Menikah 15 tahun tanpa anak dan hidup susah dari nol ditemani Agus, Eda akhirnya lulus PPPK setelah 10 tahun jadi honorer. Bukannya bahagia, gajinya justru habis tersedot utang serta beban keluarga besar. Saat lelah mendera, Agus sang suami berubah dingin jika tak diberi uang rokok, bahkan tega mengungkit luka lama di atas ranjang. Di antara rasa kasihan dan putus asa, Eda dihadapkan pada pilihan sulit: bertahan dengan pria yang tak punya tempat pulang, atau pergi demi menyelamatkan kewarasannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amoreiza Aneta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gertakan Suami yang Hampa
Keheningan yang ditinggalkan Eda di meja makan malam itu berubah menjadi abu penderitaan bagi Agus. Di hadapan ibu kandung dan ipar-iparnya, pria itu merasa harga dirinya sebagai kepala rumah tangga telah rata dengan tanah. Senyum masam dan angka-angka utang yang dibeberkan Eda terus bergema di dalam kepalanya, memantik amarah yang sudah lama mengeram.
Usai Eda selesai mencuci piring dan kembali ke kamarnya, Agus menyusul dengan langkah kasar. Pintu kamar dihenyaknya hingga menghentak dinding.
Eda yang sedang melipat mukena usai salat Isya hanya menoleh pelan. Wajahnya tetap tenang, seolah telah memperhitungkan kedatangan badai kecil ini.
"Eda!" bentak Agus dengan suara rendah yang ditahan agar tidak terdengar terlalu melengking ke luar, namun sarat ancaman. "Kamu benar-benar sudah melampaui batas! Kamu mempermalukan aku, mempermalukan Mas Doni dan Mama di meja makan! Mau taruh di mana mukaku sebagai suamimu?!"
Eda merapikan mukenanya di atas meja kecil, lalu berbalik menghadapi Agus. "Aku tidak mempermalukan siapa pun, Agus. Mas Doni yang memulai dengan sindiran, dan aku hanya meluruskan kenyataan agar tidak ada yang bersikap seolah-olah aku ini manusia jahat dan pelit."
"Kenyataan?!" Agus maju dua langkah, menuding wajah Eda dengan jari yang gemetar. "Kenyataan bahwa kamu itu istri pembangkang! Kamu merasa paling hebat hanya karena pegang gaji PPPK! Ingat ya, Ed, tanpa izin dan ridho dari suami, langkahmu di luar sana itu haram!"
Kata 'haram' dan 'pembangkang' yang dilemparkan Agus tidak lagi membuat Eda gemetar atau menunduk takut seperti tahun-tahun lalu. Eda menatap suaminya dengan tatapan yang teramat dingin dan dalam.
"Izin dan ridho suami itu untuk hal-hal yang benar, Agus," sahut Eda pelan namun sangat tajam. "Apakah ridho suami juga berlaku saat suaminya membiarkan istrinya diperas habis-habisan sampai gajinya habis untuk utang orang lain? Apakah ridho suami berlaku saat suaminya sendiri tidak pernah mau memberi nafkah lahir dan cuma menuntut dilayani?"
Wajah Agus memerah padam. Ia tak sanggup menjawab pertanyaan lurus itu. Dalam keputusasaannya menekan Eda, Agus melancarkan gertakan pamungkasnya—senjata psikologis yang dulu paling ditakuti Eda.
"Ooh... jadi kamu sudah tidak butuh suami lagi?!" desis Agus tajam, dadanya naik turun memburu. "Kalau kamu terus-terusan keras kepala dan tidak mau menurut sama aku, malam ini juga aku pergi dari rumah ini! Aku akan pulang ke rumah orang tuaku di Klaten! Lihat saja, apa kamu tidak malu jadi wanita yang ditinggal pergi suaminya!"
Agus berdiri tegak dengan melipat tangan, menunggu reaksi Eda. Ia membayangkan Eda akan panik, menangis, memegang lengannya, dan memohon maaf agar ia tidak pergi meninggalkan rumah.
Namun, yang terjadi justru sebaliknya.
Eda menatap Agus tanpa ada secercah ketakutan pun di matanya. Bibirnya melengkungkan senyum tipis yang sarat akan kedewasaan dan ketenangan batin.
"Kalau itu keputusanmu untuk menginap atau pulang ke Klaten, silakan, Agus," jawab Eda sangat tenang, intonasi suaranya halus tanpa nada amarah. "Pintu depan tidak dikunci. Pakaianmu di lemari bisa kamu bawa seperlunya."
Agus melongo. Seluruh badannya mendadak kaku. "Kamu... kamu tidak menahan aku, Ed?!"
"Kamu pria dewasa, Agus. Kamu punya pikiran dan kaki sendiri," tutur Eda lembut, melangkah mendekati lemari kayu dan mengambilkan satu tas kain kecil. Ia meletakkannya di atas kasur di depan Agus. "Kalau berada di dekatku hanya membuatmu merasa tidak dihargai, mungkin kamu memang butuh waktu di rumah orang tuamu untuk berpikir."
Agus mematung di tempatnya. Gertakan yang ia persiapkan dengan penuh emosi hancur melenyap menjadi kehampaan yang memalukan. Ia berniat mengancam agar Eda tunduk, namun Eda justru menyambut ancaman itu dengan lapang dada dan membukakan jalan keluar baginya.
Gengsi yang terlanjur membumbung tinggi membuat Agus tidak bisa menarik kembali ucapannya. Dengan wajah berantakan dan napas kasar, Agus menyambar tas kain di atas kasur, memasukkan beberapa potong bajunya secara asal, lalu berbalik melangkah keluar kamar.
"Jangan menyesal kamu, Eda!" ancam Agus di ambang pintu sebelum membantingnya kasar.
Eda berdiri diam di tengah kamar. Di luar, terdengar langkah kaki Agus yang terburu-buru melewati ruang tengah, disusul suara kebingungan Ibu Ratna yang memanggil nama anaknya, dan akhirnya suara pintunya ditutup dari luar.
Eda menghembuskan napas panjang yang terasa sangat lega. Ia berjalan perlahan menuju tempat tidur, mematikan lampu utama, dan menyalakan lampu tidur yang remang-remang. Untuk pertama kalinya setelah belasan tahun, Eda berbaring di atas kasur tanpa ada bayang-bayang ketakutan akan gertakan suaminya.