi hitamnya yang pekat. Nadia duduk di sampingnya, mengaduk-aduk salad buahnya tanpa selera.
"Kau sangat diam pagi ini, Nadia," ucap Bramantya tanpa mengalihkan pandangan dari koran. "Biasanya kau akan mengeluh tentang rencana belanja atau jadwal spa-mu."
"Aku hanya kurang tidur, Bram. Mungkin karena kopi yang kubinum tadi malam," jawab Nadia tenang.
Bramantya meletakkan korannya, menoleh ke arah Nadia. Tatapannya tajam, seolah sedang membedah isi kepala istrinya. "Atau mungkin karena kau terlalu sibuk berjalan-jalan di dalam kegelapan?"
Nadia merasa sendok di tangannya hampir jatuh. "Apa maksudmu?"
Bramantya menjangkau tangan Nadia, meremas jemarinya dengan kekuatan yang membuat Nadia meringis. "Penjaga bilang melihat bayangan di koridor jam tiga pagi. Mereka pikir itu tikus. Tapi aku tahu tikus di rumah ini tidak memakai parfum Chanel No. 5."
Nadia menelan ludah. Ia tidak boleh goyah sekarang. "Aku hanya pergi ke dapur untuk mengambil air, Bram. Kau tidur sangat lelap, aku tidak ingin membangunkanmu."
Bramantya diam selama beberapa detik yang terasa seperti selamanya. Ia kemudian tersenyum, namun senyum itu tidak sampai ke matanya. "Tentu saja. Air adalah kebutuhan vital."
Ia bangkit, merapikan dasinya. "Aku akan ke kantor sekarang. Adrian akan menjemputmu jam dua siang untuk fitting baju acara lusa. Pastikan kau memilih warna yang paling mencolok, Sayang. Aku ingin semua orang tahu bahwa permata terbaik di Jakarta Utara ada di sampingku."
Setelah Bramantya pergi, Nadia menarik napas lega yang panjang. Namun kelegaan itu hanya bertahan sekejap. Ponsel rahasianya yang disembunyikan di dalam pot tanaman di teras belakang bergetar.
Ada sebuah pesan teks dari nomor yang tidak dikenal.
“Brankas itu hanya permulaan. Jika kau ingin tahu di mana Maya disembunyikan, datanglah ke gudang tua di pelabuhan jam delapan malam ini. Jangan bawa Adrian. Dia tidak setulus yang kau kira. - Y”
Nadia menatap layar ponselnya dengan bingung. Yudhistira tahu tentang brankas itu? Dan apa maksudnya tentang Adrian?
Ia berdiri di balkon, menatap hamparan taman mansion yang luas dan terawat, namun di matanya, tempat itu hanyalah sebuah labirin raksasa yang penuh dengan duri. Semua orang di sekitarnya memakai topeng. Bramantya dengan kekuasaannya, Adrian dengan ambisinya, dan Yudhistira dengan dendamnya.
"Siapa yang sebenarnya menjadi umpan di sini?" bisik Nadia pada angin.
Ia teringat kata-kata Adrian tadi malam. Pemain ketiga. Apakah mungkin Yudhistira bekerja sama dengan seseorang yang jauh lebih kuat dari Bramantya? Ataukah Yudhistira hanya sedang memainkan permainan psikologis untuk memecah belah dirinya dan Adrian?
Nadia tahu ia harus mengambil keputusan. Menunggu di dalam mansion ini sampai hari eksekusi tiba, atau melangkah keluar ke pelabuhan malam ini untuk mencari kebenaran tentang Maya—wanita yang mungkin menjadi cermin masa depannya jika ia gagal.
Tangannya meraba kunci perak yang masih ada di sakunya. Kunci itu terasa semakin berat.
"Kau ingin melihat imperium ini terbakar, Adrian?" gumam Nadia dengan tatapan dingin yang baru. "Maka aku akan memastikan kau juga ada di tengah kobaran apinya."
Nadia kembali ke dalam, mulai mempersiapkan diri. Bukan untuk menjadi istri yang patuh, melainkan menjadi pemain yang akan menentukan siapa yang akan bertahan saat matahari terbit di atas reruntuhan Mahendra Group.
Tiba-tiba, Bi Inah masuk dengan wajah pucat pasi. "Nyonya... ada... ada paket untuk Nyonya di depan. Pengirimnya tidak mencantumkan nama, tapi... tapi baunya sangat aneh."
Nadia mengernyitkan kening dan berjalan ke pintu depan. Sebuah kotak kayu kecil tergeletak di sana. Saat Nadia membukanya, ia terpekik dan menutup mulutnya.
Di dalam kotak itu terdapat sepotong kain dari gaun yang dipakai Maya terakhir kali, bersimbah darah segar, dengan sebuah catatan kecil: “Hadiah peletakan batu pertama dimulai lebih awal.”