Setelah akar spiritual emasnya dirampas secara paksa oleh sepupunya sendiri dan tubuhnya dibuang ke Jurang Abu Api, Lin Xuan—seorang pemuda klan cabang yang sekarat—justru menyatu dengan Tungku Abu Takdir peninggalan zaman purba. Dari abu kehancuran, ia menempuh jalur kultivasi terlarang yang mampu melebur kutukan, meracik pil dari racun mematikan, dan menebas tatanan langit yang korup.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syahriandi Purba, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23
Begitu keluar dari mulut Ngarai Angin Hitam, pemandangan megah yang belum pernah terlihat di Kota Awan Merah langsung terbentang di hadapan mata Lin Xuan.
Di kejauhan, sembilan puncak gunung raksasa yang menjulang menembus lautan awan putih tampak berdiri gagah bagaikan sembilan pedang dewa yang menopang langit. Di antara puncak-puncak gunung tersebut, terlihat bangunan-bangunan istana megah yang melayang di atas formasi awan serta siluet para kultivator tingkat tinggi yang terbang melintasi langit menggunakan pedang roh.
Itulah Sekte Awan Biru—salah satu dari Enam Sekte Penguasa Wilayah Timur yang telah berdiri selama lebih dari tiga ribu tahun!
Dan tepat di kaki pegunungan raksasa itu, berdiri Kota Gerbang Awan, sebuah kota benteng kolosal dengan dinding batu setinggi tiga puluh tombak yang hari ini dipadati oleh puluhan ribu kultivator muda dari ratusan kota di seluruh penjuru Wilayah Timur.
Besok pagi adalah hari pembukaan Ujian Penerimaan Murid Baru Tahunan Sekte Awan Biru.
Saat Lin Xuan melangkah mendekati gerbang selatan Kota Gerbang Awan, tampak kerumunan pemuda-pemudi berbakat sedang berkerumun di depan sebuah papan pengumuman batu di samping pos penjagaan kota.
Di dekat papan pengumuman itu, empat orang murid luar Sekte Awan Biru yang mengenakan jubah biru muda sedang berdiri dengan dagu terangkat tinggi sambil mengamati setiap pemuda yang lewat.
"Heh, dengar-dengar Diakon Lin Cang dari Paviliun Penegak Hukum sedang mencari seorang bocah bernama Lin Xuan dari Kota Awan Merah," bisik salah seorang kultivator muda di kerumunan. "Katanya siapa pun yang berhasil mematahkan kaki bocah itu sebelum ujian besok akan diberi hadiah seribu Batu Roh dan rekomendasi langsung menjadi murid luar!"
"Sayang sekali bocah bernama Lin Xuan itu pasti tidak akan pernah sampai ke kota ini," tawa salah satu murid luar Sekte Awan Biru yang berjaga di pos gerbang. "Tiga hari lalu, Komandan Du dari Tentara Bayaran Serigala Darah sudah membawa tiga puluh anak buahnya untuk mencegat di Ngarai Angin Hitam. Jangankan bocah enam belas tahun dari kota kecil, kultivator Pembukaan Meridian Lapis Enam pun pasti sudah menjadi kotoran serigala di sana!"
Tepat saat tawa keempat murid luar Sekte Awan Biru itu menggema—
Buk!
Sebuah bungkusan kain kelabu yang masih meneteskan darah segar dilemparkan dengan santai dari tengah jalan dan menggelinding berhenti tepat di depan kaki keempat murid luar tersebut!
Ikatan kain itu terbuka, memperlihatkan lencana besi bergambar serigala yang terbelah dua beserta kapak patah milik Komandan Du!
Seluruh kerumunan di depan gerbang kota langsung terdiam serempak dan membuka jalan.
Di tengah jalan batu yang terbuka itu, seorang pemuda berjubah hitam dengan Pedang Abu Hitam di punggungnya melangkah maju dengan tenang. Sorot matanya yang jernih dan sedingin bintang malam menatap lurus ke arah keempat murid luar Sekte Awan Biru yang wajahnya langsung berubah pucat.
"Tidak perlu repot-repot mencari ke Ngarai Angin Hitam," ucap Lin Xuan dengan suara tenang yang terdengar jelas oleh ratusan orang di depan gerbang kota. "Aku adalah Lin Xuan dari Kota Awan Merah. Sampaikan kepada Diakon Lin Cang dan putranya, Lin Tianhao... aku sudah tiba di bawah kaki gunung merek
Kabar bahwa seorang pemuda berusia enam belas tahun bernama Lin Xuan telah memenggal kepala Komandan Du dari Tentara Bayaran Serigala Darah dan melemparkan lencananya di depan gerbang kota menyebar secepat angin di seluruh Kota Gerbang Awan.
Malam itu, di aula lantai dua Penginapan Awan Langit—salah satu penginapan terbesar di pusat kota—Lin Xuan duduk menikmati makan malam dengan tenang di meja dekat jendela.
"Haha, Saudara Lin, kau benar-benar luar biasa! Baru pertama kali aku melihat peserta ujian yang berani menampar wajah Paviliun Penegak Hukum bahkan sebelum menginjakkan kaki di gerbang sekte!"
Seorang pemuda bertubuh bulat gemuk dengan jubah sutra biru keemasan duduk di seberang meja sambil menyodorkan sepoci arak bambu. Pemuda itu bernama Pang Dahai, putra bungsu dari Serikat Dagang Lautan Harta yang juga datang untuk mengikuti ujian Sekte Awan Biru. Karena kamar penginapan penuh, Lin Xuan mengizinkan pemuda ramah itu berbagi meja makan dengannya.
"Mereka yang lebih dulu menaruh harga di atas kepalaku," jawab Lin Xuan santai sambil menyesap tehnya. "Ngomong-ngomong, Saudara Pang, kau tampaknya cukup mengenal struktur kekuatan di dalam Sekte Awan Biru?"
Pang Dahai mencondongkan tubuhnya dan merendahkan suaranya. "Keluargaku berdagang batu roh dengan Sekte Awan Biru selama puluhan tahun, jadi aku tahu betul seluk-beluknya. Sekte Awan Biru memiliki Sembilan Puncak Utama. Puncak Pertama adalah Puncak Awan Tengah milik Ketua Sekte; Puncak Ketiga adalah Puncak Penegak Hukum tempat musuhmu, Diakon Lin Cang dan Tetua Zhao Wuji, bercokol; sedangkan Puncak Kelima adalah Puncak Alkimia."
"Bagaimana dengan Puncak Kesembilan?" tanya Lin Xuan, teringat satu puncak gunung yang tampak paling sunyi dan diselimuti kabut kelabu saat ia memandang dari luar kota tadi siang.
Pang Dahai bergidik pelan. "Jangan sekali-kali memilih Puncak Kesembilan, Saudara Lin! Itu adalah Puncak Pedang Patah. Lima puluh tahun lalu puncak itu adalah puncak pedang terkuat di sekte, tapi setelah para pendekarnya gugur dalam perang kuno, kini di sana hanya tersisa seorang tetua tua pemabuk yang tidak pernah mengajar murid dan tidak mendapat jatah batu roh bulanan dari sekte!"
Belum sempat Lin Xuan menanggapi, suara langkah kaki kasar puluhan orang terdengar menaiki tangga kayu lantai dua penginapan.
Brak!
Meja di sebelah Lin Xuan ditendang hingga terbalik. Seorang pemuda berjubah brokat perak dengan kipas besi di tangannya melangkah maju, dikawal oleh enam orang murid luar Sekte Awan Biru. Pemuda itu memancarkan aura Alam Pembukaan Meridian Lapis Enam yang cukup kuat.
"Dia adalah Zhao Feng, keponakan kandung Tetua Zhao Wuji!" bisik Pang Dahai cepat dengan wajah berubah pucat. "Kudengar dia sudah berlatih di kaki gunung selama setahun dan dijagokan masuk sepuluh besar ujian besok!"
Zhao Feng menatap Lin Xuan dari atas ke bawah dengan sorot mata menghina, lalu menutup kipas besinya dengan bunyi klak yang nyaring.
"Jadi kau bocah kampung dari Kota Awan Merah yang bernama Lin Xuan?" cibir Zhao Feng angkuh. "Pamanku, Tetua Zhao Wuji, dan Diakon Lin Cang menitipkan salam untukmu. Mereka bilang, jika kau berlutut di sini, menyerahkan pedang di punggungmu, dan mematahkan satu tanganmu sendiri malam ini, mereka mungkin akan mengizinkanmu pulang hidup-hidup sebagai pengemis."
Para pengunjung di lantai dua penginapan langsung menyingkir ke sudut ruangan, menatap Lin Xuan dengan tatapan iba. Menyinggung keponakan Tetua Pengawas Ujian dan Diakon Penegak Hukum sekaligus adalah mimpi buruk bagi peserta mana pun!
Lin Xuan meletakkan cangkir tehnya perlahan di atas meja, lalu menatap Zhao Feng dengan tatapan datar.
"Pamanmu sendiri lari terbirit-birit dari Kota Awan Merah bulan lalu saat kutantang," ujar Lin Xuan tenang. "Sekarang dia malah mengirim keponakannya yang baru mencapai Lapis Enam untuk menggonggong di depanku?"
Wajah Zhao Feng langsung menggelap. "Cari mati! Anak-anak, patahkan keempat anggota tubuhnya dan lempar dia keluar jendela!"
Enam murid luar Sekte Awan Biru bersama Zhao Feng serempak menerjang maju. Zhao Feng sendiri mengayunkan kipas besinya yang mengeluarkan belasan bilah angin tajam ke arah leher Lin Xuan!
Lin Xuan bahkan tidak berdiri dari kursinya, apalagi menghunus bilah Pedang Abu Hitam.
Tangan kanannya hanya mengayunkan sarung pedang hitam di punggungnya dalam satu sapuan setengah lingkaran!
BUUUK! KRAAAK!
Gelombang Qi Abu yang padat dan seberat gunung meledak dari ujung sarung pedang tersebut. Bilah-bilah angin milik Zhao Feng hancur seketika, diikuti bunyi kipas besinya yang bengkok tak berbentuk!
"Aaaargh!"
Zhao Feng bersama keenam murid luar itu terpental mundur sekaligus, menabrak pagar kayu balkon lantai dua hingga jebol dan jatuh berdebam ke jalanan batu di bawah penginapan!
Di jalanan bawah, Zhao Feng memuntahkan seteguk darah segar dengan tiga tulang rusuk patah dan dada yang menghitam akibat benturan Qi.
Lin Xuan berdiri di tepi balkon lantai dua yang jebol, menatap ke bawah dengan mata sedingin es malam.
"Besok pagi di Gerbang Sembilan Ribu Tangga, jika ada lagi anjing suruhan Zhao Wuji atau Lin Cang yang berani menghalangi jalanku... yang patah bukan lagi tulang rusuk, melainkan leher kalian."