Tasya Prameswari hanya ingin Dicky, putranya bisa kembali ceria seperti dulu, namun sebuah kecelakaan merenggut kesehatan anak itu dan menghancurkan keharmonisan rumah tangganya bersama Setyo Wirayudha.
Sang mertua hanya mau membiayai pengobatan Setyo, namun tidak dengan Dicky. Tak ada yang mau menolong Tasya namun di tengah keputusasaan, Radit Kusumadewa datang membawa solusi. Pria kaya dan berkuasa itu menuntut imbalan: Tasya harus mau melayaninya.
Pilihan yang sulit, Tasya harus melacurkan diri dan mengkhianati janji sucinya demi nyawa seorang anak.
Bagaimana jika hubungan yang dimulai dari transaksi kotor itu berubah menjadi candu? Bagaimana jika Tasya merasakan kenyamanan dari hubungan terlarangnya?
Note: tidak untuk bocil ya. Baca sampai habis untuk mendukung author ya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mizzly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Happy Family
Harum masakan mulai menguar dari dapur mungil sebuah rumah kontrakan nan asri di pinggir kota. Hari masih pagi namun Tasya Prameswari sudah berkutat di depan kompor. Tasya mengikat rambut panjangnya tinggi-tinggi, lehernya yang jenjang terlihat jelas, nampak cantik dengan beberapa anak rambut yang jatuh tergerai, beberapa bulir keringat nampak di kening dan pipinya.
Dari ruang tamu terdengar suara lagu The Wheels On The Bus yang sejak tadi terus diputar, seakan yang mendengarnya tak pernah merasa bosan. Suara gelak tawa dan ocehan dua kesatria dalam hidup Tasya melengkapi kehangatan rumah mungil ini.
Tak lama langkah kaki terdengar mendekati Tasya dan langsung memeluknya dari belakang, disusul suara Dicky Samudera, malaikat kecil berusia 5 tahun yang kembali menanyakan pertanyaan yang sama seperti dua hari lalu. "Mama, kita jadi ke museum hari ini, bukan?"
Tasya menghentikan kegiatan memasaknya, ia mematikan kompor lalu mencuci tangannya sampai bersih. Tasya berjongkok agar bisa melihat binar bahagia dari mata malaikat kecilnya. "Jadi dong, Sayang. Mama sedang memasak untuk bekal kita di sana agar perut gendut Dicky ini tidak bawel minta makan terus!" Tasya menggelitik perut Dicky.
Dicky tertawa lepas. "Geli, Ma, ha... ha... ha...."
Tasya tertawa lepas, ia selalu ingin melihat Dicky bahagia. Ia lalu melirik jam di dinding, sudah jam 6 pagi. Ia harus segera menyelesaikan kegiatan memasaknya karena mereka harus berangkat pagi agar tidak terjebak macet. "Mama mau siapin bekal dulu. Kamu mandi sama Papa dan minta pakai baju baru yang Mama belikan minggu lalu ya!"
"Siap, Mama Cantik!" Dicky berlari menghampiri Setyo Wirayudha -suami Tasya- yang sedang bermain ponsel. "Papa, ayo kita mandi. Aku mau pakai baju baru yang Mama belikan!"
Setyo menaruh ponsel miliknya. "Baju baru? Papa dibeliin tidak, Ma?"
"Tidak. Baju baru khusus untuk Dicky yang baru pertama ke museum saja," jawab Tasya sambil tertawa menggoda suaminya.
"Yah... Papa tidak dibeliin. Ya sudah, ayo Dicky mandi. Papa mau lihat Dicky pakai baju baru!" Setyo menggendong Dicky lalu membawanya ke kamar mandi.
Tasya mengemas makanan yang ia masak. Satu tas penuh makanan sudah siap sebagai bekal mereka makan nanti, lengkap dengan aneka snack agar Dicky tidak jajan di luar.
Tasya harus ekstra hemat dalam keadaan ekonomi seperti saat ini. Ia dan suaminya harus membayar uang kontrakan rumah dan cicilan mobil dari uang gaji mereka yang tidak terlalu besar, belum biaya sekolah TK Dicky dan tempat penitipan anak selama Tasya bekerja.
"Mama, Papa tidak mau mandi!" Dicky kembali berlari menghampiri Tasya sambil memakai handuk, anak itu berhasil membuyarkan lamunan Tasya.
Setyo mengejar Dicky yang kabur saat mau dipakaikan baju. "Ayo, kamu lapor sama Mama ya? Papa akan hukum kamu dengan serangan kelitikan super!" Setyo menakuti Dicky hingga kembali terjadi aksi kejar-kejaran di dalam rumah kontrakan mini mereka.
Tasya tertawa melihat kelakuan Dicky dan Setyo. Kalau mereka sudah becanda, tak ada yang bisa memisahkan. Tasya menikmati pemandangan indah di hari libur kerjanya ini. Inilah kebahagiaan yang selalu Tasya syukuri, memiliki Dicky dan Setyo.
.
.
.
Tasya mematut dirinya di depan cermin. Ia nampak cantik mengenakan kaos lengan panjang bermotif garis-garis warna navy yang dipadukan dengan celana jeans.
"Cantik banget istriku ini. Mau kemana sih?" Setyo memeluk Tasya dari belakang. Ia mengecup pipi istri yang dicintainya dengan penuh kasih lalu menaruh kepalanya di bahu Tasya. "Wangi banget lagi. Jadi malas kemana-mana nih. Apa kita di rumah saja ya? Kayaknya Dicky tidak akan protes deh kalau aku perbolehkan main ponsel. Lalu kita bisa bermesraan di kamar. Bagaimana, ide yang cemerlang bukan?"
"Jangan dong, Sayang. Kita sudah janji loh mau mengajak Dicky ke museum. Sudah beberapa hari ini Dicky selalu membahas museum. Aku bahkan sampai hafal apa yang akan dia tanyakan." Tasya mengusap lembut wajah Setyo. "Kita bisa bermesraan nanti malam, bagaimana?"
Setyo memanyunkan bibirnya. "Kenapa kita harus ke museum sih? Kenapa tidak ke Mall saja? Aku bisa cuci mata melihat sepatu dan laptop."
Tasya tersenyum dan dengan sabar membujuk Setyo. "Kalau ke Mall, nanti kita jadi boros. Ingat, ada cicilan mobil yang harus kita bayar dan uang kontrakan bulan depan juga harus diperpanjang. Kita ke museum saja ya, murah meriah dan Dicky pasti senang. Lihat-lihat laptop dan sepatunya kalau sudah ada uangnya saja ya!"
Setyo tidak suka ke museum, membosankan baginya. Semua karena Dicky mendengar cerita masa kecil Tasya yang suka ke museum, ia jadi ingin mengunjunginya juga. "Bagaimana kalau ke rumah Ibu saja?"
Tasya menghirup nafas dalam. Ibu yang Setyo maksud adalah Ibu Welas -ibu mertuanya-. Namanya saja yang Welas, namun sejak pacaran dengan Setyo, tak sekalipun Ibu Welas ramah padanya. Ibu Welas bahkan awalnya tak merestui Setyo menikahi Tasya. Jika bukan karena Setyo mengancam akan kawin lari, sampai sekarang pasti mereka belum menikah.
"Kasihan Dicky kalau ke rumah Ibu, Mas. Dia selalu murung dan minta pulang. Ayolah, Mas, kita turuti keinginannya ya. Aku juga sudah masak banyak untuk bekal kita nanti, please...." Tasya menatap Setyo dengan tatapan memohon. Apapun akan Tasya lakukan agar Dicky bahagia.
Dicky menghela nafas dalam. "Baiklah. Nanti pulangnya mampir ke rumah Ibu ya! Ibu sudah kirim pesan, minta aku ke rumahnya."
"Iya. Nanti kita mampir. Ayo, kita berangkat sekarang!" Tasya memanggil Dicky lalu mengajaknya masuk ke dalam mobil.
Dicky duduk di bangku belakang. Ia terus mengoceh, bahkan bernyanyi untuk menggambarkan kebahagiaannya bisa mengunjungi museum. "Ma, besok di sekolah aku mau cerita sama teman-temanku kalau aku pergi ke museum. Nanti foto aku yang banyak ya, Ma!"
Tasya yang duduk di samping Setyo yang fokus mengemudi pun berbalik badan. "Iya, Sayang. Nanti Mama akan foto Dicky yang banyak terus Mama cetak agar teman-teman Dicky bisa lihat betapa kerennya museum yang Dicky datangi, oke?"
Setyo mengemudi mobil sambil sesekali bersenandung mengikuti irama musik dari radio mobil. "Sayang, ada minum tidak? Aku haus nih!"
"Ada. Sebentar ya!" Tasya mengambil tas berisi bekal mereka. Ia mencari tumbler air mineral yang sudah ia siapkan sebelumnya. "Loh, kok tidak ada ya? Kayaknya tertinggal di ruang tamu deh. Mau beli dulu?"
"Boleh. Kayaknya di depan ada mini market deh." Setyo memberhentikan mobilnya di tepi jalan, sengaja tak mau membayar uang parkir pada tukang parkir mini market. "Kamu saja yang beli. Aku dan Dicky tunggu di mobil. Jangan lama-lama, takut ada polisi!"
"Oke." Tasya mengambil tas miliknya lalu turun dari mobil. Ia masuk ke dalam minimarket dan membeli beberapa botol air mineral.
Tasya baru saja keluar dari mini market dengan tangan menenteng botol air mineral ketika ia melihat sebuah truk melaju kencang tak terkendali ke arah mobil mereka.
****
huhhh emaknya setyo pngen tak jitak
dari dulu keluarga Kusumadewa anggota keluarganya pada sengklek 🤣 tapi aku suka, keliatan nya jadi hangat ..antara anak dan ortu gak ada jaim nya 🤣