Dea, alias Althea Twina Darmawan, tumbuh sebagai anak angkat yang kehilangan kasih sayang setelah ibu angkatnya melahirkan anak kandung. Terbiasa disalahkan, ia memilih mengabdikan hidupnya sebagai dokter.
Namun, hidupnya berubah ketika Linjaryani, calon istri Elden Zarreti, seorang tuan tanah kaya raya yang dingin dan berkuasa, meninggal secara misterius. Dea dijadikan kambing hitam, sementara Elden, dibutakan dendam, menghukumnya tanpa mencari kebenaran.
Pernikahan paksa dan perlakuan kejam Elden meninggalkan luka mendalam dalam diri Dea. Ketika bukti baru mengungkap pengkhianatan di balik kematian Linjaryani, Elden menyadari kesalahannya.
Mampukah ia menebus kehancuran yang diciptakannya, atau kebencian Dea telah menutup pintu maaf selamanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CovieVy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 16. Apakah yang Aku Lakukan Sudah Benar?
“Aku tak ingin membahasnya,” jawab Elden dengan dingin.
Tanpa menunggu tanggapan dari kedua ibunya, Elden menaiki tangga dan masuk ke kamarnya. Mireya hanya bisa menatap kepergian putranya.
Nindy menghampirinya, lalu menyentuh bahunya dengan lembut.
“Jangan dipaksa dulu. Mungkin dia memang belum siap menceritakan semua.”
Mireya menggeleng pelan. “Justru itu yang membuatku khawatir. Aku mengenal Elden. Kalau dia hanya marah atau kecewa, biasanya dia akan mengatakannya. Tapi kali ini, dia sedang berusaha mengubur sesuatu.”
Nindy pun terdiam. Walau ia ibu kandung Elden, tetapi Mireya tentu lebih mengenal putranya yang selalu bersamanya.
Mireya kembali duduk di sofa ruang keluarga. Di saat itu pula Ellea memasuki ruangan.
“Ellea, bagaimana perkembangannya?”
Ellea mengangkat ponselnya.
“Aku baru menemukan beberapa informasi tentang Dea, tak dapat terlalu banyak info sih. Aku juga menemukan nama seorang pria yang cukup dekat dengannya.”
Mireya mengangkat alis. “Pria?”
“Namanya Adityo. Aku belum tahu hubungan mereka seperti apa, tapi aku rasa lebih dari sekadar teman biasa.”
Mireya mengangguk pelan. “Cari tahu dengan hati-hati. Ibu tidak ingin kita menuduh siapa pun sebelum mengetahui kebenarannya.”
Ellea mengangguk. “Tenang, Bu. Aku juga tidak mau membuat kesimpulan sembarangan.”
.
.
Keesokan harinya, Dea mulai mencari informasi mengenai kejadian yang menimpa Linjaryani.
Ia berbincang singkat dengan beberapa perawat dan dokter yang mungkin bertugas di IGD pada hari itu. Sayangnya, sebagian besar dari mereka tidak mengingat detail kejadian tersebut. Karena kejadiannya sudah lewat tiga bulan yang lalu.
Namun, seorang perawat senior menyarankan Dea untuk memeriksa jadwal dinas dan catatan penanganan pasien melalui prosedur resmi.
Dea mengikuti saran itu. Dengan bantuan Profesor Adam, ia kembali mengajukan permohonan untuk memeriksa arsip yang relevan.
Tak memakan waktu lama, Dea segera mendapatkan salinan jadwal dinas serta informasi inventaris obat yang telah diizinkan untuk diperiksa.
Dea menelusuri catatan itu dengan saksama. Hingga akhirnya, tatapannya berhenti pada satu baris.
Digoksin.
Obat tersebut tercatat dalam inventaris IGD pada hari Linjaryani meninggal. Namun, ada sesuatu yang membuat Dea mengernyit. Jumlah persediaan yang tercatat sebelum kejadian tidak sesuai dengan jumlah pada pencatatan berikutnya.
Selisihnya memang tidak besar, tetapi tidak ada keterangan yang cukup jelas mengenai perubahan tersebut dalam dokumen yang sedang diperiksanya.
Dea segera mencatat nomor dokumen dan waktu saat pencatatan dalam rekam medis. Ia tidak berani menyimpulkan bahwa obat tersebut telah digunakan untuk mencelakai Linjaryani.
Selisih inventaris bisa terjadi karena berbagai alasan, dan ia masih membutuhkan catatan pendukung yang membuat pencarian ini semakin akurat.
Namun, temuan itu membuatnya teringat kembali pada rekaman CCTV.
Stella membawa sebuah kotak berlabel digoksin menuju area IGD.
'Masa hanya kebetulan semata?'
'Atau memang ada sesuatu yang belum terungkap?'
Dea sedikit menelengkan kepala dan memijit dagunya. Namun ia belum bisa menyimpulkan apa pun.
Dea segera menghubungi Profesor Adam dan menyampaikan temuannya. Profesor itu memintanya menyimpan catatan pemeriksaan dengan baik serta menyerahkan tindak lanjutnya kepada pihak berwenang yang menangani arsip obat.
Dea menyanggupi. Setidaknya, kini ia memiliki satu petunjuk yang bisa ditelusuri lebih jauh.
Dan ia tidak akan berhenti sebelum mengetahui apa yang sebenarnya terjadi pada hari kematian Linjaryani.
.
.
Sementara itu, di tempat lain, Elden duduk memegangi perutnya di tepi ranjang kamarnya. Ia baru saja muntah, dan rutin setiap bangun tidur.
Lalu, ia membuka ponsel mencari tahu masalah pada dirinya. Saat melihat hasil penelusuran matanya membelalak.
Muntah secara rutin setiap pagi adalah hal yang biasa dialami pada trimester pertama oleh Ibu yang hamil muda.
Elden menelan salivanya sendiri. "Aku bukan ibu-ibu yang sedang hamil."
Ia tiba-tiba kembali teringat kejadian di hotel tempat ia memaksa Dea, ingatan tentang malam itu terus mengusiknya.
Ia mengusap pelipisnya yang terasa berdenyut.
“Kenapa? Harusnya aku bahagia bisa membalaskan dendam Linjaryani. Tapi malah jadi seperti ini?”
Satu tangan lainnya mengepal kuat.
Masih jelas dalam ingatannya, wajah Dea, perempuan yang dinikahinya demi membayar dendam, perempuan yang menjadi sasaran dari seluruh amarahnya.
Namun, entah mengapa, semakin keras ia berusaha meyakinkan dirinya bahwa semua yang dilakukannya benar, semakin sulit pula ia menenangkan pikirannya.
"Huweek ..."
Rasa tak nyaman itu kembali muncul. Elden memejamkan mata. Ia mengembuskan napas kasar, lalu menggeleng seolah ingin mengusir semuanya.
“Dia yang mengusikku,” gumamnya, mencoba meneguhkan keyakinannya sendiri. “Aku tidak melakukan kesalahan apa pun.”
Namun, ucapan itu justru terdengar asing di telinganya sendiri. Elden membuka mata dan menatap kedua tangannya.
"Ck!"
Dalam kepalanya mulai muncul pertanyaan, 'Apakah dendam kepada Dea ini sudah tepat?'
'Atau kenyataannya ... aku hanya terlalu sibuk mencari seseorang yang harus disalahkan hingga tidak pernah mempertanyakan apa yang sebenarnya terjadi?'
Ponselnya bergetar di atas meja. Sebuah pesan dari Ellea muncul di layar.
Ellea:
[ Kak, aku ingin bicara soal Dea. Ada sesuatu yang menurutku perlu Kakak jelaskan. ]
Elden menatap pesan itu dengan rahang mengeras.
Bahkan keluarganya mulai mempertanyakan masa lalu yang selama ini berusaha ia kubur.
Ia meletakkan ponselnya kembali tanpa membalas.
Namun, jauh di dalam hatinya, sebuah kegelisahan mulai tumbuh. Dan tentu saja, ia tidak bisa mengabaikannya lagi.
*bersambung*
Ingat Dea sedang mengandung anakmu
Aneh klo tidak dipantau & dilindungi bodyguard bayangan keluarga, ceroboh !!
Dan Josep berusaha melindungi Stella.
Yang pasti...kali ini Dea tidak akan tinggal diam.
Jangan2 ada main dia dengan Stella