NovelToon NovelToon
White Dream With You?

White Dream With You?

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Misteri / Horror Thriller-Horror / Horor / Spiritual / Romantis
Popularitas:640
Nilai: 5
Nama Author: Cokocha

Judul: White Dream With You

Sinopsis:
Sarendra selalu merasa dirinya tidak cukup menonjol. Dengan postur yang sedikit bungkuk dan rambut belah tengahnya yang rapi, ia lebih suka tenggelam dalam deretan angka di jurusan Akuntansi SMK Pamasta daripada harus berurusan dengan keramaian. Namun, sebuah insiden tali rafia yang putus di bawah terik matahari Surabaya mempertemukannya dengan Vema—gadis TKJ yang aromanya seperti sabun bayi dan keberaniannya setinggi langit.
Apa yang dimulai dari bantuan kecil di bawah pohon kersen, tumbuh menjadi rasa yang perlahan namun pasti. Butuh waktu tujuh bulan bagi Rendra untuk mengumpulkan keberanian, dan bagi Vema untuk membuka pintu hatinya. Mereka adalah dua kutub yang berbeda, namun saling menguatkan di tengah rintangan yang datang silih berganti.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cokocha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32: Pabrik Tahu Pakunden

Bus pariwisata nomor 4 terus melaju membelah jalanan provinsi menuju Blitar. Di dalam kabin yang sejuk, suara deru mesin bercampur dengan percakapan samar para siswa. Aku menyandarkan punggung, menatap layar ponsel yang masih menampilkan ruang obrolan dengan Bagas.

Sarendra: "Gas, kamu di mana? Guru tadi memanggil namamu berkali-kali saat presensi. Kalau kamu sedang sakit atau ada kendala, tolong beri kabar segera agar aku bisa menjelaskan kepada wali kelas."

Hanya ada satu centang abu-abu. Tidak ada balasan, bahkan tanda bahwa pesan itu telah terkirim pun tidak ada. Aku menghela napas, merasa ada sesuatu yang tidak beres, namun untuk saat ini, aku harus fokus pada tanggung jawabku di sini.

Tiba-tiba, aku merasakan beban ringan mendarat di bahu kananku. Aku menoleh perlahan dan menemukan Vema sudah tertidur lelap. Rupanya, perjalanan yang berkelok-kelok mulai menguras energinya. Wajahnya tampak begitu tenang saat terlelap. Rambut pendeknya sedikit berantakan, dan napasnya terdengar teratur.

Aku sempat menawarkan bahuku tadi saat ia mulai terlihat mengantuk, dan ternyata ia benar-benar menggunakannya. Melihat wajahnya yang polos dalam tidurnya, ada dorongan kuat di jemariku untuk mencubit pipinya yang putih bersih itu. Namun, aku segera menarik tanganku kembali. Aku tidak ingin merusak istirahatnya yang berharga.

Tepat saat itu, sistem audio bus memutar lagu Kasih Putih karya Yovie Widianto. Melodi denting piano

yang lembut mulai memenuhi ruang kabin.

"Biarkanlah kurasakan... hangatnya sentuhan kasihmu..."

Lirik lagu itu seolah menggema di dalam benakku, memancing rentetan pertanyaan yang selama ini kupendam. Apakah perasaanku pada Vema ini benar-benar tulus? Ataukah ini hanya sekadar rasa kagum karena keberaniannya menghadapi trauma? Apakah Vema juga merasakan detak jantung yang sama setiap kali kami berdekatan? Aku menatap jalanan di luar jendela, mencari jawaban di antara pepohonan yang berlari menjauh.

Sebuah notifikasi pesan masuk memecah lamunanku. Ternyata dari Nadin.

Nadin: "Dra, aku lihat dari kejauhan kamu duduk berdua ya. Tolong jaga sahabatku itu baik-baik. Jangan pernah buat dia menangis atau kecewa. Sekali saja kamu membuatnya sedih, kamu berhadapan denganku."

Aku mengerutkan kening, membaca pesan Nadin yang cukup protektif. Namun, pesan berikutnya membuatku terdiam.

Nadin: "Sepertinya Vema punya trauma yang cukup dalam dengan laki-laki, Dra. Kapan hari, ada teman laki-laki di kelas yang cuma mau pinjam buku LKS, tapi sikap Vema langsung berubah drastis. Dia gemetar dan langsung menutup diri. Entah ini benar atau tidak, tapi sebisa mungkin kamu jangan sampai menambah beban traumanya dengan kehadiranmu."

Aku menatap Vema yang masih bersandar di bahuku. Hatiku terasa perih membayangkan apa yang pernah ia lalui.

Sarendra: "Terima kasih informasinya, Din. Aku menghargai peringatanmu. Aku berjanji tidak akan memaksa atau melakukan apa pun yang membuatnya merasa tertekan. Aku hanya ingin menjadi seseorang yang bisa dia percaya."

Nadin: "Baguslah kalau kamu paham. Eh, ngomong-ngomong, bagaimana situasinya sekarang? Jangan-jangan kamu sedang dicuekin?"

Tanpa menjawab, aku mengarahkan kamera ponselku sedikit ke bawah dan mengambil foto Vema yang sedang tertidur di bahuku. Aku mengirimkan gambar itu kepada Nadin.

Nadin: "Wah! Gila! Kalian benar-benar cocok. Mulai berani ya sekarang. Jangan lupa, kalau nanti benar-benar jadian, traktir kami berdua ya!"

Sarendra: "Jangan bicara terlalu jauh, Din. Aku masih ingin meyakinkan diriku dulu dan memastikan Vema benar-benar merasa nyaman denganku. Ini bukan soal traktiran, ini soal kepercayaan."

Nadin: "Iya, iya, Calon Pacar Vema. Yang penting jaga dia!"

Dua jam kemudian, bus melambat dan akhirnya berhenti di pelataran parkir yang luas. Papan nama besar bertuliskan "Pabrik Tahu Pakunden" menyambut kami.

"Vem, bangun. Kita sudah sampai," ucapku lembut sambil sedikit menggerakkan bahuku.

Vema mengerjap-erjap, matanya perlahan terbuka. Ia tampak linglung sejenak sebelum menyadari posisinya. Ia segera menegakkan duduknya dengan wajah merah padam.

"Maaf... aku ketiduran ya?" tanyanya malu-malu.

"Tidak apa-apa. Ayo turun, yang lain sudah berkumpul," ajakku.

Begitu turun dari bus, Vema tampak sedikit pucat. Ia memegang kepalanya dan terlihat agak limbung.

"Dra, kepalaku agak berputar. Sepertinya aku sedikit mual karena AC bus."

Aku segera menuntunnya berjalan perlahan menuju titik kumpul. Di sana, Nadin dan Netta sudah menunggu dengan senyum jahil mereka.

"Cie, cie... yang habis kencan di bus," goda Netta saat kami mendekat. "Tapi kok ceweknya malah kelihatan mabuk darat begini? Sarendra, kamu apakan dia?"

Vema mencoba tersenyum meskipun masih lemas. "Hanya mual sedikit karena jalanan berkelok, Net."

"Mabuk perjalanan atau mabuk karena terlalu dekat dengan Sarendra nih?" timpal Nadin sambil tertawa.

"Sudahlah, jangan digoda terus. Dia benar-benar sedang tidak enak badan," belaku sambil menyerahkan sebotol air mineral pada Vema.

Suara pengeras suara guru membuyarkan gurauan kami. Kami diminta berkumpul sesuai jurusan. Aku dan Netta bergerak ke barisan pertama, sementara Vema dan Nadin berada di barisan lainnya.

Kelompokku yang berasal dari jurusan akuntansi dan administrasi diminta masuk lebih dulu. Seorang pemandu pria menyambut kami dengan ramah.

"Selamat datang di proses produksi kami," ujar Pemandu tersebut. "Pertama-tama, mohon perhatiannya. Di dalam pabrik, kalian dilarang menyentuh peralatan tanpa izin, dilarang memotret dengan lampu kilat di area fermentasi, dan harap selalu berada dalam jalur kuning."

Kami diajak berkeliling melihat proses awal. "Proses dimulai dari perendaman kedelai berkualitas selama enam jam untuk melunakkan teksturnya," jelas Pemandu sambil menunjuk bak besar berisi air. "Setelah itu, kedelai digiling hingga menjadi bubur halus. Bubur ini kemudian direbus di dalam kuali raksasa dengan uap panas hingga mendidih."

Aku mencatat setiap detailnya. Pemandu menjelaskan proses penyaringan ampas tahu menggunakan kain mori halus, lalu cairan sari kedelai dicampur dengan air sisa pengendapan sebelumnya untuk membantu proses penggumpalan. "Gumpalan inilah yang nantinya akan dicetak dan ditekan menggunakan pemberat hingga airnya habis dan membentuk tekstur tahu yang padat dan kenyal," tambahnya lagi secara mendetail.

Setelah kelompok kami selesai, giliran kelompok Vema masuk. Mereka lebih fokus pada sistem otomatisasi mesin penggilingan dan perawatan perangkat uap yang digunakan.

Satu jam kemudian, kami semua diberikan waktu istirahat di area pendopo. Kami berempat kembali berkumpul di satu meja.

"Bagaimana di dalam tadi? Ada yang lucu?" tanya Netta sambil membuka bekalnya.

"Ada!" Nadin langsung menyambar. "Tadi saat Vema sedang serius melihat mesin penggiling, ada uap panas yang keluar tiba-tiba. Dia kaget sampai loncat dan hampir menabrak pemandunya. Wajahnya lucu sekali, seperti melihat hantu."

Vema tertawa kecil, wajahnya sudah kembali segar. "Habisnya bunyinya kencang sekali, Din. Aku kira mesinnya mau meledak."

"Kalau di kelompokku, ada teman yang saking semangatnya mencatat, dia hampir masuk ke bak perendaman karena berjalan sambil menunduk," ceritaku, membuat yang lain tertawa.

Tiba-tiba, peluit guru kembali berbunyi. Kami diminta kembali ke bus untuk melanjutkan perjalanan ke Kampung Coklat.

Di dalam bus menuju destinasi kedua, suasana terasa lebih hidup. Vema tampak sangat bersemangat.

"Dra, kamu tahu tidak?" Vema memulai cerita dengan mata berbinar. "Mesin penggiling yang di dalam tadi itu sistemnya unik sekali. Cara mereka mengatur tekanan uapnya agar tidak merusak nutrisi kedelai itu sangat jenius. Aku baru sadar kalau teknologi sederhana pun kalau dirawat dengan benar bisa menghasilkan efisiensi yang besar!"

Vema terus bercerita tentang sensor suhu yang ia amati dan bagaimana tata letak kabel di pabrik tersebut seharusnya bisa diperbaiki. Ia berbicara dengan sangat cepat, menunjukkan betapa tertariknya ia pada apa yang baru saja ia lihat.

Aku hanya diam, menatap wajahnya sambil tersenyum kecil. Melihatnya seceria ini membuatku merasa lega.

Vema tiba-tiba berhenti bicara. Ia menatapku dengan tatapan penuh pertanyaan. "Kenapa kamu senyum-senyum begitu? Apakah aku ada salah bicara? Atau... wajahku ada kotorannya?"

"Tidak, tidak ada," jawabku tenang.

Vema menyipitkan mata. "Atau jangan-jangan... kamu sedang tidak sehat ya? Wajahmu agak aneh. Kamu... KAMU MABUK YA, DRA?"

Aku tertawa kecil mendengarnya. "Aku tidak mabuk perjalanan, Vem."

"Terus kenapa senyum-senyum tidak jelas begitu?" desaknya.

Aku mencondongkan tubuh sedikit lebih dekat, menatap matanya dalam-dalam. "Aku hanya sedang mabuk karena melihat kecantikanmu yang tidak luntur meskipun baru saja mual."

Vema tertegun. Matanya membelalak kaget. Sedetik kemudian, ia langsung menarik tasnya dan mendekap wajahnya ke dalam tas, berusaha menyembunyikan wajahnya yang sudah pasti semerah kepiting rebus.

"Dra! Kamu... kamu bicara apa sih!" suaranya teredam dari dalam tas.

"Maaf, maaf. Aku hanya jujur," kataku sambil tertawa melihat tingkahnya yang sangat menggemaskan.

Perlahan, Vema mengeluarkan wajahnya dari tas. Ia mencoba memasang wajah serius namun gagal total. "Aku tidak sedang malu ya, Sarendra. Aku cuma... Oh! Aku cuma sedang mencari semut di dalam tasku! Tadi sepertinya ada semut yang masuk."

"Mencari semut sampai masuk ke dalam tas begitu?" godaku lagi.

"Iya! Semutnya pintar sembunyi!" balasnya sambil membuang muka ke arah jendela, mencoba menutupi senyumnya sendiri.

​Aku menyandarkan kepala, merasakan kebahagiaan yang sangat sederhana namun begitu dalam. Terima kasih, Tuhan, telah mempertemukan aku dengan gadis ini. Di tengah perjalanan menuju Kampung Coklat ini, aku sadar bahwa setiap detik yang kuhabiskan bersamanya adalah sebuah anugerah yang tidak ingin aku akhiri.

​Namun, di balik kebahagiaan ini, bayangan Bagas yang belum memberi kabar masih menghantui pikiranku. Apa yang sebenarnya terjadi dengannya?

1
Kustri
alur'a bikin penasaran
ada apa dgn vema
lanjuuut...
cokocha
bagus banget
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!