NovelToon NovelToon
Kali Ini Aku Mau Pilih Pangeran Kulkas

Kali Ini Aku Mau Pilih Pangeran Kulkas

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Reinkarnasi / Fantasi
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: PhepipoOrevi

"Aku telah mati karena cinta, kali ini aku ingin hidup untuk diriku sendiri" atau begitulah yang diucapkan Evelyn awalnya sebelum dia mengenal kepribadian Matthew si Pangeran Kulkas.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PhepipoOrevi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 10 Pulang Bareng Sang Pangeran Kulkas

Evelyn hanya bisa terdiam saat jemari hangat Matthew menyapu pelan helai rambut di dahinya. Hawa dingin dari hujan deras di luar mobil seolah menguap begitu saja, digantikan oleh debar kencang di dadanya.

Matthew menarik kembali tangannya, lalu menyandarkan punggungnya santai ke jok kemudi saat lampu lalu lintas berubah hijau. Sedan hitam itu kembali melaju membelah jalanan kota yang basah.

"Kak..." Evelyn membuka suara, berusaha memecahkan keheningan yang mendadak terasa terlampau intim. Ia membetulkan posisi duduknya, menatap Matthew dari samping. "Kenapa sih Kakak mendadak baik banget gini? Maksudku... kita kan sekelas dari semester awal, tapi dulu jangankan ngomong panjang lebar, papasan di koridor lab aja Kakak cuma ngelirik sekilas terus jalan lewat gitu aja."

Matthew terkekeh pelan—suara berat yang halus dan memanjakan telinga. Sambil tetap fokus menatap jalanan di depannya, sebelah tangannya mengemudi dengan santai.

"Dulu kan fokusmu cuma satu," sahut Matthew ringan. "Anak Ashworth itu. Setiap kali aku mau nyapa atau sekadar pinjam catatan, kamu selalu sibuk celingukan nyariin dia. Daripada aku ngobrol sama cewek yang pikirannya melayang ke mana-mana, ya mending aku cuekin aja sekalian."

Evelyn tertawa kecil, ada sedikit rasa bersalah sekaligus geli mendengar pengakuan jujur itu. "Ya ampun... jadi selama tiga tahun ini aku kelihatan se-Bucin itu ya di mata anak-anak sekelas?"

"Bukan cuma bucin," timpal Matthew meliriknya sekilas, sudut bibirnya terangkat tipis. "Tapi kayak orang linglung. Makanya, pas tadi pagi di kedai kopi kamu tiba-tiba menepis si Cedric dan ngomong mau putus... aku kaget. Tapi drama nya cukup menarik dan kamu tau itu bikin kesempatan yang bagus."

"Hah kesempatan bagus?" ulang Evelyn, memiringkan kepalanya. "Maksudnya?"

Matthew memelankan laju mobilnya saat memasuki kawasan perumahan tempat tinggal Evelyn. Udara sore makin mendingin, rintik hujan berubah jadi gerimis tipis yang membasahi kaca depan.

"Artinya..." Matthew memutar kemudinya pelan, menepi tepat di depan pagar rumah Evelyn. Pria itu mematikan mesin mobil, lalu berbalik penuh menghadap Evelyn. Mata keemasannya menatap Evelyn lurus, hangat, dan tanpa jarak. "...boleh donk pinjam seratus." canda Matthew membuat suasana yang tadinya tegang jadi mencair. Sontak Evelyn tertawa ngakak.

"Kak Matthew, Kau dasar Pangeran Kulkas gila ha ha ha ha..." Evelyn masih tertawa ngakak.

"Aku serius, Eve," ucap Matthew pelan, suaranya rendah dan dalam.

"Halah, udah deh gausa seratus seratus, orang dompet tebel sana daripada sini. Udah ah becanda mulu. " potong Evelyn dengan nada pura-pura ngambek.

"Eh enggak, aku tuh mau cerita Eve. Jadi, bentar kali ini serius. Ha ha ha.. Aku tuh liat kamu gugup banget kek grogi gitu kuanter makanya kubencandain. Emang kenapa sih kalau nebeng sama aku Eve? Mulai besok kuantar jemput gimana?" ledek Matthew sambil terkekeh.

"Hadeh enggak deh, Kak. Nanti you punya cewek bisa nekek I punya leher. No No No." goda Evelyn balik sambil masih terkikik.

"Nah pas nih, aku gak ada cewek Eve. Jadi cewekku aja gimana?" tanya Matthew.

"Hah? Penembakan jaman sekarang emang kayak gini ya Kak? Absurd gitu ya" tanya Evelyn.

"Jadi gimana, tinggal jawab iya atau gak loh Eve" tanya Matthew sambil sesekali melirik Evelyn.

"Iya" kata Evelyn pelan

Matthew terkekeh dan sisa perjalanan itu dihiasi canda tawa keduanya. Tanpa Evelyn sadari, Matthew serius mengajaknya pacaran. Sang Grand Duke dari awal ingin berkenalan dengannya tapi terhalang Cedric. Dan kini sang penghalang sudah tersingkir, jadi tanpa banyak basa basi, Matthew langsung nekat mengutarakan perasaannya.

"Terima kasih ya, Kak," bisik Evelyn tulus. Tangannya yang terbungkus lengan hoodie kebesaran milik Matthew meremas pelan tali tasnya. "Buat tumpangannya, buat jaketnya... dan buat ada di sini hari ini."

Matthew tersenyum—sebuah senyuman lepas yang sangat tampan, mengikis habis julukan 'Pangeran Kulkas' yang selama ini melekat padanya. Ia mengacak pelan puncak kepala Evelyn dengan gemas.

"Sama-sama. Sana masuk, mandi pakai air hangat. Jangan sampai sakit, besok kita masih ada jadwal praktikum jam delapan pagi," ujar Matthew hangat. "Nanti malam aku telepon."

"Eh? Telepon?" Evelyn berkedip kaget. "Memangnya Kakak punya nomor aku?"

Matthew mengangkat ponselnya, memamerkan layar yang sudah menampilkan kontak bernama 'Evelyn' lengkap dengan deretan nomornya.

"Dapat dari mana?!" pekik Evelyn keheranan.

"Chloe," jawab Matthew santai tanpa rasa bersalah sedikit pun. "Tadi pas kamu lagi ke toilet kampus, aku minta sama dia. Dan dia dengan senang hati memberikan nomor sahabatnya."

Evelyn menepuk dahinya sendiri sambil tertawa lepas. "Dasar Chloe! Awas ya dia besok!"

"Jangan dimarahin, dia kan cuma bantuin jalannya percintaan" canda Matthew sambil mengedipkan satu matanya. "Dah, sana turun."

Evelyn mengangguk, membuka pintu mobil lalu melangkah keluar di bawah naungan payung yang sempat disodorkan Matthew. Sebelum menutup pintu, Evelyn sempat menoleh lagi.

"Hati-hati di jalan ya, Kak. Sampai ketemu besok!"

Matthew mengangguk pelan, memperhatikan Evelyn berjalan masuk ke dalam rumah hingga pintunya tertutup rapat. Baru setelah itu, sedan hitamnya perlahan bergerak meninggalkan halaman.

Dari balik jendela lantai dua kamarnya, Evelyn memperhatikan mobil Matthew yang makin menjauh. Ia merapatkan hoodie abu-abu yang masih melekat di tubuhnya, menghirup aroma sandalwood yang menenangkan.

Di kehidupan kedua ini, takdir tak lagi terasa menakutkan. Sebab kali ini, ia tahu ada seseorang yang siap menggenggam tangannya menembus kegelapan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!