Menceritakan dua kisah, antara Gibran anak broken home yang bertemu dengan Caramel. Dari pertemuan yang tak terduga, membuat Gibran merubah sikapnya secara perlahan demi mempertahankan hubungannya. Disisi lain dirinya juga harus mengalami penderitaan selama berada di rumahnya.
Selamat membaca:)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
10. Olahraga
...Selamat Membaca📖...
...🎨🎨🎨...
Naura sampai di parkiran sekolah, dia berangkat bersama Gibran dan anggota inti geng Antraxs. Naura turun dari motor Gibran.
"Makasih ya, entar pulangnya nggak usah nungguin gue."
Arga menyuruh Gibran untuk menjemput Naura, karna ia tau supir yang biasa mengantar jemput Naura sedang pulang kampung.
"Iya," Gibran mengangguk
"Pulang sama aak Asep aja gimana?" Asep tersenyum manis kepada Naura. Tapi itu membuat Naura ilfil. Menjijikkan.
"Ogah, lebih baik gue jalan kaki dari pada pulang sama lo!"
Naura membalikkan badannya, pergi meninggalkan geng motor ini. Sedangkan anggota Antraxs menenangkan Asep, yang ditolak mentah-mentah oleh Naura. Namun lebih tepatnya, mengejek Asep.
"Sadar diri makannya lo."
"Sandrina kemana, tumben nggak buntutin lo, Gib." Ucap Bram.
"Capek kali dia di tolak mulu sama Gibran, hahah."
Anggota Antraxs tertawa, humornya sangat receh. Hanya begitu saja mereka tertawa. Kecuali Gibran yang masih memasang waja datarnya, entah apa yang ada di pikirannya sekarang. Hanya dirinya dan Tuhan saja yang tahu.
Mereka berjalan menyusuri koridor sekolah, kelas mereka berada dilantai paling bawah. Semua murid yang merasa menghalangi jalan mereka, langsung minggir dan menunduk.
...🎨🎨🎨...
"Morning," sapa Naura, sembari menepuk pundak Putri yang duduk di sampingnya.
"Ih, sakit oon!" Putri melepaskan tangan Naura kasar.
"Lo dari mana aja si, tumben baru dateng?!"
"Sorry napa, Putri yang cantik....cie ada yang kangen sama gue."
Lima menit setelah Naura datang, guru mata pelajaran pertama datang. Semua pandangan murid tertuju pada guru didepan, yang sudah mulai mengoceh.
Namun, sebagian anak nakal dan bandel terutama. Yang duduk dibelakang, diam-diam tidur, entah karna bosan dengan penjelasan di depan atau memang benar-benar ngantuk.
...🎨🎨🎨...
"Van," Asep melemparkan kertas yang sudah di remas-remas, sehingga membentuk bulatan kecil. Kepada Reval.
"Apa?"
"Buka kertasnya!" ucap Asep tanpa mengeluarkan suara, agar tidak ketahuan oleh guru.
MINTA JAWABANNYA!!!
"Nomer berapa?"
"1,2,3,4,5 sampai 10!" Asep memberi kode menggunakan jarinya.
Semuanya itu mah.
"BU ASEP MINTA JAWABANNYA BOLEH NGGAK?!" teriak Rival
"ASEP, nilai kamu ibu kurangi sepuluh!"
"Yah, jangan dong bu."
"Kasian bu, belum tentu dia dapet nilai segitu. Hahah." sambung Bram dan diikuti tawaan satu kelas.
Kelas XII MIPA 5 memang sedang melakukan ulangan harian secara dadakan, biasanya Asep dan Yogi, teman sebangkunya menyiapkan conteka sehari sebelum ulangan.
"Bangsat lo, Val."
"ASEP! ibu kurangi lagi nilai kamu nanti. Jaga omongan kamu!"
"Maaf bu,"
Rival dan Bram yang duduk satu meja, menertawakan Asep.
...🎨🎨🎨...
Setelah jam pelajaran pertama selesai, kini kelas Caramel adalah jam olahraga. Keempat sahabat itu, sudah memeluk pakaian olahraganya masing-masing.
Semua murid cewek mengganti pakaiannya di kamar mandi, sedangkan anak cowok mengganti pakaiannya di kelas.
Jihan dan Caramel keluar bersama, dari kamar mandi yang sama. Disusul oleh kedua sahabatnya. Di luar kamar mandi banyak siswa perempuan yang sedang mendandani wajahnya, ada yang menggunakan lipstik dan bedak di wajahnya.
Namun menurut mereka ber-empat, itu semua percuma, karna akan terhapus oleh keringat. Mereka hanya akan menggunakan liptin saja setelah jam olahraga selesai, biar bibir mereka tidak kelihatan pucat.
Semua siswa kelas XII MIPA 2 sudah berkumpul di lapangan, semuanya membentuk tiga barisan. Naura dan Putri berada di barisan paling belakang, katanya biar tidak terlalu panas. Sedangkan Caramel dan Jihan berada di barisan paling depan.
Setelah selesai pemanasan, Pak David sebagai guru olahraga, menyuruh muridnya untuk berbaris kebelakang, laki-laki dan perempuan di pisah. Kali ini adalah jadwal pengambil nilai peraktek bola volly, dari passing, smash, dan juga servis.
Caramel dan ketiga sahabatnya itu, sudah mendapatkan giliran. Setiap murid yang sudah mendapatkan nilai boleh melakukan sesuatu, asalkan masih di dalam lapangan.
Caramel melempar bola berwarna kuning dan biru, kearah Jihan dan Jihan melemparkannya ke Putri dan terkhir Putri melemparkannya kearah Naura. Dan seterusnya bergantian.
Revan, Bram dan Gibran sedang berada di bawah pohon dekat lapangan. Kelas mereka sedang kosong.
"Jihan cantik ya, kalo kaya gitu." puji Revan kepada pacarnya.
"Dasar bucin." ketus Bram
Gibran duduk sambil memeluk lututnya dibawah pohon. Memperhatikan Caramel yang sedang melempar bola volly, sembari bercanda dan tertawa dengan temannya.
"YAH BOLANYA!" teriak Jihan, saat Caramel melempar bolanya terlalu tinggi, hingga bola itu melambung jauh. Bola Volly itu berhenti di depan kaki Gibran.
"Ambil sana, Mel!"
"Yah, kok gue. Lo aja Han, kan ada Revan disana."
"Ah, yang bawakan buka Revan, jadi gue nggak berani. Lo aja Na, lo kan sepupunya."
"Males gue, lo aja sana Mel."
"Harus gue ya?"
"Iya lah, lo kan yang ngelempar."
Caramel mendengus pasrah, Ia berjalan menghampiri Gibran untuk mengambil bolanya. Setelah sampai, Caramel mengulurkan tangannya dan badannya sedikit membungkuk.
Gibran tersenyum miring menatap Caramel, sedangkan Bram dan Revan, mereka berdiri di samping Gibran.
"Mana bolanya?!"
"Ini?" Gibran menyodorkan tangan yang membawa bola volly tersebut.
"Iya, mana gue mau main lagi."
"Ambil kalo bisa." Gibran berdiri dan mengangkat tangannya tinggi, sehingga cewek didepannya tidak bisa mengambil bola tersebut.
Caramel mendengus kesal. "Mana, gue lagi males buat ngeladenin lu."
Caramel berusaha mengambil bola volly tersebut, namun sepertinya Gibran tidak akan memberikan bola itu dengan mudah. Gibran selalu menghindari Caramel.
"Makannya jadi cewek jangan pendek-pendek."
Bram dan Revan juga ikut tertawa.
"Bukan gue yang pendek, tapi lo yang terlalu tinggi."
Gibran maju selangkah, membuat jarak mereka hanya beberapa jengkal saja. Caramel menyatukan kedua alisnya, Ia sedikit shok saat tiba-tiba Gibran mendekat kaya gini.
"Lo yang pendek...ambil saja bolanya kalo bisa."
Lagi-lagi Gibran menjulurkan tangannya yang membawa bola.
"Gila ya lo,"
Gibran menarik tangan kanan Caramel, hingga dada mereka saling menubruk. Caramel baru sadar sedikit lagi bibirnya menyentuh bibir milik Gibran.
"Sekali lagi lo bilang gue gila, gue cium lo. Mau?!"
Caramel melepaskan tangannya, kemudian merebut bola yang ada di tangan Gibran. Caramel pergi meninggalkan tiga cowok di belakangnya, jantung Caramel berdetak begitu cepat.
...🎨🎨🎨...
Setelah selesai jam olahraga, mereka ber-empat dan beberapa siswa lainya. Memilih untuk pergi ke kantin, membeli minum dan beberapa cemilan. Sebentar lagi juga bel istirahat berbunyi.
"Ganti bajunya nanti aja ya, kita makan dulu. Laper gue." ucap Putri
"Lu ma, yang ada dipikiran lo makan mulu."
"Tapi, iya juga sih. Bentar lagi istirahat, kalo kita ganti baju sekarang, mungkin nanti kita nggak dapet meja di kantin."
"Bener, tu."
"Mel, kenapa lo diem aja?"
Pertanyaan Jihan membuat Caramel sadar dari lamunnya. Dia masih teringat jelas, tentang kejadian di lapangan. "Sekali lagi lo bilang gue gila, lo gue cium."
Ah, lama-lama Caramel bisa gila, gara-gara cowok itu.
"Nggak, nggak pa-pa kok."
"Tadi Gibran, bilang apa sama lo?"
"Nggak bilang apa-apa. Ya udah sana siapa yang mau pesen makan." tanya Caramel, untuk mengalihkan pembicaraan.
Naura dan Putri pergi untuk memesan makanan.
Bersambung....
salam my Kids My Hero
kisah Aluna
Aq msh setia..
aq msh setia lh nungguin....
semangat terus berkarya ya thor.. ceritamu bagus.. aku suka 👍👍