Yoselin berharap jika Edward akan mencintainya setelah pernikahan mereka berjalan selama dua tahun, tetapi sore itu Yoselin sadar sesuatu jika sampai kapanpun Edward tidak akan pernah meliriknya sedikitpun.
Sebuah pemandangan menyakitkan tertangkap mata Yoselin, Yoselin melihat Edward dan mantan kekasihnya Angela tengah berciuman diparkiran restoran, sejak saat itu juga hati Yoselin hancur, rasa percaya dirinya runtuh, saat itu juga Yoselin melepaskan Edward. Yoselin menyerah, disaat Yoselin mulai sibuk dengan dunianya, Edward merasa kehilangan, Edward mencoba memperbaiki tetapi dia sudah telat.
Di lain sisi seorang CEO bernama Javier Vernand Romero sangat tertarik dengan Yoselin, dia mengagumi Yoselin dari setiap sisi, Javier bertekad dalam hati jika dia akan memiliki Yoselin seutuhnya, tidak peduli Yoselin sudah menikah atau tidak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riri-can, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Javier VS Edward
Pukul lima sore, Yoselin akhirnya menginjakkan kaki kembali di kediaman Galvano. Suasana rumah terasa begitu sepi, hanya disambut oleh senyuman hangat Bi Tia, pelayan paruh baya yang sudah lama mengabdi di rumah tersebut.
"Selamat sore, Nyonya Yoselin," sapa Bi Tia lembut seraya mengambil tas kerja Yoselin. Wajah tua itu tersirat rasa khawatir.
"Nyonya... Tuan Edward kemarin marah besar waktu tahu Nyonya Yoselin tidak pulang dua hari."
Yoselin hanya mengulas senyum tipis tanpa emosi. "Iya, Bi. Ada pekerjaan penting di kantor yang harus saya selesaikan."
"Anu, Nyonya... Tuan Edward pesan kalau malam ini beliau tidak pulang ke rumah karena ada urusan sibuk di luar," tambah Bi Tia ragu-ragu.
Yoselin mengangguk pelan. "Baik, Bi. Terima kasih informasinya."
Dalam hatinya, Yoselin tidak peduli sama sekali. Mau Edward pulang, menginap di mana, atau dengan siapa, ia tidak ingin memikirkannya lagi. Sudah cukup selama dua tahun ini ia menjadi wanita bodoh yang haus akan kasih sayang pria dingin itu. Malam ini, Yoselin memilih untuk memikirkan dirinya sendiri.
Ia bergegas naik ke kamar utama dan membuka lemari pakaiannya yang luas. Jemarinya menelusuri deretan gaun, namun tidak ada satu pun yang cocok untuk menghadiri pesta perayaan perusahaan sekelas V. Corp. Yoselin mendesah pelan, rasa sedih dan bingung mulai merayapi benaknya.
Knock, knock.
Ketukan di pintu kamar memecah keheningan. Bi Tia berdiri di ambang pintu memegang sebuah paper bag berukuran besar.
"Maaf mengganggu, Nyonya Yoselin. Baru saja ada kurir yang mengantarkan paket ini untuk Nyonya," ucap Bi Tia seraya menyerahkan paket tersebut.
Yoselin mengerutkan kening. "Paket? Untuk saya?"
Setelah Bi Tia pamit keluar, Yoselin membawa paket itu ke atas tempat tidur. Ia membukanya dan mendapati sebuah box luxury dari brand ternama dunia. Di atasnya terselip kartu ucapan singkat bertuliskan:
—Pakai gaun ini malam ini. Aku tidak menerima alasan. — J.V.R
Dengan napas tertahan, Yoselin membuka penutup kotak tersebut. Di dalamnya terbentang sebuah gaun malam berwarna rose gold yang berkilau mewah. Potongannya sangat anggun dan elegan. Yoselin terpana menatap keindahan gaun itu.
Namun, perlahan air mata menetes membasahi pipinya. Rasa haru dan kepahitan berbaur menjadi satu. Selama dua tahun menjadi istri Edward, ia belum pernah menerima hadiah apa pun dari suaminya, bahkan sekadar uang bulanan pun tidak pernah diberikan. Yoselin selalu memenuhi kebutuhan pribadinya dari gajinya sendiri sebagai pekerja, sementara Edward hanya menanggung biaya operasional rumah dan gaji para pelayan. Hari ini, justru pria asing yang baru mengenalnya beberapa hari yang memberikan gaun begitu indah.
Yoselin mengusap air matanya dan tersenyum tegar. "Terima kasih, Pak Javier..."
Pukul tujuh malam, Yoselin telah siap. Gaun rose gold itu melekat sempurna di tubuhnya, memeluk lekuk tubuhnya dengan sangat anggun. Rambut hitamnya diikat setengah ke belakang dengan hiasan bunga-bunga kecil yang manis. Wajahnya yang biasa polos kini dipoles riasan tipis yang memancarkan pesona alami.
Mobil mewah jemputan dari V. Corp mengantarkannya tepat di depan ballroom Hotel Grand Palace. Begitu keluar dari mobil, sosok Javier Vernand Romero sudah berdiri menunggunya di area lobi.
Javier yang mengenakan setelan tuksedo hitam mahal tampak mematu terpaku. Mata abu-abunya menatap Yoselin dari ujung kepala hingga ujung kaki tanpa berkedip sedikit pun. Pancaran kecantikan Yoselin yang begitu teduh namun memikat dalam balutan gaun rose gold benar-benar menyita napas sang CEO. Tatapan Javier tertahan pada bibir bawah Yoselin yang bervolume dan tampak merona manis. Tanpa sadar, Javier menelan ludahnya kasar.
Yoselin yang menyadari tatapan intens itu mengerutkan keningnya canggung.
"Pak Vernand?" panggil Yoselin pelan.
"Apakah... ada yang salah dengan penampilan saya?"
Javier tersentak kaget dari lamunannya. Ia berdehem keras untuk menguasai diri kembali, meski detak jantungnya berdebar tak karuan.
"Ehem... Tidak," sahut Javier cepat dengan suara beratnya.
"Kamu... tidak terlihat buruk. Gaun itu pas di tubuhmu."
Javier mengulurkan siku tangannya ke arah Yoselin. "Ayo masuk. Acara utamanya akan segera dimulai."
Yoselin mengangguk sopan dan menyambut uluran tangan Javier, melingkarkan jemarinya pada lengan kekar pria itu.
Begitu pintu ganda ballroom dibuka, langkah keduanya langsung menjadi pusat perhatian seluruh tamu undangan yang hadir. Bisik-bisik heboh seketika menjalar ke seluruh penjuru ruangan. Para pengusaha dan tamu VIP terkejut melihat CEO V. Corp yang terkenal dingin dan tertutup itu membawa seorang wanita cantik sebagai pendampingnya.
"Siapa wanita itu? Cantik sekali!"
"Apakah dia kekasih baru Pak Javier?"
"Bukankah itu gaun koleksi terbatas?"
Di tengah keriuhan itu, di sudut ruangan lain, seorang pria yang sedang menggandeng lengan seorang wanita mendadak membeku.
Genggaman tangan pria itu terlepas begitu saja. Pria itu adalah Edward Galvano, dan wanita manja di sampingnya yang mengenakan gaun merah mencolok tidak lain adalah Angela.
Mata hitam Edward membelalak lebar melihat sosok wanita berkilau yang berjalan anggun di samping Javier.
"Yoselin...?" gumam Edward tak percaya, suaranya tercekat di tenggorokan.
Angela yang menyadari perubahan raut wajah Edward langsung merajuk dan memegang lengan Edward kembali.
"Edward, ada apa? Kamu kenapa melihat ke arah sana terus?"
Namun Edward sama sekali tidak mendengarkan Angela. Tatapan matanya yang membara terkunci pada tangan Javier yang kini perlahan turun dan merangkul erat pinggang mulus Yoselin, memandu wanita itu menyapa para relasi bisnis.
Krak.
Tanpa sadar, Edward mengepalkan kedua tangannya hingga buku-buku jarinya memutih. Amarah dan rasa panas yang asing tiba-tiba membakar dadanya melihat istrinya berada di dalam pelukan posesif pria lain.
"Edward! Kamu dengar aku tidak sih?!" seru Angela kesal seraya menghentakkan kakinya.
"Diam sebentar, Angela," desis Edward dingin tanpa mengalihkan pandangannya sedikit pun dari Yoselin.
Dari kejauhan, Yoselin yang sedang tersenyum ramah menyapa tamu tiba-tiba merasakan tatapan tajam yang menusuk punggungnya. Ia memutar pandangannya, dan seketika manik matanya bertabrakan dengan mata hitam Edward yang menatapnya penuh amarah dari sudut ruangan. Di samping Edward, berdiri Angela yang menatapnya dengan pandangan tidak suka.
Yoselin tertegun sejenak. Namun bukannya panik atau ketakutan seperti biasanya, Yoselin justru membalas tatapan Edward dengan tenang dan dingin, sebelum akhirnya memalingkan wajah kembali menatap Javier yang sedang berbicara padanya.
"Ada apa, Yoselin? Kamu kenal dengan pria di sana?" tanya Javier menyadari perubahan gestur tubuh Yoselin.
Yoselin mengulas senyum manis pada Javier. "Tidak, Pak Vernand. Hanya orang asing."
Javier tersenyum puas, makin mempererat rangkulannya di pinggang Yoselin. Sementara di tempatnya berdiri, Edward merasa jantungnya seperti dihantam pukulan keras mendengar lirikan dingin dan acuh tak acuh dari wanita yang selama dua tahun ini selalu mengutarakannya sebagai pusat dunianya.
Bersambung...