Ini adalah kisah seorang pria bernama Ahmad Ranvir Al Ghazali. Anak tunggal seorang Kepala Desa sekaligus tuan tanah ini di beri nama alias, sebut saja Paijo. Bukan tanpa alasan, melainkan sering sakit-sakitan saat usianya baru menginjak satu tahun. Mungkin tidak kuat di beri nama sebagus itu, jadi mau tidak mau orang tuanya memberikan nama kecil itu.
Saat usianya menginjak dua puluh lima tahun Ayahnya bersikeras menjodohkannya dengan seorang gadis cantik anak dari pemilik Toko Emas Terbesar di Kabupaten Kendal.
"Apa menikah? Dengan gadis itu? Aku bahkan sudah melihatnya sejak dia masih kecil dan ingusan. Dia sangat manja dan cerewet. Demi tanah Ayah luasnya dari ujung Barat ke Timur. Aku menolak perjodohan ini!"
😤😤😤😤
"Apa menikah? Dengan Paijo? Apa tidak ada pria lain yang lebih tampan dan punya nama keren daripada dia. Aku TIDAK MAU!!!
"Heh, aku memang tidak tampan, tapi aku Paijo adalah pria yang berkharismatik! CATAT!
Selanjutnya, kita simak perjalanan mereka. Akankah mereka berjodoh???
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rifa Mukherjee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 10: Kepercayaan Mahal Harganya
Mengendarai vespa tua milik sang kakek, Paijo melaju membelah jalan raya. Dengan panduan GPS, dia masih meraba-raba arah alamat yang sesuai dengan kartu nama yang dia pegang.
Semalaman Paijo memikirkan hal ini, dia sendiri belum mengenali bakatnya apa. Yang dia punya saat ini hanya sebuah modal nekat. Akhirnya dia pun memutuskan untuk datang.
Paijo memarkir motor tuanya di tepi jalan. Dari GPS yang dia baca, saat ini dia berada di kecamatan Kedungkandang Malang. Cukup jauh dari rumah kakeknya. Jika dia tidak salah membaca arah tentu lokasi pabrik milik Pak Irwan sudah tak jauh dari sini. Lebih baik langsung tanya orangnya.
"Halo Pak, ini saya Paijo."
"Lokasinya sebelah mana ya pak? Ini saya sudah sampai di jalan apa ya..."
"Saya agak bingung, oh ini posisi saya di dekat warung bakso goyang lidah."
"Oh...sudah dekat? baik saya jalan lagi kalau begitu."
Ternyata benar tak sampai lima belas menit, Paijo sudah sampai ke lokasi. Pak Irwan menyambutnya di depan pintu masuk.
Jadi ini pabriknya? ternyata dia tidak bohong.
"Hei, selamat datang di pabrik saya. Tidak terlalu besar memang, tapi pabrik ini cinta mati saya. Hehe..." Paijo hanya tersenyum kecil.
"Kita lihat-lihat kebelakang dulu ya. Biar kamu ada gambaran."
Paijo hanya bisa mengiyakan dan berjalan bersisian dengan laki-laki asing yang sempat dia curigai sebagai seorang penipu. Memasuki area produksi mata Paijo di buat takjub dengan gunungan balok-balok kayu. Entah kayu apa Paijo tidak paham. Ada sekitar lima meja mesin penggrajian yang sedang beroperasi. Suara bising mesin itu mengganggu telinga mereka. Debu-debu serbuk kayu berterbangan di mana-mana. Jelas ini bukan area yang cocok untuk bermain anak-anak.
Orang-orang yang bekerja disini bisa di pastikan memiliki otot lengan yang bagus. Bagaimana tidak, mereka masih manual mengangkat balok-balok kayu dari berbagai jenis pohon itu. Jadi tidak perlu susah-susah nge-gym, angkat beban kayu di sini tak sebanding dengan angkat barbel.
Para pekerja terlihat fokus dengan pekerjaan masing-masing. Bukan karena ada bos besar yang lewat sehingga mereka cari muka. Itu karena jika sedikit saja mereka teledor, jari mereka bisa ikut terpotong saat mengenai mata pisau besi bundar itu. Mengerikan.
"AYO KITA MASUK KE KANTOR!"
Ajakan Pak Irwan terdengar lirih, padahal dia sudah berteriak hingga otot-otot lehernya terlihat. Bising sekali suara mesin dieselnya.
Kantor yang dia maksud adalah sebuah bangunan mirip rumah yang tidak begitu luas. Saat masuk setidaknya disini lebih nyaman dari pada diluar. Pendingin ruangan terasa nyess menyapa kulit Paijo. Ada satu set sofa di ruang tamu. Sebelum masuk keruang kerja milik Pak Irwan, mereka melewati meja sekertaris yang merangkap akuntan dan lain-lain. Seorang perempuan dewasa berpakaian blouse bunga-bunga kecil dan celana hitam panjang itu tersenyum ramah.
"Silahkan duduk! Santai saja."
Pak Irwan membuka kulkas kecil dan mengulurkan minuman ion yang nampak segar di mata Paijo. Wajar saja perjalanan jauh di tambah tour singkat keliling penggrajian tadi membuat tenggorokan Paijo kering.
"Terimakasih Pak." Paijo meminumnya beberapa teguk dan bersiap mendengarkan penjelasan Pak Irwan lagi.
"Jadi pabrik saya ini masih tergolong usaha desa dimana para pekerja disini juga kebanyakan warga desa sini saja. Tapi jangan remehkan penghasilannya, saya pastikan tabungan kamu bisa cepat melambun jika kamu mau bekerja dengan saya.
"Apa maksud Pak Irwan saya harus bekerja seperti mereka? memotong kayu?" Paijo ragu, apa dia kuat dan bisa. Pasti berat dong angkat-angkat kayu balok. Paijo belum pernah kerja kasar seperti itu. Jadi kuli bangunan juga belum pernah.
Pak Irwan tertawa, laki-laki ini memang senang tertawa. "Tentu tidak, tadi saya hanya memberi gambaran proses produksi saja. Saya butuh orang yang bisa jadi tangan kanan saya." "Balok-balok kayu itu harus di beli dari depot-depot kayu langsung dari hutan."
"Selama ini saya sendiri yang pontang-panting. "Semakin tua saya tidak sanggup perjalanan jauh. Kalau kamu bersedia, saya minta kamu yang turun kelapangan."
"Kamu belajar dulu, anggap saya sedang berbaik hati menularkan ilmu bisnis saya."
"Jika kamu punya dana, kamu juga boleh tanam saham disini. Jadi kamu masih dapat gaji dari saya, dan dapat laba bagi hasil dari tanam saham kamu. Bagaimana? tertarik?"
Paijo masih memasang raut wajah bingung. "Kenapa anda memilih saya? maksud saya, saya hanya orang asing. Kenapa anda bisa begitu langsung percaya pada saya?"
Pak Irwan tertawa lagi. "Hahaha... saya merasa kamu bisa di percaya. Dan biasanya feeling saya tidak pernah meleset."
Hati Paijo bersemi, bagaimana tidak terharu semenjak lulus SMA ayahnya sendiri meragukan kemampuannya, dan hari ini ada orang asing yang dengan mudah begitu saja percaya padanya. Sekarang dia tidak ragu untuk menerima tawaran itu.
Tidak ada salahnya di coba, toh Pak Irwan sudah memberi kepercayaan yang begitu besar. Bukankah kepercayaan itu mahal harganya. Aku harus bisa memanfaatkan peluang ini. Terlebih sepertinya memang usaha ini sangat menantang. Usaha kayu tentu bukan usaha uang receh.
"Baik, saya putuskan untuk menerima tawaran ini. Saya akan berusaha sebaik mungkin."
"Good! bagus! Saya yakin kamu bisa sukses seperti saya!"
"Kapan saya bisa mulai Pak?"
"Besok datang kesini lagi lebih awal. Sekitar jam delapan pagi."
"Baik..."
"Satu lagi, jika kamu merasa terlalu jauh dari rumah. Kamu bisa tinggal disini. Masih ada satu kamar kosong."
"Oh... terimakasih. Sepertinya kalau itu saya harus bicara dulu dengan kakek saya."
Kalau aku tinggal disini, sama saja aku seperti hidup mengembara. Sebatang kara, jauh dari sanak saudara. Hemft... ibu lihatlah anakmu! Aku akan buktikan pada Kepala desa yang keras kepala itu. Kalau aku bisa berdiri di kaki 'ku sendiri.
****
Paijo langsung menyusul kakeknya ke warung, sudah hampir jam empat sore, tentu sebentar lagi warung di buka. Benar sekali, saat masuk terlihat Bejo dan kawan-kawan sedang sibuk menata dagangan dan peralatan lainnya.
"Mbah" Cak Sam mendongak sekilas, dan kembali menekuni catatan di hadapannya.
"Sudah pulang?"
"Hmm... aku terima tawaran itu."
"Bagus."
"JO!"
"Apa?" Paijo di hadapannya kenapa Cak Sam memanggilnya begitu keras.
"Bukan kamu. Bejo!" Laki-laki yang tidak ada manis-manisnya itu bangkit mendekat.
"Ini gaji kalian sudah saya pisah-pisahkan. Tolong kamu bagikan. Yang ini untuk Sholeh katanya anaknya khitan besok Rabu. Ini untuk benerin sepeda kamu, bawa ke bengkel dekat pasar saja! Di sana lebih murah. Dan yang ini kirim untuk Aisyah, sampaikan maaf saya karena sedikit terlambat bulan ini."
Bejo menerima amplop-amplop itu dengan mata berbinar.
"Siapa Aisyah?"
"Dia istri kedua mbah kamu!"
Cak Sam melotot, mulut Bejo memang tidak melalui proses penyaringan tujuh kali.
"Hehe... bercanda." Setelah mengucapkan terimakasih dia ngacir ke dapur lagi.
"Apa aku tidak salah dengar, mereka sudah di beri gaji. Kenapa urusan khitan anak bang Sholeh mbah yang tanggung juga?"
"Memang kenapa? mereka memang sudah mendapatkan gaji. Tapi kamu tahu sendiri biaya hidup semakin hari semakin banyak."
"Pantas saja mbah ga kaya-kaya." celetuk Paijo.
"Heh, anak muda kekayaan itu letaknya di sini." Cak Sam menunjuk dada kiri Paijo tepat di hatinya. "Manusia cenderung serakah ingin memperkaya diri, tapi dia lupa sebagian dari rejeki yang kita dapat itu adalah hak milik orang lain yang kurang mampu."
"Kalau kamu mau cepat kaya, maka sering-seringlah kamu berbagi. Kamu baru akan merasakan nikmatnya setelah kamu lakukan."
"Hmm... Mbah mulai besok aku sudah berangkat. Dan sepertinya lebih baik ikut tinggal di sana. Lokasinya cukup jauh dari sini, apalagi pakai motor vespa mbah. Lama ga sampai-sampai. Gimana?"
Cak Sam menghela nafas. "Mbah hanya bisa kasih doa. Yang penting kamu jaga diri. Sering-sering jenguk kesini. Sering-sering telpon mbah. Baru sebentar mbah ada teman sudah mau di tinggal lagi." Raut wajah Cak Sam terlihat kecewa, tapi dia tidak ingin mengekang cucunya.
"Jangan khawatir mbah, nanti Jo sering-sering telpon. Terutama saat uang jajan Jo habis, hehe..."
"Hissh, kamu ini!"
Paijo memeluk kakeknya, dia merasa semakin sayang dengan laki-laki tua yang memilih hidup sederhana dan berhati mulia itu.
Sementara Bejo terharu melihat cucu dan kakek itu. Kedermawanan Cak Sam memang sudah tidak di ragukan lagi.
"Permisi, apa sudah buka?"
Cak Sam dan Paijo secara bersamaan menoleh. Tapi Bejo lebih cepat tanggap. Pembeli pertama mereka tiga orang wanita cantik dan muda.
"Oh... Silahkan masuk! Kami sudah buka."
"Bahkan kalau belum buka jika pembelinya seperti anda nona, kami rela membukakan warung."
Hayu yang melihat Paijo berdiri memaku langsung heboh sendiri. Dia tanpa malu melambaikan tangan dan jingkrak-jingkrak. "Mas Paijo! Hei masih ingat kami?"
"Owalah, fans clubnya Paijo toh. Padahal Bejo sudah menyambut hlo!" gumam Bejo lirih.
Saras terlihat membuang muka, dia tidak mau Paijo ke geeran. Baru semalam mereka makan bakso pemberiannya. Dan sore ini sepulang kuliah, mereka ngotot ingin makan bakso yang sama. Rani dan Hayu memang benar-benar memalukan.
"Jadi mereka si penerima tiga bungkus bakso? Pilih salah satu, boleh juga buat calon mantu!" Bisik Cak Sam pada cucunya.
"Hah? Jo bisa saja memilih, tapi masalahnya mana mau mereka? puaskan mbah?" Paijo berlalu menghampiri mereka, bagaimana pun tidak sopan jika hanya mengabaikan. Apalagi Hayu sudah menyapa.
"Hahaha..."
.
.
.
.
.
.
like dan komen ya ...😘
Kenyataanya di sekitar kita emg gitu, org klo sdh bebal y susah berubah...
Punya camry nyinyir punya motor butut Dia ribut...
Syaitonirrojim emg..
Lambene kubro Jan Joss tenan
Emg klo mati hartanya ngaruh?
Aneh memang...
Jd g heran bnyk author berkelas yg mandek g nglanjutin karyanya
Aduk terus
Minta ja restu Umi nya saras
Orang Tua model an bagong emang mesti di gitu in..
Saras ini meski di gitu in tetep ja kocaknya keluar