NovelToon NovelToon
Bertahan Hidup Sebagai Tuan Muda Sampah

Bertahan Hidup Sebagai Tuan Muda Sampah

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Reinkarnasi / Fantasi
Popularitas:500
Nilai: 5
Nama Author: Nappzz

Arthur terbangun di dunia novel dark fantasy yang baru saja ia tamatkan. Sialnya, ia tidak merasuki tubuh sang Pahlawan, melainkan Arthur Pendelton—tuan muda dari keluarga Duke yang terkenal sebagai "sampah", sombong, dan ditakdirkan mati mengenaskan di chapter awal oleh sang protagonis asli. Berbekal ingatannya tentang alur cerita masa depan dan rahasia-rahasia tersembunyi di dunia itu, Arthur harus menyusun strategi untuk menghindari kematiannya. Tapi anehnya... kenapa pahlawan asli dan tokoh-tokoh kuat lainnya malah mulai tunduk dan mengikutinya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nappzz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10 Anomali di Luar Skenario

Ujung belati bayanganku berhenti tepat satu inci dari leher jenjang gadis itu. Udara di sekitarku membeku. Aura pembunuh yang memancar dari tubuhku cukup untuk membuat ksatria veteran kencing di celana, namun gadis berambut perak ini tidak berkedip sama sekali.

Ia malah menggigit sisa apelnya dengan santai. Bunyi kunyahannya terdengar sangat keras di tengah kesunyian Perpustakaan Terlarang.

Pikiranku berpacu, memproses ribuan kemungkinan dalam hitungan detik. Di kehidupanku sebelumnya, saat aku terbiasa berhadapan dengan baris-baris kode logika dan melatih model algoritma data, aku belajar satu hal mutlak: sebuah variabel asing yang tidak terdaftar di dalam sistem adalah bug yang bisa menghancurkan seluruh struktur program.

Gadis ini adalah bug tersebut. Dia tidak ada dalam novel 'Crown of Ash'. Dia adalah anomali murni.

"Mata yang bagus," ucap gadis itu perlahan, menatap mata biruku lekat-lekat. Sepasang mata emasnya tampak sedikit berpendar di dalam kegelapan, tajam dan misterius. "Kosong, penuh perhitungan, dan tidak memiliki setitik pun rasa takut. Sangat berbeda dengan si bodoh Arthur yang kudengar suka menangis jika kukunya patah."

Aku tidak membalas provokasinya. Alih-alih menyerang, aku justru membuang napas pelan, mengendurkan ketegangan di bahuku, dan melenyapkan belati bayanganku ke udara kosong.

Menyerang variabel yang tidak diketahui kekuatannya adalah tindakan paling tidak logis. Aku tidak bisa merasakan fluktuasi sihir sekecil apa pun dari tubuhnya. Entah dia memang manusia biasa tanpa mana sama sekali, atau... kekuatannya berada di tingkat yang terlalu tinggi hingga sistem sensorikku gagal mendeteksinya. Mengingat dia bisa duduk santai di perpustakaan yang dilindungi Aegis Ward, opsi kedualah yang paling masuk akal.

"Kau terlalu banyak membaca teori konspirasi, Nona Kecil," kataku dengan nada sedatar dan setenang mungkin. Aku membersihkan debu dari lengan jasku. "Aku adalah Arthur Pendelton. Mungkin kepalaku baru saja terbentur cukup keras hingga kewarasanku sedikit kembali."

Gadis itu tertawa. Suara tawanya terdengar merdu, namun menggemakan aura kuno yang membuat bulu kudukku meremang.

"Alibi yang cerdas. Tapi kau tidak bisa membohongi hidungku," gadis itu melompat ringan, berjalan mengitariku seolah aku adalah patung pameran. "Sihir kegelapanmu itu... baunya menenangkan. Seperti aroma hujan badai di tengah malam. Sangat murni, belum terkontaminasi oleh dosa dunia ini. Siapa namamu yang sebenarnya, Jiwa Asing?"

Jantungku berdegup satu ketukan lebih cepat. Dia tahu. Dia benar-benar tahu bahwa aku adalah jiwa yang bereinkarnasi.

"Kau tidak perlu tahu namaku," balasku dingin, memasukkan kedua tangan ke dalam saku jubah. "Pertanyaannya sekarang, apa yang akan kau lakukan dengan informasi itu? Melaporkannya pada para Profesor? Atau menjualku pada Ksatria Kekaisaran di luar sana?"

Gadis itu mendengus bosan, membuang sisa bonggol apelnya yang langsung menguap menjadi debu cahaya sebelum menyentuh lantai.

"Menjualmu? Untuk apa? Manusia-manusia serakah di bawah sana terlalu membosankan. Ratusan tahun aku terjebak menjaga tempat berdebu ini, melihat orang-orang memperebutkan kekuasaan yang fana," keluhnya sambil mengerucutkan bibir. Lalu, senyum lebar yang agak mengerikan terbentuk di wajahnya. "Tapi kau... kau meretas aturan dunia ini sejak malam pertama. Kau memakan Grimoire kutukan itu layaknya camilan."

Ia melangkah maju, memangkas jarak hingga wajah kami hanya berjarak beberapa jengkal.

"Namaku Nox," bisiknya. "Aku tidak akan melaporkanmu. Sebaliknya, mari kita buat kesepakatan, Jiwa Asing."

"Kesepakatan apa?"

"Jadilah tontonan yang menarik untukku," Nox menyeringai lebar. "Dunia ini berjalan di atas naskah takdir yang sangat kaku dan membosankan. Sang Pahlawan Cahaya menyelamatkan dunia, Sang Penjahat mati mengenaskan. Aku muak melihatnya berulang kali. Hancurkan naskah itu. Ubah alur ceritanya. Kejutkan aku. Selama kau membuatku terhibur, aku akan tutup mulut... dan mungkin, aku akan memberimu beberapa petunjuk tentang kode-kode rahasia dunia ini yang tidak pernah ditulis di buku sejarah mana pun."

Tawaran yang sangat menggiurkan. Sebuah aliansi dengan entitas kuno yang tak terikat oleh plot cerita. Bagi seorang pemikir strategis sepertiku, informasi adalah senjata terkuat yang melebihi pedang suci mana pun. Jika aku ingin bertahan hidup melampaui bab ke-15 dan mengalahkan 'Sistem' yang memaksa Leon menjadi dewa, aku butuh database rahasia milik Nox.

Aku menatap mata emasnya yang berbinar penuh antisipasi.

"Jangan mengeluh jika tontonan yang kuberikan nanti terlalu berdarah untuk seleramu, Nox," kataku dengan seringai tipis.

Nox terkikik geli. "Aku menantikannya, Arthur Pendelton. Nah, sekarang sebaiknya kau segera pergi sebelum fajar menyingsing. Ksatria penjaga Aegis Ward akan segera melakukan pergantian sif."

Aku mengangguk singkat. Tanpa menunda lagi, aku membalikkan badan dan memanggil kembali sihir bayanganku. Aku meretas dinding energi keemasan di balkon menara dengan mudah, berkat teknik pernapasan baru dari Grimoire yang membuat kendali sihirku setajam pisau bedah.

Dalam sekejap, aku melompat ke dalam kegelapan malam, menyatu dengan bayang-bayang pepohonan, dan kembali ke asrama tanpa meninggalkan satu pun jejak kaki.

Pagi hari di Akademi Solaria datang dengan kericuhan yang lebih besar dari sebelumnya.

Saat aku melangkah memasuki aula utama untuk sarapan, suasana yang biasanya berisik oleh canda tawa para bangsawan kini terasa suram dan penuh bisik-bisik tegang.

Aku mengambil nampan, mengambil sepotong roti gandum dan secangkir kopi hitam, lalu berjalan santai menuju meja di sudut ruangan. Beberapa murid langsung menyingkir, memberiku jalan dengan kepala tertunduk. Reputasiku yang tadinya 'Sampah Arogan' sepertinya sudah sedikit bergeser menjadi 'Sosiopat yang Sulit Ditebak' semenjak kejadian dengan Cedric kemarin.

"Arthur."

Suara dingin dan penuh otoritas menghentikan suapanku.

Aku mendongak. Leon berdiri di seberang mejaku. Wajah pahlawan berambut merah itu tampak pucat pasi, namun rahangnya mengeras penuh tekad. Di belakangnya, berdiri dua anggota Komite Kedisiplinan yang memandangku dengan waspada.

Ini adalah pertemuan pertama kami secara langsung setelah insiden di Hutan Merah semalam. Leon sama sekali tidak ingat siapa yang menyelamatkannya di tengah hutan karena pandangannya kabur oleh racun. Di matanya saat ini, aku masihlah Arthur si bangsawan arogan yang ia permalukan di arena dua hari yang lalu.

"Ada yang bisa kubantu, Pahlawan Kelas Alkimia?" tanyaku santai, kembali menyesap kopi hitamku tanpa menawarinya duduk.

Tangan Leon terkepal erat di sisi tubuhnya. "Profesor Aegis dan Ketua Komite Cecilia sedang mencarimu. Mereka memintamu datang ke Ruang Interogasi Utama sekarang juga."

Aku mengangkat sebelah alis. "Atas dasar apa?"

"Atas dasar kesaksian dari salah satu penjaga Hutan Merah," jawab Leon dengan suara bergetar menahan marah. "Seseorang melihat kereta kuda berlogo keluarga Pendelton melesat keluar dari area sekitar hutan tepat pada saat sihir hitam itu meledak semalam."

Aku meletakkan cangkir kopiku perlahan. Mataku menyipit.

Sepertinya, meski aku telah meretas dan menutupi jejak sihirku di dalam hutan, masih ada saksi mata ceroboh yang melihat kendaraan fisikku. Plot cerita ini benar-benar tidak ingin membiarkanku hidup tenang. Mereka mencari kambing hitam untuk kasus pembunuh bayaran itu, dan Arthur Pendelton selalu menjadi target yang paling mudah ditebak.

Aku bangkit berdiri, meraih jas akademiku, dan membersihkan remah roti dari meja.

"Baiklah," ucapku sambil menatap lurus ke mata Leon, memancarkan ketenangan absolut yang membuat sang protagonis tanpa sadar mundur selangkah. "Mari kita lihat, cerita fiksi apa lagi yang akan mereka tuduhkan padaku hari ini. Tunjukkan jalannya, Leon."

Permainan adu argumen tingkat tinggi akan segera dimulai. Dan kali ini, aku tidak akan membiarkan mereka menyudutkanku.

1
ZAHRANI
keren thor mantap👍
Nappzz: thank you ka, makasih support nya 🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!