Tiga tahun Alyssa Kirana Sastro duduk di meja makan keluarga Narendra, dan tiga tahun pula ia dituduh jadi penyebab lumpuhnya Nadine. Suaminya, Devan, tak pernah mau mendengarnya.
Malam ini Alyssa meletakkan surat gugatan cerai dan cincin nikahnya di meja kerja Devan, lalu pergi tanpa membawa apa pun. Dua jam kemudian, mobilnya ditemukan hancur di dasar jurang. Jasadnya tidak ada.
Devan masih ingin percaya itu hanya drama. Namun di rumahnya tertinggal selembar catatan.
Ke mana Alyssa pergi, dan apa yang akan Devan lakukan saat sadar apa yang sudah ia buang?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zikri Cahyandi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kebohongan Terbongkar
Kalimat Nadine masih menggantung di udara ruang rapat: orang itu jauh lebih tinggi dari kami semua.
Devan berdiri perlahan. Kursi kulitnya bergeser pelan di atas karpet tebal.
"Siapa?"
Nadine tidak menjawab. Senyum miringnya menghilang sebagian, seperti baru sadar kalimat apa yang tadi lolos dari bibirnya. Ia menggigit bibir bawahnya sampai memutih, dan tangannya yang bertumpu di tepi meja bergetar.
"Aku tanya siapa, Nadine."
"Jangan dengarkan dia!" Wira bersimpuh di dekat kaki meja, menarik ujung blus putrinya. "Nadine hanya emosi! Dia tidak tahu apa yang dia katakan!"
"Dia tahu persis apa yang dia katakan." Devan tidak melepas pandangannya dari wajah Nadine. "Dan dia baru sadar ia mengatakannya."
Tiga pengacara senior berdiri kaku di sisi meja. Salah satunya masih memegang pulpen yang tutupnya terbuka, seolah lupa menutupnya.
Devan menoleh pada kepala tim hukum. "Ambil rekaman ruangan sepuluh menit terakhir dan seluruh berkas rekam medis ini. Buat laporan atas dugaan penipuan, pemerasan, dan percobaan pembunuhan. Kirim salinannya ke penyidik sore ini juga."
"Baik, Tuan Devan."
"Devan, kumohon, satu kesempatan lagi..." Suara Wira pecah. Ia merangkak setengah langkah, lalu berhenti ketika Devan menunduk menatapnya.
"Kesempatan kalian habis lima tahun lalu, saat kalian memilih menipu perusahaanku." Suaranya datar. "Keluarkan mereka dari gedung ini."
Dua pengawal di dekat pintu melangkah maju. Wira digiring pelan, nyaris tak melawan. Nadine meronta, menghentak-hentakkan kakinya di lantai, tapi pegangan di lengannya tidak mengendur. Di ambang pintu ia sempat menoleh. Senyum miring itu kembali, lebih tipis, lebih dingin.
Pintu menutup. Ruang rapat kembali sunyi.
Devan masih berdiri di tempatnya. Orang yang jauh lebih tinggi. Telapak tangannya terasa dingin.
***
Dua jam kemudian, paviliun pribadi di belakang kediaman Narendra.
Bangunan kecil itu dulu diperuntukkan bagi tamu. Sejak lima tahun lalu, hampir seluruhnya menjadi suite Nadine, tempat ia menginap setiap kali menjalani "perawatan" di rumah ini.
Vito sudah menunggu bersama dua teknisi forensik digital. Brankas baja kecil di sudut meja rias terbuka lebar, dibongkar secara profesional.
"Kami menemukan dua benda, Tuan Devan," kata Vito. "Disembunyikan di bawah lapisan kain beludru."
Di atas meja rias, di antara botol parfum dan kotak perhiasan, tergeletak sebuah perekam suara digital berwarna perak dan satu map dokumen medis.
Devan membuka mapnya lebih dulu. Laporan analisis medis dari sebuah klinik swasta di Singapura. Halaman demi halaman menyebut hal yang sama: lima tahun lalu saraf kaki Nadine hanya mengalami memar ringan dan pulih total dalam tiga bulan. Sertifikat konduktivitas saraf yang menyatakan kelumpuhan permanen terbit setelah Dokter Hendra Suputra menerima dua miliar rupiah dari yayasan sosial yang dikendalikan Siska.
Lima tahun kebohongan. Lima tahun uang keluarga Narendra mengalir ke rumah sakit dan terapi untuk kaki yang tidak pernah sakit.
Devan menutup map itu dan mengambil perekam suara. "Apa isinya?"
Vito menekan tombol. Suara statis tipis memenuhi kamar, lalu berubah menjadi percakapan dua perempuan. Suara Siska dan Nadine, lima tahun lalu.
Tante, rem mobilku benar-benar sudah dilonggarkan?
Sudah. Orang bengkel langgananmu yang mengerjakan. Besok kamu hanya perlu menabrak pagar di jalan sepi, supaya cukup parah tapi kamu selamat.
Dan semua orang akan mengira Alyssa yang menyabotase?
Dia yang terakhir menyentuh mobilmu. Pelayan bisa bersaksi, dan rekaman CCTV sudah Tante urus. Kamu cukup pura-pura tidak bisa berjalan setelahnya. Devan terlalu mencintaimu dan terlalu membenci perempuan itu. Dia akan merasa bersalah seumur hidup padamu.
Rekaman berhenti.
Devan tidak bergerak. Perekam suara itu terasa dingin di tangannya, dan plastiknya berderit di bawah jemarinya.
Bukan Alyssa yang menyabotase kecelakaan itu. Kecelakaan itu tidak pernah terjadi karena sabotase siapa pun, kecuali sabotase ibunya sendiri.
Dan Nadine menyimpan rekaman ini di brankas pribadinya, mungkin sebagai senjata untuk menekan Siska kalau suatu hari Siska mencoba melepas keluarga Vanya dari sokongan keuangan Narendra.
Rasa mual naik dari perut ke dada. Ia memejamkan mata rapat-rapat. Rumah tempat ia tumbuh, orang-orang yang mengaku menyayanginya, semuanya sudah dipakai untuk satu hal: membuatnya percaya pada cerita yang salah.
"Tuan?" Vito memanggil pelan.
Devan membuka mata. Tatapannya sudah berubah. Tidak ada lagi amarah panas di sana, hanya kehampaan yang kelam dan tenang.
"Simpan rekaman ini, laporan medis, dan bukti transfer di server terenkripsi. Salin satu untuk polisi, tapi jangan dulu dikirim." Suaranya serak. "Malam ini aku sendiri yang akan membawa ini pada ibuku."
***
Devan berjalan menyusuri taman belakang menuju bangunan utama. Di sepanjang lorong, kenangan tiga tahun menghantamnya satu per satu.
Ia teringat hari ia membentak Alyssa di depan para pelayan karena Nadine jatuh dari kursi rodanya, dan Alyssa menolak berlutut meminta maaf. Ia teringat semangkuk bubur yang terus muncul di depan pintu ruang kerjanya ketika ia demam, dan ia tidak pernah bertanya siapa yang menaruhnya. Ia teringat malam-malam Alyssa berdiri di dapur memanaskan sup untuknya, lalu ibunya mencibir dari ambang pintu, dan Devan melewati keduanya tanpa berkata apa-apa.
Setiap tuduhan, setiap hinaan yang Alyssa telan selama tiga tahun ada yang menyusunnya. Dan orang itu ibunya.
Langkah Devan menghantam lantai marmer ruang tamu dengan kepastian yang membuat para pelayan menepi.
Siska duduk di sofa kulit, memangku cangkir porselen berisi teh herbal yang sudah dingin. Wajahnya kusut, bayangan hitam membingkai matanya sejak Aris menyebut kasino Makau di galeri tadi pagi.
Melihat Devan masuk dengan kemeja kusut dan wajah tanpa ekspresi, Siska meletakkan cangkirnya dengan tangan gemetar.
"Devan... Ibu bisa jelaskan soal uang Makau itu. Ibu dijebak kerabat Vanya. Ibu tidak bermaksud—"
"Tutup mulut, Bu."
Devan berdiri di depan meja tengah dan meletakkan tablet di hadapannya. Layar menyala dengan rekaman kamera ruang rapat siang tadi. Siska melihat Nadine bangkit dari kursi rodanya, berjalan dua langkah, dan menunjuk Devan dengan wajah penuh kebencian.
Siska membelalak. Tangannya menyenggol cangkir di meja hingga jatuh dan pecah di lantai.
"N—Nadine... dia bisa berjalan?"
"Tidak pernah lumpuh, Bu. Lima tahun."
"Perempuan biadab itu!" Siska berdiri setengah, dadanya naik turun. "Dia memeras kita bertahun-tahun dengan pura-pura lumpuh!"
"Ibu tidak berhak menyebut dia biadab."
Suara Devan pelan. Justru karena pelan, Siska terdiam.
Devan menekan tombol berikutnya. Suara dua perempuan lima tahun lalu memenuhi ruang tamu yang sunyi. Rem mobilku benar-benar sudah dilonggarkan? Sudah. Orang bengkel langgananmu yang mengerjakan.
Seluruh keberanian Siska runtuh dalam satu detik. Wajahnya memucat seperti kertas. Tangan yang tadi terangkat membeku di udara.
"D—Devan... itu bukan suara Ibu. Itu rekayasa digital..."
"Berhenti berbohong!"
Bentakan itu menggema dari ujung ke ujung ruang tamu. Seorang pelayan di dapur menjatuhkan nampan, dan tak ada yang menoleh.
"Ibu yang mengatur kecelakaan itu! Ibu yang menuduh Alyssa! Ibu yang membiarkan istriku menelan semua hinaan selama tiga tahun di rumah ini!" Tenggorokannya tercekat. "Dan aku membantu Ibu melakukannya. Aku membentaknya. Aku mendiamkannya sebulan penuh. Aku bahkan tidak pernah bertanya."
Ia mengepalkan tangan di samping tubuhnya sampai buku-buku jarinya memutih.
"Padahal penjahat yang sebenarnya adalah ibuku sendiri."
Siska membuka mulut, tetapi tidak ada kata yang keluar. Kejahatan finansial, rekayasa kecelakaan, dan ketakutan akan penjara menekan dadanya sekaligus. Wajahnya mengencang. Tangan kirinya menekan dada.
"D—Devan..."
Ia mencoba meraih ujung kemeja putranya. Jemarinya hanya menyentuh udara, lalu tubuhnya terkulai ke sisi sofa.
Sesaat Devan tidak bergerak. Ia menatap ibunya yang tersengal dengan wajah pucat dan keringat dingin di pelipis. Kemarahan yang tadi membakar mendadak surut, menyisakan kehampaan.
Tidak ada kemenangan di ruangan ini.
Ia merogoh ponsel dan menekan nomor darurat. Suaranya bergetar saat menyebutkan alamat. Tangan satunya meremas cincin perak Alyssa di dalam saku celananya.
"Bertahanlah, Bu," katanya pelan. Ia sendiri tidak yakin pada siapa kalimat itu ditujukan.
Sirine ambulans mulai terdengar dari kejauhan, menembus malam Jakarta.
Sementara menunggu, Devan berlutut di samping sofa untuk melonggarkan kerah blus ibunya. Di atas meja kecil di sisi sofa, ponsel Siska menyala. Layarnya memantulkan cahaya biru ke dinding, dengan satu nama panggilan masuk yang hanya terdiri dari satu huruf: B.
Devan menatap layar itu. Ia melirik ibunya yang nyaris tak sadar, lalu menggeser tombol terima dan menahan napas, tanpa bersuara.
Suara seorang laki-laki terdengar di seberang, rendah dan tenang, seperti orang yang sudah terbiasa memerintah.
"Siska. Kamu sudah mengamankan rekaman milik Nadine itu? Aku sudah bilang, jangan sampai jatuh ke tangan anakmu."
Devan membeku.
Lalu panggilan itu terputus.
.....
.....
Bersambung.