Empat tahun lamanya mengarungi bahtera rumah tangga, dan tepat di ulang tahun pernikahan yang seharusnya disambut bahagia, Arjanti harus menelan kecewa, dipaksa memberi izin suaminya menikah lagi.
Mertuanya terus menekan, melimpahkan kekurangan ada pada dirinya yang tak kunjung hamil, sementara mereka ingin segera menggendong cucu.
Sang suami yang awalnya menentang keras saat dipaksa menikah lagi, lama kelamaan setuju dengan alasan ingin menimang anak.
Pada akhirnya, Arjanti harus berbagi suami. Tinggal satu atap dengan wanita bermuka dua, berambisi menjadi istri tunggal.
Lantas, bagaimana kehidupan Arjanti pasca pria yang dicintai segenap jiwa itu menghadirkan wanita lain selain dirinya?
Apa benar kalau dia memang mandul?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cublik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DMWI : 08
“Minggu depan ada arisan di rumah, aku akan menjadi satu-satunya wanita yang tidak memakai perhiasan selain cincin kawin. Lama-lama malu, Mas. Masa istri dari pemilik toko bangunan sukses, penampilannya sangat sederhana, malah kalah sama mbak Astuti yang notabene pembantu di rumah ini,” selain ingin memuaskan rasa penasaran atas jawaban Herlan, Janti memang berniat meminta haknya.
“Uang sebanyak itu mana bisa mendadak, Janti. Harus nunggu awal bulan, saat perhitungan laba bersih dari keempat toko,” Herlan berkelit seraya matanya terbuka tertutup dengan bibir sedikit membuka menikmati tangan nakal di bawah sana yang sedang memanjakan kejantanannya.
“Oh, gitu … terus kalung berlian untuk lamaran Saila, belum lagi cincin emas, ditambah hantaran paket lengkap yang apabila di total menghabiskan dana hampir seratus juta, kenapa bisa mas menyediakan dalam satu waktu tanpa menunggu awal bulan? Kalau gak salah ingat, bukankah kalian menikah mendadak, pun karena perjodohan? Kenapa aku merasa ada yang janggal disini?” matanya berair, berbanding terbalik dengan senyum miring tersungging di bibir kering.
“Itu ....” seketika suara Herlan menghilang menyisakan keheningan. “Bukan Mas yang memenuhi syarat itu, tapi Mama.”
“Nah, itu ada uangnya? Kenapa pas aku mau minta 20 juta belum juga dipikir ulang, tanya dulu ke Mama, kamu langsung bilang gak ada? Bukankah kalian selalu menekankan, melarang aku memonopoli suami? Harus rela berbagi. Mengapa kalian sendiri bersikap bertentangan?” suaranya menuntut.
“Mas, selama kita menikah 4 tahun ini, apa pernah aku merengek minta dibelikan barang mahal, selain jatah bulanan 2 juta rupiah yang nominalnya harga mati itu?” ia tidak memberi kesempatan kepada pria yang kehilangan gairah, bahkan benda pusakanya kembali mengkerut.
“Kamu kenapa sekarang seperti ini, sih?” suara Herlan sedikit meninggi, namun Janti dapat mendengar kekhawatiran dibalik intonasi itu.
“Bukan aku yang kenapa, tapi sikap mas Herlan yang mulai timpang. Berat sebelah. Ingat sama janji sendiri yang menegaskan kalau adanya Saila, semua hal masih sama. Nyatanya belum juga hitungan hari, kamu mulai hilang ingatan,” ia ketus saat mengingatkan.
“Ini lagi diusahakan, Sayang?” Herlan menggeram. Dalam hati merasa bingung, tidak biasanya Arjanti bersikeras terkesan memaksa.
Saila mencebikkan bibir, melototi pria yang kehilangan gairah.
“Apanya yang diusahakan? Sementara ulang tahun pernikahan kita saja kamu gak ingat atau sengaja lupa? Sekarang mas Herlan mau kasih aku uang itu atau tidak?!” Janti meremas sprei hingga kusut. Rasa kesal mengendap seharian penuh dalam hati, dia luapkan.
“Sayang, Janti, maaf, Mas bukan sengaja lupa, tapi dikarenakan faktor banyak pikiran. Kamu tau sendiri —”
“Sayangnya aku gak mau tau, enggan tau, dan malas mencari tau!” Jemarinya menekan kuat tombol merah pada layar ponsel.
“Janti, sayang hey. Astaga!” Herlan terburu-buru turun dari ranjang, seolah lupa kalau dia dalam keadaan polos. Kembali menghubungi istri pertama, namun panggilannya langsung ditolak pada dering pertama.
Pria itu dilanda panik, dia telah melakukan kesalahan fatal.
“Ini tanggal berapa?” tanyanya entah kepada Saila atau diri sendiri, apa kamar hotel tempatnya menginap.
Herlan melangkah bolak-balik di dalam kamar yang lantainya dipenuhi taburan kelopak bunga Mawar.
“Jadi aku menikahi Saila disaat hari pernikahanku dengan Arjanti? Kenapa bisa?” ia bak orang bodoh melototi ponsel menyala yang menampilkan waktu, tanggal, bulan dan tahun.
“Saila?” Herlan memfokuskan perhatian ke wanita duduk bersandar di kepala ranjang. “Siapa yang memilih hari pernikahan kita?”
“Bukankah kita udah rembukan sebelumnya, Mas? Aku mengusulkan, kamu mengiyakan. Mengambil hari bertepatan dengan akhir pekan biar setelah akad langsung pergi bulan madu,” wajahnya seperti orang tidak bersalah.
“Sial!” Herlan meninju udara, lalu mengusap kasar rambut tebal terasa kaku karena helaian kasar.
Pria dilanda panik itu, masuk ke dalam kamar mandi.
Brak!
Saila terlonjak, sedetik kemudian mendengus sambil menggerutu. “Dasar wanita udik kurang ajar. Mengganggu kesenanganku saja!”
Hilang sudah rasa puas yang sempat merajai hati ketika tadi mengirim foto-foto mesranya dengan Herlan untuk menyakiti perasaan Arjanti.
“Awas kamu, ini baru permulaan. Masih banyak lagi kejutan susulan!” Tangannya mengepal. Netra hitam itu berkilat, sementara otak dipenuhi rencana licik.
***
Ting.
Sebuah notifikasi dan perbankan mengalihkan perhatian wanita tengah melamun sambil rebahan diatas kasur jauh lebih sempit dari kamar utama.
“Sepuluh juta rupiah. Ternyata lumayan juga untuk mengobati rasa kesal, sakit hati meski tidak akan sembuh dalam hitungan hari, namun aku merasa puas, setidaknya tidak nelangsa sekali,” gumam Janti. Dia baru saja menerima transferan dari suaminya.
Suamiku; Sayang, Mas minta maaf. Bukan tidak ingat hari spesial kita, cuma memang sengaja belum mengucapkan karena mau memberimu kejutan. Cintaku, terima kasih sudah menjadi istri penurut, berbakti selama 4 tahun ini. Happy anniversary.
“Pendusta!” Janti memekik. Kalimat Herlan tak lagi mampu menembus sanubari. Terasa pasaran. “Jelas-jelas tadi kamu seperti orang linglung pas aku ingatkan tentang tanggal dan bulan ini.”
Arjanti enggan membalas, sebaliknya dia membiarkan saja ponsel diatas ranjang.
Klik.
Grendel pintu penghubung digeser, dan anak kunci diputar, dibiarkan saja tersangkut.
Pintu kamar juga sudah dikunci. Lalu Arjanti masuk ke kamar mandi guna gosok gigi dan membasuh muka.
Setelah selesai urusan di kamar mandi, Janti memilih langsung tidur daripada keluar kamar. Dia melewatkan makan malam, dan memang sedang tidak berselera. Sedari pagi sampai malam cuma makan sebungkus roti selai kacang, dan Apel satu buah.
“Biar Ibu diurus Bapak,” sebelum naik ke atas kasur, Janti bergumam.
Wanita yang hampir tidak pernah absen mengurus ibu mertua sampai Darti memejamkan mata, malam ini sengaja melewatkan rutinitas nya.
Biasanya sebelum tidur, Janti membopong Darti masuk ke kamar mandi. Menunggui wanita bermulut jahat itu gosok gigi, cuci muka, buang air kecil.
Lampu dimatikan, seketika ruangan kehilangan cahaya. Janti terbiasa tidur dalam keadaan kamar gelap.
“Semoga besok jauh lebih baik dari hari ini. Terima kasih ya Rabbi, atas perlindungan, kebaikan, dan kesehatan yang Engkau anugerahkan kepada hamba,” Matanya kian sayu, dan sesaat kemudian rasa kantuk membuainya ke alam mimpi.
***
“Arjanti! Janti!” Darti menjerit sekuat tenaga. Kekesalannya memuncak. Sedari tadi memanggil nama sang menantu, tak juga membuahkan hasil. Sementara dia sesak buang air kecil.
Tok!
Tok!
Doko mengetuk, lalu menggedor pintu penghubung. “Janti, Ibu mau ke kamar mandi. Kakinya juga belum kamu pijat!”
Pintu kembali digedor, namun tidak ada tanda-tanda Arjanti menanggapi maupun masuk ke kamar sebelah.
“Menantu durhaka!” Darti kesalnya bukan main. Diraihnya ponsel pada meja nakas, lalu menghubungi Herlan.
Pada dering ke dua sudah langsung diangkat. Gegas dia mengadu. “Bilangin si Janti, suruh ke kamar Mama. Dia lagi nyamar jadi orang budek, sengaja tidak mau mengerjakan tugasnya merawatku!”
Entah apa jawaban diujung sana, yang jelas membuat wajah wanita yang sudah memerah dikarenakan menahan amarah, kini bertambah merah.
“Janti!” Darti berteriak kencang. Melempar bantal ke lantai, meluapkan emosi. “Keluar kamu! Jangan jadi orang tuli, aku tau dirimu belum tidur!”
.
.
Bersambung
suatu hari nanti si Herlan akan menyesal karena udh menyia2 kan kamu Janti
pasti tu anak yg dikandung saila bukan anak si Herlan
bukan Janti yg salh tapi si Herlan lh tak bisa memberikan keturunan