**Perjodohan Pembunuh Naga dan Putri Naga**
Veronica, seorang naga setengah manusia, harus menikah dengan Altres Vanguard, kesatria terkenal yang dijuluki pembunuh naga. Pernikahan mereka merupakan syarat perdamaian antara bangsa naga dan manusia yang telah lama bermusuhan. Namun, menyatukan dua makhluk dari ras berbeda bukanlah perkara mudah. Veronica yang tidak memahami kehidupan manusia sering berselisih dengan Altres, sementara Altres sulit menerima kenyataan bahwa wanita yang menjadi istrinya adalah seekor naga.
Di balik pertentangan mereka, tersimpan luka masa lalu yang perlahan terungkap. Veronica kehilangan ibunya yang seorang manusia, menyaksikan bagaimana usia singkat sang ibu memisahkan mereka untuk selamanya. Sementara itu, Altres kehilangan ayah dan kedua kakaknya dalam perang melawan bangsa naga, meninggalkan kebencian yang sulit dihapuskan.
Seiring waktu, keduanya mulai memahami kesedihan dan ketakutan masing-masing. Di antara perbedaan, dendam, dan luka masa lalu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EMPIRE RAJA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31 ke khawatiran sang ibu
Pagi itu Erin membawa nampan sarapan sendiri ke kamar Veronica, sebab menantunya sudah dua hari menolak turun ke meja makan. Ia meletakkan nampan di meja kecil dekat jendela, menuang teh dengan gerakan tenang, lalu duduk di tepi ranjang sambil memperhatikan Veronica yang duduk memeluk lutut dengan rambut merahnya tergerai berantakan. Daging panggang di piring itu bahkan belum disentuh, dan itu saja sudah cukup membuat Erin khawatir. Gadis yang biasa menghabiskan daging panggang tanpa menyisakan tulang kini hanya menatap uap teh yang naik pelan, seolah dunia di luar jendela sudah tidak menarik lagi baginya.
"Sejak pulang dari istana Uddine kau menghindari semua orang, Veronica. Bahkan meja makan pun kau tinggalkan, padahal itu tempat favoritmu. Apa yang sebenarnya terjadi di sana?" tanya Erin pelan sambil menyodorkan cangkir teh yang masih hangat ke tangan menantunya.
Veronica menunduk, jemarinya memilin ujung selimut. Wajahnya murung, sama sekali berbeda dari gadis yang biasanya menghabiskan setengah isi dapur tanpa rasa bersalah. "Aku tidak ingin lagi menjadi duchess, Ibu. Lebih baik Ibu kembali ke posisi itu. Ibu jauh lebih pantas memegangnya daripada aku."
"Itu tidak mungkin, Nak." Erin tersenyum tipis dan menggeleng, lalu meraih tangan Veronica yang dingin dan menggenggamnya di atas selimut. "Aku sudah menyerahkan gelar itu bertahun-tahun lalu. Sejak putraku menjadi Duke, aku bukan lagi duchess. Posisi itu milik istri Duke, dan istri Duke Altres Vanguard adalah kau."
"Aku bukan istrinya." Suara Veronica bergetar ketika ia mengangkat wajah, matanya yang seperti mata ular berkaca-kaca. "Aku hanya tawanan yang harus diawasi. Aku jaminan supaya ayahku, raja naga Roten, tidak mengkhianati manusia. Itu saja artiku di rumah ini, dan tidak lebih dari itu."
Erin terdiam sejenak, lalu menghela napas panjang dan menatap menantunya lekat-lekat. "Jadi kau sudah tidak mau lagi menjadi menantu kesayanganku? Kau tidak mau menganggapku sebagai ibu yang menyayangimu?" Wajahnya tampak terluka walau ia berusaha menyembunyikannya di balik senyum.
"Bukan begitu!" Veronica langsung menggeleng keras, sampai rambutnya ikut berayun. "Aku tidak pernah berpikir seperti itu. Aku hanya kecewa. Aku mendapat begitu banyak kebaikan di sini, tapi ternyata semua itu punya tujuan." Ia menggigit bibir, lalu melanjutkan dengan suara lebih lirih. "Aku memang sempat ragu pada kebaikan Ibu, tapi insting naga dalam diriku bilang Ibu tulus. Itu yang membuatku bingung. Padahal ras kami sudah membunuh suami Ibu dan kedua putra Ibu."
Erin tidak menjawab dengan kata-kata. Ia bergeser lebih dekat dan memeluk Veronica erat-erat, membiarkan kepala gadis itu bersandar di bahunya. "Kau berhak kecewa, Nak. Tidak ada yang bisa menyalahkanmu untuk itu." Ia mengusap punggung Veronica perlahan. "Justru akulah yang harus minta maaf. Aku yang mendorongmu untuk dekat dengan putraku, tanpa tahu ada alasan lain di balik pernikahan kalian. Kalau aku tahu sejak awal, aku pasti menentangnya, dan aku akan menyuruh Altres memperlakukanmu sebagai istri, bukan sebagai orang yang mengawasi dan siap menjadi eksekutor istrinya sendiri."
Ia melepas pelukannya, membelai rambut Veronica dengan lembut sambil merapikan helai merah yang menempel di pipinya yang basah, lalu bertanya hati-hati, "Kalau suatu hari putraku bersungguh-sungguh, maukah kau memberinya kesempatan?"
Veronica mengerjap bingung, keningnya berkerut dan cangkir teh di tangannya berhenti di depan bibir. "Maksud Ibu apa? Kesempatan seperti apa?"
"Biar aku yang bicara dengan Altres soal perjanjian pernikahan kalian." Erin bangkit dan merapikan lipatan gaunnya. "Aku akan memastikan kau diperlakukan dengan baik sebagai menantu keluarga Vanguard. Sekarang istirahatlah, habiskan sarapanmu, dan jangan memikirkan apa pun dulu. Semua pekerjaan rumah biar aku yang urus sampai perasaanmu membaik."
Veronica hanya mengangguk kecil. Ia menatap pintu yang tertutup pelan di belakang mertuanya, lalu menarik piring daging panggang itu ke pangkuannya tanpa selera. Hangatnya pelukan tadi masih tertinggal di bahunya, dan itu justru membuat dadanya semakin sesak, sebab ia tidak tahu apakah ia pantas menerima kehangatan sebesar itu dari seseorang yang kehilangan begitu banyak karena rasnya.
Di ruang kerjanya, Altres duduk menghadap tumpukan dokumen tanpa membaca satu baris pun. Pena di tangannya sudah lama berhenti bergerak, tintanya mengering di ujung mata pena, dan pandangannya terus tertuju ke jendela, seolah halaman kediaman akan memberinya jawaban. Ia tahu Veronica kecewa, dan ia tidak bisa membantah alasannya. Pernikahan mereka memang bukan sekadar penyatuan dua ras, tetapi juga jaminan kesetiaan para naga. Namun melihat Veronica yang sudah mulai nyaman dengan kehidupan manusia harus menerima kenyataan itu, dadanya terasa sesak oleh rasa bersalah yang tidak bisa ia singkirkan. Ia teringat wajah Veronica di kereta sepulang dari istana, dingin dan nyaris tanpa ekspresi, dan sejak itu ia terus bertanya-tanya apakah ucapannya di depan Kaisar terlalu keras, sekaligus tidak tahu bagaimana cara memperbaikinya tanpa melanggar tugas yang diembannya.
"Tuan, tolong fokus pada pekerjaan." Reynan meletakkan satu berkas lagi di meja dengan hati-hati. "Festival panen tinggal sebentar lagi, dan pesta besar akan diadakan di kediaman ini. Daftar tamu, hidangan, dan penjagaan semuanya menunggu keputusan Anda hari ini."
Altres hanya bergumam tanpa menoleh, jarinya mengetuk pelan tepi meja. Reynan menarik napas panjang, sudah terbiasa menghadapi tuannya yang keras kepala kalau sedang melamun, lalu menambahkan sambil menggaruk tengkuknya, "Lagi pula, Nyonya Duchess sepertinya sedang sakit. Nyonya Erin sampai harus mengurus semua pekerjaan rumah."
Mendengar itu, Altres justru memejamkan mata dan menyandarkan punggung ke kursi. Rasa bersalahnya semakin dalam, menenggelamkannya sampai ia tidak sanggup membalas sepatah kata pun. Ia membayangkan Veronica duduk sendirian di kamar, dan ibunya yang sudah lama meninggalkan urusan rumah kini kembali menyingsingkan lengan baju demi menutupi kekosongan itu, semua karena keputusan yang ia ambil tanpa sempat bertanya pada siapa pun.
Tak lama kemudian, pintu terbuka tanpa diketuk. Erin melangkah masuk dengan wajah sedingin es, menarik kursi di depan meja kerja putranya, lalu duduk dengan punggung tegak dan tangan terlipat rapi di pangkuan. Tatapannya lurus pada Altres, dan ruangan itu mendadak terasa lebih sempit dari biasanya. Altres menegakkan punggung tanpa sadar, persis seperti anak kecil yang tertangkap basah mencuri kue.
"Nyonya Erin, apakah Anda memerlukan sesuatu?" tanya Reynan, berusaha terdengar sopan meski kakinya sudah bergeser setengah langkah ke belakang.
"Aku ingin bicara berdua dengan putraku." Erin bahkan tidak menoleh sedikit pun. "Dan kalau kau mengganggu kami lagi, Reynan, aku akan mengikatmu di tempat latihan seperti waktu itu."
Wajah Reynan seketika pucat. Ia teringat semalam penuh di tiang latihan, ketika ia tidak sengaja mengganggu Altres dan Veronica yang sedang berdua, dengan angin malam menusuk tulang, tali yang menggores pergelangan tangannya, dan para kesatria yang berlatih sambil pura-pura tidak melihat. Ia tidak mau mengulang malam seperti itu, tidak untuk urusan apa pun, apalagi dengan Nyonya Erin sebagai pengikatnya. "Baik, Nyonya! Saya permisi!" katanya cepat, lalu membungkuk dan melesat keluar. Pintu tertutup di belakangnya dengan bunyi yang jauh lebih keras dari yang ia maksudkan.
Altres menelan ludah ketika ruangan itu hanya menyisakan dirinya dan ibunya, dan keheningan di antara mereka terasa semakin berat dengan setiap detik yang lewat. Ia sudah bertarung melawan monster di perbatasan selama berminggu-minggu tanpa gentar, menghadapi taring dan cakar tanpa berkedip, tetapi tatapan Erin saat ini jauh lebih menakutkan daripada semua itu.
Ia meletakkan pena yang sejak tadi hanya dipegangnya di meja dengan gerakan sepelan mungkin, seakan suara sekecil apa pun bisa memicu badai. Di seberang meja, Erin masih menatapnya tanpa berkedip, jemarinya mengetuk lengan kursi dengan irama pelan yang entah mengapa terdengar seperti hitungan mundur. Altres tahu betul tatapan itu. Sejak kecil, tatapan itu selalu muncul tepat sebelum ia mendengar sesuatu yang tidak ingin ia dengar, tetapi harus ia dengar.