sebagian dari kisah ini terinspirasi dari kejadian nyata..
Armala Anggun, ingin menguji takdir, sejauh mana takdir mempermainkan kehidupan cintanya.
Menikah dengan seseorang yang bahkan dia tidak tau namanya, apalagi rupanya. tapi dia berusaha menerima laki-laki asing itu sebagai suaminya.
Jemicko Putra Nawar, dan Gama Maziantara Gundala, sama-sama memendam perasaan
kepada Mala. keduanya terus berusaha mendekati Mala.
diantara mereka, siapakah suami Mala yang sebenarnya?
Follow
Ig ➡️ makee949
fb ➡️ Si (Mak Ee)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mak Ee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
part 9.
ponsel Mala berdering. telfon dari ayah.
"halo yah."
"nak. bagaimana kabarmu?" tanya Ayah dari seberang.
"Mala rindu."
"kami juga. ayah punya kabar gembira. besok kami akan bertolak ke jogja."
"benarkah? ibu juga?"
"iya. tentu saja."
tiba-tiba wajah Mala berubah sendu.
"apa... orang itu juga akan datang kemari?"
"orang itu? siapa? maksudmu suamimu? hahahahaha.."
Mala mengernyitkan keningnya mendengar ayahnya tertawa.
"apa kau masih takut bertemu dengannya? kira-kira kapan kau akan siap menemuinya?"
"entahlah yah,, Mala belum yakin."
"yasudah, besok kalau sudah sampai di bandara ayah akan menghubungimu."
"baiklah yah. Mala akan menjemput ayah dibandara besok."
Malapun mengakhiri perbincangan itu.
"kenapa termenung sendirian?" suara Micko mengagetkan Mala. tanpa meminta izin, Micko langsung duduk disebelah Mala dan meletakkan kameranya disampingnya. kemudian mengacungkan satu buah jagung bakar yang sudah berlumuran dengan saus pedas kepada Mala.
"makasih mas."
"hm.." Micko segera menyantap jagung bakarnya.
"selama disini, sudah pernah kemana saja?" tanya Micko kemudian.
"cuma ke candi prambanan sama ratu boko. itupun karna dekat dengan rumah pakde." jelas Mala sambil meraup jagung bakarnya.
"selain tempat itu belum pernah?"
"belum mas."
"kapan-kapan kuajak ke candi borobudur dan tempat lainya. apa ada tempat wisata yang sangat ingin kau kunjungi.?"
banyak sekali sebenarnya. tapi Mala enggan mengungkapkannya kepada Micko. dia harus sadar diri. dia sudah bersuami. dan itu artinya dia harus memberi batasan untuk dirinya sendiri agar tidak mudah berdekatan dengan pria lain.
"kenapa malah diam saja?"
kadang-kadang Micko bisa bersikap sangat lembut kepada Mala. tapi tak jarang dia juga bersikap kasar kepada gadis itu.
Micko beranjak dari tempatnya duduk dan berniat membeli minuman yang tak jauh dari sana. saat itu pula Mala ingin ikut berdiri. namun ponsel yang ada dipangkuannya terjatuh keatas pasir tepat sebelum ombak pasang datang. dengan sigap Mala mengambil ponsel itu tetapi ia malah terjatuh karna tarikan ombak yang mengenai kakinya.
"aaa..!" pekik Mala. ponsel yang ada ditangannyapun jadi ikut basah. sama seperti sekujur tubuhnya yang juga basah.
"Mala.! kau tidak apa-apa?" Micko langsung berlari dan menghampiri Mala.
"ponselku..." Mala menatap ponsel yang sudah mati itu ditangannya.
Micko hendak membantu Mala berdiri. tapi ombak lain keburu datang dan menerpa kaki keduanya. membuat Micko ikut terjerembab kedalam air. keduanyapun kembali terjatuh.
beberapa teman Micko segera datang dan membantu mereka. Mala menggigil kedinginan karna sekujur tubuhnya basah kuyup.
"aduh.. bagaimana ini? aku tidak membawa satupun baju ganti." lirih Mala sambil menggigil.
dengan sigap Micko membimbing Mala untuk menuju ke mobilnya. setelah sampai Micko mengambil jacketnya dari dalam mobil dan memakaikannya ke punggung Mala yang masih menggigil.
"masuklah." kali ini nada suara Micko tidak terdengar memerintah, lebih tepatnya meminta.
Mala menurut saja. dia berfikir mungkin Micko akan mengantarkannya pulang untuk berganti pakaian. padahal pakaian Micko juga setengah basah.
Micko mengemudikan mobilnya dengan fokus. tapi mobil itu tidak melaju di jalan menuju arah pulang ke kos Mala. mobil itu menuju kearah yang berlawanan.
"kita mau kemana mas?"
"mengganti pakaianmu yang basah itu. aku juga harus mengganti pakaianku.." jelas Micko.
tapi kenapa kearah yang sebaliknya.?
mobil berhenti disebuah rumah mewah berpagar sangat tinggi. seorang security membukakan pintu gerbang untuk Micko. security itu juga mengangguk hormat pada Micko.
"dimana ini mas?" tanya Mala.
"rumahku."
"rumahmu?" seketika jantung Mala berdegup kencang. seperti mau lompat saja. fikirannya sudah melayang kemana-mana. menebak-nebak maksud Micko membawanya kerumah ini.
"cepat turun."
seketika Mala menangkupkan kedua tangannya didadanya.
"apa yang kau fikirkan? dasar otak mesum. kan aku sudah bilang hanya ingin mengganti bajumu yang basah. pakaian adikku sepertinya pas buatmu."
perkataan Micko membuat Mala malu.
"ayo masuk." ajak Micko.
Mala yang penurut mengikuti langkah kaki Micko memasuki rumah mewah itu. interiornya begitu luar biasa. didalamnya sangat luas dan megah.
"ya ampun Micko.! kenapa kamu basah kuyup begitu?" suara Mama mengagetkan Mala. sekilas Mama melihat kearah Mala yang juga dalam kondisi basah kuyup.
"kalian ini kenapa? kok bisa basah begitu?" kali ini Mama berbicara dengan menahan tawa.
"critanya panjang Ma.. Mala, kamu bisa membersihkan dirimu di disini."?? Micko mempersilahkan Mala untuk masuk kesebuah kamar.
"kau bisa memakai apapun yang ada didalam lemari pakaian." jelas Micko lagi. sementara Mama hanya memperhatikan keduanya dengan seksama.
dengan mengangguk hormat kepada Mama, Mala masuk kedalam kamar itu dan segera membersihkan diri. air laut yang asin membuat tubuhnya lengket. sementara Micko masuk kedalam kamarnya yang ada dilantai 2.
setelah selesai mandi dan memilih baju yang dirasa pas. Mala keluar dari kamar itu. dan ternyata Micko sudah ada di meja makan bersama kedua orangtuanya.
"cepat kesini. makan." panggil Micko. Mala yang merasa canggung berada dirumah itu berjalan perlahan kemeja makan.
dia sengaja mungkin ngawal kamu tuh makanya ngikutin trus balik lg 🤣