Zhen Nuo editor di salah satu platform novel online. Secara tidak sengaja terjebak di dalam dunia novel yang penuh intrik pernikahan. Dengan semua kemampuannya ia berusaha merubah takdirnya sebagai pemeran pendukung. Yang akan terbunuh di bab kedua.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sri Wulandari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Selir Yu
"Terima kasih untuk malam ini." Tangan halus itu menyentuh dada terlanjang pria yang masih berbaring di sampingnya. "Di istana yang dingin itu. Aku bahkan tidak bisa mendapatkan sedikit saja perhatian dari Yang Mulia. Tapi bersamamu, aku bisa mendapatkan cinta dan kehangatan." Wanita itu menatap kedua mata indah yang selalu membuatnya mati dalam kerinduan.
Pria di sampingnya memiringkan tubuhnya. Dia merangkul pinggang lembut yang hanya di tutupi kain tipis. "Selama kamu menyukainya. Aku pasti akan melakukan semuanya."
Tlakk...
Tlakkk...
Dari balik kegelapan malam seorang wanita berjalan tenang. Gaun merah menyalanya menjalar hingga ke tanah. Setiap langkah terdengar gesekan pelan dari ujung gaunnya. "Sungguh cinta yang membara."
Dua orang yang ada di atas alas dedaunan terperanjat kaget.
"Selir Jing, apa tidak ada tempat lain untuk bercinta?" Melihat kesekitarnya dengan tatapan angkuh. Hanya pepohonan rimbun dengan semak belukar merambat mengelilingi mereka. "Setidaknya bawa selimut untuk kalian jadikan alas. Lihatlah ini." Menendang dedaunan kering.
"Huh..." Hela napas itu di penuhi ejekan. "Tubuh indahmu sudah kotor. Sangat kotor. Aku bahkan merasa mual dan jijik melihatnya."
"Selir Yu." Wanita yang masih berusaha menutupi sebagian tubuh telanjangnya itu menatap takut. Siapa sangka malam itu mereka akan tertangkap basah oleh Selir Yu. Wanita yang terkenal gila akan kasih sayang Kaisar. "Selir Yu, aku akan melakukan apa saja asalkan kau bersedia merahasiakannya."
Seringaian tipis melintas di wajah cantik Selir Yu yang penuh kelicikan. "Menuruti semua yang aku inginkan?" Ujarnya.
"Benar. Semua yang kau inginkan. Jika perselingkuhan ku di ketahui orang lain bahkan Kaisar. Kami pasti akan di rajam." Selir Jing bangkit dengan tertatih. Dia berjalan mendekati wanita di depannya. "Bukankah kau ingin cinta dari Yang Mulia. Aku bisa membantumu mendapatkannya. Selama kau menginginkannya, kau dapat memilikinya."
Angin malam membawa hawa dingin yang langsung menusuk tulang. Kedua matanya memicing, "Apa kau pikir aku sebodoh itu." Selir Yu membalikkan tubuhnya berniat untuk pergi. "Tenang saja aku akan memastikan kematian kalian lebih di percepat."
"Selir Yu." Selir Jing meraih tangan orang yang telah mengetahui rahasia besarnya. Dia berlutut dengan menggenggam erat tangan wanita itu. "Aku mohon. Tidak hanya aku yang akan mati jika rahasia ini di ketahui semua orang. Tapi juga seluruh keluarga Jing juga akan mendapatkan hukuman sebagai penghianat."
Selir Yu menatap rendah wanita di depannya. "Selir Jing, jika kamu seperti ini. Bagaimana aku bisa tega melihatmu mati, juga..." Menatap kearah pria di belakangnya. "Kekasihmu yang terlihat siap untuk bunuh diri. Hehhh..." Tawa pelan itu di tutup dengan tangan kanannya yang sangat lues. "Aku bisa menutup mulutku rapat. Asalkan kau selalu mengikuti yang aku katakan tanpa terkecuali." Ia gunakan jari telunjuknya mengangkat dagu Selir Jing. "Bagaimana? Apa kau bersedia?" Menundukkan kepalanya. Menatap angkuh kearah wajah di bawahnya. "Menjadi pesuruhku."
"Baik, aku setuju." Meskipun ada keraguan tapi rasa takut akan kebenaran tentang perselingkuhannya terbongkar jauh lebih menakutkan. "Aku akan mengikuti semua yang kau katakan." Selir Jing memperjelasnya.
Selir Yu menepis tangan Selir Jing. "Lepaskan, jangan kau gunakan tangan kotor itu untuk menyentuhku lagi. Menjijikan." Gaun yang ia kenakan di kibaskan cukup kuat. "Jangan sampai hal-hal menjijikan seperti ini melekat di tubuhku." Di saat memandangi wanita yang masih berlutut di depannya. Dia menatap dengan sangat puas. "Aku akan memikirkannya. Lebih baik untuk kedepannya kalian menjaga sikap. Jika tidak ingin orang lain mengetahui kebusukan kalian berdua." Melangkah pergi penuh kesombongan dan merasa hanya dirinya lah wanita yang sempurna.
Pria yang masih berdiri diam berjalan menghampiri kekasihnya. Dia membantu Selir Jing untuk bangkit dari tanah. "Bagaimana jika kita membunuhnya saja. Akan lebih baik dari pada menuruti semua keinginannya. Aku Ketua utama penjaga di gerbang masuk Ibu Kota. Aku tidak ingin kehilangan pencapaianku saat ini."
"Apa kau gila. Dia putri tertua dari keluarga pejabat Yu. Jika dia mati di tangan kita. Hidup kita juga akan cepat berakhir," ujar Selir Jing dengan cemas. "Lebih baik mengikuti kemauannya tapi kita masih bisa selamat. Dari pada membunuhnya tapi hidup kita juga ikut berakhir."
Dua sepasang kekasih itu segara membereskan dedaunan yang telah mereka gunakan sebagai alas untuk bercinta. Mereka langsung pergi dari tempat itu tanpa menyisakan barang bukti.
Tidak jauh dari tempat itu. Kereta kuda dengan hiasan cukup mencolok masih diam di tempat yang sama.
"Selir Yu, apa kita akan mengikuti mereka lagi?" Pelayan setia wanita itu duduk tenang di bagian kemudi.
Jari-jari lentik itu di gunakan untuk sedikit menyibak kain penutup jendela kereta. "Tidak perlu." Suaranya mendayu lembut. "Orang-orang hina seperti mereka memang layak di berikan kejutan." Seringaian halus melintasi wajah cantiknya. "Aku sangat ingin melihat raut wajah ketakutan dan penuh ketidakberdayaan dari keduanya. Pasti akan sangat menyenangkan. Setelah mereka di berikan harapan lalu di jatuhkan."
"Maksud Selir Yu?"
"Kabarkan keseluruh Ibu Kota dan berikan juga buktinya. Jika keduanya telah melewati malam bersama untuk beberapa waktu. Menyingkirkan satu demi satu saingan di istana akan lebih berguna. Dari pada menyimpan rahasia menjijikan ini." Tangan indah itu di tarik masuk kembali kedalam kereta. Selir Yu duduk tegak tanpa rasa lelah. Karena untuk menjadi seorang istri Kaisar tentu harus bersikap layaknya wanita terhormat.
"Saya mengerti," saut Pelayan setia wanita yang ada di dalam kereta.
Ciahh...
Kereta melaju kuat menembus kegelapan malam di hutan belakang istana. Tempat yang selalu di gunakan untuk memadu asmara dengan kekasih rahasia.
Pagi harinya, kabar perselingkuhan Selir Jing dan seorang penjaga pintu Ibu Kota. Langsung menyebar tanpa bisa di bendung lagi.
Di aula istana utama, pria berusia dua puluh enam tahun duduk di atas singgasananya. Dia menatap dingin kearah Selir Jing yang tengah berlutut ketakutan.
"Yang Mulia, hamba mohon ampun." Selir Jing bersujud.
Dari pintu masuk Ketua utama penjaga gerbang Ibu Kota di seret paksa dua prajurit pengawal Kekaisaran.
Brakkk...
Tubuhnya di lempar dengan sangat kuat ke lantai.
Dia merangkak dengan tubuh penuh darah. Bekas siksaan masih terlihat jelas. "Yang Mulia, ampuni hamba." Pria itu memohon ampun dengan terus bersujud tanpa henti. "Ampuni hamba. Ampuni hamba."
Bau wewangian khas tercium di saat Selir Yu masuk dengan tatapan angkuh. Langkahnya sangat lembut juga tenang. Namun setiap langkah yang ia lakukan selalu di penuhi rasa percaya diri. "Yang Mulia." Memberikan hormatnya.
Mendengar suara yang sangat familiar Selir Jing bangun dari sujudnya. Dia menatap kearah wanita yang telah berjanji akan merahasiakan perselingkuhannya. "Kau, aku akan membunuhmu." Tatapan amarah membakar kedua mata Selir Jing.
"Yang Mulia, lihat. Dia sudah berselingkuh dari mu dan berniat membunuhku." Mundur dengan tatapan memperlihatkan ketakutan. Tapi di detik setelahnya pandangan matanya berubah. Tatapan matanya seperti seekor elang yang telah mendapatkan mainannya. "Adik Jing, bukankah aku sudah pernah bilang. Jangan mencoba bermain api dengan Yang Mulia. Tapi kau justru..." Melihat kearah pria yang masih bersujud dengan tubuh gemetar. "Kalian layak mati." Suaranya menekan kuat di tenggorokannya.
mungkin sebenarnya selir Yu ingin melindungi adiknya makanya dia melarang ayahnya mengirim adiknya ke istana krn selir Yu tahu bagaimana sulit dan bahaya nya tinggal di istana