Bagi Lu Feng, cowok pindahan yang hobinya tidur di kelas dan telat masuk sekolah, aturan diciptakan untuk dilanggar. Tapi hari pertamanya di SMA Mingde mengubah segalanya. Ia bertemu dengan Lin Xiao, ketua kelas teladan yang super disiplin, dingin, namun diam-diam memiliki senyum termanis yang pernah Lu Feng lihat. Lin Xiao diberi tugas oleh wali kelas untuk "menjinakkan" Lu Feng agar tidak menjadi siswa bermasalah. Dari interaksi yang dipenuhi adu mulut, hukuman membersihkan papan tulis, hingga berbagi payung di bawah hujan deras, benih-benih cinta pertama mulai tumbuh. Namun, perbedaan sifat, tekanan ujian akhir (GaoKao), dan saingan dari masa lalu menguji apakah cinta masa muda ini bisa bertahan melewati rintangan yang ada.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arya Setya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Murid Pindahan, Jendela Kelas, dan Tatapan Tajam Sang Ketua
Musim gugur di Jiangcheng selalu diawali dengan udara pagi yang sedikit menggigit. Daun-daun ginkgo yang menguning berguguran di sepanjang trotoar menuju gerbang SMA Mingde.
Di tengah lautan murid berseragam *tracksuit* biru-putih yang bergegas masuk ke gerbang, seorang cowok berjalan dengan kecepatan siput. Seragam *tracksuit*-nya tidak diresleting sampai atas, memperlihatkan kaos putih polos di baliknya. Rambut hitamnya sedikit berantakan karena angin, dan matanya masih setengah terpejam menahan kantuk.
Lu Feng. Murid pindahan dari kota tetangga yang hari ini resmi memulai kehidupan SMA-nya di Mingde.
"Woy, bro! Jalannya agak cepetan dikit napa! Bel masuk kurang tiga menit lagi!"
Sebuah tepukan mendarat di bahu Lu Feng. Itu Chen Hao, teman sebangkunya semasa SMP yang kebetulan masuk ke SMA yang sama dan baru saja bertemu dengannya di halte bus tadi.
"Santai aja kali, Hao," gumam Lu Feng sambil menguap lebar. "Hari pertama masuk, paling gurunya cuma perkenalan terus ngobrol-ngobrol doang."
"Santai dari Hongkong!" omel Chen Hao sambil menarik lengan Lu Feng paksa. "Lo belum tahu aja. Kelas kita, Kelas 11-3, itu wali kelasnya Pak Zhang si Botak kiler. Terus yang paling parah, ketua kelas kita itu *legend* banget judesnya. Kalau telat semenit aja, poin kedisiplinan kita langsung dipotong!"
Lu Feng cuma mendengus malas, tapi dia akhirnya membiarkan dirinya ditarik berlari menyusuri lorong gedung sekolah.
Mereka tiba di depan pintu Kelas 11-3 tepat saat bel sekolah berbunyi nyaring.
*Kringgg!!!*
Chen Hao langsung menghela napas lega, bergegas masuk dan duduk di bangkunya yang ada di baris ketiga. Namun, Lu Feng yang berjalan santai di belakangnya justru berhenti di ambang pintu.
Mata cowok itu terpaku pada sebuah pemandangan di dalam kelas.
Di barisan paling depan, tepat di dekat jendela, seorang siswi sedang berdiri membagikan lembar daftar hadir. Cahaya matahari pagi musim gugur menyelinap masuk dari kaca jendela, menyinari wajah samping cewek itu. Rambut sebahunya yang lurus dan hitam legam diikat rapi. Kulitnya putih bersih, dan bulu matanya lentik saat ia menunduk membaca kertas di tangannya.
Dunia Lu Feng mendadak melambat. Suara bising murid-murid di kelas seolah menghilang, digantikan oleh detak jantungnya sendiri yang tiba-tiba berpacu di luar kendali.
Itu adalah pertama kalinya Lu Feng melihat Lin Xiao.
Seumur hidupnya, Lu Feng nggak pernah percaya sama omong kosong soal "cinta pada pandangan pertama" yang sering ada di komik-komik *shoujo* pinjaman adik perempuannya. Tapi melihat cewek itu berdiri di sana, dengan ekspresi tenang namun memikat, Lu Feng merasa ada yang salah dengan sistem saraf di otaknya.
"Kamu."
Suara jernih dan sedikit dingin itu membuyarkan lamunan Lu Feng.
Cewek itu—Lin Xiao—telah selesai membagikan kertas dan kini berdiri tepat di depan Lu Feng yang masih menghalangi pintu masuk. Matanya yang jernih namun tegas menatap Lu Feng dari atas sampai bawah.
"Murid pindahan?" tanya Lin Xiao, memegang *clipboard* di dadanya.
Lu Feng sedikit gelagapan, tapi dia buru-buru memasang tampang keren andalannya. Tangan kanannya dimasukkan ke saku celana. "Iya. Lu Feng."
Lin Xiao tidak tersenyum sedikit pun. Dia melirik jam tangan hitam kecil di pergelangan tangannya. "Kamu telat sepuluh detik setelah bel berbunyi. Dan resleting seragammu menyalahi aturan nomor 4 buku panduan kedisiplinan siswa."
Lu Feng mengernyitkan dahi. Sialan, cewek ini cantik banget, tapi mulutnya kok tajam begini?
"Cuma telat sepuluh detik, Bu Ketua. Jam sekolah juga mungkin agak kecepatan," elak Lu Feng santai, tersenyum miring.
"Aturan adalah aturan," balas Lin Xiao tanpa ampun. Dia mengeluarkan sebuah pulpen merah dari sakunya, lalu mencentang sesuatu di *clipboard*-nya. "Lu Feng. Hari pertama: Poin kedisiplinan minus 2. Hukuman: Membersihkan papan tulis seusai sekolah hari ini."
Mata Lu Feng membelalak. "Hei! Masa hari pertama udah dihukum?!"
"Kalau kamu tidak terima, silakan protes ke Pak Zhang. Beliau ada di ruang guru sekarang," jawab Lin Xiao acuh tak acuh, lalu berbalik menuju mejanya seolah percakapan mereka sudah selesai.
Lu Feng berdiri mematung di pintu. Chen Hao yang melihat kejadian itu dari bangkunya cuma bisa geleng-geleng kepala sambil membentuk huruf salib dengan kedua jarinya.
Bukannya marah, sudut bibir Lu Feng justru tertarik membentuk senyuman tipis. Cowok itu menatap punggung Lin Xiao yang sedang merapikan buku-bukunya.
Menarik. Sangat menarik.
Lu Feng melangkah masuk ke dalam kelas, berjalan menuju satu-satunya bangku kosong yang tersisa... yang ironisnya, berada tepat di belakang bangku Lin Xiao.
"Selamat pagi, anak-anak!"
Pak Zhang si guru Matematika botak akhirnya masuk ke dalam kelas, membawa setumpuk buku tebal. Suasana kelas langsung hening.
"Kita punya murid pindahan hari ini. Lu Feng, silakan berdiri dan perkenalkan dirimu," perintah Pak Zhang sambil menaruh bukunya di meja guru.
Lu Feng berdiri dengan santai. Nggak ada raut gugup sama sekali di wajahnya. Mata cowok itu malah dengan sengaja melirik ke arah punggung Lin Xiao di depannya.
"Halo semuanya. Namaku Lu Feng. Hobiku main basket dan... tidur," ucap Lu Feng, mengundang tawa tertahan dari beberapa murid laki-laki. "Aku harap kita bisa berteman baik. Oh ya..."
Lu Feng sengaja mencondongkan tubuhnya ke depan, menumpukan kedua tangannya di atas meja Lin Xiao dari belakang, membuat cewek itu sedikit tersentak kaget.
"...terutama dengan ketua kelas kita yang sangat taat aturan ini. Mohon bimbingannya ya, Ketua."
Kalimat itu diucapkan dengan nada godaan yang sangat kental. Seisi kelas langsung bersorak "Cieee", sementara Pak Zhang langsung memukul meja meminta ketenangan.
Lin Xiao tidak menoleh ke belakang, namun Lu Feng yang jaraknya sangat dekat bisa melihat dengan jelas bagaimana telinga cewek itu perlahan berubah menjadi merah muda. Sang ketua kelas yang dingin itu ternyata bisa salah tingkah juga.
Senyum kemenangan terukir di wajah Lu Feng.
SMA Mingde sepertinya nggak akan se-membosankan yang dia bayangkan. Di bawah bayang-bayang ujian masuk universitas yang menakutkan dan tumpukan buku yang gila-gilaan, Lu Feng baru saja menemukan satu alasan kuat untuk bangun pagi setiap harinya: menaklukkan hati sang ketua kelas.
Dan Lu Feng bersumpah, dia nggak akan berhenti sampai cewek dengan tatapan tajam itu memanggil namanya bukan dengan nada memarahi, melainkan dengan senyuman.