Update gak nentu !
Area 21+ harap bijak dalam membaca
Bagaimana jika orang indonesia jiwanya nyasar ke suatu negeri asing, yang tidak pernah ia kenali.
Lisa seorang karyawan bank swasta, si gadis bar-bar itulah sebutan untuknya. Lisa yang sudah berumur 30 tahun wajahnya pas-pasan ia belum memiliki pasangan. Hingga suatu hari ia di desak oleh kedua orang tuanya menemui teman kencannya dan menyebabkan Lisa kecelakaan.
Hingga jiwanya memasuki tubuh wanita yang hanya di gunakan sebagai tempat melahirkan bagi keturunan Kaisar.
Kaisar Kristoffer, seorang Kaisar yang terkenal kekejamanya, Kaisar Kristoffer memiliki sebuah kutukan di mana ia akan kehilangan istrinya jika sang istri memiliki seorang anak. Hingga ia memutuskan mencari wanita simpanan dan tentunya atas persetujuan Permaisurinya. Kaisar Kristoffer membuat sebuah kesepakatan, jika setiap wanita yang ia tiduri sebanyak 3 kali tidak memiliki anak, maka ia akan memenggalnya atau membuangnya.
lalu apakah Lisa akan mau melahirkan keturunannya, atau malah melarikan diri ?
ig:@riiez.kha.37
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sayonk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
hukuman untuk Ava
Matahari telah menembus jendela kaca, seorang laki-laki dengan wajah tegas dan seulas senyum di bibirnya. Dia tidak sabar menunggu seseorang dan segala cara ia akan keluarkan untuk mengusiknya.
Sementara Kesatria Leon menaikkan salah satu alisnya, ia merasa aneh melihat junjungannya yang senyam-senyum sendiri. Dan tadi ia merasakan shok saat junjungannya menyuruh memporak porandakan buku perpustakaan. Dia pun tidak mengerti apa yang dipikirkan oleh junjungannya. Seakan ia merasakan junjungannya mulai keluar dari kata waras. Seumur hidup baru kali ini ia melihat Kaisar Kristoffer berperilaku aneh, ya menurutnya aneh dan pemandangan yang langka. Jika bukan bersama dengan Permaisuri, Kaisar Kristoffer tidak akan tersenyum. Bahkan ia akan menunjukkan taringnya, siap menerkam siapa saja yang berani mengusiknya.
"Hormat hamba, Baginda." Ucap ketua pelayan yang tiba-tiba masuk dan membawa seorang gadis.
Gadis itu menunduk, sesekali ia melirik kesal ke arah Kaisar Kristoffer.
"Sial sekali, pagi-pagi sudah bertemu dengan singa bercula satu." Gumam Ava merasakan sesak berada di ruangan menyeramkan itu.
"Hamba sudah membawanya Baginda." Ujarnya membungkuk hormat dan berlalu pergi.
"Kau tau kenapa aku memanggil mu?" tanya Kaisar Kristoffer menatap tajam ke arahnya.
Mana aku tau, gak bilang iya. Langsung nanyak pula. Ingin aku berkata, ya kamu. Kamu yang duduk di sana seperti Monster cacing batin Ava.
Ava masih menunduk, diam adalah jalan keluarnya.
Brak
Kaisar Kristoffer mengebrak mejanya, ia berharap Ava melihat ke arahnya bukan menunduk. Ada rasa tidak suka di hatinya melihat Ava bersikap seperti itu.
Sedangkan Ava langsung mendongakkan wajahnya, ia melirik ke arah pot yang lumayan besar di pojok kanan dengan bunga anggrek berwarna ungu.
"Ada apa Baginda?" tanya Ava. Masih melirik ke arah pot.
"Kamu tau, kamu berhadapan dengan siapa?" bentak Kaisar Kristoffer.
"Sama orang lah, masa sama pocong." Gumam Ava, namun masih sampai di telinga Kaisar Kristoffer.
Kaisar Kristoffer menatap bunga mawar merah di depannya, benar saja. Gadis di depannya memang selalu menguji kesabarannya.
"Jika nona berbicara, tataplah Baginda." Timpal Leon yang mengerti langsung mengerti keadaannya. Sedari tadi ia juga memperhatikan Kaisar Kristoffer yang ingin bertatap lansung dengan Ava.
"Peraturan macam apa ini? tadi Auntum menasehati ku agar tidak menatapnya karna itu perbuatan tercela. Hais, aku bisa gila lama-lama berada di sini." Gumam Ava seraya menatap Kaisar Kristoffer.
"Baiklah, Baginda yang terhormat. Ada gerangan apa Baginda memanggil hamba?" tanya Ava tanpa ekspresi apa pun, seakan wajahnya datar tanpa ada hidung, mata, dan bagian lainnya.
"Kamu tau kesalahan mu, pertama, kamu berkelahi dengan pelayan. Kedua, kamu memanjat pohon. Ketiga, kamu membuat Permaisuri ku kesal."
"Langsung ke intinya saja, Baginda. Hukuman apa yang hamba peroleh?" tanya Ava menatap kesal.
Kaisar Kristoffer menatap tajam ke arah Ava, "Leon katakan, hukuman apa yang pantas untuknya."
"Hukuman cambuk, Baginda. Karna menurut peraturan pelayan ini sudah lancang membuat Permaisuri kesal dan ... "
"Apa aku mengatakan hukuman itu?" potong Kaisar Kristoffer dengan suara dingin.
Leon terdiam, apa dia salah bicara. Seharusnya hukuman itu yang benar. Lalu letak kesalahannya ada di mana.
Ada apa sih dengan kedua orang aneh ini
"Baiklah Baginda, hamba akan langsung menyerahkan diri pada Permaisuri. Supaya hamba dapat hukuman lagi." Ucap Ava membungkuk hormat hendak melangkahkan kakinya.
"Siapa yang menyuruh mu pergi? aku belum selesai berbicara."
Ava membalikkan badannya, " Lalu apa yang harus hamba lakukan Baginda? apa hamba harus menggogong seperti anjing? oh, ayolah hamba banyak pekerjaan Baginda."
"Beraninya kamu memerintah diriku."
"Yah, salah lagi." Pekik Ava.
Leon merasa geram, ia tidak suka melihat perlakuan Ava yang tidak ada sopannya sama sekali. Dan akan memberikan hukuman yang pas untuknya. "Jaga bicara mu pelayan, beraninya kamu tidak sopan pada Bagin .."
"Siapa yang menyuruh mu mengeluarkan suara jelek mu itu." potong Kaisar Kristoffer.
"Dan kamu, ikut aku, bersihkan semua buku di perpustakaan." Sambungnya lagi berlalu pergi. Ava menatap sengit ke arah Leon lalu mengikuti langkah kaki Kaisar Kristoffer sambil menghentakkan kakinya.