Sinopsis
Zain Arvendra Atmaja, seorang remaja yang seakan tak pernah lelah terlibat masalah di sekolahnya. Setelah berbagai kejadian yang menumpuk, ayahnya akhirnya mengambil keputusan Zain harus pindah ke sebuah SMA berbasis asrama yang dikenal mampu membimbing anak-anak yang sedang kehilangan arah.
Awalnya Zain menolak keras. Namun seiring berjalannya waktu, ia perlahan mulai menerima kenyataan itu. Di asrama inilah ia bertemu dengan Vanya, seorang gadis ceroboh yang dengan polosnya kerap menyeret Zain ke dalam berbagai situasi baru yang tak terduga.
Cerita terasa semakin rumit ketika Keira Cattleya Wiratama, kekasihnya yang selama ini jauh dari sana, tiba-tiba memutuskan untuk pindah ke asrama yang sama pula.
Tiga orang, satu atap, dan hati-hati yang mulai saling bersilang. Bagaimana kelanjutan cerita mereka ? Baca selengkapnya !
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon indah Mayaddah f, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 10 LANGKAH MEMPERBAIKI DIRI
Setelah percakapan sore itu, suasana di Kamar 203 berubah menjadi lebih hangat. Mereka tidak lagi saling menutupi apa-apa, Zain pun merasa lebih ringan, seolah beban di dadanya telah berkurang sedikit. Namun satu hal yang masih membuatnya berat, hubungannya dengan Keira dan Vanya yang sedang renggang.
Suatu pagi, saat semua siswa berkumpul di halaman untuk upacara bendera, Zain melihat Keira berdiri sendirian di baris paling belakang sambil menunduk dan memilin ujung seragamnya. Wajahnya terlihat pucat dan tidak tidur nyenyak, hati Zain terasa berdenyut pelan. Ia tahu, menghindar tidak akan menyelesaikan apa pun.
Setelah upacara selesai, Zain berjalan mendekat.
"Keira" Panggil Zain pelan.
Keira menoleh, matanya terlihat lelah namun saat melihat Zain, ada kilatan harapan di sana.
"Ada yang ingin kamu katakan ?" Tanya Keira
"Bisakah kita bicara sebentar di taman belakang sebelum masuk ke kelas ?" Tanya Zain dengan nada yang lembut namun tegas.
Keira mengangguk pelan, di taman yang sepi itu mereka duduk di bangku kayu yang sama tempat mereka pertama kali berbicara serius setelah pertengkaran di kantin.
"Aku sudah banyak berpikir beberapa hari ini, Keira" Ucap Zain membuka suara
"Aku tidak bermaksud menjauh darimu, tapi aku juga tidak ingin kita terus-menerus bertengkar karena hal yang bisa dihindari. Vanya memang teman dekatku, dan aku tidak bisa menjauhinya begitu saja tanpa alasan yang jelas tapi itu tidak berarti perasaanku padamu berubah" Lanjut Zain
Keira menatapnya lekat-lekat, lalu air mata perlahan mengalir di pipinya.
"Maafkan aku, Zain. Aku tahu aku salah, aku hanya takut kehilanganmu. Di kotaku dulu, aku tidak punya teman dekat selain kamu. Saat aku pindah ke sini dan melihat kamu sudah punya dunia yang tidak aku kenal, aku merasa tersisih. Itu bukan alasan untuk bersikap tidak menyenangkan padamu maupun Vanya. Aku akan berusaha lebih baik, aku janji" Kata Keira
Zain tersenyum tipis, lalu menyeka air mata di pipi gadis itu.
"Aku percaya padamu, Leya. Tapi percayalah rasa aman tidak datang dari menguasai seseorang, tapi dari mengetahui bahwa dia memilihmu setiap hari dengan sukarela. Kita belajar bersama-sama ya, untuk menjadi lebih baik" Jawab Zain
Keira tersenyum tulus untuk pertama kalinya sejak kejadian di kantin.
"Terima kasih, Zain. Kamu selalu bijaksana, ku akan minta maaf pada Vanya juga" Ucap Keira
Setelah berpisah dengan Keira, Zain berjalan menuju perpustakaan. Ia tahu ada hal lain yang juga perlu diselesaikan, Vanya sedang duduk di sudut yang sama seperti biasanya sambil membaca buku dengan tenang. Saat melihat Zain mendekat, ia terlihat ragu apakah harus pergi atau tetap di sana.
Zain tersenyum ramah namun sopan.
"Boleh aku duduk sebentar ?" Tanya Zain
Vanya mengangguk pelan, Zain duduk di kursi di hadapannya, menjaga jarak yang nyaman.
"Aku datang untuk berterima kasih sekaligus meminta maaf lagi" Ucap Zain tulus.
"Terima kasih sudah mengerti situasiku, dan maaf kalau beberapa hari ini aku terasa menjauh. Keira juga ingin minta maaf padamu. Dia sedang berusaha menyesuaikan diri" Lanjut Zain
Vanya tersenyum lembut.
"Tidak perlu minta maaf, Zain. Aku mengerti posisimu, aku tidak akan mengganggu kedamaian kalian. Kalau suatu saat kalian butuh teman, aku ada di sini. Kalau tidak, aku tetap baik-baik saja kok" Jawab Vanya
Kata-kata Vanya membuat hati Zain terasa hangat sekaligus sedikit perih, gadis ini begitu tulus tanpa menuntut apa pun.
"Kamu tidak mengganggu, justru kehadiranmu membuat suasana di sini lebih ringan. Semoga kita tetap bisa berteman dengan nyaman untuk kita bertiga ya" Ucap Zain
Vanya mengangguk dengan senyum yang tulus.
"Semoga juga, sekarang pergilah. Keira pasti sudah menunggumu di depan kelas" Jawab Vanya
Zain berdiri, merasa lebih tenang dan melangkah keluar dari perpustakaan terasa lebih ringan. Ia tahu perjalanan ini masih panjang, dan tidak akan selalu mulus. Tapi setidaknya sekarang, mereka berjalan ke arah yang sama ke arah kedamaian, ke arah saling memaafkan.
😏 jdi jalanin seadanya aja, gk usah milih
hehe pis ya mas Zain...