Terbuang saat bayi dan nyaris tewas di Hutan Terlarang, Hu Jin tumbuh tanpa mengetahui identitas aslinya sebagai Putra Mahkota Kerajaan Timur.
Ditolak oleh dunia dan diasuh oleh Dewi Es dari Sekte Teratai, Hu Jin bangkit membuktikan dirinya melalui Tulang Kaisar Langit—bakat mitologi yang mengguncang semesta. Namun, alih-alih menjadi alat politik sekte, ia memilih pergi menantang alam liar demi membebaskan gurunya dan merebut kembali takdir yang dirampas!
Mampukah pangeran yang terbuang ini menaklukkan benua dan kembali sebagai Dewa Pedang Es Kuno?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danzo28, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bau Darah dan Bayi yang Bisu
Bau amis darah bercampur pekatnya racikan herbal menyeruak di dalam kediaman Permaisuri Kedua. Di atas ranjang kayu cendana, Lin Xue terbaring payah. Napasnya tersengal, putus-putus, seolah dadanya dihimpit batu besar.
Di sampingnya, Raja Hu Yan mencengkeram jemari sang istri yang kian mendingin. Pria yang tak pernah berkedip saat merobek dada musuh di medan perang itu kini gemetar hebat. Otot-otot rahangnya mengeras, menahan tangis yang mendesak keluar dari tenggorokannya.
"Jangan tutup matamu, Xue-er..." bisikan Hu Yan pecah. Air matanya menetes, jatuh tepat di pipi Lin Xue yang pucat pasi. "Aku mohon... tetaplah bernapas."
Lin Xue menyunggingkan senyum tipis—begitu redup, bagai lilin kehabisan bahan bakar. Dengan sisa tenaga yang ada, ia membalas remasan tangan suaminya.
"Yang Mulia..." suara Lin Xue terputus oleh ringisan menahan sakit. "Janji kita... Anda masih mengingatnya?"
"Aku ingat!" Hu Yan mengangguk cepat, menyapu kasar air mata di wajahnya. "Jika dia laki-laki, ia adalah Hu Jin. Harapan kita. Dan jika perempuan, ia Hu Mei. Aku tidak pernah lupa, Xue-er..."
"Hu Jin... nama yang indah..."
Belum sempat kata itu selesai diucapkan, jeritan histeris Lin Xue memecah ruangan. Gelombang rasa sakit hebat kembali menghantamnya. Para tabib dan dayang mendadak panik, saling berteriak panik seraya mendesak Hu Yan untuk mundur dari sisi ranjang. Pria itu dipaksa menyaksikan wanita yang paling dicintainya bertaruh nyawa untuk terakhir kali.
Lalu, keheningan mencekam mendadak jatuh.
Seorang tabib tua mengangkat tubuh kecil yang baru lahir dengan tangan gemetar. Namun, tak ada lengkingan tangis bayi yang memecah malam.
Bayi laki-laki itu benar-benar diam. Mata hitamnya yang jernih terbuka perlahan, menatap langit-langit kamar yang kacau tanpa berkedip.
"D-dia... laki-laki, Yang Mulia!" seru sang tabib gagap, kebingungan dan takut melihat bayi yang membisu itu.
Hu Yan melangkah maju dan mengambil putranya ke dalam dekapan. "Hu Jin... putraku..."
Namun, rasa haru itu menguap dalam sekejap.
Di atas ranjang, tangan Lin Xue terkulai lemas ke tepi dipan. Napas terakhirnya terembus pelan, bersamaan dengan deru angin malam yang menerobos jendela dan memadamkan lilin-lalin di sudut ruangan.
"Permaisuri?!" jerit dayang utama sambil ambruk berlutut.
"Xue-er?!"
Hu Yan menerobos maju. Ia menempelkan dua jarinya ke leher sang istri, namun tak ada lagi denyut nadi di sana. Pria paling berkuasa di tanah Timur itu ambruk di samping ranjang, meraung meratapi tubuh kaku cinta sejatinya. Dan di dalam dekapannya, sang bayi tetap diam, seolah paham duka mendalam yang sedang melingkupi ayahnya.
Kabar duka dan kelahiran sang Pangeran menyebar cepat ke seluruh penjuru istana. Namun di tengah selimut duka itu, duri pengkhianatan mulai menusuk dari balik bayangan.
Di kediaman utama, Permaisuri Pertama sibuk meratapi nasib malang adik madunya. Namun sang adik, Zhao Feng, berdiri di balik pilar dengan pandangan dingin. Matanya menyipit penuh kalkulasi serakah.
Jika bayi itu dibiarkan hidup, takhta tidak akan pernah tersentuh oleh keluarga Zhao, batin Zhao Feng murka.
Memanfaatkan kekacauan istana yang kehilangan fokus, Zhao Feng menyusup ke lorong rahasia. Di sana, ia mencegat Kasim Li—abdi kepercayaan yang memegang kunci akses istana. Tanpa banyak bicara, Zhao Feng melempar kantong kain tebal. Bunyi berdenting berat dari emas dan batu permata langsung memecah sunyi.
"Kau tahu apa yang harus kau lakukan, Li," bisik Zhao Feng dingin.
Kasim Li menerima kantong itu dengan jemari gemetar. "Tuan Zhao... Baginda Raja sedang berduka. Jika hal ini terungkap—"
"Tidak akan ada yang tahu!" potong Zhao Feng seraya mencengkeram bahu Kasim Li hingga pria tua itu meringis. "Istana sedang lumpuh. Ambil bayi itu, buang keluar gerbang kota, dan pastikan dia tidak pernah melihat matahari esok hari!"
Dini hari, saat kegelapan mencapai puncaknya.
Setelah mencampur racun pembius dosis ringan ke dalam teko minum para dayang, Kasim Li menyusup masuk ke kamar bayi. Napasnya memburu cepat. Dengan tangan gemetar, ia mengangkat tubuh kecil Hu Jin dari ayunan emasnya.
Aneh. Bayi itu sama sekali tidak menangis atau terbangun kaget.
Mata hitamnya yang jernih justru terbuka lebar, menatap lurus ke arah Kasim Li dalam kegelapan. Tatapan dingin yang seolah mampu menembus busuknya niat sang kasim. Perasaan merinding menjalar hebat di punggung Kasim Li, namun keserakahan dengan cepat melumpuhkan rasa takutnya.
Ia membungkus tubuh Hu Jin dengan kain tebal, melompat lewat jendela, lalu lenyap ditelan pekatnya malam.
Pagi harinya, Istana Timur gempar luar biasa.
Raungan murka Raja Hu Yan membahana hingga ke luar kediaman. Meja giok tebal di hadapannya hancur berkeping-keping menjadi debu akibat luapan aura Qi yang tak terkendali.
"Cari putraku! Cari dia sampai ke ujung dunia!"
Seluruh prajurit dikerahkan. Gerbang kota dikunci rapat. Namun, tak ada satu pun jejak yang tertinggal. Kehilangan istri tercinta dan putra tunggalnya dalam kurun waktu satu malam meremukkan jiwa Hu Yan. Pria perkasa itu akhirnya jatuh sakit, terpuruk dalam keputusasaan yang dalam.
Di aula istana, Permaisuri Pertama meratap pedih, tak pernah menduga bahwa malapetaka ini dirancang oleh adiknya sendiri.
Sementara itu, Zhao Feng berdiri tepat di samping sang Permaisuri. Ia menunduk dalam-dalam, pura-pura menyapu air mata. Namun di balik lengan bajunya yang lebar, tangannya terkepal puas dengan senyum tipis yang terukir licik.
Menangislah, Yang Mulia... batinnya penuh kemenangan. Putra mahkotamu sudah jadi bangkai di luar sana, dan takhta ini sebentar lagi akan jadi milikku.