NovelToon NovelToon
KETIKA AKU MENCINTAI PUTRA

KETIKA AKU MENCINTAI PUTRA

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Cintapertama / Berondong
Popularitas:314
Nilai: 5
Nama Author: Essa Amalia Khairina

Salma tidak pernah merasakan seperti apa itu pacaran. Setiap kali dirinya menyukai seseorang, pasti orang yang dicintainya itu tidak pernah membalas perasaannya, hingga akhirnya selalu berujung kepada cinta bertepuk sebelah tangan. Sekalinya pacaran, justru disakiti. Hingga ia mati rasa kepada pria mana pun.

Namun anehnya, setelah mendapati satu murid yang pintar, cerdas, manis dan memiliki kharismatik sendiri, Salma justru terjebak dalam cinta itu sendiri. Layaknya dejavu yang belum pernah ia lewati. Bersama Putra, Salma merasa bahwa ia kembali pada titik yang seharusnya ia miliki sejak dulu.

Menentang takdir? Bodo amat, toh takdir pun selalu menentangnya untuk merasakan seperti apa ia benar-benar dirinya dicintai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Essa Amalia Khairina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PROLOG

BEBERAPA BULAN LALU....

Sore itu, Salma, wanita muda berusia dua puluh tiga tahun itu, mengetuk-ngetuk meja makan di sebuah kafe yang tak jauh dari pusat kota, menunggu seseorang yang belum saja tiba.

Matanya membaur lagi ke setiap penjuru. Namun, yang ia lihat hanyalah pelanggan yang berseliweran di antara pramusaji yang sibuk melayani mereka. Dan, di antara keramaian itu, tak ada satupun bayang Randi, pria yang menjanjikan tempat itu sejak awal.

Satu jam berlalu. Raut kesal kian jelas terlukis di wajah Salma. Jari-jarinya mengetuk tepi cangkir kosong, lalu ia mengangkatnya dan meneguk sisa kopi yang sudah tak lagi ada. Hanya rasa pahit yang tertinggal di lidahnya, entah berasal dari ampas kopi yang melekat di dasar cangkir, atau dari perasaan jengkel yang sejak tadi mengendap di dadanya.

Wanita berambut hitam terawat itu menarik napas dalam, dan dihembuskannya perlahan. Ia menurunkan cangkir itu kembali ke meja dengan sedikit bunyi, matanya melirik ke arah jam digital ponselnya.

Dengan perasaan yang tak sabar lagi, ia kembali membuka layar ponselnya. Jemari lentiknya mulai lincah menari di atas permukaan keyboard dan mencari satu nama yang telah berhasil dibuatnya kesal sekaligus membuat dadanya sesak.

"Halo, Mas?" Katanya kemudian.

"Halo, Sal. Baru aja mau nelpon."

Salma mengkerutkan keningnya. "Kenapa, Mas?"

"Aduh sayang, aku minta maaf ya... kayaknya hari ini kita batal ketemu."

Salma menyembunyikan keterkejutannya yang secara mendadak menekan dadanya lebih dalam. Bulat bola mata hitamnya perlahan menghangat, kerongkongannya tercekat, dan saat itu juga ia menahan napas.

"Mas, tapi aku udah satu jam nunggu kamu lho. Aku kira kamu lagi di jalan."

"Aku masih di kantor."

Kalimat itu terdengar enteng, tanpa terselip nada penyesalan atau rasa bersalah.

Salma menelan saliva. Tidak hanya soal menunggu, tidak sekali dua kali, Randi, pria yang bekerja sebagai pengacara, yang usianya lebih tua darinya itu selalu membuat dirinya kesal.

Namun anehnya, Salma tidak pernah merasa di puncak kemarahan yang meluap-luap. Mungkin jika seperti kebanyakan wanita lainnya, mendengar kekasihnya membatalkan pertemuan, entah sudah berapa banyak kata dan kalimat yang tak lagi dapat terbendung.

Tapi Salma...

Ia membisu. Tengah berusaha menyesapi setiap alasan yang terucap dari bibir kekasihnya. Jam telah menunjukkan pukul lima sore. Kesibukan kantor di hari weekend pasti sangat padat, apalagi Randi, yang bekerja sebagai seorang pengacara, tidak hanya dituntut untuk sekadar menyelesaikan masalah orang lain, melainkan juga memikul beban ekspektasi yang jauh lebih besar—ia tak boleh mengecewakan keluarganya sendiri yang sama-sama berkiprah di profesi itu. Sepertinya, setiap langkah, setiap keputusan, seolah menjadi tolok ukur harga diri dan nama baik yang harus ia jaga tanpa celah.

"Halo, Sal?"

"Iya, Mas gak apa-apa. Aku ngerti, kok. Kamu yang semangat kerjanya."

"Iya kalau gitu... aku tutup dulu, ya."

"Iy—"

Tuuuut

Sambungan telepon terputus terdengar kasar, meMotong kalimat yang belum sempat selesai. Salma menatap layar ponselnya sesaat, rahangnya mengeras, napasnya tertahan sejenak sebelum akhirnya terembus pelan—antara kesal, kecewa, dan rasa tak terima yang bercampur jadi satu.

"Enggak." Gelengnya. Matanya memandang ponsel. Di layar yang kini gelap, nampak wajahnya yang menggenggam rasa kecewa. "Enggak, Sal.... mungkin Mas Randi emang beneran sibuk. Dia kan pengacara. Kesibukan yang mendadak selalu menjadi bagian dari pekerjaannya."

Salma menghela udara lalu melempar senyum, berusaha memulihkan rasa kecewa itu sendiri. "Mending ketemu Tari, siapa tahu dia udah pulang."

Salma kemudian menyalakan lagi ponselnya. Jemarinya kembali menari di atas permukaan layar, menyusuri deretan nama hingga berhenti pada kontak yang ia tuju. Begitu ia menyentuh ikon panggilan, napasnya tertahan sejenak.

"Halo, Sal?"

"Tar!" Sahutnya sumringah. "Lo udah balik, belum?"

"Udah, baru aja nyampe. Kenapa?"

"Kebetulan. Gue lagi di kafe deket rumah lo."

"Arta Enjoy Kafe? Ngapain lo disana? Ma-maksud gue... itu kan lumayan jauh dari rumah lo."

"Ntar gue jelasin, yang penting... lo ada kan si rumah?"

"Iyaaaa."

"Ya udah, gue OTW sekarang.

"Yuuuuu, take care... beb!"

Tuuuuut.

****

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!