Bagaimana rasanya dihancurkan oleh orang-orang yang seharusnya melindungimu? Dari orang tua yang egois hingga 'cinta' yang berujung pada tindak kriminal dan hilangnya kehormatan. Novel ini adalah perjalananku menghadapi kenyataan bahwa dunia tidak pernah adil. Tentang bagaimana berdiri di antara pengkhianatan keluarga dan trauma masa remaja yang merusak harga diri. Saat pintu-pintu baru mulai terbuka, justru ingin lari. Karena tahu, tidak semua yang datang berniat menyembuhkan beberapa mungkin hanya ingin mematahkan apa yang sudah retak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anjelisitinjak, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagian 13
Cahaya matahari yang masuk lewat celah gorden pagi ini terasa berkali-kali lipat lebih cerah. Aku menggeliat, merasakan sisa-sisa kebahagiaan semalam masih mendekap erat. Rasanya seperti baru saja terbangun dari mimpi indah, tapi bedanya, ini nyata.
Malam tadi... Papa, Mama, dan aku duduk satu meja tanpa ada ketegangan.
BKami tertawa sampai perut sakit, lalu lanjut window shopping di mal. Papa membelikanku beberapa baju baru, dan Mama terus menggandeng lenganku seolah takut aku hilang. Setelah bertahun-tahun rumah ini seperti medan perang, akhirnya aku bisa bernapas lega.
Aku segera bangkit, mandi dengan perasaan riang, dan telaten mengaplikasikan skincare ke wajahku yang kini terlihat jauh lebih segar. Saat aku menuruni tangga, suara denting sendok dan aroma nasi goreng menyambutku.
"Nah, ini dia Tuan Putri kita baru turun,"
goda Papa sambil melipat koran digitalnya.
Mama yang sedang menata piring tersenyum lebar.
"Sini, Sayang. Sarapan dulu. Nasi gorengnya masih hangat, Mama kasih telur mata sapi kesukaan kamu."
Aku duduk di kursi biasa, tapi kali ini jarak di antara kami terasa sangat dekat.
"Gimana, Han? Baju yang semalam Papa beliin pas kan ukurannya?"
tanya Papa sambil menyuap sarapannya.
"Pas banget, Pa! Makasih ya. Temen-temen Hana pasti bakal nanya beli di mana,"
jawabku semangat.
"Bagus deh. Nanti kalau ada yang kurang, bilang Papa aja. Asal kuliah kamu tetap fokus dan wisudanya lancar,"
timpal Papa dengan nada tegas tapi penuh kasih sayang.
"Tuh, dengerin Papa, Hana,"
Mama ikut menimpali sambil mengusap pundakku.
"Pokoknya mama mau lihat kamu paling cantik di panggung wisuda nanti. Oh iya, nanti pulang kampus jangan terlalu sore ya? Mama mau coba bikin kue bareng kamu."
"Siap, Bos!"
balasku sambil melakukan gerakan hormat yang membuat mereka berdua tertawa.
Suasana ruang makan yang dulu sunyi dan mencekam kini penuh dengan canda tawa. Aku menghabiskan sarapanku dengan lahap, merasakan energi positif memenuhi seluruh tubuhku. Setelah berpamitan dan mencium tangan mereka hal yang sudah sangat lama tidak kulakukan dengan tulus aku melangkah menuju motor.
Namun, saat aku baru saja menyalakan mesin motor dan memakai helm, satu ingatan mendadak menghantamku.
Ponsel.
Aku belum menyalakannya sejak semalam. Aku belum menghubungi Wira kembali seperti janjiku di pesan singkat kemarin. Rasa bahagia yang tadi membumbung tinggi mendadak terasa sedikit berat di satu sisi.
...----------------...
Begitu aku sampai di parkiran kampus, hal pertama yang kulakukan adalah menarik napas panjang dan menyalakan ponsel yang mati sejak semalam.
Layarnya berkedip, lalu rentetan notifikasi masuk bertubi-tubi hingga ponselku terasa panas di genggaman.
Pesanan dari Wira mendominasi barisan paling atas:
"Hana, aku masih nunggu..."
"Kok belum dihubungi juga? Kamu sibuk banget ya?"
"Hei, Hana? Kamu di mana? Tolong balas kalau sudah baca ini."
Jantungku berdegup kencang membaca pesan-pesan itu. Ada nada tidak sabar dan kerinduan yang sangat kuat dari setiap kalimat yang ia kirimkan. Rasanya seperti ditarik kembali ke masa lalu dalam sekejap.
Tapi bukan hanya Wira, pesan dari Diva dan Dhea juga memenuhi layar, menanyakan kenapa ponselku mati total dan apakah aku baik-baik saja setelah semalam. Dan di antara tumpukan chat itu, ada pesan dari Tomi:
"Pagi, Hana. Tadi malam aku kirim pesan tapi nggak masuk. Cuma mau mastiin kamu tidur nyenyak setelah kita seru-seruan di kafe. Sampai ketemu di kelas ya."
Aku terdiam sejenak di atas motor, menatap layar ponsel dengan perasaan campur aduk. Di satu sisi, ada Wira yang membawa kembali memori pedih sekaligus cinta yang belum selesai. Di sisi lain, ada Tomi yang menawarkan keceriaan baru yang lebih "aman".
Aku segera membalas chat sahabat-sahabatku dulu agar mereka tidak khawatir. Untuk Tomi, aku hanya membalas singkat,
"Pagi juga, Tom. Iya, semalam aku istirahat lebih awal jadi HP sengaja dimatikan. Sampai ketemu!"
Lalu mataku kembali tertuju pada pesan Wira. Aku tahu aku tidak bisa menghindar terus. Dengan jari yang sedikit gemetar, aku mulai mengetik balasan untuknya.
"Wira, maaf. Semalam aku benar-benar nggak bisa pegang HP karena harus kumpul sama orang tua. Aku baru sampai kampus sekarang."
Belum sempat aku memasukkan ponsel ke dalam tas, ponsel itu bergetar lagi. Sebuah panggilan masuk dari nomor yang tidak kukenal. Aku tahu pasti itu dia.
"Aduh, Hana... kamu harus gimana sekarang?" gumamku panik sambil melihat sekeliling parkiran yang mulai ramai oleh mahasiswa lain.
Aku melangkah cepat menuju halaman belakang kampus, tempat yang jarang dilalui mahasiswa jika bukan jam istirahat.
Napasku sedikit memburu, bukan karena lelah, tapi karena beban yang terasa menghimpit dadaku. Begitu merasa aman, aku menekan tombol hijau.
"Halo,!" suaraku hampir hilang tertiup angin.
"Hana! Kamu ke mana aja? Kenapa nggak hubungi aku lagi semalam? Aku nungguin kamu sampai nggak bisa tidur,"
suara Wira langsung menyambar, penuh dengan nada cemas dan tuntutan.
"Maaf, Wir... aku... aku semalam sama Papa. Aku bener-bener nggak bisa pegang HP,"
jawabku berbohong, padahal aku hanya ingin menikmati kedamaian sementara.
"Aku rindu banget sama kamu, Hana,"
ucapnya lirih. Suaranya melunak, membuat hatiku yang tadinya keras perlahan goyah.
Aku terdiam, tidak tahu harus membalas apa. Ada rasa bersalah yang besar, tapi juga ada rasa takut yang belum hilang.
Hening sejenak, sebelum Wira kembali bertanya,
"Tadi kamu bilang kamu di kampus? Jadi kamu lanjut kuliah? Hebat kamu, Han. Lalu... gimana dengan anak kita?"
Aku mematung. Pertanyaan itu selalu menjadi mimpi burukku. Wira terus memanggil namaku karena aku tak kunjung menjawab.
"Hana? Han? Kamu masih di sana?"
"Wir... maaf, tapi..." aku menarik napas panjang, mencoba menguatkan hati untuk berbohong.
"Aku nggak sempat melahirkan anak itu. Semuanya... aku keguguran saat itu."
Suasana di seberang telepon mendadak sunyi senyap. Aku bisa merasakan keterkejutan Wira.
"Tapi..." suara Wira terdengar bergetar,
"dulu terakhir kita bicara lewat telepon saat aku baru beberapa bulan di sel, kamu pernah bilang kalau anak kita sudah lahir. Kamu bilang dia sehat. Kenapa sekarang kamu bilang keguguran?"
Aku menggigit bibir bawahku, mataku mulai memanas. Aku tidak mungkin bilang yang sejujurnya sekarang. Kejadian yang sebenarnya jauh lebih menyakitkan dari sekadar kata 'keguguran'. Dulu, aku berbohong padanya bahwa anak itu lahir agar dia punya semangat hidup di dalam penjara. Aku tidak mau menambah bebannya saat dia sedang terpuruk di balik jeruji besi.
"Hana, jawab aku! Mana yang benar?" desaknya.
"Wir, tolong... saat itu aku cuma nggak mau kamu kepikiran. Aku bingung harus bilang apa," ucapku membela diri dengan kebohongan baru.
Memori itu menghantamku seperti badai besar yang menghancurkan semua ketenanganku. Di halaman belakang kampus yang sepi ini, aku seolah terseret kembali ke masa-masa paling gelap dalam hidupku.
...Flashback...
Tahun itu, duniaku runtuh berkeping-keping. Aku terjepit di antara cinta yang buta dan kebencian orang tua yang luar biasa. Papa dan Mama sangat membenci Wira. Baginya, Wira adalah laki-laki yang telah merenggut masa depanku. Kebencian itu semakin menjadi saat Wira, alih-alih datang meminta maaf dan bertanggung jawab secara jantan, malah membawaku kabur.
Itu adalah luka harga diri yang paling dalam bagi Papa.
Belum lagi rumor-rumor yang beredar di lingkungan rumah Wira. Orang-orang berbisik bahwa Wira adalah pecandu obat-obatan terlarang, suka mabuk hingga larut malam, dan rumah keluarganya selalu bising dengan pertengkaran hebat setiap tengah malam karna ayahnya suka memukul ibunya jika bertengkar.
Orang tuaku tidak sudi melihat putri satu-satunya terjerumus ke dalam keluarga yang mereka anggap "sampah".
Di bawah tekanan, cacian, dan rasa bersalah yang tidak ada habisnya, tubuhku menyerah.
Anak itu... anak itu sempat lahir. Seorang bayi kecil yang sangat mirip dengan ayahnya. Namun, dia hanya mampu bertahan kurang dari satu minggu. Dunia seolah tidak mengizinkan dia hadir lebih lama. Bayi malang itu meninggal karena gagal jantung, dampak dari tingkat stresku yang sangat tinggi selama masa kehamilan.
Kehilangan itu menghancurkanku. Aku drop total. Selama dua bulan, aku terbaring di rumah sakit dalam keadaan tidak sadar, antara hidup dan mati. Saat aku terbangun, anakku sudah di liang lahat, dan Wira sudah mendekam di penjara.
... Flasback off...
...----------------...
Aku menggenggam ponsel dengan buku jari yang memutih. Air mata yang sejak tadi kutahan akhirnya jatuh juga. Suara Wira di seberang sana masih menuntut jawaban, tapi tenggorokanku terasa seperti tersumbat batu besar.
"Han? Hana! Kenapa diam? Jawab aku!"
suara Wira meninggi.
"Wir... tolong jangan tanya lagi," isakku akhirnya pecah.
"Aku nggak sanggup bahas itu sekarang. Semuanya sudah selesai. Anak itu sudah nggak ada, dan aku hampir mati saat itu."
Aku tidak mungkin menceritakan tentang gagal jantung itu sekarang. Aku tidak mungkin bilang kalau stres karena kelakuannya dan tekanan orang tuaku lah yang membunuh bayi kami. Itu terlalu berat untuk kami berdua.
"Jadi... selama ini aku dipenjara dengan bayangan anak yang sudah nggak ada?"
suara Wira terdengar hancur, bercampur amarah yang tertahan.
"Kamu bohongin aku, Han? Kamu bilang dia sehat! Atau jangan jangan kamu memang sengaja ingin menjauhkan aku dari darah dagingku?"
"AKU CUMA MAU KAMU SURVIVE DI SANA, WIR!!!!"
teriakku histeris, tidak peduli lagi jika ada yang mendengar.
"Kalau aku bilang dia meninggal, kamu mungkin sudah bunuh diri di sel! Aku sendirian menghadapi semuanya, Wir! Sendirian!"
Aku langsung mematikan telepon itu secara sepihak. Tubuhku merosot ke tanah, aku duduk bersimpuh sambil menutup wajah dengan kedua tangan. Tangisanku pecah di keheningan halaman belakang kampus.
Tiba-tiba, aku mendengar langkah kaki mendekat. Cepat dan terburu-buru.
"Hana? Kamu kenapa?"
Aku mendongak dengan mata sembab. Di depanku, Tomi berdiri dengan wajah penuh kekhawatiran. Dia menatapku yang sedang hancur berantakan di atas tanah