NovelToon NovelToon
My Annoying Lecturer: My Hubby

My Annoying Lecturer: My Hubby

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Dosen / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: syshy

Lyana Shaqiera, mahasiswi fakultas hukum.
Di tahun keduanya menempuh pendidikan, Qiera justru mendapat gelar baru. Bukan gelar Sarjana Hukum, melainkan "istri" dari dosennya, tepatnya dosennya yang sangat menyebalkan, Ravian Aryasatya?!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon syshy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

MAL09. Rasa Curiga

Cahaya matahari pagi menyusup melalui celah tirai kamar rawat, jatuh tepat di wajah Qiera yang masih terlelap di atas sofa. Tidurnya begitu nyenyak sampai-sampai ia tidak menyadari suara langkah perawat yang sesekali melewati lorong, ataupun bunyi pelan dari alat pemantau di dekat ranjang kakek Ravian Aryasatya. Setelah melewati hari yang melelahkan, tubuhnya seolah menolak untuk diajak bangun lebih cepat.

Sampai sebuah suara rendah terdengar tidak jauh darinya. “Kalau kamu berniat tidur sampai siang, setidaknya jangan menguasai seluruh sofa.”

Qiera mengernyit. Ia menggeliat sedikit, lalu membuka mata perlahan. Hal pertama yang dilihatnya adalah langit-langit kamar rumah sakit yang asing. Hal kedua adalah seorang pria yang duduk di kursi dekat sofa, menatapnya dengan ekspresi tenang yang tampak menyebalkan seperti biasa.

Ia langsung bangkit setengah duduk. “Mas?”

“Selamat pagi.”

Qiera memandang sekeliling, berusaha mengumpulkan ingatan tentang kejadian semalam. Ia ingat datang ke rumah sakit bersama Ravi, menunggu kabar kakek di depan ICU, lalu merasa sangat mengantuk. Setelah itu, ingatannya terputus-putus. Ia tidak ingat kapan berpindah ke kamar ini, apalagi bagaimana dirinya bisa berakhir di atas sofa dengan selimut yang menutupi tubuhnya.

“Kenapa aku tidur di sini?” tanyanya, masih dengan suara serak khas orang yang baru bangun.

“Karena kamu tertidur di kursi ruang tunggu.”

“Terus?”

“Saya memindahkanmu ke sini.”

Qiera terdiam. Ia menatap sofa, lalu menatap Ravi lagi. “Mas menggendongku?”

Ravi mengangkat alis, seolah pertanyaan itu tidak perlu diajukan. “Apa kamu ingin saya menyeretmu?”

“Bukan begitu!” Qiera buru-buru membetulkan posisi duduknya. “Aku cuma ngga nyangka Mas mau repot-repot.”

“Saya tidak merasa melakukan sesuatu yang merepotkan.”

Jawaban itu membuat Qiera kehilangan kata-kata. Ia menunduk, memainkan ujung selimut di pangkuannya. Ada rasa hangat yang perlahan muncul di dadanya, tetapi ia buru-buru mengabaikannya. Ravi hanya melakukan hal yang wajar sebagai suami, bukan? Tidak ada alasan untuk memikirkan tindakan sederhana itu berulang kali.

Kemudian pandangannya jatuh pada jaket yang terlipat rapi di samping bantal. “Ini juga Mas yang merapikannya?”

“Jaketmu hampir jatuh saat kamu tidur.”

Qiera mengangguk kecil. “Makasih.”

Ravi yang semula hendak berdiri sempat berhenti. Ia menoleh, seolah tidak yakin baru saja mendengar ucapan terima kasih tanpa disertai protes dari istrinya. “Sama-sama.”

“Kenapa lihatnya begitu?”

“Tidak apa-apa. Saya hanya memastikan kamu benar-benar sudah bangun.”

“Memangnya aku biasanya gimana?”

“Biasanya, kalau bangun tidur, kamu langsung mencari alasan untuk membantah saya.”

Qiera mendelik. “Aku ngga seburuk itu!”

“Baiklah.” Ravi mengangguk dengan wajah yang terlalu serius untuk dipercaya. “Hari ini kamu baru membantah saya sekali. Perkembangan yang bagus.”

“Mas Ravi!”

Tawa kecil lolos dari bibir Ravi. Qiera langsung menarik selimut sampai ke pangkuannya, menahan diri agar tidak melempar bantal ke arah pria itu. Ia sudah cukup malu karena digendong, dan sekarang Ravi malah menjadikan hal itu bahan lelucon.

Namun, ketika ia memperhatikan wajah Ravi lebih saksama, senyumnya perlahan memudar. Ada bayangan lelah di bawah mata pria itu. Kemejanya sedikit kusut, rambutnya tidak serapi biasanya, dan cangkir kopi di meja kecil tampak sudah lama tidak disentuh.

“Mas belum tidur?” tanyanya.

“Sempat memejamkan mata sebentar.”

“Itu bukan jawaban.”

Ravi menatapnya. “Kamu sedang menginterogasi saya?”

“Aku serius.” Qiera menyingkirkan selimut dan duduk lebih tegak. “Mas menjaga Kakek semalaman, kan? Kondisi Kakek bagaimana sekarang?”

“Sudah stabil untuk sementara. Dokter masih akan memantau kondisinya karena Kakek belum sepenuhnya pulih.” Nada suara Ravi berubah lebih tenang. “Tadi Papa dan Mama sudah pulang untuk beristirahat. Saya akan menghubungi mereka lagi kalau ada perkembangan.”

Qiera mengembuskan napas lega. “Syukurlah.”

Untuk sesaat, keduanya terdiam. Qiera melirik pintu kamar sebelum kembali menatap suaminya. Ia ingin mengatakan sesuatu, tetapi merasa sedikit canggung untuk memulainya.

“Mas, kalau nanti Kakek sudah bisa dijenguk, aku mau menemani Mas.”

Ravi mengangguk. “Tentu.”

“Dan kalau Mas mengantuk, bilang saja. Kita bisa bergantian menjaga.”

“Kamu sendiri baru bangun.”

“Justru karena itu. Sekarang giliranku.”

Ravi menatap wajahnya beberapa detik, kemudian tersenyum tipis. “Baik, Bu Wakabem. Saya akan mempertimbangkan tawaranmu.”

Qiera memutar bola mata, tetapi kali ini ia ikut tersenyum.

Pagi itu, untuk beberapa saat, mereka bukan dosen muda yang kerap membuat mahasiswinya kesal dan mahasiswi yang gemar membantahnya. Mereka hanya dua orang yang sama-sama khawatir pada seseorang yang telah menjalin kehidupan bersama, berusaha menjaga satu sama lain dengan cara yang masih terasa asing.

Dan entah mengapa, Qiera mulai menyukai perasaan itu.

Menjelang siang, setelah mendapatkan kabar bahwa kondisi kakek tetap stabil, Ravi mengizinkan Qiera pulang lebih dahulu untuk beristirahat, mengingat Qiera memang tidak ada kelas hari ini. Sebelum mereka meninggalkan rumah sakit, keduanya sempat masuk sebentar ke kamar rawat kakek yang kini sudah sadar dan dapat berbicara meskipun masih harus menghemat tenaga.

Begitu melihat mereka datang berdampingan, wajah lelaki tua itu langsung berubah cerah. “Nah, akhirnya cucu kakek datang juga bersama istrinya.”

Qiera tersenyum sopan dan mendekati ranjang. “Bagaimana keadaan Kakek sekarang?”

“Lebih baik setelah melihat kalian.” Kakek terkekeh kecil, lalu memandang Ravi. “Kamu ini bagaimana, Vi? Istrimu sudah jauh-jauh datang, masa dari tadi dibiarkan berdiri?”

Ravi menghela napas pendek. “Kakek baru sadar, tetapi sudah mulai mencari masalah.”

“Kalau tidak menggodamu, apa gunanya punya cucu?”

Qiera menahan tawa. Ia tidak pernah menyangka Ravi yang begitu sulit dibantah di kampus, ternyata masih bisa dibuat kehilangan kata-kata oleh kakeknya sendiri.

Kakek kemudian menggenggam tangan Qiera sebentar. “Kamu pasti lelah, Nak. Terima kasih sudah menemani Ravi semalam.”

“Tidak apa-apa, Kek. Qiera memang ingin ikut.”

“Bagus. Temani dia, ya. Cucu kakak ini dari dulu suka merasa bisa mengurus semuanya sendirian.”

Qiera mengangguk, sementara Ravi mengalihkan pandangan ke jendela. “Kakek sebaiknya istirahat. Jangan terlalu banyak bicara dulu.”

“Lihat, Qiera? Bahkan saat menyuruh orang istirahat pun dia terdengar seperti dosen.”

“Memang pekerjaannya dosen, Kek,” sahut Qiera spontan.

Kakek tertawa kecil, disusul senyum Ravi yang sulit disembunyikan. Namun, setelah beberapa saat berbincang, kakek meminta Ravi mendekat. Ada sesuatu yang ingin ia bicarakan berdua dengan cucunya. Qiera memahami isyarat itu dan memilih menunggu di luar kamar agar mereka bisa berbicara dengan leluasa.

Dari tempatnya menunggu, Qiera sempat melihat Ravi menunduk mendengarkan perkataan kakeknya. Wajahnya tampak serius, bahkan ketika kakek menyentuh lengannya seolah sedang menegaskan sesuatu yang penting. Qiera tidak bisa mendengar percakapan mereka, dan ia tidak berniat mencari tahu.

Setiap keluarga memiliki hal-hal yang perlu dibicarakan secara pribadi. Ia menghormati itu.

Hanya saja, ketika Ravi keluar beberapa menit kemudian, ada sesuatu dalam tatapannya yang membuat Qiera bertanya-tanya.

“Ada apa?” tanyanya.

“Tidak ada apa-apa.”

“Kakek memarahimu?”

“Kenapa kamu berpikir begitu?”

“Karena wajah Mas seperti orang baru selesai sidang skripsi dan dosen pengujinya tidak meluluskan.”

Ravi memandangnya datar. “Perumpamaanmu semakin hari semakin tidak masuk akal.”

“Tapi benar, kan?”

“Tidak.”

Qiera mengangguk seolah menerima jawaban itu, meskipun jelas ia belum sepenuhnya percaya. Ravi tidak menjelaskan lebih lanjut, dan ia pun tidak mendesak. Mereka meninggalkan rumah sakit setelah memastikan kebutuhan kakek telah ditangani.

...🌵🌵🌵...

Di perjalanan pulang, Ravi beberapa kali mengingatkan Qiera untuk beristirahat begitu tiba di apartemen. Qiera sempat mengeluh bahwa dirinya tidak selemah itu, tetapi ia akhirnya menuruti permintaan tersebut. Ia memang masih mengantuk, dan untuk pertama kalinya, ia tidak ingin menghabiskan tenaganya hanya untuk berdebat dengan suaminya.

Sebelum Qiera masuk ke kamar, Ravi sempat memanggilnya.

“Lily.”

Qiera menoleh. “Apa, Mas?”

“Terima kasih sudah ikut semalam.”

Ucapan itu sederhana, tetapi cara Ravi mengatakannya membuat Qiera terdiam. Ia menatap pria itu sejenak sebelum menjawab dengan senyum kecil.

“Sama-sama. Kakek juga keluargaku.”

Ravi mengangguk. “Istirahatlah.”

Qiera masuk ke kamar dengan pipi yang terasa hangat. Ia tidak tahu mengapa ucapan terima kasih itu membuatnya begitu senang. Mungkin karena selama ini, ia lebih sering mendengar Ravi mengkritik argumennya di kampus daripada mengucapkan kalimat sesederhana itu.

Atau mungkin karena perlahan-lahan, ia mulai melihat sisi lain dari lelaki yang dinikahinya.

...🌵🌵🌵...

Keesokan harinya, suasana kampus kembali sibuk. Persoalan laporan dugaan pelecehan oleh dosen masih dalam proses tindak lanjut, dan BEM FH harus memastikan mahasiswa yang melapor mendapatkan perlindungan serta informasi yang jelas mengenai prosedur pemeriksaan. Qiera menghabiskan pagi di sekretariat bersama Arga dan beberapa pengurus lainnya, memeriksa catatan rapat serta menyusun daftar pertanyaan untuk pertemuan berikutnya dengan pihak fakultas.

Arga yang duduk di seberangnya sesekali memperhatikan Qiera. “Kamu kelihatan capek. Semalam tidur jam berapa?”

Qiera yang sedang menandai sebuah dokumen berhenti sebentar. “Tidak terlalu malam.”

“Jawabanmu seperti orang yang jelas-jelas tidur terlalu malam.”

“Aku cuma kurang tidur beberapa hari ini.”

Arga tidak langsung membalas. Ia mengenal Qiera sebagai orang yang tidak suka mengeluh, bahkan ketika beban organisasinya menumpuk. Karena itu, ia tidak berniat memaksanya bercerita. Ia hanya menggeser sebotol air mineral ke arah Qiera.

“Minum dulu. Bagian rekap ini biar aku yang selesaikan.”

Qiera mengangkat wajah, sedikit terkejut. “Tidak apa-apa, Ga. Aku bisa mengerjakannya.”

“Aku tahu kamu bisa. Tapi kita kerja sebagai tim, bukan?” Arga tersenyum. “Kalau wakil ketua tumbang, nanti siapa yang mengomeliku kalau susunan dokumennya berantakan?”

Qiera tertawa kecil. “Aku memang sering mengomelimu?”

“Sering sekali. Terutama kalau aku salah menaruh tanggal rapat.”

“Itu karena kamu memang pernah salah tiga kali.”

“Nah, kan?”

Percakapan itu disambut tawa ringan beberapa pengurus yang duduk tidak jauh dari mereka. Salah seorang anggota BEM bahkan sempat melontarkan godaan bahwa Arga dan Qiera sudah seperti pasangan yang hafal kebiasaan satu sama lain. Arga hanya tertawa, sementara Qiera segera menyanggah bahwa mereka sekadar rekan kerja yang sudah cukup lama berorganisasi bersama.

Tidak ada yang aneh dalam percakapan tersebut. Setidaknya, bagi Qiera. Namun, dari ujung lorong, seseorang sempat melihat mereka.

Ravi baru saja selesai mengajar ketika ia melintasi area dekat sekretariat BEM. Awalnya ia tidak berniat berhenti, sampai matanya menangkap sosok Qiera yang duduk berhadapan dengan Arga. Keduanya sedang tertawa kecil, dan Arga bahkan mendorong botol air ke arah Qiera sebelum kembali mengerjakan dokumen.

Ravi memperlambat langkah.

Ia tahu Arga adalah ketua BEM. Ia tahu mereka memang harus bekerja sama, terlebih dalam menangani persoalan yang sedang menjadi perhatian fakultas. Tidak ada alasan baginya untuk merasa keberatan terhadap interaksi yang sepenuhnya wajar itu.

Namun, tetap saja, ia tidak menyukai betapa mudahnya Arga membuat Qiera tertawa.

Ravi segera mengalihkan pandangan dan melanjutkan langkahnya. Ia tidak berhak mengatur siapa yang boleh dekat dengan Qiera, apalagi menggunakan kedudukannya sebagai dosen untuk mencampuri urusan organisasi mahasiswi tersebut. Ia memahami batas itu dengan sangat baik.

Yang belum ia pahami adalah mengapa ia harus mengingatkan dirinya sendiri berkali-kali.

.

Sore harinya, Qiera baru saja menyelesaikan rapat singkat ketika salah satu teman dekatnya, Nisa, menghampirinya di depan sekretariat. Nisa membawa dua gelas minuman dan menyerahkan salah satunya kepada Qiera.

“Ini buat kamu. Dari tadi aku lihat kamu belum berhenti kerja.”

Qiera menerimanya sambil tersenyum. “Makasih. Kamu sendiri kenapa belum pulang?”

“Menunggu kamu. Sekalian mau cerita sesuatu.”

Mereka berjalan menuju bangku di bawah pohon dekat gedung fakultas. Awalnya, percakapan mereka berkisar pada tugas kuliah dan kesibukan BEM. Nisa mengeluh tentang dosen yang memberikan bacaan terlalu banyak, sedangkan Qiera menanggapi dengan cerita singkat tentang rapat yang tidak kunjung selesai. Suasananya terasa biasa, seperti hari-hari lain ketika mereka menyempatkan diri mengobrol sebelum pulang.

Sampai Nisa tiba-tiba menyebut nama seseorang.

“Ngomong-ngomong, kemarin aku lihat Pak Ravian keluar dari rumah sakit.”

Tangan Qiera yang sedang memegang gelas berhenti sesaat.

“Rumah sakit?” tanyanya, berusaha menjaga nada suaranya tetap wajar.

“Iya. Aku kebetulan mengantar tanteku berobat. Kayaknya beliau sedang ada urusan keluarga.” Nisa menatapnya sambil mengingat-ingat. “Tapi aku merasa pernah melihatmu juga di sana.”

Jantung Qiera berdegup sedikit lebih cepat.

Ia memang tidak pernah berniat menceritakan pernikahannya kepada teman-temannya sebelum merasa siap. Selama ini, ia selalu berhati-hati agar tidak ada yang mengetahui bahwa dosen yang sering ia keluhkan itu adalah suaminya sendiri. Bukan karena ia malu, melainkan karena ia belum siap menghadapi rentetan pertanyaan yang pasti muncul setelah rahasia tersebut terbuka.

“Aku?” Qiera berusaha tertawa kecil. “Mungkin kamu salah lihat.”

“Mungkin.” Nisa mengangguk, tetapi ekspresinya menunjukkan bahwa ia belum sepenuhnya yakin. “Tapi ada sesuatu yang membuatku penasaran.”

Qiera meneguk minumannya, berharap percakapan itu segera beralih ke topik lain. Sayangnya, Nisa justru meletakkan gelasnya dan menatap Qiera dengan lebih serius.

“Qiera, aku mau tanya sesuatu. Kamu jangan marah, ya.”

“Apa?”

Nisa ragu sesaat sebelum melanjutkan. “Belakangan ini kamu sering terlihat buru-buru pulang setelah kelas Pak Ravian selesai. Terus, kemarin aku merasa melihatmu di rumah sakit yang sama dengannya. Aku juga ingat beberapa kali kamu seperti sudah tahu apa yang akan beliau katakan sebelum orang lain memahaminya.”

Qiera membeku.

“Jadi,” lanjut Nisa perlahan, “sebenarnya kamu punya hubungan apa dengan Pak Ravian?”

Untuk sesaat, suara mahasiswa yang berlalu-lalang di sekitar mereka terasa menjauh. Qiera menatap Nisa, berusaha menemukan jawaban yang tidak akan membuat rahasia pernikahannya terbongkar. Namun, semakin lama ia diam, semakin sulit pula ia menyusun kebohongan yang masuk akal.

Nisa mengernyit. “Qiera?”

Qiera hendak membuka mulut, tetapi tak satu pun kata berhasil keluar. Ia benar-benar takut rahasia mereka tidak akan bertahan lebih lama lagi.

.

.

To be continued

See you 🍀

1
Renjana
next next next😊
Renjana
hai... nama pena kita sama
saling support yuk,
biar semangat nulisnya😊
renjana biru: terimakasi udh mampir kk
total 2 replies
Tinta Putih
semangat kakak✨
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!