Nasib istri kuli bangunan :menceritakan tentang bahwa hidup yang penuh perjuangan seorang laki- laki yang bertanggung jawab dan istri yang punya kesabaran. dan keteguhan yang hebat
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SulSya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 32 Nasib Derita Istri kuli bangunan
Bab 33: Beban di Pundak Ibu Muda
Suara mesin pemantau detak jantung di sudut ruangan rawat kelas tiga itu terdengar monoton, menjadi satu-satunya ritme yang menemani kesunyian malam di bangsal rumah sakit.
Di atas ranjang besi bercat putih pudar, Burhan terbaring tak berdaya. Perban tebal membalut kepalanya, dan selang infus menancap di punggung tangannya yang kasar tangan seorang kuli bangunan yang biasa mengangkat semen dan menyusun bata merah demi sesuap nasi.
Anisa duduk di kursi plastik hijau di sisi ranjang. Wajahnya masih menyisakan pucat pasi, sisa-sisa perjuangan melahirkan anaknya yang baru menginjak usia satu minggu. Di dalam gendongan kain jarik usang di dadanya, sang bayi, Raka, tertidur pulas, tidak tahu menahu betapa berat badai yang sedang menghantam keluarganya.
"Sabar ya, Mas... Kamu harus kuat demi aku dan Raka," bisik Anisa parau, air matanya menetes tanpa suara, jatuh ke punggung tangan suaminya yang dingin.
pak Slamet dan teman kerja burhan Mereka datang dengan wajah tertunduk, membawa amplop putih tipis dan kantong pelastik berisi buah jeruk seadanya.
"Malam, Nisa," sapa Pak selamat lirih, suaranya tercekat di tenggorokan melihat kondisi Burhan.
Anisa segera mengusap air matanya, lalu berdiri setengah membungkuk menyambut kedatangan mereka. "Silakan masuk, Pak Joko, Mas Slamet, Mas Mardani... Maaf kondisinya berantakan begini."
"Tidak apa-apa, Nisa. Kami justru merasa berdosa baru bisa menjenguk sekarang," kata Pak Joko sambil menyerahkan amplop putih kepada Anisa. "Ini... sedikit santunan dan hasil urunan teman-teman sesama kuli bangunan di proyek. Jangan dilihat dari jumlahnya, ya, Nisa. Ini bentuk doa kami buat kesembuhan Burhan."
Anisa menerima amplop itu dengan tangan yang sedikit gemetar. Air matanya kembali tumpah, kali ini karena rasa haru atas kepedulian orang-orang kecil yang senasib sepenanggungan dengannya.
"Terima kasih, Pak... Terima kasih banyak, Mas Slamet, Mas Mardani. Kalian sudah sangat baik sama keluarga kami. Hanya Allah yang bisa membalas kebaikan kalian," ucap Anisa terbata-bata, menahan isak tangisnya agar tidak membangunkan bayi Raka.
Slamet, pria paruh baya dengan garis-garis wajah lelah akibat terpaan matahari, menghela napas panjang. "Sama-sama, Nisa. Burhan itu orang baik, pekerja keras, tidak pernah neko-neko. Kami semua terpukul waktu musibah reruntuhan tembok gudang itu menimpanya."
"Betul itu, Nis," sahut Mardani dengan mata memerah. "Kalau butuh apa-apa, jangan sungkan kabari kami. Walaupun dompet kami tipis, tenaga kami siap membantu kapan saja."
"Terima kasih, Mas. Tapi... boleh saya jujur?" suara Anisa melemah, menatap amplop di genggamannya dengan pandangan kosong penuh kecemasan.
Pak Joko menatap tajam penuh perhatian. "Katakan saja, Nisa. Jangan sungkan."
"Uang santunan ini... sangat berarti untuk biaya rumah sakit hari ini dan besok. Tapi jujur, saya bingung setengah mati. bapak semua tahu sendirilah saya baru melahirkan saya saja masih basah dan terasa perih, tapi bayi saya butuh susu, dan Mas Burhan butuh biaya pengobatan lanjutan yang tidak sedikit.
Kalau saya hanya duduk termenung di sini, besok kami mau makan apa? Siapa yang bayar kontrakan?" suara Anisa akhirnya pecah, pertahanannya runtuh di hadapan rekan-rekan suaminya.
Suasana di dalam ruang inap seketika menjadi senyap. Pak Joko menunduk, meremas topi pet usang di tangannya. Di dunia kuli bangunan tempat mereka hidup, tidak bekerja berarti tidak ada makan hari itu. Tidak ada cuti berbayar, tidak ada jaminan sosial.
"Kamu benar, Nisa... Situasinya serba sulit," gumam Pak Joko lirih. "Lalu, apa rencana kamu? Kamu baru seminggu melahirkan."
Anisa menarik napas dalam-dalam, menghapus sisa air matanya dengan ujung kerudung. Tatapannya berubah mengeras, memancarkan keteguhan luar biasa seorang ibu dan istri.
"Saya tidak punya pilihan lain, Pak. Mulai besok, saya harus ambil alih peran pencari nafkah. Saya tidak boleh berpangku tangan melihat suami saya terbaring dan anak saya kelaparan," ucap Anisa tegas.
Slamet terbelalak kaget. "Kamu mau kerja apa, Nisa? Badanmu masih lemas begitu! Bayimu masih merah!"
"Saya mau jualan kue subuh keliling kampung, atau menerima pesanan cuci gosok tetangga, apa saja asal halal, Mas," jawab Anisa mantap. "Modal awal dari amplop kumpulam teman-teman ini akan saya belikan tepung, gula, dan bahan kue. Sebagian saya sisihkan untuk obat jalan Mas Burhan."
Mardani menggelengkan kepala takjub sekaligus iba. "Kamu wanita yang luar biasa tangguh, Nisa. Tapi fisikmu..."
"Fisik bisa dilawan kalau niatnya lillah, Mas," potong Anisa dengan senyum tipis yang dipaksakan. "Kalau saya menyerah, siapa lagi yang akan berjuang untuk keluarga kecil kami?"
Pak Joko menepuk pelan bahu kursi tempat Anisa duduk. "Baiklah kalau itu keputusanmu, Nisa. Kami sangat mengagumi ketegaranmu. Gunakan uang itu dengan bijak. Dan ingat, kalau ada apa-apa di proyek atau butuh bantuan darurat, kabari kami segera."
"Pasti, Pak. Sekali lagi terima kasih banyak atas kunjungannya."
Setelah berbincang sejenak dan mendoakan kesembuhan Burhan, Pak Joko, Slamet, dan Mardani pamit undur diri. Langkah kaki mereka meninggalkan gema berat di koridor rumah sakit, meninggalkan Anisa dalam sunyi malam bersama suami dan bayinya.
Anisa mendekati ranjang Burhan, menggenggam jemari suaminya yang kaku.
"Mas dengar kan tadi? Aku akan berjuang buat kamu dan Raka," bisik Anisa di telinga saat Burhan sedang tertidur
Malam semakin larut, namun di dalam dada wanita berusia 24 tahun itu, api ketabahan dan keberanian justru menyala terang, menerangi jalan gelap yang harus ia tempuh demi mempertahankan keluarganya dari jurang kehancuran.