Merelakan masa mudanya merantau demi modal bisnis, Nesa berhasil membangun brand kosmetiknya seorang diri. Sebagai wujud bakti, ia memberikan posisi nyaman di perusahaan untuk kakak kandungnya, Sasya, dan mempercayakan hatinya pada Dika, suami yang dipacarinya sejak SMA.
Namun, dunia Nesa runtuh seketika saat ia mendapati kenyataan paling menjijikkan: Dika berselingkuh dengan Sasya. Di saat yang sama, Sasya memanfaatkan fasilitas perusahaan untuk merintis skincare tandingan di bawah dukungan penuh Dika. Syok luar biasa akibat pengkhianatan berlapis itu merenggut nyawa bayi yang tengah dikandung Nesa.
Berada di titik terendah setelah keluar dari rumah sakit, air mata Nesa berubah menjadi bara. Mengabaikan rasa sakitnya, Nesa bersiap membalas setiap tetes air matanya, membongkar kebusukan suami dan kakak kandungnya, serta merebut kembali apa yang sepenuhnya menjadi hak miliknya.
Satu Atap, Seribu Dusta ketika bakti dibalas duri dan pengkhianatan harus dibayar mahal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SATU ATAP SERIBU DUSTA
Wangi seduhan teh hangat dari cangkir keramik putih yang dibiarkan mendingin di atas meja sama sekali tidak dihiraukan oleh Nesa. Suasana di dalam ruang kerja utama CEO NesAura Skincare pagi itu terasa begitu pekat dan menyesakkan. Tirai jendela besar yang menghadap langsung ke arah lanskap kota ibu kota ditarik rapat-rapat, memastikan tidak ada satu pun pasang mata dari luar koridor lantai atas yang bisa mengintip ke dalam.
Pintu utama ruangan itu terkunci rapat dari dalam. Gorden beludru tebal menghalangi cahaya matahari yang terik, menyisakan pencahayaan temaram dari lampu meja belajar yang menyorot tajam ke atas permukaan meja marmer hitam.
Di hadapan Nesa, Bila berdiri tegap dengan ekspresi wajah yang menyiratkan ketegangan luar biasa. Di atas meja di antara mereka berdua, sebuah kotak kecil berbalut kemasan mewah berwarna pastel tergeletak terbuka. Di dalamnya, botol kaca pump berukuran seratus mililiter dengan label hologram eksklusif tampak berkilau di bawah temaram lampu botol yang bentuk, ukuran, warna, hingga desain ukiran edelweisnya menyerupai seratus persen rancangan rahasia dari lini Glow Series milik NesAura yang bahkan belum resmi meluncur ke pasaran.
Nesa menunduk, meraba botol tersebut dengan jemarinya yang terasa dingin. Ia membuka tutup botol itu perlahan, lalu mencium aromanya sekilas. Ekstrak bunga edelweis organik bercampur wangi lembut mawar putih formula rahasia yang diracik khusus oleh tim laboratorium internal perusahaannya sendiri.
"Ini... ini mustahil," gumam Nesa dengan suara bergetar, setengah tidak percaya dengan apa yang ada di depan matanya. "Formula ini baru disetujui minggu lalu oleh tim R&D. Dokumen spesifikasinya tersimpan di server terenkripsi yang hanya bisa diakses oleh segelintir orang di jajaran direksi dan manajemen puncak. Bagaimana bisa produk ini sudah ada di pasaran?."
Bila menarik napas dalam-dalam, postur tubuhnya tampak semakin siaga. Asisten pribadi sekaligus sahabat setia Nesa itu melipat kedua tangannya di depan dada, lalu menatap sang atasan dengan sorot mata penuh analisis tajam.
"Itulah inti masalahnya, Bu Nesa," ucap Bila dengan nada suara berbisik, seolah takut suara mereka tembus ke luar dinding kaca kedap suara tersebut. "Produk ini tidak dijual bebas di toko resmi atau e-commerce besar dengan etalase terbuka. Mereka memasarkannya secara diam-diam melalui sesi siaran langsung (live streaming) di salah satu platform sosial media malam tadi, dengan kuota yang sangat dibatasi agar tidak menarik perhatian pihak korporat kita."
Nesa mendongak, menatap tajam ke arah asistennya. "Siapa yang siaran? Dan bagaimana kamu bisa mendapatkan sampel produk tiruan ini secepat ini, Bil?"
Bila merogoh saku jas blazernya, lalu mengeluarkan sebuah nota pengiriman digital dari ponsel pintarnya dan meletakkannya di hadapan Nesa.
"Saya sengaja tidak langsung memesannya menggunakan akun pribadi atau identitas kantor, Bu," jelas Bila dengan senyuman cerdik di balik keseriusannya. "Saya tahu persis, kalau akun saya yang melakukan transaksi atau mendaftar sebagai pembeli di siaran langsung itu, pihak penjual pasti akan langsung curiga atau memblokirnya karena mereka tahu saya adalah asisten pribadi CEO NesAura. Jadi, saya meminta tolong kepada salah satu teman terpercaya saya di luar perusahaan seseorang yang identitasnya bersih dan tidak ada hubungannya sama sekali dengan industri kosmetik untuk ikut bergabung dalam siaran langsung tersebut."
Nesa menyimak setiap kata yang diucapkan Bila dengan saksama, mulai memahami kelicikan di balik cara pembelian produk tiruan itu.
"Kenapa harus memakai identitas orang lain, Bil?" tanya Nesa menyelidik.
"Karena siaran langsung itu menerapkan syarat yang cukup ketat untuk pembeli, Bu," jawab Bila serius. "Setiap akun yang ingin memesan atau mendapatkan diskon khusus pre-launch produk tersebut diwajibkan untuk memverifikasi identitas lengkap mulai dari nomorKTP, nomor telepon aktif, hingga alamat pengiriman asli. Penjualnya menggunakan dalih pencegahan penimbunan barang oleh reseller. Tapi bagi saya, itu adalah strategi licik untuk menyaring siapa saja yang mencoba menyelidiki mereka."
Bila mendaratkan kedua telapak tangannya di atas meja, mencondongkan tubuhnya sedikit mendekati Nesa.
"Kalau saya yang membeli langsung menggunakan data diri resmi dari lingkaran perusahaan kita, identitas saya pasti akan langsung terdeteksi oleh mereka. Dan dari cara mereka menduplikasi produk rahasia ini dengan presisi yang sempurna, saya seratus persen yakin, Bu... di dalam perusahaan kita sendiri, di lingkaran manajemen puncak NesAura, ada pengkhianat besar yang membocorkan seluruh data produksi ini ke tangan pihak luar."
Deg!
Jantung Nesa seakan berhenti berdetak sepersekian detik. Pernyataan Bila menusuk langsung ke relung hatinya yang paling dalam. Pengkhianat? Di lingkaran manajemen puncak?
Meskipun Nesa sejak awal menyadari bahwa kebocoran data ini sangat masif dan sistematis, mendengar Bila mengucapkannya secara langsung membuat udara di dalam ruangan terasa semakin menipis. Lingkaran manajemen puncak NesAura bukanlah tempat yang diisi oleh orang sembarangan. Di sana hanya ada segelintir orang yang memegang akses penuh: Nesa sendiri sebagai pendiri dan CEO, Dika sebagai suaminya sekaligus direktur operasional yang mengawasi seluruh alur pabrik dan logistik, serta Sasya kakak kandungnya sendiri yang memegang kendali penuh atas divisi humas dan strategi promosi publik.
Mungkinkah salah satu dari mereka...?
Tidak. Tidak mungkin, batin Nesa langsung menolak keras pikiran liar yang mulai merayap di kepalanya. Sontak, bayangan wajah suaminya, Dika, yang kemarin malam menggenggam tangannya erat-erat dan menenangkannya dengan penuh kasih sayang, berkelebat di benaknya. Dika adalah pria yang selama bertahun-tahun menemaninya dari nol, pria yang membantunya menegur Sasya dan memintanya untuk tenang. Begitu pula dengan Sasya, kakak kandungnya yang meski terkadang angkuh, adalah darah dagingnya sendiri yang masa lalunya pernah hancur lebur.
Nesa menggelengkan kepalanya pelan, berusaha mengusir bayangan-bayangan curiga yang mulai mencabik kewarasannya.
"Bil, jangan berspekulasi terlalu jauh tanpa bukti yang valid," ucap Nesa dengan nada suara yang sengaja dilembutkan, lebih kepada meyakinkan dirinya sendiri ketimbang membantah Bila. "Manajemen puncak kita adalah orang-orang pilihan yang sudah teruji loyalitasnya. Dika suamiku, dan Sasya kakakku... mereka adalah orang-orang terdekat yang tidak mungkin menusukku dari belakang."
Bila menatap Nesa dengan pandangan nanar, menyembunyikan rasa frustrasi di balik mata jernihnya. Sebagai asisten yang paling setia dan paling tahu perjuangan Nesa merintis perusahaan ini, Bila merasa sedih melihat betapa bosnya itu masih terlalu naif dan dikuasai oleh rasa percaya yang begitu besar kepada keluarga. Namun, Bila tahu persis, ia tidak boleh gegabah melontarkan tuduhan langsung tanpa bukti hukum yang telak.
"Saya paham keraguan Ibu, dan saya sangat berharap kecurigaan saya ini salah besar," ujar Bila dengan suara melunak namun tetap tegas. "Tapi fakta di lapangan tidak bisa dibohongi, Bu Nesa. Botol ini, formula ini, hingga brosur digital yang disebar dalam siaran langsung tadi malam adalah replika identik dari Glow Series kita. Jika produk tiruan ini beredar lebih dulu sebelum peluncuran resmi kita akhir bulan ini, citra merek NesAura akan hancur lebur, dan kita akan mengalami kerugian finansial yang tidak sedikit."
Nesa terdiam seribu bahasa. Ia kembali menunduk, menatap botol sampel tiruan di hadapannya dengan tatapan nanar. Jemarinya mencengkeram tepi meja dengan erat hingga buku-buku jarinya memutih. Apa yang dikatakan Bila benar adanya. Ini bukan sekadar masalah persaingan bisnis biasa; ini adalah tikaman mematikan yang diarahkan tepat ke jantung perusahaan yang ia bangun dengan cucuran air mata dan keringat selama bertahun-tahun.
"Lalu, apa langkah selanjutnya yang harus kita ambil, Bil?" tanya Nesa setelah beberapa saat terdiam dalam keheningan yang mencekam.
Bila menegakkan kembali tubuhnya, mengeluarkan sebuah flashdisk kecil dari saku blazernya dan meletakkannya di dekat botol sampel tersebut.
"Teman saya yang berhasil memesan produk ini menggunakan identitas samaran tadi pagi sudah menerima paket pengirimannya di alamat kurir privat. Di dalam flashdisk ini, saya sudah menyalin seluruh rekam jejak digital transaksi, nomor rekening penerima pembayaran yang disembunyikan di balik akun lapak fiktif, serta metadata dari akun siaran langsung yang menjual produk tersebut," papar Bila dengan sangat profesional. "Kita akan melacak aliran dana dan alamat fisik gudang pengiriman itu secara diam-diam, tanpa melibatkan divisi lain di kantor terutama sebelum kita benar-benar menemukan siapa orang dalam yang bermain di belakang layar."
Nesa menatap flashdisk hitam kecil itu dengan tatapan penuh tekad. Garis ketegasan kembali terukir di wajah cantiknya sebagai seorang CEO muda yang tidak akan tinggal diam melihat kerajaannya diinjak-injak.
"Baiklah, kita lakukan investigasi tertutup, Bil," ucap Nesa dengan suara tegas dan dingin. "Jangan biarkan siapa pun di luar ruangan ini tahu apa yang sedang kita selidiki termasuk divisi humas maupun jajaran direksi operasional. Kita bergerak di bawah bayang-bayang sampai kita menemukan bukti siapa pengkhianat di perusahaan ini."
Bila mengangguk hormat, merasa sedikit lega karena Nesa akhirnya sepakat untuk mengambil tindakan nyata meski masih diselimuti rasa percaya yang buta kepada orang terdekatnya.
Di luar ruangan kerja CEO yang terkunci rapat itu, jarum jam dinding terus berdetak, mengantar Nesa semakin dekat pada jurang kehancuran yang telah digali oleh orang-orang yang paling ia cintai dan percayai di dunia ini.