Selama lima tahun, Bayu telah mengorbankan segalanya untuk merawat Vira dan membesarkan anak dari mantannya, namun ia justru diusir dan dicap sebagai sampah begitu Rama,pria kaya yang dulu mencampakkan Vira,kembali dengan jabatan mentereng sebagai manajer perusahaan besar.
Dihina habis-habisan di depan pintu keluar kantor catatan sipil usai meneken surat perceraian, hidup Bayu berputar 180 derajat saat sebuah Sistem Pengubah Jalur Hidup bangkit di kepalanya dan memberinya kartu-kartu kekayaan mutlak.
Dari seorang pria melarat berhati tulus, Bayu kini melangkah ke dunia para elite kota besar, siap membalas setiap tetes air mata dengan kekuasaan yang membuat orang-orang yang dulu merendahkannya berlutut memohon ampun.
Bantu Cherlly dengan LIKE,KOMENTAR & SUBSCRIBE /IKUTI ya kak❤️❤️, gratis kok tapi sangat berarti biar bisa update tiap hari.
Kami selalu balas komentar yang kaka pertanyakan🥰🥰💋
Satu Like👍 dari kalian = 100 semangat.🥰🥰🥰
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cherlly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 5
Pintu lift pribadi bergeser terbuka secara otomatis dengan halus.
Bayu melangkah keluar membawa setelan jasnya yang tertata rapi di dalam tas khusus.
Di depannya terbentang sebuah ruangan luas berkonsep modern minimalis dengan dinding kaca raksasa yang langsung menghadap ke panorama kota dari ketinggian lantai paling atas.
Lampu gantung kristal berkilauan memantulkan cahaya matahari sore yang mulai temaram.
[Sistem Pengubah Jalur Hidup: Sinkronisasi markas utama di The Crown Penthouse berhasil seratus persen.]
[Fasilitas pelayan pribadi dan akses VIP tingkat lanjut telah diaktifkan untuk Host.]
Bayu mengangguk kecil mendengar suara sistem di kepalanya.
Ia berjalan mendekati sofa kulit hitam bergaya Italia yang berada di tengah ruangan keluarga.
Tubuhnya diempaskan dengan santai ke atas sofa yang sangat empuk itu.
Rasanya begitu kontras jika dibandingkan dengan kasur busa tipis di kontrakan lamanya yang berbau apak.
"Ternyata begini rasanya hidup tanpa harus memikirkan tagihan listrik bulan depan," gumam Bayu pelan sambil tersenyum miring.
Di luar jendela kaca yang tebal, lalu-lalang kendaraan di bawah sana tampak seperti mainan kecil.
Bayu mengambil ponselnya dari saku celana untuk mengecek beberapa pesan masuk.
Beberapa nomor tak dikenal mulai mencoba menghubunginya setelah kabar kepemilikan showroom dan apartemen mewah ini mulai terdengar di kalangan kecil pebisnis.
Bayu mengabaikan panggilan-panggilan itu begitu saja.
Ia belum punya waktu untuk meladeni orang-orang oportunis yang hanya ingin mencari keuntungan sepihak.
Namun, ketenangan itu tidak berlangsung lama.
Tok... tok... tok...
Suara ketukan pintu utama penthouse berbunyi nyaring memecah keheningan ruangan.
Alis Bayu sedikit berkerut heran.
Siapa yang tahu keberadaannya secepat ini di tempat eksklusif seperti ini?
Bayu bangkit dari sofa dengan langkah santai menuju ke arah pintu depan.
Ia melirik layar interkom digital yang terpasang di samping daun pintu.
Wajah seorang wanita paruh baya tampak terpampang jelas di layar kecil tersebut.
Wajah itu tampak tidak asing lagi bagi ingatan Bayu.
Ibu Vira, atau biasa dipanggil Bu Rina, mantan ibu mertuanya sendiri.
Wanita paruh baya itu tampak berdiri gelisah di depan pintu sambil merapikan pakaiannya yang terlihat agak kusut.
Di sebelah Bu Rina, tampak seorang wanita lain yang kemungkinan besar adalah tetangga julid dari kompleks perumahan lama mereka.
Ceklek.
Bayu membuka pintu utama lebar-lebar tanpa ragu sedikit pun.
Bu Rina yang tadinya bersiap memasang wajah kesal langsung terperanjat kaget melihat sosok yang membukakan pintu.
"B-Bayu?" seru Bu Rina dengan mata melotot lebar.
Wanita paruh baya itu menatap Bayu dari ujung kepala hingga kaki dengan ekspresi tidak percaya.
Pakaian yang dikenakan Bayu bukan lagi kaos oblong murahan, melainkan kemeja bermerek terkenal dengan jam tangan berkilau di pergelangan tangannya.
"Wah, benar dugaanku, Bu Rina!" seru wanita tetangga yang ikut datang sambil menutup mulutnya karena takjub.
"Menantu lamamu ini benar-benar sudah jadi orang kaya baru!"
Bu Rina langsung mendorong tubuh tetangganya sedikit ke samping.
Wajah wanita paruh baya itu mendadak berubah seratus delapan puluh derajat menjadi penuh senyuman manis yang dibuat-buat.
"Aduh, Bayu... menantuku tersayang!" sapa Bu Rina dengan suara yang sengaja dilembut-lembutkan.
"Ibu dengar dari tetangga kalau kamu sekarang tinggal di penthouse semahal ini, jadi Ibu langsung mampir untuk memastikan keadaanmu."
Bayu melipat kedua tangannya di dada sambil menatap tajam ke arah mantan ibu mertuanya itu.
Tidak ada sapaan hangat atau rasa hormat yang ia berikan seperti lima tahun ke belakang.
"Ada perlu apa bibi datang kesini?" tanya Bayu dengan nada suara dingin tanpa ekspresi.
Bu Rina sedikit tersentak mendengar panggilan bibi yang keluar dari mulut Bayu.
Dulu, pria itu selalu memanggilnya dengan sebutan ibu penuh takzim setiap kali datang berkunjung.
"Kenapa kamu manggil Bibi begitu, Bayu?" protes Bu Rina mencoba tertawa kecil untuk mencairkan suasana canggung.
"Kita kan pernah jadi keluarga selama lima tahun, tidak baik bersikap ketus begitu pada orang yang sudah tua."
Bayu mendengus sinis mendengar ucapan wanita paruh baya yang terkenal sangat materialistis itu.
"Keluarga?" ulang Bayu dengan nada menyindir yang sangat kentara.
"Bukankah putri kesayanganmu baru saja mengusirku dan bilang kalau aku ini cuma sampah masyarakat?"
Wajah Bu Rina seketika memerah menahan malu.
Berita perceraian Vira dan kedatangan Rama yang kaya raya memang sempat dibanggakan-banggakan oleh Bu Rina ke seluruh tetangga kemarin lusa.
Namun, pagi tadi Vira menelepon ibunya sambil menangis histeris karena menceritakan kejadian di showroom mobil mewah.
Vira baru sadar bahwa pria yang mereka buang justru adalah pemilik sah dari segalanya.
"Soal itu..." Bu Rina mencoba mencari-cari alasan dengan gugup. "Vira itu cuma khilaf, Bayu.
Namanya juga anak muda, kadang pikirannya pendek dan mudah tergiur harta palsu."
Bu Rina melangkah maju selangkah mencoba menerobos masuk ke dalam ruangan penthouse yang megah.
"Sebenarnya, Vira itu masih sangat mencintaimu, Bayu," lanjut Bu Rina dengan nada memelas yang dibuat-buat.
"Dia menyesal sudah menceraikanmu. Bagaimana kalau kalian rujuk saja?"
Bayu tertawa kecil mendengar usikan konyol dari mantan ibu mertuanya itu.
"Rujuk?" tanya Bayu menaikkan sebelah alisnya.
"Setelah dia mengaku kalau anak yang kubesarkan selama lima tahun bukan darah dagingku? Jangan membuat lelucon di siang bolong, Bibi."
Bu Rina terdiam kaku mendengar ucapan telak tersebut.
Ternyata Bayu sudah tahu semua kebusukan yang disembunyikan oleh putrinya selama ini.
"Bayu, dengarkan Ibu..." bujuk Bu Rina mencoba meraih lengan Bayu.
Bayu mengibaskan tangannya dengan kasar untuk menolak sentuhan itu.
"Cukup, Rina," ucap Bayu memanggil nama mantannya tanpa embel-embel hormat sama sekali.
"Aku sudah muak dengan keluarga kalian yang bermuka dua dan penuh perhitungan."
Bu Rina menggigit bibirnya dengan gemetar.
Sikap dingin dan wibawa yang dipancarkan Bayu saat ini jauh berbeda dengan pria penurut yang dulu sering ia suruh-suruh membelikan barang di pasar.
"Jangan sombong kamu, Bayu!" bentak Bu Rina mulai terpancing emosi aslinya karena tawarannya ditolak mentah-mentah.
"Tanpa kami, kamu bukan siapa-siapa!"
Bayu tersenyum tipis menanggapi kemarahan wanita tua di depannya.
"Tanpa kalian, hidupku justru jauh lebih tenang dan berlimpah kekayaan," balas Bayu tajam.
Bayu melangkah mundur ke dalam ruangan dan bersiap menutup pintu.
"Satpam!" panggil Bayu dengan suara tegas.
Dalam hitungan detik, dua petugas keamanan bertubuh tegap berpakaian rapi langsung berlari kecil menghampiri koridor lantai tersebut.
"Ada apa, Tuan Bayu?" tanya salah satu satpam sigap.
"Usir dua orang pengganggu ini dari lantai penthouse-ku sekarang juga," perintah Bayu tanpa ragu.
"Baik, Tuan!" jawab satpam serempak.
Bu Rina membelalakkan matanya tidak percaya saat kedua satpam itu mulai mencengkeram lengan pakaiannya dengan tegas.
"Lepaskan aku! Kalian tidak tahu siapa aku! Aku ini mantan mertua pemilik tempat ini!" teriak Bu Rina histeris sambil meronta-ronta.
"Silakan pergi secara baik-baik, Nyonya, atau kami panggilkan pihak kepolisian," ancam satpam dengan suara dingin.
Keduanya langsung diseret menjauh menyusuri koridor menuju lift turun.
Suara makian dan teriakan Bu Rina perlahan-lahan menghilang ditelan pintu lift yang tertutup rapat.
Bayu menutup pintu utamanya dengan perlahan.
Ia kembali berjalan ke arah sofa ruang keluarga sambil menghela napas panjang.
[Sistem Pengubah Jalur Hidup: Berhasil menyingkirkan elemen pengganggu dari lingkungan hidup Host.]
[Mendapatkan bonus stabilitas mental +10 poin.]
Bayu duduk kembali di sofa mewah itu sambil menatap layar ponselnya yang kembali menyala terang.
Permainan baru di kota besar ini baru saja dimulai, dan Bayu sama sekali tidak punya niat untuk berhenti di tengah jalan.
Bantu Cherlly dengan LIKE & SUBSCRIBE /IKUTI ya kak❤️❤️, gratis kok tapi sangat berarti biar bisa update tiap hari.
Satu Like👍 dari kalian = 100 semangat.🥰🥰🥰