Bima Arka Pradipta , anak dari keluarga sederhana di pinggiran Manado. Keras kepala, tidak banyak bicara di luar lapangan tapi meledak-ledak di dalam lapangan. Hamstring putus , pensiun umur 34 tahun. Dikenal karena tendangan bebas melengkungnya dan loyalitasnya sama tim. Dari anak kampung yang main bola pakai kaki ayam -> ditolak akademi karena dianggap terlalu emosional -> bangkit setelah cedera parah di musim hujan -> jadi kapten yang mengangkat tim degradasi jadi juara.
"Bukan tentang seberapa keras kau terjatuh, tapi seberapa lama kau tetap berdiri di tengah hujan."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SelToon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 29 Bima Pensiun Umur 34 & Pulang - Sinar Bima Bisa Melaut Lagi
Bima umur 34 tahun.
Hamstring kiri putus. Di menit ke 71. Celtic vs Kilmarnock. Laga biasa , bukan final. Bima lari 11 Km seperti biasa , mau kejar bola , tiba - tiba belakang paha bunyi pletak.
Dia jatuh di rumput hijau Celtic Park yang mahal , yang tidak berlumpur seperti di Tikala. Tidak ada yang injak dia. Dia jatuh sendiri.
Dokter Celtic bilang "Bima , you need 8 months. You are 34. Maybe... maybe it's time."
Kata "maybe it's time" itu yang paling sakit. Lebih sakit daripada hamstring putus.
Bima sudah 9 tahun di Glasgow. Main 210 pertandingan untuk Celtic. 2 kali juara Liga Skotlandia. 1 gol di Piala Dunia 2038 lawan Argentina. No 7 sudah jadi legenda di Tuminting , tapi di Glasgow cuma jadi "that Indonesian guy who runs a lot."
Kontraknya habis di bulan Juni 2042. Celtic tidak perpanjang. Tidak ada klub Skotlandia lain yang mau ambil pria berumur 34 tahun yang kaki kiri , hamstringnya putus.
Agennya tawar "Bima , ada klub Liga 2 Indonesia mau , gaji Rp 50 juta."
Bima menjawab "Tidak. Saya pulang."
Pulang. Kata itu 16 tahun tidak dia pakai secara permanen. Selama ini dia pulang cuma pada bulan Desember libur 2 minggu.
April 2042 , Bima naik pesawat terakhir Glasgow - Jakarta - Manado. Economy. Tidak ada Business Class lagi. Kopernya cuma 1. Isinya bukan sepatu bola. Isinya diary kecil yang sudah penuh , dan kemeja nelayan Kroasia dari Simic yang sudah dia pakai di Glasgow setiap musim dingin.
Sampai di Tuminting. Tidak ada yang jemput pakai spanduk. Tidak ada wartawan. Cuma Bapak yang pakai kemeja nelayan yang sama sudah robek di bagian ketiak , Ibu , Yudi yang sekarang sudah botak juga , Joshua yang sudah jalan tanpa kruk tapi pincang , dan 12 anak Tikala yang sekarang sudah umur 22 - 23 tahun , bukan anak - anak lagi.
Ronald yang berada paling depan. Umur 19 tahun sekarang. Sudah tidak pakai no 40 lagi. Pakai no 10 Manado United Senior. Dia yang sekarang menjadi bintang.
"Om Bima " Ronald peluk. Bau keringatnya sama seperti Bima dulu waktu umur 12 tahun.
Sinar Bima di depan rumah masih ada. Tapi catnya sudah pudar. Tulisan Joshua "SEKOLAH BOLA GRATIS" sudah terkena air hujan , hampir hilang. Tulisan Marko Simic "FROM HVAR TO TUMINTING" masih ada , tapi ikan kecil gambarnya sudah jadi lumut.
Bima melihat perahu itu. 16 tahun sudah menjadi museum dan sekolah bola , tidak pernah melaut.
Bapak berkata "Bim , perahu sudah keropos. Bawahnya bocor. Tidak bisa melaut lagi."
Bima tidak menjawab. Malam itu dia tidak tidur di rumah panggung. Dia tidur di atas Sinar Bima. Sama seperti dulu waktu umur 10 tahun , takut Bapak tidak pulang melaut.
Pagi jam 5 , Yudi masih bangunkan anak - anak untuk lari pagi. Tapi anak - anaknya sudah berbeda. Bukan 12 anak yang dulu. 12 anak yang dulu sekarang sudah menjadi : 3 jadi pemain Liga 2 , 2 jadi ojek ( Yudi gagal untuk 2 orang ) , 1 jadi koki kapal pesiar ( Aldo ) , 1 jadi agen ( Farrel yang pulang juga ) , dan 5 masih latihan.
Ronald yang sekarang jadi pelatih kecil untuk gantikan Yudi.
Bima melihat Ronald berteriak "LARI! JANGAN JADI SAYA!"
Kalimat Yudi yang sama saat umur 16 tahun.
Bima putuskan.
Minggu pertama pensiun , Bima tidak jadi pelatih. Dia menjadi tukang perahu.
Dia pinjam palu , paku , cat biru putih dari toko bangunan Tikala. Utang dulu , Rp 700 ribu.
Setiap hari jam 6 pagi sampai jam 6 sore , dia perbaiki Sinar Bima. Bawahnya yang bocor ditambal pakai kayu baru. Cat ulang warna biru dan putih. Tulisan Joshua dia cat ulang lagi , lebih besar. Tulisan Simic dia biarkan lumutnya , tidak dihapus.
Anak - anak Tikala melihat. "Om Bima jadi tukang perahu ?"
Ronald membantu , Joshua membantu , walau kaki masih pincang. Yudi membantu angkat kayu. Bapak yang berumur 58 tahun , pembantu yang paling ahli , karena dia yang bikin perahu itu 20 tahun yang lalu.
7 hari. Sinar Bima selesai.
Hari ke 8 , Bima mencoba melaut. Pertama kali setelah 20 tahun perahu itu tidak melaut.
Dia pakai kemeja nelayan Kroasia dari Simic. Bapak berada di belakang. Ronald , Joshua , dan Yudi ikut. Tidak membawa bola , tapi membawa jaring.
Di tengah laut Tuminting , jaring ditarik. Dapat ikan 8 kg. Tidak banyak. Tapi cukup untuk makan 15 orang.
Di atas perahu yang baru dicat , di tengah laut , Bima menangis. Keenam kalinya ? Ketujuh kalinya ? Sudah tidak dihitung.
Bapak bertanya "Kenapa menangis , Bim ?"
Bima menjawab "Dulu aku malu jadi anak nelayan. Aku mau jadi pemain bola supaya tidak melaut. Sekarang aku sudah keliling dunia , Glasgow , Los Angeles , Piala Dunia , ternyata yang paling enak tetap melaut di sini."
Bapak peluk Bima di atas perahu.
Sore harinya , sampai di darat. Ibu sudah tunggu dengan 12 anak Tikala yang baru , umur 10 tahun , generasi ketiga.
Mereka lihat ikan 8 kg , berteriak
Bima bilang ke 12 anak baru itu
"Besok pagi jam 5 , lari pagi di Tikala. Yang muntah boleh jadi koki. Yang jatuh di lumpur nilainya lulus."
Anak - anak baru bingung.
Ronald yang umur 19 tahun , yang sekarang no 10 Manado United Senior , menjawab untuk Bima
"Jangan tanya , lari saja."
Malam harinya , Bima buka diary kecil yang sudah penuh. Tidak ada halaman kosong lagi. Dia beli buku tulis baru di warung Tikala , Rp 5 ribu.
Halaman pertama buku baru , dia tulis
BIMA SAKTI UMUR 34 TAHUN PENSIUN , JADI NELAYAN LAGI DI TUMINTING. PERAHU SINAR BIMA BISA MELAUT LAGI. TUGAS BARU : AJAR 12 ANAK BARU. SEPATU MASIH NO 42 , TAPI HATI KEMBALI NO 39 KEBESARAN.
Di bawahnya , dia tempel foto lama : Foto dia umur 12 tahun pakai sepatu no 39 kebesaran , foto Joshua pakai kruk jualan es kelapa , foto Simic jatuh di lumpur Tikala , foto gol 35 meter vs Argentina , dan foto Sinar Bima hari ini yang baru dicat warna biru putih.
Dia tutup buku. Di luar ada suara ombak Tuminting. Di dalam rumah panggung , ada bau ikan bakar Ibu yang baru dapat 8 kg dari laut.
Besok pada jam 5 pagi , dia harus bangun. Bukan untuk latihan di Celtic Park yang rumputnya mahal. Untuk berlari di Tikala yang berlumpur.
#####################################
Cukup sampai disini dulu ya , besok lanjut lagi. Semoga suka , jangan lupa berikan saran , like dan hadiahnya
Happy reading