NovelToon NovelToon
LENTERA

LENTERA

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Romansa Fantasi / Action
Popularitas:18.3k
Nilai: 5
Nama Author: Sinho

Satu lagi cerita tentang salah satu Garis Keturunan Keluarga Nugraha hadir kembali, Sean, laki-laki yang mengalami kecacatan pada kekuatan Supranatural nya bisa di sempurna kan kembali tanpa terduga, dengan sosok Wanita biasa yang mempunyai tekad kuat di tengah kepungan keterpurukan perekonomian keluarga, bagaimana kelanjutan ceritanya?, yuk kita ikuti_

Salam Autor Sinho, semangat, sehat dan jangan lupa Bahagia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sinho, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

26. SUMPIT YANG TERTUKAR

Aroma kuah bakso ayam yang mengepul dari mangkuk plastik murahan di pojok meja pantri UGD siang itu mendadak terinterupsi oleh ketukan tegas pada pintu kaca.

Lentera, yang sedang bersiap menusuk sebutir bakso dengan garpu plastiknya, mendongak dengan pipi yang sedikit menggembung.

Pintu geser itu terbuka sepenuhnya, menampilkan sosok Sean yang melangkah masuk tanpa suara dengan setelan kemeja linen berwarna biru pucat.

Di tangan kanannya yang kokoh, pria itu membawa sebuah termos mini berlapis kulit premium sewarna arang yang langsung diletakkannya tepat di samping mangkuk bakso Tera.

"Tuan Sean," Tera menelan makanannya dengan cepat, buru-buru meraih selembar tisu tipis untuk menyeka sudut bibirnya yang sedikit terkena kuah. "Ini jam satu siang, dan ini ruang istirahat staf medis bawah yang sempit. Jika Anda ke sini lagi untuk urusan pelipis berdenyut atau mencari tempat tidur cadangan, mohon maaf, kuota konsultasi gratis Anda sudah habis sejak kemarin sore."

Sean menarik kursi lipat besi di seberang meja. Dia mendudukinya dengan postur tubuh yang tegak sempurna, membuat ruangan pantri yang tadinya biasa saja mendadak terasa seperti ruang rapat direksi yang dihadiri para pemegang saham asing.

"Saya tidak mengeluh tentang pelipis saya hari ini, Dokter Tera. Saya ke sini untuk mengantarkan penawar rasa pedas." Sean menjawab dengan ekspresi sedatar papan tulis.

Tera mengernyitkan alisnya, menatap termos mini berlapis kulit itu dengan pandangan penuh selidik.

"Penawar rasa pedas? Aku bahkan belum menuangkan sambal ke mangkuk baksoku, bagaimana kamu bisa tahu?"

"Sambal di kantin bawah memiliki kadar capsaicin yang terlalu tinggi untuk lambungmu yang belum terisi sejak pagi," jawab Sean datar, seolah sedang membacakan laporan analisis pasar kuartal pertama.

Dia membuka tutup termos tersebut secara perlahan, mengeluarkan aroma susu almond hangat yang dipadukan dengan madu hutan murni. "Minum ini setelah baksomu habis. Tanpa tapi."

Tera hanya bisa menggelengkan kepalanya dengan heboh, sebuah tawa kecil yang konyol lolos dari bibirnya.

"Tuan Kaku, kamu ini sebenarnya direktur utama rumah sakit atau malaikat pengawas kalori pribadiku? Kenapa hal sekecil sambal bakso saja harus masuk ke dalam agenda pengawasan Nugraha Group? Apa tidak ada korporasi lain yang bisa kau akuisisi hari ini?"

"Aku hanya memastikan aset medis terbaik saya tidak mengalami gastritis akut di tengah jam kerja," ucap Sean tenang.

Matanya menatap tajam ke arah jemari mungil Tera yang sedang memegang garpu plastik dengan erat. "Jika kau tumbang, efisiensi UGD minggu ini akan turun sebesar dua belas persen berdasarkan data yang aku terima."

"Aset medis terbaik? Bilang saja kamu takut kehilangan charger baterai gratisanmu ini kalau aku sampai sakit perut!" cetus Tera tanpa filter sama sekali.

Tepat saat kalimat itu terucap, seorang perawat muda berniat masuk ke pantri untuk mengambil air minum. Namun, begitu melihat Sean yang duduk tegak menatap Tera di dalam ruangan sempit itu, sang perawat langsung membatalkan niatnya.

Wajahnya pucat pasi, lalu dia buru-buru mundur dan kabur seolah baru saja melihat penampakan makhluk halus.

"Lihat itu," Tera mendengus, menunjuk pintu dengan garpunya. "Aura es kaku mu itu membuat seluruh staf ku ketakutan. Bisa-bisa mereka mengira kau sedang menginterogasi maling obat."

"Aku tidak sedang menginterogasi. Aku sedang mengawasi mu makan," sahut Sean acuh tak acuh.

Tera mengabaikan omongan itu dan berniat mengambil sumpit bambu cadangannya di dalam laci meja untuk memakan mie kuning yang mulai mengembang di mangkuknya.

Dia menarik pegangan laci, tetapi benda kayu itu macet total. Tera mencobanya lagi dengan dua tangan hingga kursinya berderit, tetapi laci itu tetap bergeming.

"Laci sialan," umpat Tera pelan.

Karena terlanjur lapar dan kesal, Tera secara refleks menjulurkan tangannya menyeberangi meja kecil itu.

Tanpa permisi, dia merebut sepasang sumpit stainless steel dekoratif yang menyembul dari kantong jas kemeja Sean.

Sumpit dengan ukiran geometris minimalis itu sebenarnya dibawa Sean hanya sebagai pelengkap estetika pulpen kerjanya, bukan alat makan fungsional.

"Pinjam sumpit mu ya! Sumpit bambuku terkunci di dalam laci yang pelit ini," ucap Tera dengan sangat santai. Tanpa beban, dia langsung menggunakan sumpit mewah berlogo grafir keluarga Nugraha itu untuk menjepit mie kuning dan menyuapnya ke dalam mulut dengan lahap.

Sean tertegun sejenak. Dia menatap sepasang sumpit pribadinya yang kini berpindah tangan dan digunakan oleh Tera dengan sangat alami tanpa ada rasa canggung sedikit pun.

Di dunia elit Sean, menggunakan barang pribadi orang lain tanpa sterilisasi adalah pelanggaran protokoler kebersihan yang sangat serius.

Asisten pribadinya bahkan harus menggunakan sarung tangan khusus saat merapikan meja kerjanya. Namun, melihat bagaimana pipi Tera bergerak maju-mundur mengunyah mie dengan lahap menggunakan sumpitnya, sebuah rasa gemas yang sangat pekat kembali merayap di dada Sean, meruntuhkan dinding pembatas higienitas yang selama puluhan tahun dia bangun.

"Bagaimana rasa baksonya?" tanya Sean, nadanya sedikit melunak, meski wajahnya tetap se datar patung lilin.

"Enak! Kuahnya gurih, dagingnya terasa," jawab Tera dengan mulut yang masih setengah penuh. "Tapi akan lebih sempurna kalau ditambah dua sendok sambal rawit ini."

Tangan Tera sudah bergerak lincah hendak meraih botol sambal kaca yang berada di ujung meja. Namun, gerakannya langsung terhenti di udara saat melihat tatapan mata gelap Sean yang menyipit tajam.

Ada kilatan penuh peringatan di sana yang sanggup membuat nyali seorang manajer investasi ciut seketika.

Tera mendengus pasrah, menarik kembali tangannya dengan bibir yang mengerucut sebal. "Baik, baik! Satu sendok saja! Setengah sendok kalau kau masih mau melotot seperti itu! Dasar patung es yang otoriter!"

"Setengah sendok atau saya buang mangkuk itu ke tempat sampah medis," ancam Sean, tapi tangannya justru bergerak mendekatkan botol sambal itu ke arah Tera, seolah memberi izin dengan syarat yang ketat.

Tera buru-buru mengambil sedikit sambal dengan ujung sendok, lalu mengaduknya ke dalam kuah bakso.

"Kau tahu, Tuan Sean? Makan tanpa sambal itu seperti membaca laporan keuangan tanpa angka keuntungan. Hambar dan tidak ada tantangannya."

"Makan dengan sambal berlebih saat perut kosong adalah bentuk kecerobohan" balas Sean.

Dia memperhatikan bagaimana Tera mulai berkeringat tipis di dahi akibat suhu kuah yang panas. Tanpa sadar, Sean meraih tisu baru dan meletakkannya di dekat tangan Tera.

Dinamika konyol itu terus berjalan di dalam ruang pantri yang sempit dan berbau gurih tersebut. Tera dengan segala kepolosan, kunyahan lahap, dan celotehannya yang tanpa beban, secara tidak sadar terus menyalurkan energi hangat yang menenangkan ke udara di sekitar mereka.

Tiap kali Tera tertawa atau mengomel karena dilarang menambah sambal, rasa penat di kepala Sean akibat rapat maraton sejak pagi hari perlahan sirna.

Radius kedekatan mereka memancarkan semacam frekuensi tidak kasat mata yang menstabilkan detak jantung Sean yang biasanya selalu berpacu cepat karena stres kerja.

Sean menyandarkan punggungnya ke kursi lipat yang tipis, mengabaikan fakta bahwa setelan linen mahalnya bergesekan dengan besi berkarat.

Di matanya, waktu satu jam yang dihabiskan di dalam pantri bawah yang pengap ini terasa jauh lebih berharga daripada seluruh nilai transaksi bisnis bernilai jutaan dolar yang menunggunya di lantai atas Nugraha Tower.

"Kenapa kau terus menatapku?" tanya Tera, menghentikan sumpitnya di udara, merasa risi karena terus diperhatikan. "Apa ada sisa mie di hidungku?"

"Tidak ada," jawab Sean pendek. "Saya hanya sedang mengalkulasi berapa lama waktu yang kau butuhkan untuk menghabiskan makanan porsi anak-anak ini."

"Ini porsi besar, tahu! Kau saja yang terbiasa makan di restoran bintang lima dengan porsi estetik yang hanya seukuran dua suapan," cibir Tera.

Dia kembali menyuap bakso terakhirnya dengan kemenangan mutlak, lalu segera meraih termos susu almond pemberian Sean.

Begitu cairan hangat itu melewati tenggorokannya, rasa hangat yang lembut langsung menenangkan lambungnya.

Tera tersenyum puas, menatap Sean dengan mata berbinar. "Oke, kali ini kuakui prediksimu tepat. Susu ini enak sekali. Terima kasih, Tuan Malaikat Pelindung Lambung."

Sean hanya menaikkan satu sudut alisnya, menyembunyikan senyuman tipis yang hampir saja pecah di wajah kakunya.

Yuk komen jangan lupa ya.

1
Siti Aisah
tera terenyuh oleh ketulusan sean, jadi tera kamu bukan alat untuk menyempurnakan kekuatan sean...tpi sudah takdir ya thor🤗
Siti Aisah
ci muka retak jgan menyakiti tera.. sean akan murka 🤭
Siti Aisah
tera tenang sean sedang memantau keadaan..
Siti Aisah
tenang sera sean ikut dalam rombongan jdi pasti di lindungi ..
Kaa
semoga sampai ke jenjang pernikahan tera sean lanjut thor👍
Kaa
kekuatan Sean mungkin campuran kekutan mominya ya driyana
Kaa
apa ada kekuatan lain dari tera selain aliran penenang tuan Sean lawan Sera gunakan kekuatan mu lanjut thor
Nurul Ambar
semoga hidup bahagia
Nurul Ambar
akhirx....
Nurul Ambar
sean datang
Nurul Ambar
deg deg an smga baik2 saja
Mety Haula
kayanya nanti muksnya buksn retak lahi malah berbalik kebelskang tenang tera tuan sean psdti datang apa yg nyusup ke rs dr klan hitam blm ketahusn ya
Mety Haula
alhamdullilah akhirnya yera luluh juga hatinya semoga kedepannya berjalan mulus langsung tancap mks
Novita Sari
Alhamdulillah tera menerima sean.....
Endang Hidayanti
so sweet bgt Sean, 😍
Novita Sari
si muka retak salah pilih lawan
Novita Sari
tenang tera kekuatan sean udah sempurna..
Novita Sari
si muka retak gak kapok kapok muka udah jelek masih sok sokan
Tri Hastuti
baru bab awal udh tegang
sean anaknya siapa ini?
Rita Susanti
sedikit banget sih thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!