Astiana Larasati turun ke ibu kota dengan ilmu bela diri kuno, pengobatan ajaib, dan kemampuan mendengar niat jahat untuk mencari orang tua kandungnya. Berpandukan liontin yang bisa menyala hijau, Astiana menavigasi intrik para elit kota sambil mati-matian menekan kekuatannya demi mematuhi amanat kakek angkatnya untuk hidup rendah hati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31
Dia mendaratkan dua tendangan beruntun yang sangat mematikan ke wajah penjaga di sebelah kiri dan kanan.
Plak plak.
Kedua penjaga itu langsung terpelanting keras ke belakang dan menabrak dinding lorong hingga pingsan.
Astiana mendarat dengan mulus tepat di ambang jendela kaca yang terbuka lebar tersebut.
"Aku sudah sampai di depan jendela, Tuan Muda Raka."
Astiana melapor pelan sambil menoleh ke belakang melihat puluhan penjaga bersenjata mulai muncul dari tikungan.
"Bagus, lompat sekarang juga, di bawah sana ada kolam renang yang cukup dalam untuk mendarat."
"Pastikan kau mendarat di air dan segera lari menembus hutan lebat di belakang mansion."
"Tembak dia sekarang, habisi dia."
Komandan penjaga berteriak memberikan perintah eksekusi dari ujung lorong.
Dor dor dor.
Hujan peluru mulai ditembakkan ke arah jendela dengan sangat membabi buta dan mengerikan.
Astiana tidak berpikir dua kali dan langsung melompat keluar dari jendela lantai dua tersebut.
Wush.
Angin siang yang panas langsung menerpa wajah Astiana saat tubuhnya melayang bebas di udara.
Dari ketinggian sepuluh meter, Astiana menatap ke bawah dan melihat kolam renang biru yang sangat luas.
Dia merapatkan kedua tangannya lurus ke sisi tubuh untuk meminimalkan benturan keras dengan air.
Byurrr.
Cipratan air yang sangat tinggi terjadi saat tubuh Astiana menghantam permukaan kolam renang.
Suhu air yang sangat dingin langsung menyegarkan tubuhnya yang sedikit berkeringat karena bertarung.
Astiana menahan napasnya di dalam air dan berenang dengan sangat cepat menuju tepi kolam.
Dia muncul ke permukaan air dan langsung melompat naik ke atas lantai keramik pinggir kolam.
Hah hah.
Astiana menarik nafas dalam-dalam untuk mengisi paru-parunya dengan oksigen baru.
"Dia melompat ke kolam renang, cepat kejar dia ke bawah lewat tangga darurat."
Terdengar teriakan panik dari para penjaga yang melongok mencari dari jendela lantai dua.
"Nona Astiana, kau baik-baik saja di bawah sana."
Suara Raka kembali terdengar dari earpiece yang untungnya didesain tahan air.
"Aku sudah meretas sistem gerbang belakang taman, pintu besi kecilnya sudah terbuka sedikit."
"Aku baik-baik saja, air kolam ini baru saja menyelamatkan tulangku dari patah."
Astiana memeras ujung jas hitamnya yang basah kuyup sambil terus memacu langkah larinya.
Dia berlari menyusuri area taman belakang yang sangat luas menuju dinding perbatasan mansion.
Dinding beton setinggi tiga meter itu dipasangi kawat berduri melingkar di bagian atasnya.
Namun ada sebuah pintu besi kecil yang biasa digunakan oleh tukang kebun sedang terbuka setengah. Kriet.
Astiana menerobos pintu besi itu dan langsung masuk ke dalam area hutan lebat di luar kompleks.
"Aku sudah keluar dari dinding perbatasan mansion yang dijaga."
Astiana terus berlari menembus semak belukar dan pepohonan yang tumbuh cukup rapat di bukit itu.
"Bawa mobilmu ke titik penjemputan sekarang juga, Tuan Muda."
"Aku sudah dalam perjalanan, Nona Astiana, tunggu aku di dekat jalan raya lama yang sepi."
Brummm.
Dari jarak jauh, Astiana bisa mendengar suara deru mesin mobil sedan yang sangat kencang.
Astiana mempercepat langkah kakinya menghindari akar-akar pohon besar yang menonjol dari tanah.
Kemampuan fisik dan staminanya benar-benar diuji sampai batas maksimal dalam pelarian panjang ini.
Namun ajaran keras mendiang kakeknya di lereng gunung dulu membuat berlari di hutan terasa seperti hal biasa.
Setelah berlari tanpa henti selama hampir lima belas menit, Astiana akhirnya melihat jalan raya beraspal.
Jalanan aspal itu sangat sepi dan diapit oleh pepohonan tinggi di sisi kiri dan kanannya.
Cittt.
Mobil sedan perak milik Raka tiba-tiba mengerem mendadak dan berhenti tepat di depan Astiana.
Asap tipis mengepul berbau karet hangus dari gesekan ban mobil dengan aspal jalanan.
Raka langsung membukakan pintu penumpang dari dalam dengan wajah yang sangat pucat dan panik.
"Masuk cepat, Astiana, helikopter patroli mereka pasti sudah mengudara mencari kita di kawasan ini."
Raka berteriak menyuruh Astiana segera masuk berlindung ke dalam mobil.
Astiana langsung melompat masuk dan menutup pintu mobil dengan sangat keras.
Brak.
"Jalan sekarang, Tuan Muda, bawa kita menjauh dari bukit ini."
Raka menginjak pedal gas dalam-dalam membuat mobil itu kembali melesat dengan kecepatan penuh.
Brummm.
Mereka berdua terdiam selama beberapa menit hanya ditemani suara deru mesin dan embusan AC mobil.
Astiana menyandarkan kepalanya ke kursi dan menutup matanya yang terasa sedikit pedih karena klorin air kolam.
Tubuhnya basah kuyup kedinginan namun perasaannya terasa jauh lebih tenang dari sebelumnya.
"Kau benar-benar membuatku hampir mati terkena serangan jantung, Nona Astiana."
Raka akhirnya memecah keheningan di mobil dengan suara yang masih terdengar gemetar.
"Alarm merah di kawasan Mansion Bukit Hijau itu tidak pernah berbunyi sekali pun selama sepuluh tahun terakhir."
"Maafkan aku sudah membuat keributan sebesar itu hari ini, Tuan Muda Raka."
Astiana membuka matanya dan menoleh menatap Raka yang sedang sangat fokus menyetir.
"Tapi aku sudah mendapatkan semua informasi masa lalu yang aku cari selama ini."
Raka sedikit menoleh dan menaikkan sebelah alisnya merasa sangat penasaran dengan hasil pertemuan itu.
"Jadi, wanita bernama Miranda itu benar-benar ibu kandungmu yang membuangmu."
"Bukan."
Astiana menggelengkan kepalanya pelan sambil menghela nafas yang terasa sangat berat.
"Dia adalah adik kandung dari ibuku, yang berarti dia adalah bibiku."
"Bibimu."
Raka membelalakkan matanya kaget mendengar fakta silsilah keluarga konglomerat yang sangat rumit itu.
"Lalu di mana orang tua kandungmu sekarang, kenapa kau dibuang sendirian ke hutan."
"Ibuku adalah pewaris utama Keluarga Adibrata yang memilih kabur bersama ayahku karena tidak direstui."
Astiana menceritakan kembali ucapan Miranda dengan suara yang sangat datar dan hampa.
"Bibi Miranda yang serakah mengirim ratusan pembunuh bayaran untuk menghabisi keluargaku malam itu."
Astiana meremas ujung jasnya yang basah untuk melampiaskan sedikit amarah yang membara di hatinya.
"Mereka berdua dikabarkan tewas jatuh ke jurang saat melarikan diri, tapi mayatnya tidak pernah ditemukan."
"Hanya aku yang kebetulan selamat dan ditemukan oleh kakek angkatku yang baik hati."
Raka terdiam bungkam mendengar kisah tragis yang jauh lebih kelam dari drama perebutan harta keluarganya sendiri.
Perebutan warisan di Keluarga Darma hanya sebatas jebakan murahan dan racun perlahan yang pengecut.
Tapi di Keluarga Adibrata, perebutan kekuasaan kotor dilakukan dengan pembantaian darah daging mereka sendiri.
"Ini sungguh gila, wanita itu benar-benar iblis berwujud manusia."
Raka mencengkeram setir mobilnya dengan kuat merasa ikut marah dan jijik mendengar cerita tersebut.
"Lalu apa rencanamu selanjutnya, Astiana, kau tidak bisa kembali berurusan dengan mereka sendirian."
"Aku tahu, mulai detik ini statusku pasti sudah menjadi buronan nomor satu Keluarga Adibrata."
Astiana menatap jalan raya lurus di depannya dengan tatapan mata yang sangat tajam dan dingin.
"Bibi Miranda tidak akan membiarkan pewaris sah yang memegang liontin ini hidup tenang bernafas di kota ini."
"Keluarga Darma akan melindungimu, kau bisa bersembunyi dengan aman di rumah kakekku."
Raka menawarkan perlindungan tempat tinggal dengan sangat tulus tanpa ragu sedikit pun.
"Kakekku pasti akan mengerahkan seluruh koneksi dan kekayaannya untuk menjaga penyelamat nyawanya."
"Terima kasih atas tawaran baikmu, Tuan Muda Raka."
Astiana tersenyum sangat tipis menghargai niat tulus pemuda arogan yang kini telah berubah total ini.
"Tapi aku tidak akan bersembunyi seperti pengecut yang hanya diam menunggu diburu oleh mereka."
Astiana mengeluarkan liontin kristalnya dan menatap pendaran cahayanya yang kini perlahan mulai meredup.
"Aku akan membuat mereka membayar hutang darah keluargaku, perlahan namun pasti."
"Aku akan menghancurkan kerajaan bisnis gelap mereka satu per satu dari luar."
"Sampai Bibi Miranda sendiri yang keluar dari sangkar emasnya dan berlutut memohon ampun di depanku."
Tekad yang membara di mata Astiana membuat Raka diam-diam merasa merinding kagum.
Gadis dari desa ini telah resmi bermutasi menjadi ancaman terbesar bagi klan paling berkuasa di ibu kota.
Dan Raka tahu di dalam hatinya, dia akan terus berdiri setia di samping gadis ini apa pun yang terjadi.
Perang besar antara pewaris yang terbuang dan ratu kegelapan ibu kota kini telah resmi ditabuh bunyinya.
selamat untuk memperbaiki semua kerusakannya pak manajer 🤣🤣