Rasa percaya diri Refisha benar-benar hilang karena di usianya yang sudah memasuki 29 tahun, orang tuanya berkali-kali menjodohkan, tetapi banyak kendala pria menikahinya dan termasuk banyak orang tua pria yang tidak setuju menikah dengan.
Refisha juga selalu bertentangan dengan adiknya yang sudah berusia 24 tahun dan ingin secepatnya menikah. Banyak sekali permasalahan percintaan dalam hidupnya yang tidak sesuai dengan karirnya dalam dunia pekerjaan.
Sampai seketika orang tuanya kembali menjodohkannya dengan seorang Ustadz, Refisha tidak pernah menolak apapun yang dilakukan orang tuanya, dia setuju, tetapi bukannya kebahagiaan yang didapatkan justru penghinaan dari pria yang memahami permasalahan agama itu membuat kepercayaan dirinya semakin hilang.
Lalu siapa sangka Ustadz pemuka agama itu menolaknya, satu pria pria yang dia temui tidak sengaja dengan usianya yang lebih muda, justru ingin melamarnya, mengejarnya dengan cara ugal-ugalan.
Mari mengikuti ceritanya.....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ainuncepenis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 10 Keraguan
Refisha saat ini berada di dalam toilet sedang mencuci tangannya. Refisha beberapa kali terlihat menghela nafasnya, entahlah apa saat ini yang ada di pikirannya, mungkinkah dia lelah mempersiapkan pernikahannya yang ternyata tidak mudah.
"Ehemmm....."
Refisha mendengar suara itu dan berbalik badan, ternyata itu adalah calon ibu mertuanya yang berdiri di sebelahnya dan juga mencuci tangannya di wastafel.
"Kamu yakin akan menikah dengan putra saya?" tanya Rami tanpa melihat ke arah Refisha.
"Saya juga tidak tahu apa yang merasuki putra saya, bisa-bisanya dia memilih wanita seperti kamu," lanjut Rami.
"Apa Tante tidak menyukai saya?" tanya Refisha langsung to the point.
Rami menoleh ke arah Refisha.
"Apa menurut kamu saya bisa menyukai kamu? Sebagai seorang ibu bukankah seharusnya saya mencari pasangan yang terbaik untuk anaknya, apalagi Ezra adalah putra saya satu-satunya, sudah sepantasnya wanita yang menjadi pasangannya adalah wanita yang sempurna yang bisa memberi keturunan untuk anak saya," lanjut Rami.
"Tetapi saya tidak mandul, Tante," ucap Refisha.
"Tetapi usia kamu sudah di atas 30 Refisha dan di negara kita sulit sekali memiliki anak di usia seperti itu, saya hanya khawatir jika tidak ada jaminan dalam pernikahan kalian dan apa yang kamu lakukan hanya sia-sia saja, belum lagi perbedaan karakter kalian berdua. Ezra masih penuh dengan dunianya dan sementara kamu sudah melewati dunia kamu," lanjut Refisha.
"Its oke, kamu jangan sampai berkecil hati seperti itu, saya berbicara seperti ini bukan karena ingin menjudge buruk kamu, kamu cukup membuktikan saja apakah saya bisa menerima kamu atau tidak, tetapi jangan sampai ada penyesalan," lanjut Rami membuat Refisha hanya terdiam.
Rami mematikan keran air tersebut dan kemudian langsung pergi. Refisha semakin terlihat kepikiran melihat calon ibu mertuanya itu.
Ternyata keraguan para orang tua untuk menerima dirinya menjadi menantu, karena usianya dan seolah-olah tidak ada harapan bahwa dia akan bisa memberi keturunan, sementara sebagai seorang Ezra sama sekali tidak peduli hal itu.
Setelah selesai dari kamar mandi Refisha kemudian langsung keluar.
"Doar!!!!!!"
Refisha tersentak kaget hampir saja terjungkal ke belakang dengan memegang dadanya.
"Kamu!" pekik Refisha dengan ulah Ezra yang tiba-tiba saja mengagetkannya.
"Apa-apaan sih!" ucapnya dengan kelas.
"Lagian kamu juga, ngelamun terus, di kageti dikit aja langsung seperti ini reaksinya," ucap Ezra.
"Nggak lucu!" ucap Refisha dengan kesal kemudian langsung berlalu dari hadapan Ezra.
"Heh Refisha tunggu, kamu langsung marah seperti itu karena saya kageti, ini hanya candaan saja Refisha agar kita jangan terlalu tegang menuju pernikahan," ucap Ezra yang terus Refisha.
Refisha bahkan mempercepat langkahnya sampai Ezra memegang pergelangan tangan Refisha membuat langkah Refisha terhenti dengan mata melotot atas apa yang dilakukan Ezra.
"Lepas!" berontak Refisha.
"Iya-iya, belum halal!" Ezra begitu tengil langsung melepaskan tangannya tersebut.
"Lagian juga masih ada penghalang lengan baju kamu, saya juga tidak langsung menyentuhkan kamu, jadi jangan bereaksi terlalu berlebihan seperti itu," ucap Ezra.
"Apa-apaan sih kamu, kamu itu benar-benar nyebelin!" kesal Refisha.
"Tapi ngangeni bukan," sahut Ezra dengan percaya diri menaikan sebelah alisnya membuat Refisha mengerutkan dahi dengan tingkah laki-laki di hadapannya itu.
"Refisha, kita juga sebentar lagi akan menikah, saya tahu mungkin saya melewati batas dengan menyentuh kamu seperti ini yang membuat kamu merasa hal itu adalah hal yang besar, tapi, kan saya calon suami kamu, kita akan menjadi pasangan suami istri sebentar lagi," ucap Ezra.
"Masih menjadi calon dan bukan sudah, kamu seharusnya tahu batasan dan jangan bertingkah seperti ini!" tegas Refisha.
"Oke saya minta maaf, tetapi kamu jangan galak-galak dong, jangan memperlihatkan wajah jutek seperti itu kepada saya," ucap Refisha.
"Saya sedang tidak mau bicara dengan kamu," sahut Refisha kemudian berlalu dari hadapan Ezra.
"Refisha saya benar-benar minta maaf, Refisha jangan marah seperti itu, kamu kenapa sih sensitif mulu," Ezra sejak tadi berbicara sembari berteriak-teriak ketika melihat Refisha yang ternyata tidak peduli dengannya
"Oke, baiklah, mungkin aku sedikit berlebihan dan akhirnya membuatnya kesal, tetapi kalau marah seperti itu, ternyata lucu juga, sangat menggemaskan," ucap Ezra tersenyum miring.
******
"Alhamdulillah akhirnya semuanya hari ini berjalan dengan lancar, kita juga sudah menentukan tanggal tempat dan lain sebagainya," ucap Tio yang saat ini bersama dengan istri dan putrinya dan juga besan dan calon menantunya di mana mereka berada di parkiran.
"Benar, semoga saja pernikahan putra-putri kita dipermudah dan tanpa ada halangan apapun," sahut Dion.
"Tidak terasa ini sudah sore hari, kami pulang terlebih dahulu karena pembahasan hari ini sudah tidak ada lagi," ucap Mila.
"Tante bagaimana kalau kita makan dulu?" sahut Ezra mengeluarkan idenya.
"Ma, Refisha lelah dan sebaiknya pulang saja," sahut Refisha yang justru menolak.
"Ezra, terima kasih untuk tawaran kamu, tetapi kita sudah menghabiskan waktu satu hari yang penuh, sebaiknya tenaga kamu di simpan saja untuk proses selanjutnya," sahut Mila.
"Baiklah kalau begitu," sahut Ezra pasti sedikit kecewa karena ajakannya telah ditolak.
"Kami pulang terlebih dahulu. Assalamualaikum!" sapa Mila berpamitan pada keluarga calon besarnya itu.
"Walaikum salam," sahut mereka bertiga.
Ezra melihat kepergian Refisha memasuki mobil yang duduk di kursi belakang dan tidak sekalipun Refisha melihat dirinya, atau bahkan tersenyum dan berpamitan kepadanya.
"Kenapa dia semakin dingin? Ada apa sebenarnya? Apa jangan-jangan ada yang mengganggu pikirannya?" batin Ezra terlihat murung ketika melihat calon istrinya itu sangat dingin kepadanya.
"Kamu ingin ikut pulang bersama mereka Ezra?" tanya Rami ketika melihat putranya itu hanya diam saja.
"Apaan sih, ma," sahut Ezra kemudian langsung masuk mobil terlebih dahulu.
"Ayo kita pulang," sahut Dion juga ikut menyusul memasuki mobil.
*****
Ezra saat ini sedang berada di rumah sahabatnya Yogi.
"Memang cewek-cewek modelan seperti Refisha itu sangat wajar, wanita seperti itu bukan tipe wanita yang suka ditarik ulur dan apalagi dikejar-kejar, lagian kamu juga aneh bertingkah seperti itu dan padahal sebentar lagi akan menikah dengannya," ucap Yogi geleng-geleng kepala sembari bermain PS dengan Ezra.
"Tetapi kali ini tatapannya berbeda kepadaku, seperti terlihat ada keraguan besar di matanya, apa jangan-jangan dia tidak percaya bahwa aku bisa bertanggung jawab kepadanya dan menjadi imam yang baik untuknya," ucap Ezra.
"Lagian kamu juga lucu, nikahi cewek hanya karna penasaran dan sekarang malah berbicara tentang imam, awas Ezra nanti kamu sendiri yang justru terjerat dalam pernikahan dan kalau sudah terjerat sulit untuk lepas," sahut Yogi mengingatkan.
"Terus sekarang apa yang harus aku lakukan?"
"Ya sudahlah, kalian berdua saat ini sedang menjalani proses taaruf dan juga persiapan pernikahan, jadi lakukan saja sesuai dengan prosedur yang ada, tidak perlu ini dan itu, nanti yang ada Refisha akan semakin kesal dengan kamu dan dia akan semakin muak, mungkin bisa saja dia tiba-tiba membatalkan pernikahan," ucap Yogi.
"Baiklah, tetapi kalau sudah menikah dia tidak akan bisa menolak apa-apa, mungkin memang aku harus bersabar," ucap Ezra.
"Benar, kamu itu harus bersabar, bukan bersikap seperti ini, nanti juga kalau sudah menikah kamu bisa melakukan apapun kepadanya," ucap Yogi membuat Ezra menganggukkan kepala.
Bersambung.....