Jelita pergi dari rumah dengan membawa pedih dan luka, setelah mendapati kenyataan pahit. Ayahnya telah mengkhianati sang ibu dengan menikahi wanita simpanannya dan membawa wanita itu beserta seorang putri hasil perselingkuhan mereka, yang termasuk saudara tiri Jelita.
Malam dimana Jelita seharusnya mendapat cinta penuh dan tanggung jawab dari Chandra Adi Prama, Nyatanya membuat Jelita makin terluka setelah dengan terang-terangan, Chandra, pria yang dicintainya itu, menyatakan akan menikahi saudara tiri Jelita.
Ditambah lagi dengan sang ibu yang juga telah berpulang ke pangkuan yang maha kuasa, membuat Jelita tepaksa membekukan hatinya.
Hingga jelita pergi membawa luka dan membawa satu-satunya keluarga yang akan menemani jelita selamanya, Membuat hati jelita terasa beku dan enggan mengakui memiliki keluarga.
~Penasaran kisahnya?
Jangan lupa dukung dengan tap love, like, comment and vote yaa....~
Mohon perhatian....
Bagi siapapun yang melihat karya saya di plagiat di aplikasi lain, mohon segera memberi tahu saya.
Kebijakan ini berdasarkan karya saya PESONA ANAK PEMBANTU pernah di plagiat di aplikasi lain dan saya tidak mau mengulangi hal serupa atas cerita ini.
Terima kasih🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon istia akhtar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10
Bila rindu tak jua sirna, mengapa takdir tak bersedia menyatukan?
Bila cinta tak berpihak padanya, mengapa takdir seolah mempermainkannya?
Bila hati tak jua mampu berpaling, mengapa waktu tak jua mampu menghapus segala kenangan?
Jelita duduk termangu di ranjang. Semalaman ia menangis, semalaman ia memikirkan tentang tawaran Radhi. Mengapa ada pria sebaik Radhi?
Bahkan di saat saat seperti ini, di saat hati jelita hancur dan tak lagi memiliki kehormatan, Radhi masih bersedia menerimanya.
Bukan Jelita tak mengetahui tentang perasaan Radhi padanya. Jelita tau. Namun ia memilih mengabaikan, meski ia tau gelagat Radhi dan pancaran pendar mata Radhi, tak mampu menyembunyikan segala perasaannya.
Jelita cukup peka.
Namun sayang ia terlalu menutup mata pada kenyataan yang ada. Memilih memaksakan diri untuk mencintai Chandra nyatanya adalah sebuah kesalahan.
Lihatlah!!
Bahkan Radhi jua mendapatkan akibat dari kebodohan Jelita selama ini.
Kenangan yang Jelita miliki bersama Chandra, tak jua hilang dari ingatannya. Bolehkah Jelita berteriak pada sang semesta?
Bolehkah Jelita menuntut keadilan atas kebahagiaan mereka diatas penderitaan dirinya?
Ceklek....
Pintu terbuka dari luar, Radhi muncul dengan senyum hangat yang seperti biasa ia tebarkan. Wajah tampan nan tegas yang Radhi miliki, adalah poin tambahan untuknya sebagai malaikat penolong Jelita.
"Non Jelita.... Mari sarapan. Saya sudah membuatkan sarapan untuk nona. Meski tidak lah mewah dan tak seenak makanan di luar, setidaknya non Lita tidak kelaparan. Nanti siang, saya akan belikan non Lita makanan enak",
Jelita memandang Radhi dengan mata berkaca. "Mengapa mas Radhi memperlakukanku dengan sangat baik? Di saat semua keluargaku, pria yang ku sayangi telah mencampakkanku, Mas Radhi justru menerimaku?".
"Karna aku mencintaimu, nona. Sama seperti nona mencintai Chandra. Seperti itulah saya pada nona. Non Lita benar, betapa bodohnya tuan besar telah membuang nona yang lebih dari sekedar intan ini, hanya demi sebuah mata ikan. Sesimpel dan sesederhana itu cinta saya pada nona. Tapi..... Lupakan. Saya tidak membutuhkan apapun untuk cinta saya ini. Cukuplah senyum non Lita sebagai kebahagiaan untuk saya".
Tangisan itu kembali tumpah.
Bolehkah Jelita egois? Bolehkah Jelita berlari merengkuh pria yang begitu tulus ini? Meski Jelita telah mengabaikannya?
"Maafkan aku mas Radhi. Maafkanlah aku yang telah mengabaikanmu. Aku bukan tidak tau selama ini, aku bukan tidak peka atas semua perlakuan baikmu".
"Lupakanlah, nona. Saya tak ingin membebani nona dengan perasaan yang saya miliki".
Jelita merenggangkan pelukannya. Jelita tatap netra mata hitam legam milik Radhi. Netra mata yang begitu bening dan memancarkan ketulusan murni untuk Jelita, Jelita melihat nya
"Kalau begitu, apakah mas Radhi menerima ku apapun adanya diriku?", Tanya Jelita dengan tegas. Ia harus egois kali ini.
Radhi tau. Radhi mengerti kemana arah pembicaraan Jelita. Namun, ia ingin sedikit membuat Jelita menghargai sebuah pengorbanan.
"Maksud nona?", Radhi mengernyitkan keningnya. Meski ia tau kemana arah pembicaraan Jelita kali ini. Ia hanya ingin memancing Jelita.
"Jika memang mas Radhi mau menerimaku, diriku, anakku, maka nikahilah aku. Aku terima tawaran mas Radhi semalam". Meski kedengarannya Jelita egois, tapi yang Jelita ingin pastikan adalah keseriusan Radhi.
Benih yang jua tumbuh dalam rahimnya juga sebagai alasan Jelita membuang jauh-jauh ego dan harga dirinya. Jelita butuh kepastian.... jua butuh ayah untuk calon bayinya.
"Menikah?", Radhi yang tadinya berniat membuat Jelita terkejut akan pernyataan cintanya, kini keterkejutan justru berbalik padanya.
"Ya, menikah". Ucap Jelita lirih. Dengan masih menatap lekat netra mata Radhi yang nampak mempesona.
Dengan segenap rasa yang Radhi miliki, Radhi menghela nafas dan bertanya pada Jelita untuk memastikan sesuatu.
"Apa yang akan saya dapatkan dari pernikahan ini?", Tanya Radhi. Jelita merubah mimik wajahnya kian menegang.
"Mas Radhi butuh imbalan? Jadi? Semua tidak lah tulus?", Rona kecewa nampak berpendar pada netra mata coklat milik Jelita.
"Ya. Saya hanya tak mau tak mendapatkan apapun dalam pernikahan ini", ungkap Radhi dengan keseriusannya.
Jelita tersenyum kecut.
'Jadi, semua lelaki sama bukan'
batin Jelita.
"Apa yang mas Radhi harapkan pada wanita miskin sepertiku? Jika harta, maaf aku tak punya. Aku tak sekaya dulu. Aku hanyalah gelandangan sekarang ini". Jelita menjawab dengan nada kecewa yang jelas kentara. Pandangannya lurus ke depan tanpa berniat menatap kembali Radhi.
"Cintamu!! Berikan seluruh hidupmu, cintamu, ketulusanmu, kesetiaanmu, maka..... saya akan meminangmu jua dengan segenap hati yang ku miliki. Menikahlah denganku, nona. Seburuk apapun nona menilai diri anda, akan saya terima dengan hati dan tangan terbuka lebar".
Tegas.
Radhi menjawab dengan tegas dan satu tarikan nafas. Baginya, saat ini waktu yang tepat untuk mendapatkan Jelita. Bukan hanya dirinya, namun cintanya dan seluruh hidupnya.
Tak perduli meski dunia memperolok kebodohan Radhi yang memperistri wanita yang tengah mengandung benih pria lain, Radhi hanya ingin mendapatkan cintanya seutuhnya.
Jelita terkesiap. Ia telah salah dalam menilai.
"ja jadi?".
"Bayarlah pernikahan ini dengan cintamu seutuhnya untukku".
Radhi merentangkan tangannya. Menyambut Jelita yang sudah terisak kembali.
Hingga sepersekian detik, jelita berhambur pada pelukan Radhi yang begitu menghangatkan. Pelukan penuh cinta yang tak pernah Lita rasakan dari pria biadab macam Chandra.
"Apa yang perlu aku lakukan untukmu tidaklah sebanding dengan apa yang kau berikan padaku, mas Radhi. Katakan, katakan bahwa ini bukanlah mimpi", Jerit tertahan itu mengisi dan menggema di seluruh kamar. Kamar yang menjadi saksi atas hati yang bersorak bahagia, meski pilu yang begitu memburu sebelumnya.
"Lakukanlah tugasmu sebagai istri setelah menikah denganku, non Lita. Berikan seluruh hati, jiwa dan tubuhmu sebagai bentuk pengabdianmu padaku. Maka saya jua akan menyerahkan apapun yang anda pinta sebagai gantinya".
"Aku bersedia. Tidak perlu hidup mewah. Sederhana saja asal di penuhi dengan cinta. Terima kasih. Terima kasih atas ketulusanmu ini, mas Radhi".
Hingga dering ponsel Radhi menghentikan drama yang begitu mengharukan itu, Jelita menguraikan pelukannya.
Sejujurnya, Radhi masih betah berlama-lama berdekatan dengan Jelita. Hati Radhi di penuhi bunga-bunga tatkala cintanya tak terabaikan lagi. Radhi hanya ingin menikmati momen spesial ini.
Sekilas Radhi melirik ponsel yang berdering nyaring. Nama tuan besar Yusman tertera di sana. Dengan enggan Radhi menerima panggilan.
"Kemana saja kau, Radhi. Hari sudah memasuki waktu siang".
"Maaf tuan, ada sedikit masalah keluarga. Segera saya sampai".
Panggilan di putuskan sepihak oleh Yusman. Pria yang sebentar lagi akan menjadi ayah mertua. Namun sayang, kini status anak itu tak lagi di sandang oleh Jelita sang calon istri.
"Bagaimana mas.....?".
"Bertahanlah sampai saya datang, nona. Akan saya usahakan pulang cepat dan akan mengambil cuti selama beberapa hari.".
Jelita mengangguk. Ia adalah gadis yang penuh pengertian. Radhi beranjak dari duduknya. Kemudian melanjutkan kalimatnya.
"Jika non Lita bosan, Nyalakan televisi atau lakukan sesuka nona. Asal jangan keluar dari sini. Saya berangkat. Jangan lupa sarapan".
"Mas Radhi?", Radhi menatap Jelita lagi. "Jangan terlalu lama". Ungkap Jelita.
Mendadak hati seorang Radhi dipenuhi euforia yang begitu mewarnai isi hatinya. Perasaan bahagia, tak lagi dapat di tahannya.
Senyum itu tersungging dari bibir manisnya.
Bahagia itu sederhana. Ketika cinta tak lagi bertepuk sebelah tangan, maka bahagia itu terasa lebih dari sekedar memenangkan tender milyaran.
Dengan rasa bahagia ia kembali duduk dan kembali merengkuh tubuh Jenjang Jelita. Jelita yang terkejut, tak mampu berkata-kata lagi.
"Pergilah, mas. Nanti kita akan bertemu lagi".
Radi melepas pelukannya dan tersenyum. Beranjak pergi tanpa kata. Baginya, ungkapan cinta tak hanya butuh sebuah kata. Cukuplah kebahagiaan pagi ini yang cukup menggetarkan hati.
'Tuhan.....
Terima kasih atas nikmatmu yang tiada banding ini.
Setelah ayahanda tercintaku membuangku demi wanita jahat itu, aku diterima disini...
Seorang pria yang menerimaku dengan segenap ketulusan yang ia punya.
Ketulusan yang senantiasa hadir dan mengalir bak sungai yang tak terhitung massa airnya, begitulah ketulusan seorang Radhi.....
Sehatkan dia tuhan....
anugerahkanlah dia dengan beribu kebaikanmu.....
Janjikan lah surga kelak untuknya yang tak pernah mencela dosa-dosaku.
Aku berjanji....
aku berjanji atas nama mendiang ibu yang menitipkan ku padanya.....
aku berjanji atas ketulusannya yang menerimaku seburuk apapun aku.....
aku berjanji atas nama cinta......
akan aku berikan cintaku seutuhnya untuk dia yang mencintaiku, mas Radhi.....
Mama.... apakah kau kini bahagia?'
Batin Jelita bersorak.
🍁🌺🍁