“Ketika aku masih menjadi Tuan Muda, kalian semua menghormatiku. Namun, setelah dantianku hancur, bahkan keluargaku sendiri menganggapku sampah.”
“Aku telah mengorbankan segalanya untuk kalian. Apakah penghinaan dan pengkhianatan ini balasan yang pantas kuterima?”
Dikhianati sekte, dihina keluarga, dan ditinggalkan orang-orang yang dicintainya, Qin Xuan kehilangan segalanya.
Namun, ketika semua orang menganggapnya tidak berguna, sebuah pagoda misterius justru memilihnya sebagai penguasa.
Mereka telah menghancurkan hidupnya. Kini, Qin Xuan akan membuktikan bahwa mereka telah meremehkan orang yang salah.
🙏🙏🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Otna Forever, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11: Bakat yang Mengguncang Akademi
Kekalahan Wei Wuxiu membuat suasana arena nomor tiga puluh sembilan berubah seketika. Para penonton yang sebelumnya meragukan Qin Xuan kini memandangnya dengan penuh kekaguman.
Bahkan murid-murid Akademi Bela Diri Tianyuan yang berdiri di bawah panggung tidak mampu menyembunyikan keterkejutan mereka.
Wei Wuxiu memang bukan yang terkuat dalam kelompok tersebut, tetapi kekuatannya sudah mencapai delapan belas banteng.
Dengan bantuan teknik tombak, serangannya bahkan meningkat menjadi dua puluh tiga banteng. Namun, Qin Xuan berhasil menangkisnya hanya menggunakan telapak tangan.
Sambil menahan nyeri pada kedua tangannya, Wei Wuxiu bangkit dari lantai. Ia menatap Qin Xuan dengan wajah muram sebelum kembali bergabung dengan teman-temannya.
“Biar aku yang menghadapinya.”
Seorang pemuda berpakaian hitam melangkah maju. Tatapannya tajam, sementara sebilah golok tergantung di pinggangnya.
“Zhao Feng, jangan meremehkannya,” pesan Wei Wuxiu.
“Aku melihat pertarunganmu tadi. Aku tahu dia kuat.”
Zhao Feng melompat ke atas arena, kemudian berdiri beberapa langkah di hadapan Qin Xuan.
“Namaku Zhao Feng. Kau sudah mengalahkan Wei Wuxiu, tetapi jangan mengira semua murid Akademi Tianyuan memiliki kemampuan yang sama.”
Qin Xuan memperhatikan pemuda itu tanpa menunjukkan kemarahan.
“Kalau ingin bertarung, langsung saja.”
Zhao Feng tidak membuang waktu. Ia menarik napas panjang, lalu mengerahkan energi darahnya. Dua puluh empat bayangan banteng muncul di sekeliling tubuhnya, membuat para penonton berseru kagum.
Kekuatan sebesar itu sudah jauh melampaui batas yang biasa dicapai pendekar Alam Bela Diri Sejati.
Zhao Feng mencabut goloknya dan mengangkat senjata tersebut dengan kedua tangan.
“Tebasan Pemecah Baja!”
Enam bayangan banteng tambahan muncul ketika energinya menyatu dengan bilah golok. Tebasan sepanjang belasan meter melesat ke arah Qin Xuan, membelah permukaan arena dan meninggalkan retakan panjang.
Melihat serangan tersebut, Qin Xuan akhirnya menunjukkan sedikit kesungguhan.
Zhao Feng memang jauh lebih kuat daripada Wei Wuxiu. Namun, Qin Xuan tetap tidak menghunus Pedang Iblis Hitam.
Ia mengepalkan tangan kanan dan mengerahkan sebagian kekuatan tubuhnya. Tiga puluh enam bayangan banteng segera muncul, lalu seluruh energi itu berkumpul pada tinjunya.
Qin Xuan melayangkan pukulan tepat ke arah tebasan yang datang.
Benturan keras mengguncang arena.
Cahaya golok Zhao Feng pecah di tengah udara. Sebelum pemuda itu sempat menghindar, sisa kekuatan pukulan Qin Xuan sudah menghantam senjata yang digunakannya untuk bertahan.
Golok tersebut patah menjadi beberapa bagian.
Zhao Feng terpental keluar panggung dan jatuh dengan keras. Darah menyembur dari mulutnya ketika ia berusaha bangkit.
Ia menatap Qin Xuan dengan wajah pucat. Bahkan setelah mengerahkan kekuatan tiga puluh banteng, dirinya masih kalah dalam satu serangan.
Di bawah arena, murid-murid Akademi Tianyuan saling berpandangan. Tidak seorang pun lagi berani menganggap Qin Xuan sebagai pendekar biasa.
Zhao Feng kembali kepada kelompoknya, kemudian menunduk di hadapan perempuan muda yang sejak tadi memperhatikan pertandingan.
“Maaf, Guru Liu. Aku tidak mampu mengalahkannya.”
Perempuan itu menggeleng pelan.
“Kau sudah mengerahkan kemampuanmu. Qin Xuan memang lebih kuat daripada yang kita perkirakan.”
Ia kembali menatap pemuda di atas arena.
“Mencapai kekuatan tiga puluh enam banteng di Alam Bela Diri Sejati bukan perkara mudah. Dengan kemampuan seperti itu, dia bahkan memenuhi syarat untuk langsung memasuki Halaman Dalam di akademi kita.”
Para murid terkejut mendengar penilaiannya.
Akademi Bela Diri Tianyuan membagi muridnya ke dalam empat kelompok, yaitu Halaman Kuning, Halaman Dalam, Halaman Bumi, dan Halaman Langit. Semakin tinggi kelompoknya, semakin besar pula sumber daya kultivasi yang mereka terima.
Namun, Guru Liu belum selesai berbicara.
“Pengalaman bertarungnya juga jauh melampaui kalian. Kesempatan seperti ini jarang datang. Aku ingin kalian mencoba menghadapinya agar mengetahui kekurangan masing-masing.”
Para murid segera memahami maksudnya.
Tidak lama kemudian, seorang gadis membawa pedang melangkah menuju arena.
Penampilannya anggun, tetapi sorot matanya menunjukkan kesungguhan. Setelah berdiri di hadapan Qin Xuan, ia memberi hormat.
“Aku Li Jianmei. Sejauh ini, aku sudah memenangkan dua puluh sembilan pertandingan tanpa sekali pun kalah. Aku ingin menguji kemampuanku melawanmu.”
Qin Xuan membalas penghormatannya.
“Silakan.”
Li Jianmei menghunus pedang yang bilahnya berkilau seperti permukaan air. Begitu energi mengalir ke dalamnya, cahaya pedang menyebar dan membentuk puluhan bayangan menyerupai kupu-kupu.
“Pedang Kupu-Kupu Meteor!”
Serangannya terlihat indah, tetapi setiap bayangan menyembunyikan ujung pedang yang tajam.
Qin Xuan melangkah maju dan mengayunkan telapak tangannya. Gelombang energi menyapu arena, menghancurkan bayangan pedang yang datang dari depan.
Namun, ketika cahaya itu menghilang, Li Jianmei sudah tidak berada di tempat semula.
Sebuah suara terdengar dari belakang Qin Xuan.
“Kau terlalu meremehkanku!”
Li Jianmei muncul kurang dari beberapa meter di belakangnya. Pedangnya meluncur cepat menuju punggung Qin Xuan, memanfaatkan celah ketika pemuda itu sedang menghancurkan serangan sebelumnya.
Qin Xuan tidak berbalik.
Ia segera mengerahkan energi darah hingga tiga puluh enam bayangan banteng muncul mengelilingi tubuhnya.
Ujung pedang Li Jianmei tertahan sebelum menyentuh punggungnya.
Gadis itu mengatupkan gigi, kemudian meningkatkan kekuatannya. Tiga puluh tiga bayangan banteng muncul di sekeliling tubuhnya, membuat tekanan pada ujung pedang semakin besar.
Perlahan, pedangnya mulai menembus pertahanan energi Qin Xuan.
Li Jianmei sebenarnya tidak berniat membunuh lawannya. Ia sudah bersiap menghentikan serangan begitu pedangnya cukup dekat untuk membuktikan kemenangan.
Namun, sebelum hal itu terjadi, tekanan yang jauh lebih besar tiba-tiba muncul dari tubuh Qin Xuan.
Sembilan bayangan banteng tambahan terbentuk.
Jumlahnya kini mencapai empat puluh lima.
Energi yang mengelilingi Qin Xuan langsung mendorong pedang Li Jianmei ke belakang. Gadis itu berusaha bertahan, tetapi kedua kakinya terus bergeser mundur.
“Empat puluh lima banteng!” seru seseorang dari bawah panggung.
Para penonton kembali gempar.
Mereka baru saja menganggap tiga puluh enam banteng sebagai batas kekuatan Qin Xuan. Tidak disangka, pemuda itu masih menyimpan tenaga sebesar itu.
Qin Xuan akhirnya berbalik menghadap Li Jianmei.
“Hanya sampai di situ kemampuanmu?” tanya Qin Xuan dengan tenang sambil menatapnya.
Li Jianmei tidak menjawab. Seluruh tenaganya masih digunakan untuk menahan tekanan yang datang dari tubuh Qin Xuan.
Qin Xuan kemudian mengangkat satu jari, lalu menjentikkannya ke arah pedang Li Jianmei.
Kekuatan empat puluh lima banteng meledak dalam sekejap.
Pedang tersebut patah menjadi beberapa bagian. Li Jianmei terpental keluar arena dan jatuh di dekat teman-temannya. Darah mengalir dari sudut bibirnya sebelum ia kehilangan kesadaran.
Beberapa murid segera menghampiri dan membantunya.
Untuk ketiga kalinya, murid Akademi Bela Diri Tianyuan dikalahkan Qin Xuan.
Guru Liu menatap pemuda itu dengan ekspresi yang sulit disembunyikan. Kekuatan empat puluh lima banteng di Alam Bela Diri Sejati bahkan tergolong luar biasa di akademinya.
Setelah memastikan Li Jianmei mendapat pertolongan, Guru Liu melompat ke atas panggung.
Qin Xuan memperhatikannya dengan waspada.
Ia dapat merasakan bahwa kultivasi perempuan tersebut jauh melampaui ketiga murid yang baru dikalahkannya.
“Guru juga ingin bertarung?” tanyanya.
Guru Liu tersenyum dan menggeleng.
“Tidak. Aku hanya ingin mengetahui asalmu. Dengan kemampuan seperti ini, seharusnya kau berasal dari keluarga atau sekte besar.”
Qin Xuan terdiam sesaat.
“Aku sudah diusir dari sekte dan keluargaku. Tidak ada lagi yang perlu kusebutkan.”
Guru Liu terkejut. Ia sulit memahami mengapa sebuah sekte bersedia membuang pemuda berbakat seperti Qin Xuan.
Namun, melihat Qin Xuan tidak ingin membicarakannya, ia memilih tidak mendesak.
“Kalau begitu, bagaimana jika kau bergabung dengan Akademi Bela Diri Tianyuan?”
Qin Xuan mengangkat alis.
“Aku belum berniat bergabung dengan akademi mana pun.”
Guru Liu tidak langsung menyerah.
“Dengarkan dulu tawaranku. Aku bisa merekomendasikanmu untuk langsung masuk Halaman Bumi. Setiap tahun, kau akan menerima lima ratus kilogram Batu Energi tingkat rendah. Kau juga boleh mempelajari seluruh teknik yang tersimpan di enam lantai terbawah Paviliun Kitab.”
Ia berhenti sejenak sebelum melanjutkan.
“Jika perkembanganmu tetap sebaik ini, aku bahkan bersedia mengajukan kesempatan bagimu untuk berkultivasi di Gua Sumber Suci.”
Mendengar nama tempat terakhir itu, wajah para murid Akademi Tianyuan langsung berubah.
“Guru Liu!” seru salah seorang dari mereka. “Bukankah kesempatan memasuki Gua Sumber Suci sangat sulit diperoleh?”
Guru Liu mengangkat tangan, meminta mereka diam.
Sementara itu, Qin Xuan mulai mempertimbangkan tawaran tersebut. Ia mengetahui bahwa Gua Sumber Suci merupakan tempat kultivasi peninggalan seorang Sage Kuno. Bahkan para ahli terkuat di Dinasti Zhao Agung sangat menginginkan kesempatan untuk berkultivasi di sana.
Namun, Qin Xuan juga memiliki Pagoda Pemakaman Langit.
Di dalam pagoda itu, Iblis Pedang yang pernah mengguncang dunia hanya merupakan salah satu tahanan di lantai pertama.
Membayangkan kekuatan para tahanan di lantai-lantai berikutnya, Qin Xuan menyadari bahwa warisan yang dimilikinya mungkin jauh lebih berharga daripada kesempatan memasuki Gua Sumber Suci.
Meski begitu, ia menghargai kesungguhan Guru Liu yang telah memberikan tawaran sebesar itu.
“Terima kasih atas tawaran Guru,” jawabnya setelah berpikir sejenak. “Namun, aku masih membutuhkan waktu untuk mempertimbangkannya.”
Guru Liu terdiam.
Ia tidak menyangka Qin Xuan akan memberikan jawaban seperti itu setelah mendengar seluruh keuntungan yang ditawarkannya.
......................
Bersambung...